Meidina kini telah resmi menjadi istri seorang Kapolsek, Nyonya Radit Al Farizi. Pria yang mencintai nya tulus tanpa, memandang status masa lalunya.
Derajat Meidina, kini terangkat setelah menikah dengan Radit. Pria yang mampu menutupi masa lalunya sebagai wanita malam, dan memberikan sebuah kebahagiaan yang selama ini dia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Herliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usaha
"Bagaimana Sandi?" tanya Radit saat dirinya sedang berada di ruang praktek Sandi.
"Gimana kalau operasi saja?"ucap Sandi.
Radit menoleh ke arah Meidina, tangan Meidina langsung menggenggam tangan Radit. Seutas senyuman, terlihat di wajah Meidina.
"Apa yang terbaik, buat Abang. Saya dukung, yang penting Abang sembuh." ucap Meidina.
"Terima kasih sayang." ucap Radit.
"Jadi kapan, siap untuk operasi?" tanya Sandi.
"Secepatnya juga boleh." jawab Meidina.
"Lusa gimana? saya kosong tidak ada jadwal operasi."
"Kalau lusa, terlalu cepat, lebih baik minggu depan saja gimana?" ucap Radit.
"Ok, kalau kamu siap nya minggu depan, saya kosong kan jadwal nya untuk kamu."ucap Sandi.
" Atur saja jam berapa nya, dan hari nya." ucap Meidina.
"Ok, tanggal 5 hari kamis ya."
*****
"Yank."
"Kenapa Bang? "
"Abang takut."
"Takut kenapa?"
"Abang takut, saat di operasi."
"Berdoa saja ya Bang, harus yakin pasti sembuh."
"Sayang, kalau misalnya Abang tidak berumur panjang, bagaimana?"
"Abang kok bicara nya seperti itu. Jangan seperti itu lah, Abang harus yakin bisa."
"Abang hanya ingin tanya, gimana?"
Tentunya, saya akan sedih Bang, anak yang di kandung saya ini, membutuhkan sosok seorang Ayah. Dan saya pun , tidak ingin kehilangan Abang."
"Tapi kita tidak bisa melawan takdir."
"Tapi kita sebagai manusia, berusaha dan berdoa. Abang jangan bicara seperti itu lagi."ucap Meidina, langsung memeluk tubuh Radit.
Di peluk nya, tubuh Meidina sangat erat. Radit, tak lupa mengecup pucuk kepala Meidina. Meidina melepaskan pelukan nya, lalu mengecup bibir suami nya.
" Mei, tidak akan pernah lupa, untuk mendoakan Abang dalam setiap sujud."
"Abang berat sama kamu sayang, tapi Abang takut tidak bisa menemani kamu hingga tua nanti."
"Abang, tolong jangan bicara seperti itu lagi."
"Iya sayang, maafkan Abang ya."
****
"Ya Allah Radit, jadi kamu sakit nak?" ucap Ibu Mira.
"Nak, kamu kenapa baru bilang, kenapa tidak jujur sama kami." ucap Pak Halim.
"Maafkan saya Ayah, Ibu. Mei juga sebenarnya, tidak tahu dan dia tahu sendiri." ucap Radit.
"Kalau saya tidak menemukan resep obat itu , saya juga nggak akan tahu. Dan mungkin, Abang sakit diam saja dan malah di tahan kali." ucap Meidina.
"Kamu jangan begitu Radit, jangan buat Ayah sama ibu tambah khawatir."ucap Ibu Mira.
" Maafkan saya bu, maaf." ucap Radit.
"Saya takut, kalian tambah khawatir." ucap Radit kembali.
"Malah kamu diam, yang kami tambah khawatir. Kalau seperti ini kan, jujur enak."ucap Pak Halim.
*****
"Kamu punya masalah apa sama Bagas?" tanya Abi Mulia.
"Saya sudah nggak cocok Abi sama Mas Bagas." jawab Anisah.
"Astagfirullah, kamu itu tidak boleh bicara seperti itu. Tidak baik, mungkin Bagas seperti itu karena kamu salah."
"Jadi Abi bela dia, tidak membela anak Abi." ucap Anisah.
"Kamu itu kenapa sih? sekarang kamu berubah. Seharusnya kamu, itu tidak seperti itu. Tidak baik, sikap kamu itu tidak pantas untuk di tiru. Apalagi, kamu istri seorang pemimpin, apa begini sikap kamu.Bagaimana kalau ada yang melihat, kamu itu nanti di cap jelek."
"Sudahlah Abi, saya itu ingin sendiri tidak mau berdebat." ucap Anisah langsung pergi meninggalkan Abi Mulai.
