Menceritakan tentang Sandra seorang fashion jurnalist. Bagaimana ia di dunia kerjanya dan trauma dengan kisah percintaannya di masa lalu.
Kehidupan Sandra di dunia jurnalistik merupakan jiwanya, apalagi dia ditempatkan di desk fashion. Hubungannya dengan desainer tanah air terjalin dengan akrab dan menyenangkan.
Tapi itu tidak sejalan dengan kehidupan percintaannya, yang selalu dibayangi trauma masa lalunya. Banyak pria jatuh cinta padanya, namun semua ia tolak.
Hingga Bimo, teman baru di kantornya mengajaknya bicara, dan mengurai permasalahannya.
Dengan pria mana kira - kira cintanya disematkan?
Bagaimana lika - liku cintanya?
Apakah setelah ini Sandra akan menemukan cintanya dan berakhir bahagia atau terungkit lagi masa lalunya?
Inilah kisah Kasandra Putri Jingga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wurikart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Ceritaku
Saat ini pukul 5.40 pagi. Aku sudah siap, karena tadi malam Bimo WA aku, katanya mau jemput jam 6 pagi.
Aku masih di depan cermin, dengan outfit-ku hari ini, tshirt merah dengan kulot polkadot hitam putih. Aku pakai tas selempang merah untuk printilan ku, seperti dompet, hp, lipstik, bedak, sisir, tissue basah, hand sanitizer, dan kacamata hitam. Nanti biar matching, aku pakai flat shoes merah. Simple -kan?
Tidak lupa aku juga membawa ransel dengan isi baju ganti sesuai permintaan paduka raja, sampai topi, handuk, pembalut, dan pakaian dalam lengkap!
Hahaha benar-benar aneh rasanya. Diminta bawa macem-macem tapi ga tahu mau kemana dan ngapain.
Saat memakai lipstik, terdengar suara mesin mobil berhenti di depan rumah. Aha! Mungkin itu Bimo, aku cek dulu kedepan.
Ternyata benar, fortuner hitam milik Bimo yang datang. Aku buka pintu pagar, dan menunggu dia keluar dari pintu kemudi.
"Assalamu'alaikum Sandra," sapanya. Wuiih, terlihat segar dan ganteng dia pagi ini. Paduan busananya pun terlihat keren, kaos krem yang ditutupi kemeja marun dengan celana pendek cargo sebatas lutut warna krem, dipadankan dengan sepatu sandal, dan dilengkapi dengan topi.
"Waalaikumsalam. Masuk Bim, aku ambil tas dulu sekalian pamit ke mama papa." Bimo pun duduk di ruang tamu, aku langsung ke kamar ngambil tas selempangku dan tas ransel, tak lupa mengambil sepatu di belakang. Aku ke kamar mama papa dan pamit. Mereka ikut keluar kamar.
"Nak Bimo, pagi-pagi mau pergi kemana sama Sandra? tanya Mama. Papa berjalan dibelakang mama.
"Maaf Tante, Oom, Bimo mau ngajak Sandra ke pantai. Kebetulan sudah lama Bimo enggak ke Anyer, kemarin tahu-tahu kepikiran jalan-jalan ke pantai. Jadinya Bimo ajak Sandra, tapi rencananya mau surprise, enggak mau kasih tahu Sandra. Tapi karena Tante tanyanya di depan Sandra, batal deh surprise-nya," kata Bimo dengan senyuman hips-nya.
"Oalah, maaf kalau Tante jadi merusak rencana kamu."
"Berapa nomer hp kamu?" tanya Papa. What? Jujur, pertanyaan papa bikin aku takut.
Bimo pun menyebutkan nomer hp nya ke Papa. Dan Papa langsung menelpon nomer yang Bimo kasih, hingga telponnya berbunyi.
"Itu nomer Oom ya, tolong di save. Kalau kamu punya rencana atau surprise lagi, kamu bisa kasih tahu Oom, biar enggak gagal seperti hari ini," kata papa santai, yang buat aku bengong.
Bimo pun tersenyum sambil bilang "iya Oom, dengan senang hati."
Lalu aku? Berdiri kaku, tidak mengerti dengan situasi ini. Kenapa orang tuaku dengan mudah percaya dengan Bimo? Anaknya aja yang berinteraksi setiap hari masih belum mau terbuka sama cowok kece ini. Eiitss keceplosan deh.
"Kalau begitu, kami pamit pergi dulu ya Oom, tante, Assalamu'alaikum."
