"Selamanya masa lalu adalah pemenang, siapapun pengisi hati hari ini, akan kalah dengan masa lalu yang datang kembali."
Untuk Sheila, itu tidak berlaku, karna masa lalu yang dicintai suaminya setengah mati itu sudah tiada hampir sepuluh tahun yang lalu karna jatuh ke jurang.
Karna itu, suaminya hanya bisa mencintai dirinya yang masih hidup di dunia ini.
Lantas, bagaimana jika masa lalu yang dikatakan telah meninggal dunia, datang kembali seperti keajaiban dengan anak perempuan berusia sepuluh tahun?
Lantas, apakah benar masa lalu akan tetap menjadi pemenang setelah kembali?
Apakah Sheila hanya menjadi istri pengganti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arthur
Satu Minggu sudah berlalu semenjak upaya mediasi pertama, dan pengadilan memutuskan tidak ada upaya mediasi lagi untuk membuat Haren dan Shei rujuk.
Sementara di rumah ini, Shei masih tinggal berdua bersama dengan Arthur. Tapi masih ada orang tua Shei juga, orang tua Haren masih rutin datang juga. Dan Avi sendiri memutuskan untuk menetap agak lama disini, beberapa hari lalu dia mulai mengatur bisnisnya agar dia bisa bekerja dari sini, dan itu berhasil meski agak sulit memang. Tidak masalah, selama Avi bisa menemani Shei. Toh Avi juga merindukan Shei, ia juga menyayangi Arthur.
Ting!
Shei mendapatkan sebuah pesan dari Haren, demi menjaga silaturahmi dan hubungan baik demi Arthur, Shei masih menyimpan nomor Haren.
From Haren :
Satu jam lagi aku bakal jemput Arthur.
Ah! Shei baru ingat, kalau ini adalah hari sabtu. Dan sesua kesepakatan Haren dan Shei, Arthur bersama dengan Haren dari sabtu sore hingga minggu malam, semua demi menjaga mental Arthur, agar Arthur tetap dekat dengan sang ayah, pun dengan Haren agar kasih sayangnya pada Arthur tidak kurang sedikitpun.
^^^Reply Shei :^^^
^^^Oke^^^
Shei menutup ponselnya, dia segera melirik putranya yang sedari tadi sibuk bermain puzzle di depannya bersama sang nenek. Itu adalah Nenek Pia, ibunya Haren. Ibunya Haren memang sengaja datang untuk menemani Arthur agar tidak kesepian, dan tidak memikirkan sang ayah.
Shei menarik napasnya secara perlahan. Dia diam untuk beberapa menit, melihat putranya yang masih bermain. Shei sengaja menunggu Arthur menyelesaikan rangkaian puzzle itu. Soalnya Arthur itu anak yang cerdas, dan dia sedih jika diganggu saat bermain permainan sejenis teka teki, atau memecahkan suatu masalah. Dia suka permainan dengan mencari jalan keluar dari merangkai, entah itu potongan gambar, puzzle, atau teka-teki.
"Arthur, Nak, udah ya mainnya, ayo siap-siap." Shei berbicara lembut, saat melihat potongan terakhir puzzle anaknya sudah tersusun.
"Perlu mandi ngga ma? kita mau kemana emang?" Jawab Arthur yang baru saja selesai.
"Bukan kita, tapi kamu. Sebentar lagi papa bakal jemput kamu."
Wajah Arthur langsung lesu, perubahan ekspresi itu terjadi secara drastis. Tapi anak kecil itu hanya diam, menunduk lesu, tatapannya sangat sedih dan menyayat hati.
"Apa maksud kamu Shei? Kamu ngga mau tinggal sama Arthur? Kamu tau kan Haren itu gimana, cucu saya ini bakal menderita kalau tinggal sa--"
"Bukan begitu maksud Shei Bu. kita berdua sepakat, dan udah setuju Arthur tinggal sama Shei, tapi setiap sabtu sore Arthur bakal dijemput Haren, dan minggu malam Arthur bakal pulang kesini Bu. Supaya hubungan Arthur sama Mas Haren ngga renggang." Jelas Shei dengan lembut dan tenang.
Sang mantan ibu mertua tersenyum lega, dia memegang dadanya. "Maafin ibu ya Shei, ibu jadi agak emosi sama kamu. Habisnya ibu udah kesel sama Haren."
"Iya, ngga apa-apa Bu."
"Berarti cuma satu hari ya, Ma? Ngga apa-apa, yang penting Arthur tinggal lamanya sama mama. Ya udah ayo ma, temenin Arthur mandi, Arthur siap-siap jalan sama papa." Arthur memeluk sang mama, dia tersenyum ceria, merasa lega bahwa itu hanya satu hari dari satu minggu, dan enam hari sisanya masih ia habiskan bersama sang mama tercinta.
