NovelToon NovelToon
Wanita Di Atas Kertas

Wanita Di Atas Kertas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Aliansi Pernikahan / Mengubah Takdir / Wanita Karir
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Black moonlight

Naya, hidup dalam bayang-bayang luka. Pernikahan pertamanya kandas, meninggalkannya dengan seorang anak di usia muda dan segudang cibiran. Ketika berusaha bangkit, nasib mempermainkannya lagi. Malam kelam bersama Brian, dokter militer bedah trauma, memaksanya menikah demi menjaga kehormatan keluarga pria itu.

Pernikahan mereka dingin. Brian memandang Naya rendah, menganggapya tak pantas. Di atas kertas, hidup Naya tampak sempurna, mahasiswi berprestasi, supervisor muda, istri pria mapan. Namun di baliknya, ia mati-matian membuktikan diri kepada Brian, keluarganya, dan dunia yang meremehkannya.

Tak ada yang tahu badai dalam dirinya. Mereka anggap keluh dan lemah tidak cocok menjadi identitasnya. Sampai Naya lelah memenuhi ekspektasi semua.

Brian perlahan melihat Naya berbeda, seorang pejuang tangguh yang meski terluka. Kini pertanyaannya, apakah Naya akan melanjutkan perannya sebagai wanita sempurna di atas kertas, atau merobek naskah itu dan mencari kehidupan dan jati diri baru ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black moonlight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Tak Terduga

Langit malam telah gelap sempurna ketika mobil Lisa akhirnya memasuki halaman rumah. Naya bersandar lelah di kursi penumpang, matanya menerawang, pikirannya melayang pada Sean. Meskipun hari itu menyenangkan, hatinya tetap terasa kosong. Ada bagian dari dirinya yang ingin segera pulang — kembali ke putranya. Tiga hari tanpa Sean terasa seperti selamanya.

Belum sempat Lisa mematikan mesin, ponselnya bergetar kencang di dashboard. Nada dering itu memecah keheningan, membuat Naya dan Lisa saling melirik. Lisa menghela napas sebelum akhirnya mengangkat telepon.

“Halo?”

Suara pria dari seberang terdengar buru-buru. “Selamat malam, ini dengan Lisa, adik dari Brian?”

Lisa langsung menegang. “Iya, betul. Ada apa ya?”

Naya menatap Lisa cemas, mencoba membaca ekspresinya.

“Begini, Mbak… saya dari pengelola bar dan kafe Aurum Lounge. Kakak Anda, Brian, ada di sini bersama seorang pria yang mengaku sepupu beliau. Mereka dalam keadaan mabuk berat dan tidak bisa mengendarai kendaraan masing-masing.”

Lisa mengerjap, tak percaya dengan apa yang ia dengar. “Maaf… Kak Brian? Mabuk?”

Naya pun terlihat kaget, mengingat bagaimana sosok Brian yang selalu disiplin dan teratur. Seolah-olah kata mabuk dan Brian adalah dua hal yang mustahil ada dalam satu kalimat.

“Benar, Mbak. Kami sudah coba menawarkan bantuan taksi, tapi mereka menolak. Karena itu, kami hubungi kontak darurat yang tertera di ponsel Kak Brian.”

Lisa langsung bangkit. “Baik, saya akan segera ke sana.”

Setelah menutup telepon, Lisa memejamkan mata, mencoba mengatur napasnya. “Astaga, Nay… Kak Brian mabuk. Aku gak habis pikir.”

Naya mengernyit. “Dia sama siapa?”

“Sepupu kami, Aldo. Dan mereka masing-masing bawa mobil.”

Sejenak hening, sampai akhirnya Lisa mendengus frustrasi. “Aku gak bisa nyetir mobil manual. Kak Brian bawa mobil manual.”

Naya menatap Lisa, lalu mengangguk mantap. “Aku bisa.”

Lisa terkejut. “Serius, Nay?”

“Aku biasa nyetir mobil manual. Alvin dulu pake itu. Jadi aku bisa.”

Lisa memegang tangan Naya, matanya berbinar penuh harapan. “Oke, berarti nanti aku antar Aldo, kamu bawa Kak Brian ke apartemennya. Aku kirim alamatnya ke kamu.”

Naya menelan ludah. Ia ragu sejenak — bukan karena soal menyetir, tapi memikirkan bagaimana ia akan berdua saja dengan Brian yang sedang tak sadarkan diri. Tapi ini demi membantu Lisa, dan tentu saja Brian juga.

“Baik, ayo kita jemput mereka.”

DI BAR AURUM LOUNGE

Suasana bar terasa remang, dengan aroma alkohol yang tajam menusuk hidung. Musik pelan berdentum dari sudut ruangan, sementara beberapa pengunjung masih sibuk menikmati malam mereka.