"Mah, pah, kita pergi dulu ya. Assalamu'alaikum," pamitku sambil mencium tangan dan sun pipi kiri kanan kedua orang tuaku secara bergantian.
"Waalaikumsalam," jawab mereka bersamaan, sambil mengantar kami hingga masuk mobil.
***
Begitu mobil jalan, aku pun mentertawakan kegagalan Bimo memberikan surprise-nya ke aku.
Muka Bimo terlihat sebel di gangguin aku. Lalu dia menepikan mobilnya. "Ransel kamu taruh dibangku tengah aja, jangan di taruh dekat kaki gitu," katanya yang kemudian memasang sportify di hp-nya dan memasang kabel usb ke mobil, sehingga lagu dari hp itu terdengar melalui speaker mobil.
Akupun langsung memindahkan ranselku, setelah dia selesai dengan kesibukan memilih lagu. Tidak lama mobil pun kembali jalan.
"Kita sarapan di rest area di jalan tol aja ya."
"Atur aja bos, anak buah mah nurut. Senurut sekarang, dibawa ke pantai ga bilang-bilang, mau aja."
"Jangan ngambek ya, San," katanya sambil melirik aku dan senyum menggoda.
"Bim, mood aku lagi naik turun nih. Lagi gak jelas," balasku.
"Hah? Yaa, semoga nanti stabil ya pas disana," ujarnya menanggapi kondisiku.
Aku lihat dia sekilas dan aku gak balas omonganya lagi. Males balas omongannya, mood aku lagi naik turun, mungkin karena lagi pms ya?
Satu setengah jam perjalanan, dan masih di jalan tol, Bimo membelokkan mobilnya ke rest area. Sebenarnya agak gak aneh sih saling diam seperti ini, tapi lagi gak mood gimana dong?
Dia memilih makan di resto cepat saji franchise dari Amerika. Aku malas milih makanan, jadi aku percayakan saja sama Bimo, dan aku memilih tempat duduk untuk kami makan.
Bimo datang, dengan membawa baki yang penuh dengan makanan kami.
"San, aku beliin kamu nasi sama ayam, dan beberapa burger. Kalau burger enggak kemakan bisa dibawa jaga-jaga nanti kita kelaparan di jalan."
"Oke, ga masalah." Aku pun langsung makan nasi dengan ayamnya. Kulitnya aku pisahin, akan di makan belakangan, karena menurutku, kulit ayam dengan tepung itu nikmatnya dimakan belakangan.
Kami makan dalam diam. Sepertinya Bimo mengerti suasana hati aku dan dia tidak mengajakku bicara. Setelah selesai, burger-burger tadi aku gabungkan bersama kantong kertas cokelat berisi kentang goreng yang dia kasih ke dalam kantong plastik dan kami langsung berjalan ke mobil.
Setelah mobil jalan, aku akhirnya ngajak ngomong Bimo. Gak tahan juga gak ngomong.
"Bim, sebenarnya rencana kamu tuh apa sih? Jujur, sebenarnya aku gak suka pergi seperti ini, aku gak tahu planning lengkapnya seperti apa. Aku kayak disuruh meraba, tapi yang diraba juga ga jelas."
"Maaf ya San. Aku mau ngajak kamu main air sebenarnya. Nanti kita ke cottage keluargaku untuk naruh barang-barang, lalu baru deh kita main air dan kamu bisa mulai cerita tentang apa yang kamu tutupi itu."
Aku pun terdiam. Hmmm dia tetap minta aku cerita. Aku pun tidak bertanya lagi. Aku sibuk dengan aneka macam pikiran yang berlalu lalang di kepalaku.
***
Sekitar jam 10, kami sampai di cottage keluarga Bimo. Cukup besar, terdiri dari dua lantai dengan 5 kamar. Dua dibawah, dan tiga diatas.
"Kita jalan-jalan ke pinggir pantai yuk Bim," kataku yang langsung mengambil topi dari tas ranselku.
"Boleh. Pakai sunblock dulu San. Sebentar, Renata bilang dia nyimpan sunblock di kamar."
"Ini, kamu pakai dulu," kata Bimo sambil mengoles cream ke wajahnya. Aku pun langsung memakainya, dan untuk wajah aku memakai yang tadi Bimo pakai, dan Bimo memakai sunblock yang tadi aku pakai untuk tangan dan kakinya.
