Berkali-kali Velly Alexander (26 tahun) mengungkapkan perasaannya pada seorang pria. Velly tergila-gila, pada pesona seorang David Stuart (33 tahun). Yang tak lain adalah sahabat kakaknya sendiri. Berkali-kali juga, David tak peduli dengan apa, yang dikatakan Velly.
Namun seiring berjalannya waktu, Velly yang tak pernah bosan mengejar cinta David, membuat David pun semakin dekat dengan Velly. Tentu saja, awal yang indah bagi Velly. Perhatian David membuat Velly akhirnya, menganggap hubungan mereka, seperti sepasang kekasih. Sementara David, tak pernah menyatakan, bahwa hubungan mereka lebih dari teman. Pada akhirnya, entah mengapa David berusaha menghindari Velly. Membuat Velly merasakan kekecewaan lagi dan lagi. Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah memang David, tak memiliki perasaan apapun pada Velly selama ini? Di kisah ini, masa lalu David dan Velly akan hadir. Apakah mereka sebenarnya berjodoh? Yuk kepoin novel ku yang kedua ini guys. Jangan lupa like dan komen nya ya. Love you readers🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Octa_since, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Masih di butik Velly..
Pertanyaan dari Velly, sanggup membuat Agnes menegang. Dia tak pernah berpikir, sampai ke arah itu. Ya, Agnes belum pernah, menceritakan apapun pada Lucky, tentang masa lalu nya yang kelam. Sungguh, saat ini perasaan Agnes sangat takut.
“ Aku..” ucap Agnes dengan wajah menegang.
Velly pun bisa melihat, ada ketakutan di wajah sahabatnya itu. Ya sesama wanita, Velly tau apa yang di pikirkan Agnes.
“ Jadi, kau belum menceritakan padanya?” tanya Velly lagi.
Seketika, Agnes menggelengkan kepalanya. Lalu matanya, mengeluarkan air mata lagi.
“ Apa yang kau pikirkan Nes?” tanya Velly pelan.
“ I dont know! Aku tak berpikir, untuk jujur pada Lucky,” lirih Agnes dengan penuh kesedihan.
Velly pun menghela nafasnya, dia tau tak mudah untuk berkata jujur. Karena, kita tidak tahu, bagaimana tanggapan dengan orang yang mendengar cerita kita.
“ Aku sarankan, sebaiknya kau berkata jujur pada Lucky,” kata Velly tiba-tiba.
Agnes pun melihat ke arah Velly, hatinya takut sekarang.
“ Hmm.. jujur lebih baik, dari pada dia mendapat info dari orang,” kata Velly lagi.
“ Jujur? Semudah itukah Vell?” lirih Velly dengan mata yang masih basah.
“ Memang tak mudah, tapi kau akan menilai, pria seperti apa yang kau cintai,” sahut Velly serius.
“ Maksudmu?” tanya Agnes gemetar.
“ Cinta itu tidak memandang, bagaimana keadaan. Jika dia, memang tulus mencintaimu, bagaimana pun keadaan mu sekarang, dia pasti akan menerima mu.” terang Velly pada sahabatnya itu.
Agnes menelan ludahnya dengan pelan, dia pun tak yakin pada dirinya saat ini. Lucky adalah pria Asia, yang mungkin bisa saja, menilai gadis dari mahkota yang belum ternoda.
“ Kau tak usah takut Agnes! Kau sendiri yang bilang, kalau mencintai boleh tapi jangan bodoh!” kata Velly.
“ Inilah hidup! Terkadang, tak selamanya sesuai dengan yang kita inginkan. Kau harus berani, berkata jujur,” kata Velly lagi pada Agnes, yang masih diam.
Agnes pun menghela nafasnya, dia mengangguk pada Velly. Mungkin, ada benarnya apa yang di katakan Velly.
“ Akan ku coba, sebelum aku kembali ke New york,” kata Agnes mencoba dengan hati yang tegar.
“ Good girl! Tapi ingat, apapun jawaban Lucky, kau harus kuat!” seru Velly.
“ Aku akan coba,” sahut Agnes dengan melihat sahabatnya itu.
*
*
Velly dan Agnes,saling menguatkan satu sama lain. Mereka adalah sahabat, yang mempunyai masalah yang berbeda. Tapi mereka, saling memberi semangat.
“ Sudah jam 6 Nes, kita pulang yuk! Aku mau ke rumah David nanti malam,” kata Velly jujur.
“ Aku tau, aku mendengarmu tadi berbicara di telepon, dengan tuan David,” sahut Agnes.
“ Apa kau akan bertemu Lucky?” tanya Velly.
“ Aku akan menghubunginya, aku akan jujur malam ini dengannya,” jawab Agnes dengan yakin.
“ Ok! Ayo kita pulang!” ajak Velly dan Agnes pun mengangguk.
Mereka pun pulang bersama, ke mansion. Malam ini, mereka akan bertemu dengan pria mereka masing-masing. Di dalam perjalanan, mereka tak berbicara. Mereka memikirkan, masalah mereka masing-masing.
Sampailah mereka di mansion, dan berjalan bersama masuk. Tentu saja, ada Praja dan Mery yang lagi mengobrol di sofa. Mery melihat putrinya itu, dia juga merasa bersalah, telah berdebat dengan putrinya tadi pagi.
“ Velly,” sapa Mery pada putrinya itu.
“ Ah ya ma,” sahut Velly malas.
“ Kemari, mama mau bicara sayang,” ucap Mery pelan.
Velly pun menurut, dan berjalan menghampiri kedua orang tuanya itu. Sementara, Agnes tak ikut bergabung dengan mereka. Agnes langsung pergi ke kamar Velly.
“ Ada apa ma?” tanya Velly yang duduk berhadapan dengan orang tuanya.
