Sekar tidak seharusnya hidup lagi.
Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.
Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.
Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.
Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.
Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.
Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 018
Kebenaran
Kali ini, kebenaran tidak lagi berdiri di luar pintu.
Rio masuk ke ruang guru dengan wajah malas, tetapi langkahnya lurus.
Semua orang di dalam ruangan menoleh. Bu Wati duduk di balik meja dengan beberapa kertas keterangan di depannya. Pak Arief berdiri di samping lemari arsip. Kevin duduk di kursi dekat jendela, punggungnya tegak. Adrian berada di kursi lain, siku berperban tipis, wajahnya masih memakai ekspresi sabar.
Ekspresi itu berubah sedikit saat melihat Rio.
"Rio?" Bu Wati mengerutkan dahi. "Kamu termasuk siswa yang melihat kejadian?"
Rio memasukkan tangan ke saku. "Iya, Bu."
Pak Arief menatapnya tajam. "Kalau kamu mau memberi keterangan, bicara yang jelas. Ini bukan tempat bercanda."
"Saya tahu, Pak."
Sekar berdiri di dekat pintu bersama Yola, Bryan, dan Steven. Pintu tidak ditutup penuh karena Bu Wati meminta beberapa saksi menunggu giliran. Dari celah itu, Sekar bisa melihat Kevin menoleh ke arah Rio.
Rio tidak melihat Kevin.
Ia melihat Adrian.
"Saya ada di sisi luar tangga, dekat jendela," kata Rio. "Saya lihat Kevin dan Adrian bicara. Kevin memang turun satu anak tangga dan kelihatan marah. Tapi dia tidak mendorong Adrian."
Ruangan hening.
Bu Wati mencondongkan tubuh. "Kamu yakin?"
"Yakin."
Adrian menarik napas pelan. "Rio, mungkin dari posisimu..."
"Posisi gue paling jelas," potong Rio. "Lo yang mundur sendiri."
Pak Arief memperingatkan, "Rio, gunakan bahasa yang sopan."
Rio menghela napas. "Maaf, Pak. Maksud saya, Adrian mundur sendiri."
Adrian menatap meja. "Saya jatuh karena panik. Kevin mendekat dengan marah."
"Lo jatuh setelah teriak 'Kevin, jangan'," kata Rio. "Padahal dia belum pegang lo."
Kata-kata itu membuat udara berubah.
Sekar merasakan Yola menggenggam lengannya.
Bu Wati membuka laptop dan memutar video dari ponsel Steven yang sudah dikirim ke guru. Video buram itu tidak memperlihatkan semuanya, tetapi setelah diperlambat, bagian sebelum Adrian jatuh menunjukkan satu hal penting: tubuh Adrian bergerak mundur sebelum lengan Kevin terangkat.
Pak Arief meminta Steven masuk dan menjelaskan sumber video. Steven menjawab rapi, menunjukkan waktu pengiriman pertama di grup, lalu membandingkan dengan pesan-pesan rumor yang muncul setelahnya.
"Jadi video yang beredar hanya bagian jatuhnya," kata Steven. "Bagian sebelumnya tidak ada di potongan yang disebar."
Yola ikut dipanggil untuk menunjukkan tangkapan layar grup. Ia memperlihatkan pesan pertama yang menulis "Kevin dorong Adrian" padahal pengirimnya tidak berada di tangga.
Bu Wati mencatat semuanya.
Adrian semakin diam.
Namun ia masih mencoba bertahan.
"Saya tidak pernah bilang Kevin sengaja mendorong saya," ucapnya pelan. "Saya hanya... panik. Waktu itu dia terlihat sangat marah."
Sekar tidak tahan lagi.
"Tapi kamu membiarkan semua orang percaya dia mendorongmu."
Bu Wati menatap Sekar, tetapi kali ini tidak menghentikannya.
Sekar melangkah masuk penuh ke ruang guru. "Kamu bilang ke guru kamu tidak tahu apakah Kevin sengaja atau tidak. Kamu bilang di depan semua orang kamu tidak mau memperbesar masalah. Tapi sebelum itu, kamu sudah bilang ke Kevin bahwa orang seperti dia gampang disalahkan."
Wajah Adrian berubah.
