Dalam setiap alur cerita novel ini, mengandung harapan dan doa baik untuk kehidupan author yang lebih bahagia ke depannya.
Di usia dua puluh lima tahun, Raya Nareswari masih berjuang mencari pekerjaan yang layak. Nasib membawanya bertemu Bram dan Sinta Mahendra setelah ia pingsan saat hendak melamar kerja di kota. Karena terpesona oleh ketulusan dan kepribadian Raya, Sinta mengangkat gadis berhijab itu sebagai karyawan di butik miliknya.
Seiring waktu, Bram dan Sinta berniat menjodohkan Raya dengan putra tunggal mereka, Juan Arsen Mahendra, seorang CEO tampan yang tak pernah sekalipun memperkenalkan wanita kepada keluarganya. Kedekatan Juan dengan asisten pribadinya bahkan membuat kedua orang tuanya curiga bahwa sang putra tidak tertarik pada perempuan.
Awalnya Juan menolak kehadiran Raya. Namun perlahan, ketulusan gadis desa yang sering diremehkan itu berhasil meluluhkan hati pria yang dikenal dingin dan sulit didekat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah ke Rumah Mama
Semburat cahaya matahari pagi menembus celah tirai kamar hotel, menghangatkan ruangan yang sejak tadi dipenuhi kesibukan.
Raya berdiri di samping ranjang sambil melipat pakaian satu per satu. Blouse berwarna kuning pastel yang dipadukan dengan celana bahan berwarna broken white membuat penampilannya tampak sederhana, tetapi begitu manis. Rambut sebahunya diikat setengah ke belakang, menyisakan beberapa helai yang jatuh membingkai wajah.
Sesekali ia merapikan helaian rambut yang mengganggu pandangan sebelum kembali memasukkan pakaian ke dalam koper.
Di sisi lain, Juan bersandar di dekat lemari dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tatapannya tanpa sadar mengikuti setiap gerakan istrinya.
Gadis desa itu...
Entah mengapa, semakin diperhatikan justru semakin enak dipandang.
Juan segera menggeleng pelan, seolah ingin mengusir pikirannya sendiri.
"Bang, koper Abang sudah selesai."
Suara lembut Raya membuyarkan lamunannya.
Juan melangkah mendekat lalu meraih koper hitam miliknya.
Sementara Raya masih sibuk merapikan pakaian yang tersisa.
Pergerakannya begitu teliti. Setiap barang diperiksa kembali agar tidak ada yang tertinggal.
Juan mulai kehilangan kesabaran.
"Cepat."
"Iya, Bang. Sebentar."
Namun semakin terburu-buru, tangan Raya justru semakin kikuk.
Melihat itu, Juan menghela napas pelan.
"Sudah, sini."
Tanpa banyak bicara, ia membantu memasukkan pakaian yang masih berada di atas ranjang ke dalam koper.
"Bang..."
"Hm?"
"Itu... pakaian dalam Raya."
Tangan Juan langsung berhenti.
Ia menoleh sekilas ke arah benda yang baru saja dimasukkannya, lalu berdeham pelan.
"Kenapa tidak dipisahkan dari tadi?"
Raya menahan tawa.
"Soalnya tadi belum sempat."
Juan memilih menutup koper tanpa menjawab lagi.
Entah mengapa, wajahnya terasa sedikit lebih panas dari biasanya.
Melihat ekspresi suaminya, Raya diam-diam tersenyum geli.
Tak lama kemudian mereka keluar dari kamar hotel.
Lorong hotel yang panjang dan sunyi membuat Raya beberapa kali menoleh ke kanan dan kiri.
Hotel bergaya klasik pilihan Bu Sinta memang memiliki suasana yang sedikit menyeramkan.
Langkah Juan jauh lebih panjang.
Akibatnya Raya kembali tertinggal di belakang sambil mendorong koper miliknya.
Juan menoleh.
"Kenapa lama sekali?"
"Capek, Bang."
Juan berdecak pelan.
Ia kembali menghampiri Raya, lalu menarik koper milik istrinya dan menumpuknya di atas koper miliknya.
"Nah, sekarang jalan."
Senyum lebar langsung menghiasi wajah Raya.
"Memang tugas suami membantu istrinya."
Juan hanya melirik sekilas.
Dasar gadis desa...
Selalu saja bisa membuatku kehabisan kata.
Raya lalu berjalan lebih dulu sambil tersenyum kecil.
Begitu keduanya masuk ke dalam mobil, ponsel Juan berdering.
"Ma."
"Kenapa kalian sudah check-out? Mama kasih waktu seminggu buat bulan madu."
Juan mengusap pelipisnya.
"Raya yang nggak betah, Ma."
Di sampingnya, Raya langsung menoleh.
"Bang..."
"Katanya hotel pilihan Mama berhantu."
"Ish!"
Raya spontan mencubit pelan lengan Juan.
"Jangan bilang begitu sama Mama."
Dari seberang telepon terdengar suara Bu Sinta yang langsung memotong.
"Pokoknya pulang ke rumah Mama. Titik."
Juan mengembuskan napas panjang.
"Tapi, Ma... Raya kan istri Juan."
Kalimat itu membuat Raya terdiam.
Entah mengapa, dadanya terasa hangat saat mendengar Juan mengakuinya sebagai istri, meski hanya dalam percakapan singkat.
"Justru karena dia istrimu, bawa ke rumah Mama dulu."
Juan menyerah.
"Iya, Ma."
Tak lama kemudian mobil mereka memasuki halaman rumah keluarga Mahendra.
Begitu Raya turun, Bu Sinta langsung memeluk menantunya dengan penuh kasih sayang.
"Raya, Mama kangen."
Raya tersenyum malu.
"Baru sehari, Bu."
"Sehari saja rasanya sudah lama."
Di sisi lain, Juan hanya menggeleng pelan sambil membawa koper mereka masuk ke dalam rumah.
Setelah Juan naik ke lantai dua, Bu Sinta menggandeng tangan Raya.
"Gimana? Juan baik sama kamu?"
Raya mengangguk pelan.
"Alhamdulillah... baik, Bu."
Bu Sinta tersenyum lega.
"Mama memang nggak berharap semuanya berubah dalam semalam."
Beliau mengusap lembut punggung tangan Raya.
"Yang Mama harapkan cuma satu... kalian saling mengenal dulu. Mama yakin, kalau hati kalian sama-sama tulus, rasa sayang itu akan datang dengan sendirinya."
Raya tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Insyaallah, Bu."
Senyum Bu Sinta semakin mengembang.
"Ya sudah, sekarang istirahat dulu. Setelah itu kita makan siang bersama."
Raya mengangguk patuh sebelum melangkah masuk ke dalam rumah barunya.
Rumah yang mulai hari itu akan menjadi saksi perjalanan baru kehidupannya bersama Juan.
Bersambung...