"Astagfirullah, kamu itu sedang kenapa Anisah. Kamu itu makin kesini, makin mirip Daus."
****
"Kita pulang." ajak Bagas pada Anisah, saat menjemput di rumah Abi Mulia.
"Tidak, saya tidak mau." ucap Anisah.
"Mas harus bagaimana? kamu itu mau nya apa?"
"Maunya, Mas itu jangan salahkan saya terus."
"Salahkan apa sih, Mas hanya menegur kamu. Apa salahnya suami menegur istri, kamu tidak terima di ajarkan baik - baik sama suami. Tahu nggak, suami itu akan ditanyakan nanti di akhirat, kalah tidak bisa menegur atau mengingat kan istri nya."
"Cukup Mas, saya akan terus disalahkan."
"Ok, kalau kamu keras kepala begitu. Mas pulang, dan Mas tidak ingin debat sama kamu. Pintu rumah, selalu terbuka kapan pun kamu mau pulang." ucap Bagas, langsung pergi meninggalkan kamar Anisah.
Abi Mulia hanya menggeleng kan kepala nya, saat melihat tingkah putri nya. Bagas lalu mendekati, Abi Mulia.
"Sabar, Abi sudah tegur dia. Tapi entah lah, dia seperti Om nya."
"Saya bingung Abi, harus gimana lagi. Saya kan menegur dia, untuk jangan ungkit masa lalu Meidina. Suami nya itu marah, saya tegur malah bilang nya yang tidak - tidak."
"Abi jujur tidak pernah membedakan anak - anak Abi. Dia juga selalu menatap tidak suka pada Mba Rosa, padahal Abi tidak jadi melamar dia. Dan Mba Rosa juga tidak mau sama Abi." ucap Abi Mulia.
"Maafkan Anisah Abi."
****
"Kamu ada apa? tumben ke kantor." tanya Radit.
"Kamu masih marah sama saya?"
"Tidak, sudahlah kita saudara jangan di perpanjangan lagi."
"Maafkan saya, tidak enak hati saya sama kamu."
"Bagas."
"Iya, kenapa?"
"Saya sakit."
"Sakit apa?"
"Saya sakit jantung, dan saya akan di operasi minggu depan. Saya minta doa nya, agar operasi saya berhasil."
"Ya Allah, berarti kamu kemarin itu, memang benar sakit ya saat memegang dada itu." ucap Bagas.
"Iya."
"Kamu harus sembuh, ingat Mei sama calon bayi kamu.Ingat dia, kamu harus semangat."
"Iya, makasih ya."
"Kamu harus sembuh."
"Saya takut, takut tidak bisa menemani dia. Saya takut, tidak bisa menjadi bersama dia."
"Pasti bisa, pasti kamu bisa sembuh."
"Tapi bila suatu saat nanti, saya tidak berumur panjang. Kamu mau kan, menjaga Meidina?"
"Kamu itu bicara apa sih? kamu itu pasti sembuh." ucap Bagas.
"Itu yang saya takut kan.Saya takut tidak bisa bersama dia hingga tua nanti."
"Kamu jangan bicara seperti itu, Meidina akan sedih kalau kamu bicara seperti itu."
"Justru, Meidina saya bilang begitu. Saya tahu, di balik tegar nya ada rasa sedih di belakang nya."
*****
"Sayang, yang sehat ya. Kamu harus lahir sehat dan selamat, Mamah juga, tidak lupa doa untuk Papah sayang. Semoga Papah sehat kembali, kamu sama Papah, adalah harta paling berharga nya Mamah." ucap Meidina sambil mengusap perut nya.
Dari balik pintu Radit tersenyum getir, sambil memegang dada nya. Saat mengangkat wajah nya, Meidina melihat Radit sedang berdiri.
"Abang." ucap Meidina, dan Radit langsung menghampiri istri nya.
"Sayang, sedang nunggu Abang pulang ya?"
"Iya Bang, eh tahu - tahu sudah sampai kamar. Tidak dengar suara mobil nya Abang." ucap Meidina.
"Kamu nya di kamar, serius sekali."
"Abang mau makan, apa langsung mandi?"
"Mandi dulu ya, gerah soalnya."
"Mei, siapkan air panas dulu ya."
"Iya sayang."
"Obat nya sudah di minum kan Bang?"
"Sudah sayang."
.
.
.
7 bln & 8bln sudh dlam kandungan ku bawa kmna2 tp dia lbh senang memilih Allah,.
tunggu mamah disana ya 2bidadari kecilku
perempuan itu tipe nya setia jika di tinggal meninggal suaminya. Jika di sakiti lelaki jangan memikirkan cari pasangan baru. karena anak lebih penting dari cari suami baru.