Menikah adalah impian setiap wanita, tak terkecuali Tiyah Citanin, seorang wanita dewasa berbadan gemuk. Umurnya telah 28 tahun, ia tak memiliki tambatan hati, jadi belum ada yang melamar hingga sekarang.
Dilamar oleh seorang pria yang pertama kali ia lihat, pemuda tampan dengan mobil keren. Tak terlalu berpikir panjang, ia meneruskan kesalahpahaman keluarganya dengan menerima lamaran pria itu.
Pria yang ia nikahi terlalu misterius baginya, ataukah ... ia yang terlalu sering salah paham? Pernikahan mereka dibumbui dengan kesalahpahaman satu sama lain.
Hingga sebuah kenangan dimasa kecil muncul di kepala Tiyah. Janji untuk selamanya bersama.
Apakah pernikahannya akan berlangsung lama? Atau ia mencari pria di masa kecilnya?
Mari simak cerita ini! Karya orisinil Rozh! Hanya ada di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Izin Kerja
Akhir-akhir ini Gibran makin sering lembur untuk mengerjakan pekerjaan kantornya.
“Aku letih, sungguh aku tidak bersemangat menatap mentari pagi ini, aku merasa mentari itu seolah menertawakan ku. Sudah seminggu suamiku sibuk, mungkin sibuk dengan kekasihnya Raya itu! Handphone nya sering tidak aktif, dan kalaupun aktiv aku kirimi pesan balasnya pun lama.”
“Aku masih belum sempat mengobrol dengannya, membahas siapa wanita yang bernama Aya, dan siapa itu Raya? Apakah mereka satu orang yang sama?”
“Aku dan kau sangat jarang bertatap muka akhir-akhir ini, kau sering pulang larut malam. Pagi sekali, kau juga langsung pergi ke kantor tanpa sarapan, apa artinya aku bagimu?” Tiyah bermonolog kepada bantal yang ia raba didepannya.
Ia masih tidur bermalas-malasan, walaupun sudah jam 9 pagi. Tidak ada yang bisa ia kerjakan di rumah seperti istana ini, memasak dan membersihkan rumah sudah dikerjakan pelayan, ia seperti ratu, semua keperluan telah disiapkan. Tapi ia merasa tidak bahagia dengan kemewahan ini.
“Aku sungguh bosan! Apa aku harus mencari kerja ya? Tapi dia melarangku bekerja! Lagian tidak mungkin aku kembali bekerja jualan sembako? Jelas-jelas kios sembako ku sudah ku titipkan pada ibu dan ayah! Jika aku kembali ke kios, mereka akan bertanya dan curiga! Aku tidak mau mereka kecewa.”
Tiyah memukul bantal dihadapannya, ia terus bermonolog sendiri. Seolah bantal akan menanggapinya. “Apa aku hubungi Hanum aja ya? Bukankah Hanum buka usaha didekat sini! Mungkin aku bisa bantu-bantu.”
“Apakah aku bisa dapat izin dari dia? Aku harus mencobanya, setidaknya bantu-bantu teman dia gak marahkan? Kan bantu sama kerja beda jauh...” Tiyah segera duduk dan bergegas mengambil handphone nya.
“Hallo, Assalamu'alaikum Hanum.”
Wa'alaikumsalam, apa kabar Tiyah?
“Baik, kalau kamu?”
Alhamdulillah, aku juga baik.
“Oh ya, ngomong-ngomong kamu masih usaha jualan bunga?”
Masih Yah, kalo gak jualan gimana bantu uang sekolah adikku, hehehehe. Kekehnya diujung kalimat.
“Oh, butuh karyawati gak?”
Eh, bukannya kamu nikah sama orang kaya ya, nyindir nih!
“Gak lah, mana mungkin aku nyindir. Aku bosan nih dirumah, bantu-bantu kamu aja gak apa-apa lah.”
Aku takut gak sanggup gaji kamu, orang usaha sembako kamu aja pemasukannya lebih besar dari usaha bungaku.
“Gak masalah itu gaji, aku bosen dirumah aja.”
Ya udah deh, kalau gitu kamu izin dulu sama suamimu. Nanti kamu kabari aku aja, atau langsung datang ke tempatku ya, kamu masih tau kan alamatku?
“Iya, aku tau. Makasih Hanum, Assalamu'alaikum.”
Wa'alaikumsalam.