“ Sayang, mama minta maaf tentang yang tadi pagi ya,” kata Mery pelan.
Velly terdiam, dia mengehela nafasnya melihat Mery. Bagaimana pun, dia juga salah karena sedikit membentak mamanya tadi pagi. Praja hanya diam saja, karena istrinya sudah memperingatkan, jangan bicara dulu.
“ Sayang, mama hanya ingin yang terbaik untukmu,” ucap Mery melihat ke arah putrinya itu. Sementara, Velly pun mengerutkan keningnya, apa maksud perkataan mamanya?
“ Maksud mama?” tanya Velly.
“ Sayang, minggu depan mereka datang. Setidaknya, kau mau kenalan dulu dengan pria itu ya,” terang Mery dengan lembut.
Velly pun melihat mamanya, dengan wajah malas. Dia pikir, mamanya berubah pikiran tentang perjodohan ini.
“ Mama tetap ingin menjodohkan ku? Aku kan sudah bilang ma, aku ga suka di jodohkan!” kesal Velly.
“ Dengar dulu dong Vell! Maksud mama, kalian kenalan aja dulu. Kalau memang kau tak suka, mama tak akan memaksa mu sayang,” terang Mery lagi dengan pelan, agar putrinya tidak kesal.
Velly menyandarkan punggungnya, dia memijit kepalanya pusing, karena permintaan mamanya kali ini. Dia heran, kenapa mamanya, terlalu memaksa untuk menjodohkannya.
“ Baiklah ma, tapi hanya perkenalan saja! Aku tetap, tak ingin di jodohkan!” ketus Velly.
Mery pun tersenyum, putrinya sudah mulai luluh sekarang.
“ Awal yang baik,” batin Mery tersenyum. Sementara Praja, hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat wanita yang di cintainya itu.
“ Ok deh ma! Aku ke kamar dulu, aku mau mandi,” kata Velly yang ingin segera berlalu.
“ Ok sayang,” ucap Mery dengan penuh senyuman.
Ketika Velly sudah berlalu dari mereka, Mery menunjukkan wajah bahagia. Dia senyum-senyum sendiri, tanpa menoleh ke arah suaminya.
“ Sayang, kamu itu ada aja caranya membujuk Velly,” Kata Praja tiba-tiba.
“ Ah? Iya dong sayang, aku masih bisa di andalkan kan?” kata Mery lagi dengan tersenyum.
“ Oh sayang, kamu tidak lihat? Wajah Velly murung sayang,”
“ Kamu ya, kenapa sih ga mendukung?” Kesal Mery.
“ Sayang kamu tau ga? Aku sudah trauma menjodohkan anak-anak! Nanti kalau dia tak bahagia gimana?”
“ Apa kamu ga percaya denganku? Kenapa sih, suamiku tak percaya padaku?” kesal Mery lagi dan langsung pergi meninggalkan suaminya.
Mery sekarang berada di kamar, dia sangat kesal dengan suaminya. Dia malas berdebat, karena suaminya tak mendukung keputusannya. Praja pun juga beranjak dari sofa. Lagi-lagi istrinya bersikap kekanak-kanakan.
“ Sayang, kamu kenapa sih?” tanya Praja yang sudah berada di kamar bersama Mery.
“ Sudah! Aku malas berdebat sama kamu! Sebaiknya, kita tak usah saling bicara dulu!” ketus Mery pada suaminya. Ya Mery sedang duduk di ranjang, dan menyandarkan punggungnya. Seketika Praja langsung, menghampiri Mery yang wajahnya sangat kesal.
“ Sayang dengarkan aku,”
“ Bisa diam? Aku bilang, aku ga mau bicara dulu sama kamu!” bentak Mery dan membuat Praja takut. Apa? Tak bicara dulu sementara ini? Oh tidak bisa! Praja tak bisa, kalau istrinya cuek dengannya. Sifat Praja, hampir sama dengan putra keduanya.
“ Im sorry, kamu tau aku ga bisa, kalau kamu cuek sayang,”
“ Sana! Aku ga mood bicara denganmu!”
“ Ok! Aku setuju, dengan keputusanmu. Aku akan diam sayang, tapi jangan menghindariku,” sahut Praja dengan tenang, tentu saja dia harus mengalah.
Mery pun langsung menoleh ke arah suaminya. Lalu seketika dia tersenyum, karena Praja mau mengalah.
“ Baiklah pak Bos!” kata Mery tersenyum pada suaminya. Praja pun langsung memeluk istrinya dengan erat.
*
Sementara di kamar Velly…
“ Sial! Mama tetap ingin menjodohkan ku!” kesal Velly mondar -mandir.
“ Sudah Vell! Kenalan aja dulu, siapa tau dia pria tampan,” sahut Agnes yang baru keluar dari kamar mandi.
“ What? Kau pikir aku peduli, dia tampan atau tidak?” kesal Velly.
“ Haha ya ampun Vell! Aku tak yakin, kalau dia pria tampan, kau mampu menolak,” Kata Agnes tertawa.
“ Kau pikir? Selama ini, aku tak pernah berteman dengan pria tampan?” ketus Velly.
Agnes menaikkan bahunya, dia pun tak mengerti lagi dengan pikiran sahabatnya itu.
“ Se tampan apapun pria itu! Aku tak akan mau, menikah dengannya!” kata Velly dengan yakin.
“ Aku pegang kata-kata mu ,” sahut Agnes yang sedang, mengeringkan rambutnya.
“ Hah! Lihat saja nanti!” kesal Velly lalu pergi ke kamar mandi.
“ kita pergi sama-sama ya! Aku mau ke apartemen Lucky!” teriak Agnes pada Velly yang sudah masuk ke kamar mandi.