"Yuk," Bimo langsung menggandeng tanganku keluar setelah dia menunggu aku mengambil tas selempang di kursi. Dia langsung mengunci pintu cottage.
Sebelum sampai tepi pantai, dia melepas gandengan tangan kita. Tapi dia menggantinya dengan merangkul pundakku. Aku langsung menatapnya, jantungku terasa berdetak keras. Ooh tidak! Dalam hati aku hanya berucap "jangan tergoda, jangan tergoda, jangan tergoda."
"Sandra, apa yang dilakukan oleh pria dari masa lalu kamu sampai kamu harus menutup diri?"
Bimo jago! Dapat menebaknya. Aku tidak menjawabnya, selain karena detak jantungku belum normal, aku juga bingung mau jawab apa.
"Sandra, kamu harus bangkit. Jangan terlena dengan kesedihan masa lalu."
Dia mengajak berhenti dibawah pohon kelapa. Disini tidak panas, karena ada bayangan dari pohon. Tapi dia tidak melepas rangkulannya.
"Namanya siapa?"
"Erick."
"Apa yang dia lakukan?"
"Biasalah, kalau selingkuh ngapain aja sih?"
"Lalu?"
Wajahku menoleh ke Bimo. Nih, orang kok kayak tahu kejadiannya ya. Tahu kalau ada kelanjutannya. Jangan-jangan punya indra keenam. Kami saling bertatapan, matanya seakan bicara, 'percayalah padaku'.
"Kita ke cottage aja yuk. Sehabis aku sholat Ashar nanti, kita main air. Aku tahu, kamu suka pantai."
Tuh kan, dia tahu lagi. Aku menganggukkan kepalaku, menyetujui ajakan Bimo.
Kami pun berjalan menuju cottage dengan Bimo yang masih merangkul pundakku. Jalanku sedikit susah, mau tak mau tangan kananku merangkul pinggangnya. Jemariku menggenggam kemejanya.
Rangkulan terlepas setelah Bimo memutar kunci pintu cottage. Aku masuk mendahului Bimo, langsung cuci kaki, cuci tangan, dan cuci muka di kamar mandi.
Setelah selesai, kudapati Bimo ada di ruang tengah sedang memilih channel TV.
"Sudah selesai bersih-bersihnya? Sini duduk samping aku," katanya sambil menepuk sofa disamping kirinya.
Aku pun menghampirinya dan duduk di sofa yang tadi dia tepuk-tepuk.
"Setelah mereka melakukan itu, apalagi yang Erick lakukan sampai kamu trauma dan benci kalau bicara soal pasangan?" tanya Bimo sambil tangannya menggenggam jemariku.
"Aku.. aku.. aku melihat lebih. Dia bersama Mona sahabatku. Aku melihat... Aku sakit Bim, aku sedih, kecewa, kesel, marah, semuanya Bim."
"Ya udah, jangan diterusin dulu, menangislah kalau kamu ingin menangis."
Aku memang susah mengungkapkan apa yang ada di kepalaku, tapi sekarang aku malah tidak bisa menangis seperti biasa saat aku mengingatnya. Sedikit lega, ya sedikit, rasa sakit itu mulai menguap.
"Sekarang mulai terbuka ya. Mas Bim mau tanya apakah Erick pernah melewati batas selama berhubungan dengan kamu?" tanya Bimo sambil tetap mengelus kepalaku.
Aku menggeleng sambil tertunduk. "Makanya Sandra kecewa banget, saat melihat kejadian itu. Mereka berhubungan dibelakang Sandra sudah sejauh itu. Sudahlah Bim, jangan dibahas lagi, bikin bete."
Kurasakan Bimo mengelus - ngelus punggungku. Lagi-lagi aku merasa ada kelegaan setelah berbicara tentang kekecewaanku.
"Sandra, kalau menurut mas Bim, kamu ga perlu menangisi kejadian itu. Asli, ga penting banget. Disini kamu beruntung, dapat melihat penghianatan mereka, kamu jadi bisa melihat keburukan mereka yang memang tidak selayaknya dilakukan."
"Kamu toh belum menikah dengannya. Kamu bisa mencari pasangan yang lebih baik, yang dapat tulus sayang sama kamu."
"Begitupun dengan sahabatmu. Kamu bisa melihat, sejauh mana dia bisa dipercaya mendengar cerita kita, menjadi tempat curhat kita, tempat berbagi segala kesenangan dan kesedihan dengan ketulusan."