Telepon pun diakhiri. Hanum adalah teman kuliah Tiyah dulu, mereka berdua lebih memilih membuka usaha dari pada honor menjadi guru setelah tamat kuliah. Tiyah usaha sembako, sedangkan Hanum usaha bunga. Hanum sudah menikah 4 tahun yang lalu, ia mempunyai seorang putri yang berumur 3 tahun.
Setelah menelfon, ia segera bangun dari ranjangnya, mandi dan sarapan di meja makan. Ia hanya makan sendiri, sedangkan pelayan hanya duduk jauh darinya, ia beberapa kali mengajak pelayan makan bersamanya, tapi mereka menolak.
Sedangkan papa mertuanya, lebih suka makan di dalam kamar, dan lebih sering menghabiskan waktu di kolam ikan, ia tidak suka bicara, walaupun Tiyah sering mencoba mengajaknya bicara. Ia merasa rumah ini sungguh sepi.
Di kantor Gibran.
Khalil baru saja sampai kemarin dinegara ini, ia semula ingin bersantai sepulang dari luar negri, tapi sekarang harus datang ke kantor untuk mengikuti dan menyelidiki seseorang.
“Kenapa Lu gak suruh Dimas aja sih, Lu kek predator kadang! Gue baru aja pulang, dah Lu suruh-suruh aja!”
Gibran yang sedari tadi menatap laptopnya, memalingkan wajahnya ke Khalil. “Jadi, Lu gak mau gue suruh?” Menatap tajam dengan wajah datar.
“Bukan gak mau, gue kan baru nyampe. Lagian lu punya sekretaris 2 orang, ada Dimas sama Wirda. Kalo lu suruh Dimas, kan masih ada Wirda.”
“Jadi, guna Lu pulang buat apa?” Gibran mendengus, kembali menatap laptopnya dan mengotak-atik laptop di depannya.
“Ok, ok! Gue akan kerjain, semuanya terserah lu deh, lu boss nya.” jawab Khalil.
“Jadi, sekarang tugas gue cuma nyelidikin tu orang kan? Kerjaan kantor cukup Dimas aja kan?” Khalil bertanya kepada Gibran sambil membolak-balikkan modul yang ada di atas meja dekat ia duduk.
“Lu banyak nawar! Lu harus selidiki sampe dapet info, pandai-pandai lu dah membaur, gue cuma terima beres. Kalo gak beres, lu gue kirim ke Afrika sana.”
“Huh!” Khalil menutup modul yang ia baca, berdiri dan berjalan mendekat ke arah Gibran.
“Gimana lu sama istri lu? Udah enak-enak?” Gibran langsung memukul mulut Khalil dengan kertas HVS yang terletak di atas mejanya.
“Anyiiing, sakit woy!” teriak Khalil.
“Siapa suruh Lu ngomong kek gitu, makanya nanya itu gak usah ****.”
“Itu pertanyaan gue bermutu! Kali aja Lu masih culun depan bini lu! Kalo lu masih culun, sini gue ajarin, Hahahahaha.” Khalil tertawa terbahak-bahak.
Bugh! pulpen mengenai bahunya. Ia mengelus bahunya. “Masih ngomong kek gitu, gue tampol mulut lu ya!”
“Ah, gak asik Lu! Gue keluar deh, lihat cewek-cewek.” Khalil berjalan menjauh dan keluar dari ruangan Gibran.
“Sono lu! Berisik dari tadi.” timpal Gibran.
Gibran menghela nafasnya, dan melihat semua agenda pekerjaannya. Beberapa menit kemudian, ia tersenyum. Menelfon Wirda meminta tempat Honeymoon yang paling unik dan indah. Ia telah menikah hampir 2 bulan dengan Tiyah.
Mereka belum bulan madu, Gibran menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan agenda-agenda penting akhir-akhir ini, ia berniat akan menghabiskan waktu bulan madu yang lama dengan Tiyah, dan meninggalkan perusahaan sementara di tangan Dimas dan Khalil. Mereka berdua adalah orang kepercayaan Gibran sejak dulu.
Ia mengambil Handphone nya, menatap foto yang ada di wallpaper handphone itu. Ya, itu foto istrinya yang sedang tersenyum disampingnya saat mereka menikah beberapa waktu lalu. Mereka belum melakukan malam pertama, Gibran berencana melakukannya di waktu yang tepat dan tempat yang akan menjadi moment indah untuk mereka.