Lisa dan Naya langsung disambut oleh seorang pria dari pengelola bar. “Anda Lisa?”

“Iya.”

Pria itu mengantar mereka ke sebuah sofa besar di pojok ruangan. Di sana, Brian terlihat bersandar dengan mata setengah terpejam, wajahnya merah padam. Sementara di sebelahnya, Aldo menggumam tak jelas, sesekali tertawa sendiri.

“Kak Brian?” panggil Lisa, mencoba membangunkannya.

Brian membuka matanya sedikit, menatap Lisa, lalu tertawa kecil. “Liiiisaaa… adikkuuu sayang…” katanya dengan suara berat, tangannya hampir merangkul Lisa, tapi terhenti.

Naya berdiri agak jauh, bingung dan canggung, tak pernah melihat Brian selemah ini.

Lisa menghela napas panjang. “Astaga… ini pertama kalinya aku liat Kak Brian kayak gini.”

Aldo terkekeh. “Santai aja, Lis… ini cuma… sekaliii… seumur hidup…” ucap Aldo terbata-bata.

“Ya ampun, Aldo…” Lisa memutar mata.

Setelah sedikit berunding, mereka memutuskan untuk membawa Brian dan Aldo secara terpisah. Lisa akan mengantar Aldo pulang, sementara Naya mengantarkan Brian ke apartemennya.

PERJALANAN KE APARTEMEN BRIAN

Naya membantu Brian berdiri, meski lelaki itu jauh lebih tinggi dan berat darinya. Dengan susah payah, ia memapah Brian ke mobil manual milik lelaki itu.

Brian terhuyung sebelum masuk mobil. “Aku bisa nyetir sendiri…” gumamnya, meski langkahnya limbung.

“Gak, Kak… aku yang nyetir,” jawab Naya tegas, mencoba mengabaikan kegugupannya.

Setelah Brian duduk di kursi penumpang, Naya masuk, menarik napas panjang, lalu menyalakan mesin mobil. Ternyata menyetir mobil manual di malam hari sambil membawa orang mabuk adalah tantangan besar.

Di sepanjang jalan, Brian terus meracau.

“Naya… Na… yaaa…”

Naya meliriknya sekilas. “Kenapa, Kak?”

Brian memejamkan mata, kepalanya bersandar ke jendela. “Kamu tuh… aneh…”

Kening Naya berkerut. “Aneh gimana?”

“Kamu… diem… tapi matamu… ngomong…” kata Brian pelan, suaranya berat dan lemah.

Naya menelan ludah. Ia tak tahu harus menjawab apa.

Lalu Brian tertawa kecil, entah karena apa. “Aku biasanya kuat minum… tapi… Aldo… nyuruh aku minum banyak…”

Naya hanya diam, mencoba fokus pada jalanan.

Setibanya di apartemen Brian, Naya memarkir mobil dengan hati-hati. Apartemen Brian terlihat modern dan minimalis, seperti kepribadian lelaki itu — atau setidaknya, kepribadian yang selama ini Naya tahu.

DI DALAM APARTEMEN

Naya membantu Brian turun dari mobil, memapahnya masuk ke dalam apartemen. Meski pintunya elegan dan rapi, suasana di dalam terasa kosong dan dingin.

Brian hampir terjatuh di sofa begitu mereka masuk. Naya buru-buru membantunya duduk.

“Kak, udah… istirahat aja ya,” ucap Naya canggung.

Brian memandang Naya lama — tatapannya kosong, namun tetap tajam.

“Naya…” gumamnya, tangannya tiba-tiba terangkat seolah ingin menyentuh wajah Naya.

Naya refleks mundur selangkah. “Kak… udah ya… aku pulang.”

Alih alih mendapat ucapan terimakasih atau mempersilahkan Naya pulang, Brian justru semakin bergejolak menahan Naya. Brian tak suka dibantah, tak ada yang boleh melawannya termasuk Naya.

Naya tersentak saat Brian menarik pergelangan tangannya, genggamannya kuat hingga membuatnya meringis. Jantungnya berdebar kencang, nafasnya memburu.

“Kak Brian… tolong lepasin,” suara Naya bergetar, dadanya sesak.

Tatapan Brian kosong namun tajam, wajahnya memerah karena alkohol. “Kamu… bikin Lisa ngelawan aku,” gumamnya. “Sejak kamu datang, dia berubah.”

Naya menggeleng panik. “Aku gak pernah, Kak… tolong aku mau pulang.”

Ia mencoba menarik tangannya, tapi genggaman Brian justru semakin kuat. Naya meronta, mendorong dada Brian dengan kedua tangannya, namun tubuh pria itu tak bergeming.

“Kak, tolong… jangan begini,” suaranya hampir pecah.

