Tak ada yang menyangka jika orang yang dianggap musuh ternyata orang yang dikirim Tuhan untuk menjadi orang yang berarti dalam hidupnya.
Walau banyak sekali rintangan untuk mengucap janji suci. Tapi jika Tuhan sudah berkehendak rintangan seberat apapun tidak akan mengalahkan tekadnya.
Gama Alexander berubah menjadi posesif ketika sudah menjadi suami Elata. Tegas dan mempunyai karismatik yang menawan. Sehingga tak banyak yang kagum pada sesosok pengusaha muda tersebut.
Elata wanita yang dari dulu sangat dicintai dan diinginkan Gama. Siapa yang tidak kenal dengan wanita jutek itu. Tapi, setelah menikah dengan Gama, Elata berubah menjadi sosok yang ramah. Berbeda jika pada saat dengan Gama, wanita cantik itu akan berubah 180 derajat. Tingkah absurdnya akan kembali.
Apakah Gama dan Elata akan tetap bertahan dengan pernikahannya seperti waktu mereka pacaran dulu dengan cobaan yang akan datang menimpa pernikahan mereka. Ataukah akan sebaliknya?
Simak di MEIML
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seizy kurniawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nganu-Nganu
Sudah dua hari berlalu semenjak kejadian di acara ulang tahun Ariska. Dan dua hari itu pula Elata tidak pernah menghubungi Gama, walau hanya sekedar menyapa.
Jika di sekolah pun Elata hanya cuek tak memperdulikan Gama. Jika ada PR pun, Elata hanya bisa mengandalkan otaknya. Biasanya Elata slalu mencotek PR Gama. Tapi tidak untuk dua hari ini. Elata merasa kecewa pada Gama. Terlebih pada dirinya sendiri. Yang tak bisa mengakui jika saat itu ia cemburu.
Begitu juga dengan Gama. Pemuda itu sama sekali tidak menghubungi Elata. Padahal hatinya merasa gundah gulana. Jika di sekolah Gama hanya menghindar dari Elata. Kerap kali ia menyendiri menenangkan pikirannya dan menyadari perasaannya.
Ya, Gama menyadari bahwa Elata sangatlah penting. Elata bukan hanya sekedar teman masa kecilnya, tetapi Gama ingin Elata menjadi teman hidupnya. Sekarang ataupun nanti. Mungkin Gama terlalu naif tentang prasaannya. Tapi pemuda itu tak bisa mengatakannya secara jujur.
Gama menyadari kesalahannya dulu. Kesalahan yang mungkin tak bisa di lupakan Elata. Saat itu Gama merasa Elata bersalah. Tapi tak sepantasnya Gama menyalahkan sebuah takdir yang Tuhan gariskan.
****
Sore itu di balkon kamar Elata. Gadis cantik yang hanya memakai hotpen dan blus panjang, rambutnya ia biarkan terurai. Menopang dagu di pagar stainles balkon rumahnya. Matanya melihat ke arah sisi rumah dimana Elata sering melihat Gama nongkrong di taman rumahnya hanya sekedar duduk dan terkadang mengobrol hal tak penting dengan Elata lewat telpon genggamnya. Tapi untuk dua hari ini Elata tak mendapati pemuda itu di taman.
"Kemana tuh anak?" Tanya Elata pada dirinya sendiri. Lalu ia merogoh ponsel yang ada di saku celana hotpennya.
Elata mencoba mengetikan sesuatu di galery pesan. Mencoba akan mend-send pesan itu. Tapi ia urungkan kembali. Elata menghapus isi pesan itu Lagi. Elata terus mengulanginya beberapa kali, seperti orang bodoh.
Elata mengacak rambutnya prustasi. Kemudian gadis itu beranjak dari balkon dan kembali menatap taman rumah sebelahnya. Sudah dua hari ini ia merasa harinya sepi tak berwarna. Elata merasa rindu pada Gama. Sudah dua hari Elata mencuekan Gama seolah tak peduli. Padahal hatinya sepi.
