Menikah tanpa dasar cinta, akankah bertahan lama ?
Kalaupun berjuang hanya seorang diri, mungkinkah akan bahagia ?
Fira menerima perjodohannya dengan Bara. Namun setelah menikah, Bara memberikan Fira beberapa lembar kertas perjanjian pernikahan mereka. Bara berkuasa atas segala peraturan yang dibuatnya.
"Kenapa kau melakukan semua ini hah?" tanya Fira, gemetar penuh emosi dan tak menyangka.
"Karena aku, tidak pernah menginginkan kehadiranmu!" seru Bara, menyentak Fira.
Bagaimanakah kelanjutan kisah antara Bara dan Fira ?
Apakah pernikahan mereka akan berlangsung lama atau Fira menyerah begitu saja ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan ( Part 1 )
Waktu beranjak semakin siang Lisa berpamitan izin pulang kepada Fira. Ia di antar pulang oleh Bima, karena Bima yang menawarkan tumpangan.
“Makasih ya Bim.” Lisa turun dari motor, karena sudah sampai di depan rumahnya.
Bima hanya mengangguk tersenyum.
“Oh ya mau masuk dulu ke dalam?” tawar Lisa. “Jangan sampai dia bilang iya.” gumamnya dalam hati.
“Tidak, terima kasih, kapan-kapan saja. Aku mau langsung pulang.” jawab Bima, sambil menghidupkan kembali motornya.
“Syukurlah.” dalam hati “ Ya sudah hati-hati ya.” ucap Lisa.
Bima segera memacukan motornya, pergi menjauh dari halaman rumah Lisa. Lisa terus menatap punggung Bima hingga Bima hilang dari pandangannya.
Ia pun masuk ke dalam rumah, berjalan menuju kamar nya, dan segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur
“Huh, melelahkan sekali.”
“Ah... aku tidak sabar kalau nanti kak Fira sudah tinggal bersama ku disini, pasti akan sangat menyenangkan, punya teman di rumah ini.” Ia tersenyum menatap langit-langit kamar sambil membayangkan kebersamaannya dengan Fira.
“Dia tidak akan tinggal disini.”
Lisa kaget dan terbangun dari tempat tidurnya, dilihatnya Bara yang sedang berdiri menyender di dekat pintu kamarnya yang terbuka.
“Kakak... maksud kak Bara apa? Apa kak Fira tidak akan tinggal disini?”
“Iya!” jawab Bara dengan muka datarnya.
“Trus nanti tinggal nya dimana?”
“Tinggal di apartemen Kakak lah.” Bara berlalu meninggalkan Lisa. Ia turun meniti tangga menuju ruang Tv.
Bara sebenarnya mempunyai apartemen yang cukup luas dan nyaman, jika ia nanti tinggal bersama Fira, itu akan sangat layak tuk mereka tinggali. Lokasi apartemennya tidak jauh dari kantor nya hanya berjarak sekitar 1 jam.
“Kalau nanti kak Fira tinggal di apartemen kak Bara, gampang saja, aku tinggal main kesana.” ucap Lisa yang merebahkan kembali tubuh nya di atas tempat tidur.
***
Malam ini Fira merasa gelisah, karena tinggal menghitung jam pernikahannya akan segera di gelar.
Ya.. besok adalah hari dimana ia akan berubah status, menjadi istri dari lelaki yang baginya masih terasa asing, ia harus siap mengabdi dam melayani lelaki itu, ia juga harus siap hidup bersama orang yang tak pernah ia cintai sebelumnya.
Fira merasa gelisah, hingga kini jam sudah menunjukan pukul 23.00 malam, tapi ia tak juga mampu memejamkan matanya. Fira beranjak dari tempat tidurnya, masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya, ia berwudhu kemudian segera mengambil mukena yang tergantung di sisi lemarinya, ia segera menunaikan solat istikhoroh dan berdo’a meminta ketenangan akan hatinya. Selesai solat, Fira merebahkan kembali tubuh nya di atas tempat tidur, hingga tak terasa rasa kantuk datang dan ia mulai terlelap tidur.
