Novel yang mengisahkan tentang seorang pria yang masih menduduki bangku SMA. Ketampananannya membuat seorang wanita yang berusia 25 tahun itu jatuh cinta begitu dalam.
Wanita yang memiliki sebuah perusahaan terbilang besar dan terkenal.
Indi Maharani mencintai pria bernama Veric yang usianya jauh lebih muda, berpikir akan mampu membuat sang suami dewasa setelah pernikahan.
Nyatanya sikpa Veric yang masih labil terus membuatnya semakin sakit. Akankah Indi mampu mendapatkan cinta Veric setelah pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Veric
Suasana yang seharusnya hangat saat makan malam pun berubah canggung.
Berbeda dari kebanyakan meja di ballroom hotel tersebut, di sini Indi makan dengan diam. Begitu juga Veric.
“Apa benar dia mulai melihatku? Apa Veric bisa membuka hatinya untukku secepat ini?” batin Indi penasaran.
Nyalinya menciut untuk sekedar bicara pun pada sang suami.
“Huh tidak. Aku hanya tidak suka saja dia memamerkan tubuhnya. Itu bukan cemburu. Gila aja cemburu sama wanita berumur.” batin Veric menolak terkaannya atas sikap yang ia lakukan pada Indi di depan tadi.
Sikap posesif yang seorang pria selalu memilikinya jika menyangkut seseorang yang ia anggap penting.
Hingga kini mereka usai makan pun masih hening.
“Indi, sory ganggu.” Suara seorang pria membuat Indi dan Veric menoleh bersamaan.
“Iya. Ada apa, Cos?” tanya Indi sembari tersenyum.
Tak ada yang melihat bagaimana mata nyalang Veric saat itu.
“Kita balik dulu. Sory ada keperluan soalnya. Sekali lagi selamat ulang tahun yah. Semoga segera di halalkan. Nanti keburu gue tikung bro.” Tawa Costa dan teman-teman Indi yang lainnya terdengar asik.
“Gue suaminya!” Ingin sekali jeritan hati itu Veric layangkan saat itu juga.
Tetapi bibirnya terasa kelu untuk berucap. Bagaimana mungkin ia berani membongkar hubungannya dengan Indi?
“Ah lu ada-ada aja. Ya sudah thanks yah.” Indi tersenyum bahagia.
Rasanya moment seperti ini sungguh waktu yang di tunggu-tunggu. Karena biasanya mereka tak akan punya waktu untuk bertegur sapa lagi. Pekerjaan selalu menjadikan waktu mereka habis tersita.
Usai waktu berlalu sangat cepat, tak terasa kini malam sudah mulai larut. Keduanya tampak membisu di dalam mobil tak berniat sama sekali untuk menebar senyuman.
Mobil pun melaju cepat dan malam tak terasa berganti pagi setelah melewati malam yang bahagia untuk Indi. Tidak untuk Veric.
“Oke siap, iya baik. Saya akan usahakan untuk bahan baku yang sesuai kebutuhan. Baik, Mr.” Di sisi tempat tidur, Indi sudah memakai heels sembari menelpon seseorang pagi itu.
Sedangkan jarum jam masih menunjuk di angka 7. Masih sangat pagi untuk seseorang beraktifitas.
Mendengar suara itu, Veric yang semula begitu lelap tidurnya kini mengerjap menatap tubuh seseorang yang selalu berpenampilan menarik setiap ia bangun pagi.
“Ehem,” Indi masih tak menolah.
“Uhuk uhuk uhuk,” Indi masih fokus pada jam tangan yang ia pasang.
“Mau bertemu siapa?” Suara serak Veric bertanya pada Indi dengan wajah datarnya sedikit menahan gengsi.
Indi menoleh, mata indah yang berbingkai eyeliner itu menatapnya teduh.
“Itu kunci motor, atm, dan lainnya aku siapkan di atas meja. Aku harus berangkat.” Indi berlalu meninggalkan kamar tanpa perduli wajah kesal Veric.
“Tunggu!” Veric bangkit dari tidurnya mengejar Indi yang berdiri di ambang pintu.
Langkah Veric seketika membuat debaran jantung Indi berpacu, bagaimana tidak. Tubuh putih berotot hanya berbalut boxer terus berjalan mendekat ke arahnya. Tatapan keduanya pun saling beradu.
Indi menelan salivahnya gugup. Sedikit demi sedikit ia menahan tubuhnya justru semakin gemetar.
Tidak! Veric bukan sedang ingin meminta haknya sebagai suami kan?
“A-ada apa?” tanya Indi terbata.
Mendengar itu Veric menyunggingkan senyumnya.
“Cih seorang pemimpin perusahaan bisa gugup dengan anak SMA sepertiku?” cibir Veric.
Langkah demi langkah Veric jangkau hingga saat ini mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Manik mata Indi membulat, tenggorokannya terasa tercekat tak bisa menelan saliva. Bersuara pun tak mampu.
