Ketika seorang gadis yang hidupnya hanya untuk membalaskan dendam kematian keluarganya, tapi hati gadis itu ditakdirkan untuk mencintai pembunuh keluarganya. Akankah gadis itu memilih memaafkan pembunuh keluarganya atau terus pada tujuan utamanya yaitu balas dendam? Ikuti keseruannya yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"Apa yang gue ajarin ke dia?" batin Raka bertanya-tanya.
Cowok itu diam sejenak meresapi kalimat Zylva. "Tunggu! Kalau gue pernah ngajarin sesuatu ke dia, berarti gue pernah ketemu dia kan?" ucap Raka. Cowok itu mengingat-ingat bagaimana cara Zylva menatap dirinya. Benar-benar tatapan kebencian. Sekarang cowok itu paham, Zylva menaruh kebencian yang besar kepadanya karena sesuatu hingga gadis itu akan menyakiti semua orang yang didekatnya. Satu pertanyaannya.
"Apa yang membuatnya sebenci itu ke gue?"
*
Keesokan harinya di SMA Cempaka Putih, Zylva baru saja datang sudah di cegat Daffi dan Gilang di depan kelasnya. Gadis itu memasang wajah judes, tangan yang bersedekap di dada dengan mengangkat satu alisnya.
"Ikut kita." ucap Daffi.
"Ke?"
"Raka mau ketemu Lo." jelas Gilang.
Zylva terkekeh, lalu tersenyum miring. "Ogah gue." Gadis itu berjalan masuk kedalam kelas tanpa menghiraukan doa cowok yang menunggunya sejak tadi. No, tidak pergi begitu saja. Gadis itu berhenti dan berbalik ke arah Daffi dan Gilang. "Bilang ke dia, 100 juta per kalimat." ujar Zylva kemudian pergi ke tempat duduknya yang ada di nomor dua dari belakang dekat jendela.
"Malak anjr." ucap Daffi.
"Diam Lo ah, ayo!" Gilang segera menarik Daffi pergi dari kelas tersebut. Cowok itu sudah ketar-ketir melihat ekspresi judes Zylva.
Kedua cowok tersebut pergi.
"Lo gak takut di apa-apain Raka?" tanya Jessy dengan raut wajah khawatir.
"Nggak, sama-sama manusia. Sama-sama dari tanah. Ngapain takut?"
"Ya, nggak salah sih. Tapi salah." ujar Amel menanggapi Zylva.
"Takut itu sama Tuhan." ucap Zylva kemudian melihat ke halaman sekolah. Terlihat Lucy yang sedang membully Reina. Gadis yang menabrak Lucy beberapa hari yang lalu.
"Gak pernah tobat!" gumam Zylva. Gadis itu langsung beranjak dari duduknya dan berniat pergi ke halaman sekolah untuk menolong Reina. Memang sih tujuan utama Zylva kembali untuk balas dendam. Tetapi dia tidak bisa menghilangkan kebiasaan di Alaska untuk selalu menolong korban bully.
Ketika baru sampai di koridor lantai satu, seorang cowok menarik tangannya dan menghimpitnya ke tembok.
"Minggir!" perintah Zylva kepada cowok didepannya itu.
"Gue mau bicara sama Lo." ucap cowok itu.
"Waktu gue terlalu berharga buat ngeladenin orang yang kayak Lo!" cetus Zylva sambil mendorong cowok yang menghimpitnya itu agar menjauh.
"2 menit." pinta cowok itu.
"100 juta per kalimat. Setuju Raka Alkairo Kavindra?" tanya Zylva seraya tersenyum miring.
"Oke." Setelah itu Raka pergi meninggalkan Zylva. Karena cowok itu tahu Zylva pasti akan mengikuti dirinya.
"Sinting." gumam Zylva ketika Raka menuruti syarat yang ia berikan. Padahal dia memberikan syarat itu agar tidak berbicara dengan Raka karena terlalu malas. Tapi dia tidak bisa menarik ucapannya. Gadis itu terpaksa mengikuti kemana Raka pergi.
Ternyata cowok itu mengajak dirinya ke rooftop sekolah.
"Buruan!"
"Gue ada salah sama Lo? Kenapa Lo benci banget sama gue? Kenapa Lo mau nyakitin orang disekitar gue?" tanya Raka. Cowok itu mengeluarkan semua pertanyaan yang ada di kepalanya.
"Salah Lo ke gue? Banyak!" sentak Zylva dengan tangan yang terkepal erat. "Lo mau pura-pura pikun?" tanya Zylva dengan mata yang sudah berkilat-kilat menandakan amarah. "Gue bakal nyakitin semua orang yang Lo sayang, karena itu yang Lo lakuin ke gue!"