Elata berpikir, mengapa ia tak menemui di rumahnya saja? Elata melangkah ke arah pintu kamarnya. Setelah pintu terbuka, Elata kembali menutupnya.
"Ngapain gue ke rumah Gama?" Bertanya pada dirinya sendiri.
Mungkin saat ini lebih baik ia mandi terlebih dahulu untuk mendinginkan hati dan prasaannya yang tengah kalut.
****
Di tempat lain, Gama yang berada di kamarnya sedang tertidur pulas di atas empuk kasur miliknya. Tidurnya begitu damai, wajahnya yang polos. Siapa saja yang melihatnya pasti akan terpesona akan ketampanan wajahnya yang rupawan.
"Tan, Gama ada kan?" Elata yang setelah selesai mandi di rumahnya tadi memutuskan untuk pergi ke rumah Gama.
"Tadi lagi tidur, El. Mungkin belum bangun. Masuk aja gih!"
Elata mengangguk. Kemudian berlalu menapaki anak tangga melangkah ke kamar Gama yang ada di lantai atas.
Elata memegang knop pintu kamar Gama. Setengah ragu Elata memutar knop itu dan membuka pintunya perlahan. Eh tidak di kunci. Gumamnya pelan. Elata membuka pintu lebar. Perlahan masuk ke dalam. Dan benar saja, Gama sedang asik dalam mimpinya.
Elata mencoba berjalan mendekat ke ranjang Gama. Gadis itu membungkukkan tubuhnya. Tangannya ia tekankan ke kasur Gama. Mendekatkan wajahnya perlahan ke arah wajah Gama. Eh Elata mau apa nak?
"Wajah Gama polos banget kalau lagi tidur gini. Gak kaya biasanya, datar tanpa ekspresi" Gumam Elata pelan.
Saat wajah Elata masih di depan Gama, tiba-tiba Gama membuka matanya setelah merasa ada angin yang menyapu pipi putihnya. Elata kaget. Matanya membulat dengan sempurna. Gama yang belum mengumpulkan semua nyawanya hanya mengerjapkan matanya. Kemudian mencoba membalikan posisi tubuhnya dari tengkurap.
Saat Gama akan membalikan posisinya tangan Elata yang masih ada di atas kasur Gama, tak sengaja di runtuhkan Gama, sehingga tangan Elata tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Lantas tubuh Elata menabrak tubub Gama dan kini tubunya berada di atas tubuh Gama.
Gama masih belum mengumpulkan kesadaran sepenuhnya. Pemuda yang baru membuka matanya itu mengerjapkan kembali matanya berulang-ulang.
Mata Elata membulat dengan sempurna, mulutnya menganga tak percaya. Jantungnya seakan sedang lari maraton. Gadis itu juga dapat merasakan suara detakan dari jantung Gama. Dan hembusan nafas yang menerpa wajah mulusnya.
"Elata? Ngapain di kamar gue?" Pertanyaan itu lolos keluat dari suara pemuda dengan suara khas bangun tidur.
"Gue....Gue.....Gu..." Belum Elata menjawab pertanyaan Gama. Tiba-tiba suara barinton dari arah luar pintu menggema di dalam kamar milik Gama yang pintunya terbuka lebar. Lantas ke dua makhluk itu menoleh ke asal suara.
Elata segera beranjak dari posisi wenaknya. Elata menggigit kuku jarinya. Wajahnya tiba-tiba saja memerah seperti orang yang ketahuan sedang nyolong ayam milik tetangga.
"Papa, ngapain?" Gama bertanya pada sang Papa setelah merubah posisi wenaknya tadi menjadi duduk.
"Loh, harusnya Papa yang tanya. Kamu ngapain sama Elata? Kamu jangan nganu-nganu dulu, Gam! Kalian belum nikah terus juga masih sekolah" Terlihat senyum jahil di wajah Papanya Gama.