Pak Arief menoleh tajam. "Adrian, kamu mengatakan itu?"
Adrian membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Rio tertawa kecil tanpa humor. "Dia juga bilang ke saya jangan ikut campur kalau tidak yakin."
Bu Wati meletakkan pulpen. "Adrian."
Satu kata itu cukup.
Adrian akhirnya tidak bisa lagi tersenyum.
Sekar melihat topeng itu jatuh pelan. Bukan dengan ledakan besar, bukan dengan pengakuan dramatis, tetapi dengan diam yang terlalu panjang. Diam yang membuat semua orang mengerti.
Pak Arief menarik napas. "Kita tidak sedang membahas perasaan suka atau tidak suka. Kita membahas fitnah yang membuat satu siswa dituduh melakukan kekerasan. Kalau kamu jatuh karena mundur sendiri, kamu harus mengatakan itu sejak awal."
Adrian menunduk. "Saya... salah."
Kevin tidak bergerak.
Sekar menatapnya. Rahang Kevin mengeras, tetapi matanya tidak lagi kosong. Ada lelah di sana. Ada luka yang mungkin tidak terlihat oleh guru-guru, tetapi terlihat jelas oleh Sekar.
Bu Wati memutuskan dua hal.
Pertama, sekolah akan mengirim klarifikasi resmi di grup kelas dan grup orang tua siswa bahwa tidak ada bukti Kevin mendorong Adrian, dan keterangan saksi menyatakan Adrian mundur lalu jatuh sendiri.
Kedua, Adrian harus meminta maaf langsung kepada Kevin dan Sekar di depan wali kelas serta menulis klarifikasi di grup tutor.
Adrian tampak ingin menolak.
Namun Pak Arief sudah berdiri dengan wajah keras. "Sekarang."
Mereka pindah ke kelas setelah bel terakhir, ketika sebagian siswa masih belum pulang karena penasaran. Bu Wati meminta beberapa siswa yang menyebarkan rumor tetap duduk. Kelas menjadi sunyi begitu Kevin masuk bersama Sekar.
Kevin tidak menggenggam tangan Sekar.
Kali ini Sekar yang menggenggam tangannya lebih dulu.
Beberapa siswa melihat. Tidak ada yang berani berbisik keras.
Adrian berdiri di depan kelas.
Untuk pertama kalinya sejak ia muncul, seragamnya masih rapi tetapi dirinya tidak terlihat sempurna. Wajahnya kaku. Senyumnya hilang.
Bu Wati berkata, "Adrian akan menyampaikan klarifikasi."
Adrian menarik napas.
"Saya salah," katanya. Suaranya tidak besar, tetapi cukup terdengar. "Kemarin di tangga, Kevin tidak mendorong saya. Saya mundur sendiri dan jatuh. Saya juga salah karena tidak langsung menjelaskan, sehingga muncul kesalahpahaman."
Kelas hening.
Bryan berdiri di belakang dengan tangan terlipat. Yola menatap tajam ke beberapa siswa yang kemarin paling ramai di grup. Steven sudah siap dengan ponsel, menunggu klarifikasi tertulis Adrian masuk ke grup tutor.
Adrian melanjutkan, lebih berat, "Saya minta maaf kepada Kevin. Dan kepada Sekar."
Kevin menatapnya tanpa ekspresi.
"Keras dikit," kata Bryan dari belakang.
Bu Wati menoleh. "Bryan."
Bryan langsung pura-pura batuk. "Maaf, Bu."
Adrian menggenggam ujung kemejanya. "Saya minta maaf kepada Kevin dan Sekar."
Sekar tidak merasa puas sepenuhnya. Permintaan maaf tidak bisa langsung menghapus pesan-pesan yang sudah menyebar, tatapan yang menjauh dari Kevin, atau luka di mata Kevin saat ia duduk di ruang guru. Namun permintaan maaf itu membuat ruang kelas melihat satu hal yang selama ini ditutup Adrian: kebenaran.
Beberapa menit kemudian, klarifikasi tertulis masuk ke grup.
Adrian: Saya mengklarifikasi bahwa Kevin tidak mendorong saya. Saya jatuh karena mundur sendiri. Saya minta maaf karena tidak langsung menjelaskan dan menyebabkan kesalahpahaman.