Disisi lain Lucy yang ada di halaman sekolah melihat pacarnya dan Zylva berduaan di rooftop langsung membuatnya terbakar api cemburu. "J*lang Sialan!" Gadis itu langsung berjalan dengan cepat menuju Rooftop. Bahkan korban bully-nya di tinggalkan begitu saja.
Kembali lagi ke rooftop.
"Gue? Kapan? Gue gak pernah ketemu lo. Kenapa juga gue ngelakuin itu?" tanya Raka. Cowok itu merasa tidak pernah melakukan sesuatu kepada orang-orang terdekat Zylva.
"Bangshat!" umpat Zylva seraya melayangkan kepalan tangannya ke pipi kiri Raka dengan kuat.
BRAK!! Lucy membuka pintu rooftop dengan keras. "Dasar cewek ganjen! J*lang! Pelacur! Masih kurang semua cowok Lo sampai pacar orang juga Lo embat hah?!" bentak Lucy kemudian gadis itu berjalan cepat menghampiri Zylva sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk menampar Zylva.
Grep!
"Jaga omongan Lo!" ucap Zylva dengan nada dingin. Tidak ada yang pernah menyebutnya seperti itu. Dan dia tidak suka di sebut seperti itu.
"Apa?! Benar kan?! Tiap hari jalan sama cowok yang berbeda! Apa namanya kalau bukan j*lang?!"
"Oh? Terus? Lo yang tiap malam ganti partner ranjang apa namanya?" tanya Zylva balik. Gadis itu tidak akan membiarkan dirinya di tindas begitu saja.
Seketika Lucy terdiam tidak bisa menjawab. Lidahnya kelu. Bagaimana dia tahu semua ini? Padahal Lucy selalu diam-diam melakukannya. Itupun dengan make-up yang tebal untuk menyamarkan wajahnya. Bar ataupun Club yang dia datangi selalu merahasiakan kedatangannya dari siapapun. Gadis itu sampai lupa jika masih ada Raka disana.
"Maksudnya?"
"Raka... nggak dia ngarang! Mana ada aku kayak gitu! Aku cuma cinta sama kamu!" ucap Lucy sambil berlari ke arah Raka dan memeluk lengannya.
Tetapi Raka hanya diam saja.
"Terserah Lo mau percaya apa nggak." ujar Zylva melihat Raka yang mulai terpengaruh dengan ucapan Lucy.
"Kenapa gue gak boleh percaya sama pacar gue sendiri?" tanahnya Raka.
Zylva memutar bola matanya dengan malas. "Orang kalau bulol tuh picek, tuli, bego bisa colab ya." cetusnya kemudian pergi dari sana.
Jleb. Perkataan Zylva barusan sukses membuat sepasang kekasih itu tersindir
"Raka.. kamu percaya sama aku kan?" tanya Lucy ragu-ragu. Gadis itu takut Raka percaya dengan Zylva dan memutuskan hubungan mereka.
Rupanya cowok itu mengangguk. Tandanya ia percaya dengan Lucy. Tolol sih. "Gak usah dipikirin." ucapnya sambil mengelus kepala Zylva.
*
Di tempat lain Varrel sedang memantau keadaan Zylva di sekolah menggunakan laptop Matthew. Kemana Matthew? Cowok itu sudah pergi ke kantor sejak pagi karena ada rapat. Saking sibuknya Matthew dengan urusan kantor dan markas, tugas kuliahnya saja masih menumpuk. Tidak jarang Varrel dan Reygan membantu sepupunya tersebut mengerjakan tugas kuliah agar bisa mengumpulkan tepat waktu.
"Kenapa dia tidak ingat apa-apa?" gumam Varrel setelah mendengar percakapan Zylva dan Raka. "Apa ada sesuatu yang gue lewatin?" tanyanya kepada dirinya sendiri.
"Rel!" panggil Reygan.
"Hm?"
"Ngapain Lo?" tanya Reygan sambil melihat layar laptop yang dipegang Varrel.
"Lihat baby girl."
"Dia bikin ulah lagi?"
Varrel menggeleng. Cowok itu terlihat memikirkan sesuatu. "Nih!" kata Varrel sambil meletakkan laptop ke pangkuan Reygan. Kemudian cowok itu menyambar jaketnya dan beranjak pergi dari sana.
"Lah, lah anjeng mau kemana?!" teriak Reygan tapi tidak dihiraukan oleh Varrel.
"Rel kereta emang." gumam Reygan sambil menatap kesal sepupunya tersebut.
...***...
...Bersambung......