Elata tak tahu harus menjelaskannya bagai mana pada Papa Gama. Dia merasa kikuk. Elata hanya memicingkan matanya menatap Gama dengan tatapan memohon. Seakan Elata meminta pemuda itu untuk menjelaskan pada Papanya. Gama hanya mengangkat ke dua bahunya. Tidak peduli
"Ya sudah Papa mau ke ruang kerja dulu. Jangan di trusin nganu-nganunya!"
Nganu-nganu apaan coba maksudnya? Begitu pikir Elata
Iya, tadi Papa Doni tak sengaja melihat Gama dan Elata, dengan posisi Elata di atas Gama. Saat hendak ke ruang kerjanya yang kebetulan melewati kamar Gama.
Papa Doni berlalu ke luar kamar Gama. Menggelengkan kepalanya dan senyum wajah terpampang di bibirnya.
"Loe...." Elata menunjuk wajah Gama dengan jari telunjuknya karna kesal.
"Apa?" Sargah Gama langsung pergi ke kamar mandi, meninggalkan Elata yang tengah kesal setengah mati.
Apa yang dipikirkan Papa Doni nanti? Jangan sampe papanya Gama memikirkan sesuatu yang tidak-tidak tentang Gama dan Elata tadi. Apa katanya nanti? Kalau sampe Papa Doni mikir macam-macam tentang Elata. Elata trus berkutik dengan asumsinya, kemudian berlalu pergi dari kamar Gama dengan wajah kesal.
****
"Ada apa?" Pertanyaan itu keluar dari bibir merah Gama.
Pemuda itu kini sedang menghubungi seseorang lewat benda persegi yang di tempelkan di telinganya. Matanya menatap kamar Elata yang terlihat dari arah taman rumah Gama. Yang tertutup tirai putih transparan.
Seperti sebelum dua hari mereka lalui. Gama kembali nongkrong di taman rumahnya. Menikmati senja yang indah. Dan merasakan hembusan angin menyapu wajah tampannya.
" apanya?" Elata yang ada di sebrang sana menjawab.
"Tadi loe, ke rumah gue?"
" gak ada apa-apa " Jawab Elata
"Loe dimana?"
" gue di rumah, kenapa?"
"Loe di kamar?"
" hhhmmmm "
"Ke balkon dong! Gue di taman " Ucapnya. Gama terus menatap balkon kamar Elata, yang kebetulan balkon kamarnya menghadap ke taman rumah Gama.
" ngapain? "
"Ya, keluar aja!"
" ogah " Jawab Elata. Tapi langkah kakinya menuju ke arah jendela kaca. Gadis itu menatap pemuda yang tengah berada di taman rumahnya dengan menyibakkan tirai kamarnya. Hanya sedikit saja.
"Ogah, tapi ngintipin gue " Gama terkekeh. Wajah Elata meumerah. Walau Gama tak di hadapannya dapat di pastikan jika kini Elata sedang merasa malu. Gadis itu merasa ketahuan sedang curi-curi pandang.
" GR banget, loe? " Elata menggigit biwir bawahnya.
"Tadi loe mau apa ke rumah. Sampai ke kamar gue segala? Jangan-jangan bener ya, loe mau nganu-nganu gue?" Elata sontak membelalakan matanya. Kalau aja Gama ada di hadapannya sekarang, ingin sekali Elata menjitak kepalanya sampai benjol.
" Gama....."
"Apa, El?"
" dasar loe otak mesum ". Elata terkekeh. Gama hanya tertawa di luar sana.
"Apanya yang mesum sih?" Gama terus menggoda Elata. Yang di goda sudah salah tingkah saja. Gemes pengen nabok pipi Gama.
"Terus, mau apa? Kangen?" Gama kembali pada pertanyaan awalnya.
"ngapain gue kangen ke loe? gak ada akhlak" Jawabnya tak mau kalah.
"Terus ngapain kalau bukan kangen?"
" Mau nyontek PR fisika loe " Jawabnya asal.
"Dasar gak tau diri" Gama berdecak kesal. Kemudian menutup sambungan telponnya begitu saja. Marah
****
TBC
Author minta dukungan vote nya ya para reader's ku sayang.
maacihhhh
fallow juga IG author Seizyll-kurniawan.
lope lope