Pikirannya yang fokus untuk bekerja buyar saat itu juga.
“Ver, apa maumu?” tanya Indi lirih.
Di saat yang sama, Veric menunduk menjangkau jarak lebih dekat dan setara dengan wajah Indi.
“Aku…ingin,” mata Indi yang bulat terpejam dan berikutnya terbuka kembali saat menyadari ia telah salah paham.
Rambut yang ia tata rapi kini tergerai sempurna. Dan Indi bisa bernapas kembali saat jarak wajahnya sudah berhadapan langsung dengan Veric.
Veric yang merasa lucu dengan tingkah sang istri, kini menggelengkan kepalanya dan berjalan kembali ke atas ranjang.
Sungguh Indi kesal merasa di permainkan. Tangannya mengepal sempurna.
“Siang, bertemu di restauran dekat sekolahmu.” Sekali lagi Veric mendapat ajakan dadakan dari sang istri.
Ada perasaan senang dan kesal saat yang bersamaan. Senang karena ia bisa bersama Indi makan berdua. Itu artinya Indi tidak makan dengan klien atau siapa pun.
Tapi Veric kesal karena lagi-lagi mereka harus bertemu di area sekolah. Tidak, Veric tidak ingin hubungan mereka menjadi ancaman pendidikannya.
Mau di taruh di mana wajahnya jika sampai teman-temannya tahu ia sudah menikah. Padahal gurunya saja masih ada yang belum nikah.
“Tapi, Indi…” Indi yang buru-buru tak lagi mau mendengarkan ucapan sang suami.
“Argh!” pekik Veric kesal bukan main.
***
Tak terasa kini waktu telah berada di siang hari. Wajah lelah Indi setelah sejak pagi bekerja kini sangat jelas.
Rasanya ia ingin berendam dengan air satu hari penuh untuk menyegarkan seluruh tubuhnya.
Mobil yang mengantarkannya menuju sebuah tempat makan sesuai janjinya pada sang suami kini terparkir dengan rapi.
Ia melangkah keluar menuju ke dalam restauran. Di sana tanpa Indi duga ada beberapa anak seragam SMA yang ia kenal. Tapi, tidak ada Veric.
Hanya beberapa wanita yang masih remaja saja.
“Dimana dia? Katanya sudah datang?” gumam Indi yang menoleh mencari sosok pria yang membuatnya bersemangat untuk mengisi perut.
Yah, Veric rasanya seperti suntikan vitamin di kala Indi ingin kembali bekerja setelah jam makan siangnya.
Tetapi, di saat itu ia tidak sadar ada sepasang mata yang sudah menarik salah satu alisnya ke atas.
“Rasakan ini!” umpatnya geram.
“Ups sorry…” wanita cantik dengan seragam sekolah tak sengaja menumpahkan minuman di celana Veric meski hanya sedikit.
“Ah gimana sih?” Veric mengeluh kesal.
“Maaf yah, tadi tangan aku tiba-tiba nyerinya kumat lagi.” jawab si wanita yang tak lain adalah Sintia.
Wanita yang frustasi karena kekuasaan sang ayah nyatanya tak mampu menyentuh sedikit pun sosok Indi.
“Sudah, its oke. Pergilah.” ucap Veric dingin. Ia tak ingin berurusan dengan wanita mana pun lagi.
Toh semuanya sudah ada di tangannya lagi. Jadi ia bisa bersikap seperti semula.
“Ver,” sapa Indi yang baru saja tiba.
Matanya menatap kepergian Sintia yang sangat asing baginya.
“Siapa dia?” tanya Indi penuh selidik.
“Nggak tahu.” jawab Veric cuek namun tak memperhatikan wajah kesal Indi yang tiba-tiba cemburu.
Karena yang ia lihat tadi hanya Veric bicara dengan Sintia tanpa tahu yang terjadi sebenarnya.
“Kamu kenal?” Lagi Indi bertanya karena tidak puas.
“Nggak.” jawab Veric singkat.
Menyadari mood sang suami tak baik, akhinya Indi memutuskan segera memesan makanan.
Setelah usai, Veric menatapnya. “Berikutnya gue butuh ruang privasi. Bukan tempat seperti ini.” ketus Veric.
Indi diam tak menjawab. Ia merasa keberatan jika makan pun harus berada di privasi. Setidaknya Indi ingin hidup normal dengan menghirup udara segar. Cukup jam kerja saja yang membuatnya selalu berada di ruangan yang privasi. Baginya itu sangat membosankan.
“Kenapa? Aku suka dengan suasana begini.” jawabnya acuh.
“Indi, gue masih sekolah. Apa kata mereka kalau setiap hari kita sama-sama?” jawab Veric sedikit menekankan setiap perkataannya.
“Silahkan di nimkati Ibu,” sapa pelayan ramah pada Indi lalu tersenyum canggung pada Veric.
Indi tampak mulai menikmati makannya yang menggugah selera.