Gibran tersenyum membayangkannya, pikirannya menerawang. Tapi lamunannya segera tersadar saat membaca pesan dari Tiyah. “Assalamu'alaikum, apakah sekarang pulangnya malam lagi? Masih lembur ya?” beberapa pertanyaan di pesan WhatsApp.
“Iya, tinggal 5 hari lagi aja kok Sayang. Kenapa? Rindu ya?" goda Gibran.
“Iya, rindu😘.” jawab Tiyah dengan emo cium.
“Aku juga rindu kamu Istriku, sabar ya, cuma 5 hari lagi aja 💖😘.” balas Gibran dengan emo hati dan cium juga.
“Berarti nanti pulang malam ya?”
“Iya, Sayang.”
“Sayang... aku bosan dirumah. Bolehkah aku membantu temanku di tokonya? Ia berjualan bunga. Boleh ya sayang?”
Gibran terdiam sesaat membaca, ia tidak suka Istrinya bekerja, ia lebih suka saat pulang, ia melihat Tiyah dirumah.
“Dimana? Temannya cowok apa cewek?” tanya Gibran posesif.
“Cewek, namanya Hanum. Dekat kok dari rumah. Palingan cuma 20 menit sampai disana.”
“Kalau 20 menit sampai disana, berarti jauh dong.” protes Gibran tidak menyukai Istrinya jauh dari rumah.
“Suamiku, please! Izinin ya, aku sungguh bosan dirumah😢.” Tiyah merayu dan memohon pada Gibran dengan emo menangis.
Gibran lama terdiam, ia tidak suka melihat Tiyah bekerja ataupun hanya membantu teman. Baginya, Tiyah tidak boleh capek. Ia terdiam cukup lama, ia tidak tega menolak keinginan Tiyah.
Apalagi pesan memohon itu beberapakali ia kirim. “Baiklah, Sayang. Tapi harus diantar dan dijemput sopir. Dan gak boleh kecapekan, dan selalu kasih kabar ya Sayang.” balas Gibran setelah beberapa kali pesan Tiyah terkirim.
“Makasih suamiku😘.” Tiyah membalas pesan Gibran dengan emo cium kembali.
Yes, akirnya aku dapat izin.
•••
Jangan lupa like, Vote, dan komentar positifnya ya🌹
BAGUS TU KHALIL DINIKAHIN, BIAR GK PLAYBOY LGI..
BARU TAU LO DICKY KLO SUAMI TIYAH LVLNYA DI ATAS LO.. DN TU GIBRAN SUDH MNCINTAI TIYAH SEDARI KECIL, KRN TIYAH ALAMI SUATU MASALH SAAT BNCANA BANJIR HINGGA LUPA GIBRAN, LUPA DIMAS, HINGGA TIYAH BNYK MNTAN COWOK TRMASUK SI DICKY YG PRMAINKNNYA..
MSKI TIYAH MNOLAK DICKY MNTAH2, TPI TIYAH TTP SALAH KLUAR BRTEMU DICKY TNPA IZIN.. DN SI DICKY KIRA SI KHALIL SUAMI NYA TIYAH, PNTAS SI DICKY BLANG KLO KHALIL BKN LKI2 BAIK2 KRN KHALIL PLAYBOY.. JDI DICKY BLG SUAMI TIYAH BKN LKI2 BAIK..
TPI LO YG DEKATI DN RAYU ISTRI ORG DN INGIN JDI PEBINOR APA LKI2 BAIK, DN LO DLU JUGA JDIKN TIYAH CWEK TARUHAN
APA KIRA2 JAWABN GIBRAN..
TPI SBAGAI ISTRI. DN SBAGAI WANITA BRSUAMI, TK PANTAS BRJALAN DGN LAKI2 YG BUKAN MAHRAMNYA, BHKAN TNPA DITEMANI, DN TNPA IZIN SUAMI.. APAPUN ALASAN NYA APA YG DILAKUKN TIYAH TTP SALAH... KRN MMBERIKAN CELAH PEBINOR DLM RMH TANGGA NYA
DN GIBRAN, KNP GK DICKY YG LO HAJAR, LO SAMPERIN TU KPRUASAHAANNYA..
INI KHALIL & DIMAS YG LO HAJAR..
DN LO JELASIN JUGA TU K TIYAH SIAPA TU RAYA..
TRUS KNP GIBRAN GK PEKA DGN TIYAH,, NTAR TIYAH BLAS SAMA DICKY, MKIN RUNYAM..