"Sandra, percaya deh, kalau kamu bisa mendapatkan pasangan yang tulus, yang lebih menghargai kamu sebagai wanita, dan bisa mengajak kamu pada kebaikan."
"Coba, mulai sekarang, kamu buka benteng kokoh kamu itu secara perlahan, dan mulai membuka hatimu, serta melihat sesuatu dengan jernih, tinggalkan luka dan kesedihanmu itu mulai saat ini. Mulai saat ini dan seterusnya, kamu bayangin, hanya kebahagiaanlah yang akan datang ke kamu."
Aku mendengarkan semua nasehat Bimo yang menenangkan diriku. Entahlah, aku merasa plong sekarang. Kemarahan dan kesedihan yang sudah kupendam selama tujuh tahun lebih itu menguap entah kemana. Aku merasakan ada semangat baru dalam diriku.
Aku memberanikan diri menatap wajahnya. Aku tersenyum kepadanya. "Makasih mas Bim." Aku pun beranjak meninggalkannya menuju dapur. Aku mengambil dua minum dan burger yang tadi dibeli saat di rest area.
"Saatnya kita ngemil mas." Mas Bim hanya menatapku dengan senyuman. Mungkin dia berfikir, misinya berhasil. Hahahaha, tapi emang benar sih, aku sudah lega, benar-benar seperti ada yang lepas. Ringan rasanya.
Oh ya, aku tidak menceritakan secara blak-blakan apa yang aku lihat, karena itukan aib. Kurasa mas Bimo mengerti, aku percaya pergaulannya luas.
Kami makan burger dan kentang sambil menonton televisi. Aku duduk di karpet yang tadi baru dipasang, bersandarkan sofa. Sedangkan mas Bim, tetap duduk di sofa, disamping sofa tempatku bersandar.
Entah kenapa, aku merasa suka memanggilnya mas Bim, seperti yang selalu ia katakan tadi. Yang aneh, saat ini aku ingin dimanja olehnya. Hhmmm apa aku jatuh cinta kepadanya? Ah, tapi ini terlalu cepat.
"Sandra, kalau ngantuk tidur dikamar Renata gih. Itu kamarnya, yang didekat tangga."
"Enggak ah, aku mau nonton aja disini."
Tiba-tiba mas Bim bangun dan pergi. Dia kembali dengan sebuah bantal dan guling. Ooh dia mengambilkan bantal dan guling untukku. So sweet.
"Biasanya, kalau habis mengeluarkan emosi seperti tadi akan capek, jadi kalau kamu tiduran di karpet enggak masalah. Aku enggak akan ganggu kamu."
"Oke mas."
"San, Kira-kira kalau kamu ketemu Erick atau Mona dalam waktu dekat, apa yang kamu lakukan?"
"Gak tahu ya mas. Tapi misalnya ketemunya di mol, paling aku senyumin, basa basi apa kabar."
"Kalau kamu melihat mereka berdua? Apa kamu masih marah?"
"Kenapa marah? Biarin aja, kan jodoh aku pasti lebih baik dari Erick."
"Kalau tahu-tahu Erick telpon kamu dan ngajak ketemuan, bagaimana?"
"Untuk apa? Saat ini urusan aku lebih banyak dengan urusan kantor dan keluargaku. Dia ga ada hubungannya dengan kerjaan aku ataupun keluargaku. Jadi aku rasa itu hanya buang-buang waktu aja."
"Kalau Mona yang ngajak ketemu? Mungkin dia kangen?"
"Hmm, tapi aku gak kangen tuh. Suruh aja dia kangen sama yang lain, saat ini dia bukan siapa-siapa aku lagi. Aku sudah tidak mau cerita apa apa lagi ke dia, dan aku sudah gak mau tahu lagi tentang dia."
"Good girl! Sip, kamu sudah lebih baik sekarang emosinya."
Hening, mas Bimo sudah enggak ngajak ngomong lagi. Tidak lama dia pergi ke dapur, entah apa yang dia kerjakan disana.
Benar kata mas Bim, aku sekarang jadi ngantuk setelah kenyang makan dua burger dan tiga porsi kentang goreng.
***
Baca novelku judulnya 'Cinta sejati'. Tentang dua orang yang menemukan cinta sejatinya serta lika-liku perjalanannya. Klik foto profilku buat baca...
Baca dulu sinopsisnya dan 3 episode awal.
suka bgt ma critanya, simple n mudah dipahami n bahasanya jg gampang dicerna...
ayo nulis trus thor...💪💪💪