Di dunia ini, kenapa selalu wanita yang di anggap mandul jika tak kunjung memiliki anak. Apakah laki-laki tak bisa mandul?
" Cantik saja tak cukup kalau tidak bisa memberikan keturunan!"
" Percuma cantik kalau kenyataannya Mandul!"
Begitu banyak Makian yang sering Ayyara Nisaka terima hanya karena ia tak kunjung hamil di usia pernikahannya yang menginjak empat tahun. Usia pernikahan yang tak terbilang lama atau sebentar.
Selama empat tahun menikah, begitu banyak luka yang Ayyara dapatkan, tetapi Ia selalu berusaha untuk mempertahankannya. Ayyara juga terus berusaha melakukan banyak cara agar bisa hamil. Namun, ketika berhasil hamil ia justru mengalami keguguran akibat pertengkaran bersama suaminya.
Bagaimana kisah kehidupan pernikahan Ayyara Nisaka selanjutnya?
Follow ig Author : Novi_Rahajeng08
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi rahajeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Sisa Dosa di masa lalu?
Beberapa hari tak ada Ayyara di rumah, membuat bu Atmariani merasa sangat kewalahan. Pasalnya, jika ada Ayyara pekerjaan rumah akan sudah beres semua ketika pulang dari berjualan di pasar. Tapi sekarang, pulang dari pasar rumah masih berantakan, makanan pun belum tersedia.
" Nggak ada Ayyara di rumah kerasa banget ya, Pak," curhat bu Atmariani pada suaminya.
" Ya, karena ibu sudah terbiasa akan bantuan Ayyara. Coba dulu sebelum Ayyara menikah dengan Argi, juga sudah biasa menghandel semuanya sendiri," terang Pak Dermawan seraya membantu mencuci piring.
" Apa gitu ya, Pak. "
" Iya."
Bu Atmariani pun hanya bisa mendesah.
Tiba-tiba, suara mobil Argi terdengar datang.
" Assalamualaikum, "salam Argi.
" Waalaikumsalam, "jawab bu Atmariani dan Pak Dermawan.
Ketika memasuki rumah, Argi seakan teringat oleh Ayyara. Biasanya, dia akan menyambut kedatangannya dengan sebuah senyuman dan pertanyaan tapi sekarang sudah tak ada lagi. Bahkan, apa-apa Argi harus mengerjakan semuanya sendiri. Baju kusut tak ada yang menyetrikakan, capek gak ada mijitin. Makan ya hanya bisa makan seadanya yang ibunya masak. Tidak berani request seperti kalau ada Ayyara. Pasalnya, Ibunya juga masih harus jualan di pasar, jadi tak enak kalau minta yang aneh-aneh.
" Apa ibu berhenti saja jualannya," usul pak Dermawan.
" Gak lah, Pak. Soalnya pendapatan dari jualan itu lumayan buat bantu bayar uang kuliah Flo yang semakin banyak. Kalau hanya mengandalkan gaji pensiunan bapak mana cukup!" tandas bu Atmariani.
Mendengar percakapan kedua orang tuanya yang sedang membicarakan uang, membuat Argi merasa kurang dapat diandalkan sebagai anak tertua. Ia memang masih memberi uang ke orang tuanya, tapi tak begitu banyak karena kebutuhan dirinya sendiri juga banyak. Apalagi sekarang masih ada kredit calon rumahnya dengan Ayyara.
"Pak, Buk," panggil Argi seraya berjalan masuk ke dapur.
"Em," jawab bu Atmariani dingin. Sejak kejadian keguguran Ayyara, sikap bu Atmariani memang jadi ikutan dingin padanya sama dengan Ayyara.
"Oh, ya Gi. Tumben jam segini sudah pulang," ujar Pak Dermawan yang mencoba mengajak putranya untuk berbicara.
" Iya, Pak. Soalnya besok ada dinas keluar kota," jawab Argi.
"Dinas keluar kota?" tanya Bu Atmariani yang ikut berbicara.
" Iya, Buk."
" Berapa hari?"
" 3-4 hari."
Bu Atmariani terlihat membalikkan tubuhnya dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
" Kamu itu dari kemarin sibuk terus sama kerjaan, sekarang malah mau keluar kota, terus kapan kamu mau bujuk Ayyara? Memangnya kamu mau pisah sama Ayyara, huh? "tegur bu Atmariani yang jadi makin kesal dengan sikap Argi.
Bukannya mencoba untuk mempertahankan rumah tangganya, Argi justru terus di sibukkan dengan pekerjaan yang tak ada habisnya. Apa mungkin Argi memang benar-benar punya selingkuhan, makanya dia biasa saja saat rumah tangganya sudah berada di ujung tanduk.
Bu Atmariani berjalan mendekati Argi, dan menatap matanya dalam. " Argi, jawab Ibu dengan jujur. Apa benar kamu punya selingkuhan?"
Argi terdiam dan tak berani menatap mata ibunya. Ia memang tak memiliki selingkuhan di belakang Ayyara tapi ia pernah berbuat sesuatu tak senonoh dengan wanita lain.
Bi Atmariani menarik kerah baju putranya." Tatap mata Ibu dan jawab pertanyaannya Argi!" titah Bu Atmariani dengan nada yang semakin meninggi.
" Argi___ tidak memiliki kekasih tapi___" Argi seakan takut untuk mengatakannya. Takut kalau Ibunya akan murka dan teringat kembali akan kejadian di masa lalu. Walau kejadian itu sudah terjadi sangat lama, tapi namanya luka itu sulit untuk di lupakan.
Saat itu Argi memang masih kecil, tapi ia cukup tau apa yang telah terjadi pada orang tuanya.
" Jangan bilang kalau kamu pernah tidur dengan wanita lain," tebak bu Atmariani yang membuat pupil mata Argi melebar.
Dari perubahan ekspresi Argi saja seakan memberikan sebuah jawaban untuknya. Bu Atmariani memundurkan tubuhnya, tangannya mencoba menutupi mulutnya yang menganga akibat terkejut. Jujur, Ia tak pernah menyangka jika putranya akan mengulangi kesalahan ayahnya di masa lalu.
Apakah ini sebuah karma atau sisa dosa di masa lalu?
Kini, bu Atmariani benar-benar sangat kecewa sama Argi. Padahal, dari dulu ia sudah sangat mewanti - wanti Argi untuk jangan sekalipun berselingkuh karena hal itu sangat menyakitkan. Luka lama yang telah mengering seakan tergores lagi. Namun, goresan itu bukan suaminya yang membuatnya. Melainkan putranya sendiri, putra yang ia lahirkan dan ia didik untuk menjadi pria setia. Tapi akhirnya ... masih tetap melakukan kesalahan yang sama.
" Apa Kamu lupa dengan pesan ibu selama ini, Gi?" tanya Bu Atmariani dengan mata yang sudah mengembun.
" Maafin Argi, bu," ucap Argi dengan bersimpuh di hadapan Ibunya. Ia tahu ini akan menyakiti ibunya lagi, tapi saat itu ia benar-benar seakan di buatkan oleh nafsu.
" Jangan meminta maaf pada Ibu, tapi pada Ayyara. Karena sesungguhnya, dia lah yang sudah kamu sakiti. Seorang istri yang sangat baik, tulus, patuh, dan sangat berbakti padamu."
...***...