Brian justru mendorong Naya ke dinding, tangannya menekan bahunya hingga ia tak bisa bergerak. Ketakutan mulai menguasai Naya, tubuhnya gemetar hebat.

“Aku gak suka kamu, Naya,” desis Brian. “Kamu racunin pikiran adikku.” Lanjutnya.

Air mata Naya mulai mengalir. Ia kembali memberontak, berusaha melepaskan diri. Tangannya mendorong, mencakar lengan Brian, bahkan menendang kakinya dengan sisa tenaga yang ia punya.

“Kak… aku takut… tolong lepasin aku!” pekik Naya, suara nyaris patah.

Brian hanya terdiam, tatapannya kosong, namun genggamannya tak melonggar. Alam bawah sadarnya masih melihat Naya sebagai ancaman, meski dirinya tak benar-benar sadar dengan apa yang ia lakukan.

1
Lanjar Lestari
wah akhirnya bs saling mengerti dan mau kembali tinggal di rumah mama lagi jadi ada yg jagain Sean dan berganti awasi Swan semoga kalian bahagia Naya Bi.
Lanjar Lestari
sabar Bi semua butuh perjuangan semoga segera. dapat pengasuh yg cocok buat Sean dan Naya juga bs ngerti sabar berjuang bersama kalian.mohon maaf lahir batin Author 🙏
Narata: mohon maaf lahir bathin kak🌹
total 1 replies
Lanjar Lestari
lama g UP Author sibuk ya puasa selamat hati raya idul fitri mohon maaf lahir batin Author.
Lanjar Lestari
eh eh Brian tak bs menolak pesona istri yg lg masak g mau makan aku Nay, mau nya makan km aja Nay bucin g ketulungan Brian semoga g hamil dl Nay wl di gempur sm Brian.
Lanjar Lestari
Aduh Nay g usah bgeyel lah kl g bs sendiri bilang aja g usah gensi ada suami bilang kl capek butuh teman buat ngasih Sean, g usah sok kuat Kuliah kedokteran berat ingin tinggal terpisah dg mertua repot sendiri kan Brian suka dinas keluar kota.
Lanjar Lestari
jd pindah di fakultas kedokteran Naya selamat deh Brian sdh setuju dan dukung km Nay tp ingat ya ada Sean yg butuh perhatian mu Nay.
Lanjar Lestari
semangat buat Brian sn Naya makin dekat dan romantis serta rumah tangga harmonis deh pelan pelan tp pasti.
Alin Norshalsabilla Alkhatir
Si Brian tulus apa modus tuch....
geuleuh...laki kurang peka udah di kasih enak berulang kali, masih aja mempertanyakan perasaan.
Lanjar Lestari
kan enak kl saling terbuka gitu bs plang kan hari,ais Naya knp diam g bilang suamimu kl takut Sean diambil Alvin kan bs di bicarakan sm Bi suami mu Nay,kl dipertemukan dg Alvin bs aja asal g tinggal dg Alvin aja krn Alvin Ayah kandungnya Nay jg berhak mereka bertemu.
delis armelia
aku kasihan sama naya punya suami cuma mau ny tidur doang
Lanjar Lestari
kan kan Naya malah pingsan krn overdosis untung cepat pulang Bi dan g terlambat bs bawa segera ke rumah sakit.
Lanjar Lestari
suami bayangan blm UP jg author
Lanjar Lestari
kan kan lolos Naya yg diam diam fk sendiri di kedokteran g sia sia belajar mlm" bs kan lulus, en Brian yg bingun km sdh tolak Bi tapi Naya usaha sendiri diam".sukses buat naya
Lanjar Lestari
untung baca habis buka yg bab ini hehehe pas panas panas nya tu pagi" haredang haredang lg puasa🤣🤣🤣 sdh makin panas aja Brian dan Naya
Lanjar Lestari
Eh Briam blm bucin malah kebalik hehehe,Naya hrs kuat km sdh lanjutin kuliah km yg sekarang aja nurut aja lah sm suamimu agar bs urus Sean.malh mewek Naya pas di larang Brian g usah kuliah kedokteran
Lanjar Lestari
semangat Naya g usah peduli sm mulut."julit yg iri sm km anggap aja mereka si angin Lalu
Alin Norshalsabilla Alkhatir
Wididaw pagi pagi udah di kasih hot hot jeletot 🤣

Gas keun ka Author jgn kasih kendor
Alin Norshalsabilla Alkhatir
Napa Naya duluan yg bucin cieeee
harus'y si pria entu duluan 😁

V takapalah heheee
Lanjut ka Author ttp semangat 💪
Alin Norshalsabilla Alkhatir
Akhirnya kaya Lee mineral Ada mania manisnya 🤣

Lanjut ka...
Lanjar Lestari
kesambet gensi dan desakan Mama Ratna ya Dok Rayhan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!