......................
Ngga apa-apa, cuma satu hari aja kok, satu hari. Arthur bakal bertahan sekuat tenaga demi mama, demi kebahagiaan mama, biar mama tenang dan ga sedih-sedih lagi, kalau mama sedih, Arthur ikut sedih. Biar mama ga kepikiran lagi, biar jangan nangis lagi, Arthur sakit kalau inget mama nangis.
Arthur menatap dirinya di cermin kamar mandi, dia sedang mandi, katanya mau mandi sendiri.
Arthur mengingat bagaimana sang mama menangis sejak satu bulan terakhir. Anak itu juga mengingat, hampir setiap malam sang mama menangis, tapi syukurlah satu minggu belakangan, sang mama tidak lagi menangis.
Arthur masih ingat dengan jelas bagaimana suara tangisan mama malam itu, tangisan mamanya yang mengkhawatirkan Arthur.
Malam itu Arthur tidak tidur, dia mendengar semua keluhan dan kekhawatiran Shei untuk dirinya. Sebesar itu Shei mencintai Arthur, dan Arthur pun sebaliknya, dia sangat mencintai Shei.
Arthur tau, Shei sudah sangat sedih, dan Arthur ingin meringankan bebannya. Walau sejujurnya dari hati yang paling dalam, Arthur sudah sangat membenci Haren, walau Haren adalah ayah kandungnya sendiri. Tapi Arthur tetap menyembunyikannua dari Shei, karna Arthur tau, mamanya itu tidak akan suka jika Arthur seperti ini, mamanya akan sedih jika tau Arthur membenci sang ayah. Makanya Arthur sembunyikan fakta itu, dan anak itu tetap berpura-pura menyayangi Haren sesuai yang Shei pikirkan.
Setidaknya Arthur ingin, Shei hidup tenang dan tidak mengkhawatirkan hal-hal tidak penting, Arthur akan sembunyikan kebencian ini dari mama, sampai kapanpun agar tidak lagi merusak senyuman sang mama.
Arthur paling tidak suka kalau mamanya menangis pilu, rasanya kemarahan mendidih di sekujur tubuh anak itu.
Arthur sudah mengerti, bahwa ayahnya meninggalkan mamanya demi perempuan lain, hanya itu yang Arthur pahami.
Karna itu, Arthur membenci papanya.
Terus sembunyikan dan pura-pura sayang sama papa, biar mama ngga sedih.
Itu yang Arthur pikir bisa membantu meringankan beban mamanya, dia hanya bisa membantu itu untuk usianya yang sekarang. Tanpa Arthur tau, bahwa Arthur tersenyum dan memeluk Shei saja, itu sudah sangat lebih dari cukup untuk membantu Shei menenangkan dirinya.
......................
Semuanya sedang berkumpul di ruang tamu sore hari ini, menikmati secangkir teh yang disajikan. Masih ada ibu Haren disana, sedangkan ayah Haren dan ayahnya Shei pergi memancing di kolam belakang, ibu Shei ada disana, pun dengan Avi yang baru pulang bekerja. Mereka semua sudah tau soal kesepakatan Shei dan Haren tentang pola asuh yang akan mereka terapkan untuk Arthur, pasca perceraian.
Tentu sudah ada Arthur yang sudah mandi, wangi, dan lucu dengan membawa tas punggung hitam yang berisi baju dan satu mainannya.
Shei tidak pernah mengatakan, atau memberikan pengertian dan penjelasan pada Arthur soal perceraian dirinya dan Haren. Yang melakukannya adalah Avi, dan juga kedua kakek dan nenek Arthur. Shei tidak pernah sekalipun menyinggung soal kata-kata perpisahan dirinya dan Haren depan Arthur.
"Dimana Arthur? Dia udah siap kan? Kami mau makan malam."
Entah sejak kapan, tanpa mengetuk, atau membunyikan bel, Haren masuk ke dalam rumah. Ia menghentikan langkahnya tepat di ruang tamu, karna disana sudah ramai orang, termasuk anaknya yang ingin dia jemput.
"Dasar kamu anak kurang ajar!" Bentak ibunya Haren. Bagaimana dia tidak kesal, jika anaknya itu datang kesini dengan membawa Kayna dan Ayren bersamanya.
ada kami yg mendukungmu
dia bilang shei murahan tpi dia gak ngaca gitu saat dia ciuman & pelukan didepan istri sahnya dengn wanita lain... meski orang itu org zg prnah dicintainya tpi kn dia dah punya istri jdi dia hrusnya bs tahan kan nafsunya itu.... bahkan dia ceraikan shei krna jalang itu pula, skrg mlah berlagak sok benar dan sok suci ,cuiiihh... jijik liatnya 😤😤😤