Yola langsung meneruskan klarifikasi itu ke grup kelas.
Steven menambahkan kronologi singkat.
Bryan mengirim satu pesan:
Bryan: Tolong baca pelan-pelan sebelum fitnah orang lagi.
Bu Wati menatapnya.
Bryan memasukkan ponsel ke saku. "Itu edukatif, Bu."
Untuk pertama kalinya hari itu, beberapa siswa tertawa kecil. Ketegangan retak.
Namun Bu Wati belum selesai.
"Yang ikut menyebarkan pesan tanpa tahu kejadian sebenarnya, saya harap belajar dari ini," katanya. "Satu kalimat di grup bisa melukai orang sungguhan."
Kelas kembali diam.
Seorang siswa di baris tengah pelan-pelan berdiri. Wajahnya merah. Sekar mengenalinya sebagai orang yang pertama kali menulis bahwa Kevin mendorong Adrian.
"Kevin," katanya kaku. "Maaf. Gue... saya cuma dengar dari orang."
Kevin menatapnya, tidak langsung menjawab.
Siswa itu makin menunduk. "Saya harusnya nggak kirim ke grup."
Satu siswi lain ikut berdiri. "Aku juga minta maaf, Sekar. Kemarin aku bilang kamu cuma bela Kevin karena pacar. Aku salah."
Sekar menarik napas. Ia masih marah, tetapi ia tahu permintaan maaf yang benar juga harus diberi tempat.
"Jangan ulangi ke orang lain," jawabnya.
Siswi itu mengangguk cepat.
Di grup kelas, beberapa pesan mulai muncul.
Maaf, Kevin.
Maaf sudah ikut sebar.
Tadi aku hapus pesanku.
Beberapa pesan lama bahkan ditarik kembali. Tulisan "pesan ini telah dihapus" muncul berkali-kali, seperti bekas jejak yang terlambat dibersihkan. Tidak semua orang meminta maaf. Tidak semua orang cukup berani mengaku. Tetapi arah angin sudah berubah.
Dan Adrian melihat semuanya dari depan kelas, wajahnya kaku, tanpa satu pun senyum tersisa.
Kevin tetap diam.
Setelah semua selesai, ia keluar kelas lebih dulu. Sekar mengejarnya sampai koridor. Namun sebelum ia sempat memanggil, Rio sudah berdiri di dekat tangga, menyandarkan bahu ke dinding.
"Kevin."
Kevin berhenti.
Rio berjalan mendekat. Wajahnya masih terlihat malas, tetapi kali ini tidak ada jarak mengejek di matanya.
"Gue nggak suka ikut urusan orang," katanya. "Tapi gue juga nggak suka orang dijebak."
Kevin menatapnya. "Makasih."
Rio mengangkat bahu. "Gue bilang simpan dulu, kan?"
Bryan yang menyusul dari belakang langsung menyela, "Sekarang boleh dipakai."
Rio melirik Bryan. "Lo berisik banget."
"Banyak yang bilang begitu."
Rio menatap Kevin lagi. Beberapa detik berlalu. Lalu ia mengangkat tangan dan menepuk bahu Kevin sekali.
"Gue utang minta maaf," katanya. "Dulu gue juga pikir lo cuma anak bermasalah."
Kevin tidak menjawab, tetapi tatapannya berubah.
Rio menurunkan tangan. "Mulai sekarang, urusan lo urusan gue."
Bryan langsung membelalak. "Wah. Ini deklarasi?"
"Diam."
Sekar berdiri di samping Kevin, merasakan napasnya akhirnya turun perlahan. Setelah berhari-hari ruang sekolah terasa seperti tempat yang mengadili Kevin, untuk pertama kalinya koridor itu terasa bisa dipijak lagi.
Kevin menggenggam tangan Sekar.
Tidak kuat, tidak panik.
Hanya memastikan ia ada di sana.
Sekar membalas genggamannya.
Kali ini, bukan hanya Sekar yang berdiri di sisi Kevin.
Dan Kevin akhirnya punya alasan untuk percaya itu nyata.
Setidaknya, untuk hari itu, ia percaya.