Pagi ini di rumah keluarga Hito, selepas solat subuh berjamaah, mereka segera bersiap-siap untuk acara pernikahan Bara.
Bara yang ada di kamarnya, ia masih merasa ragu antara harus melanjutkan atau menghentikan ini semua. Bara mengambil sebuah foto di dalam lemarinya, di pandangnya dengan begitu dalam.
“Maaf kan aku, jika aku telah mengingkari janjiku padamu.” hati Bara menyeruak seakan merasakan sesak, ia tak tega memandang wajah gadis yang ada di foto itu, ia segera mengembalikan foto itu ke dalam laci lemarinya.
“Bara...” panggil Wina, ia berjalan perlahan mendekati Bara yang berdiri di dekat lemari.
“Mama.” Bara tersenyum memandangi wajah Wina yang kini sudah ada di hadapannya.
“Kamu sudah siap sayang?”
“Insyaallah sudah siap Ma.”
“Sayang dengerin Mama.” Wina menghela nafas begitu berat “Mama sama Papa tau, kamu terpaksa menjalani pernikahan ini, tapi ini adalah yang terbaik buat kamu nak, Mama mohon nanti kalau kamu sudah sah menjadi suami nya Fira, kamu harus memperlakukan dia layak nya seorang istri. Mungkin untuk awalan akan sangat sulit bagi kalian menjalani ini semua, tapi seiring berjalan nya waktu, nanti kamu akan merasakan hal yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya. Dan itu pasti akan terjadi.” mata Wina tak henti, menatap kedua bola mata Bara yang sedikit sayu itu.
“Iya Ma, Bara akan berusaha.” ucap nya sambil tersenyum, memegang tangan Mamanya.
“Ya sudah, cepat pakai jas pengantinmu dan segera turun kebawah.” Wina keluar dari kamar Bara, dan turun menemui suaminya yang sudah siap menunggu di ruang keluarga.
Bara memandangi dirinya yang ada di pantulan cermin, ia menatap dengan tatapan penuh teka teki.
“Lihat saja nanti.” Bara menaikan sebelah sudut bibir nya, tersenyum dengan tatapan tajam. Ia memasukan kotak cincin yang di genggamnya, dan ia memasukannya ke dalam saku celananya. Bara pun segera keluar dari kamarnya dan turun menemui orang tua dan sebagian kerabatnya yang sudah menunggu di bawah.
“Lihatlah Lis.. Kak Bara begitu tampan dan gagah sekali ya.” Ucap Lily.
Lily adalah adik sepupu dari Lisa dan Bara usianya sama dengan Lisa, Ia adalah anak dari Om Theo. Theo adalah adik dari Hito.
“Lily apa kau tahu? calon istri Kak Bara itu adalah sahabat aku, dan aku tak menyangka kalau Kak Fira dan Kak Bara akan berjodoh.” ucap nya sambil sedikit berbisik ke telinga Lily.
“Benarkah?” tanya Lily tak menyangka.
“Nanti kau lihat saja, calon Istri nya Kak Bara itu sangat cantik... sekali.”
Lily menganggukan kepalanya, ia merasa penasaran dengan sosok calon istinya Bara.
“Keponakan Om sangat tampan sekali.” ucap Theo sambil menepuk pundak Bara yang kini ada di dekatnya.
Bara hanya tersenyum mengangguk. Ia dan keluarga lainnya segera bergegas kedepan menuju mobil pengantin yang sudah di hiasi pita dan bunga.
Bara satu mobil bersama Hito dan Wina. Sedangkan Lisa ia satu mobil bersama keluarga Om Theo. Dan sebagian kerabat lainnya naik ke mobil yang mereka bawa sendiri.
Rombongan ini tidak terlalu banyak, hanya ada lima mobil dan itu hanya keluarga terdekat saja yang di ajak. Mereka semua segera segera melaju menuju tempat mempelai wanita.
.
.
.
Bersambung...