Tanpa mereka tahu, kini di belakang Veric ada sosok pria yang tersenyum lebar.
“Wah, kebetulan yah kita ketemu di sini, Indi.” Marco, pria yang berwajah arab sungguh manis dengan kulit eksotis menyapa sang teman lama saat kuliah dulu.
Indi yang melahap makannya hampir tersedak.
Tangan kotornya menunjuk kaget pada sosok pria di belakang Veric. Bahkan Veric pun sampai memutar tubuhnya ke belakang karena penasaran.
Siapa lagi saingannya kali ini? Pikirnya.
“Marco yah?” Indi tersenyum lebar.
Marco pun mengangguk. Dan Indi segera mengulurkan tangan menjabat.
“Apa kabar?” tanyanya.
“Baik, ada acara makan siang nih?” tanya Marco melihat sosok pria di sampingnya.
“Oh iya kenalin ini Veric. Ver, kenalin ini teman kuliah aku.” Indi berusaha terlihat akrab di depan sang teman. Tanpa menyebutkan apa status Veric.
Mereka pun saling berjabat tangan. Hingga Indi menawarkan Marco untuk makan bersama mereka. Tentunya pria tampan itu tak menolak, justru senang bisa bertukar cerita pada Indi.
Keduanya makan dengan asik dan terus bercerita.
“Yah begitu si Indi ini, kuliahnya suka sekali bolos.” tutur Marco terkekeh.
Dan Veric yang merasa panas bersuara. “Pasti bolos buat hal yang aneh-aneh. Gonta ganti pacar misal?” ledek Veric merendahkan Indi karena Marco selalu mengatakan kagum dengan keberanian Indi saat kuliah.
“Tidak. Indi justru wanita yang paling hebat. Tidak sekali pun berhubungan dengan pria. Beda sama wanita lain, cintaku saja dia acuhkan dan mengajak berteman saja. Iya kan, Indi?” celoteh Marco membuat Veric meneguk kasar salivahnya.
“Cih lalu dengan membolos, apa hebatnya? Dimana-mana bolos tentu hal yang tidak patut di puji.” cibir Veric.
Marco yang tidak sadar jika Veric sangat kesal terus meladeninya.
“Bagaimana tidak di puji, dia memilih berlatih bekerja dan banyak menghasilkan hal positif. Bahkan di usia muda saja dia sudah berhasil membuat majalah bisnis meliriknya.”
“Ah jangan berlebihan begitu, Marco. Semua sudah berlalu. Dan sekarang kau juga sudah sukses kan? Aku dengan perusahaanmu sudah berhasil menembus pasar internasional. Itu juga hebat sekali.” Indi memuji balik.
Tanpa mereka lihat kedua telinga Veric sudah panas dan memerah. Tangannya yang berusaha ikut menyendok makanan pun kini ia letakkan sendok di piring serta garpu.
Selera makannya hilang sudah.
“Indi, ayo kita harus segera keluar. Waktunya sudah mepet. Permisi.” Meski kesal, Veric masih menunjukkan sopannya pada Marco.
Bahkan ia rela menguras habis uang di dompetnya untuk ia letakkan di meja. Tangannya sudah menggenggam pergelangan tangan Indi erat.
Di depan Marco, Veric berusaha menjadi pria yang mapan dengan membayar semua makanan mereka bertiga siang itu.
Untung saja sepulang sekolah, Veric berinisiatif tidak memakai seragam sekolahnya. Mau di taruh di mana wajahnya kalau sampai teman sang istri mengetahui ia masih SMA.
“Ver, mau kemana sih?” Indi yang memakai heels tinggi kesulitan mengimbangi langkah Veric.
“Ikut aku!” geram Veric bahkan sampai mengangkat tubuh Indi naik ke atas motornya di bagian belakang.
Rok span dengan belahan di belakang membuat Indi sedikit terbantu untuk duduk.
“Nyonya Indi!” Teriak sang bodyguard dari meja di restauran yang berbeda.
Mereka berlari menuju mobil kala melihat Veric membawa Indi dengan motor sang laju tanpa helm.
Untuk pertama kalinya Indi ketakutan dengan laju motor Veric saat ini.
“Veric berhenti!” Teriaknya namun Veric tak mendengarkan.
Air mata sudah menetes beberapa kali di kedua pipi Indi. Rambut yang rapi semua berterbangan berantakan terkena terpaan angin.
MAKANYA LO RIC,, JGN SMPE LO DPISAHKN SAMA INDI, NYESAL LOO
INILH AKIBAT SALAH DIDIK, SALAH GAUL.. BOCAH MUSLIM SAJA BNYK YG KYK SETAN DAJJAL, APALAGI SI VERIC BOCAH KAFIR, MNA TAU MORAL & AHKLAK... TAUNYA HIDUP FOYA, PESTA2,,CLUBING2, BKN ISI WAKTU DGN HAL YG BRMANFAAT..
SUPAYA LO GK GENGSI SAMA INDI, HRSNYA LO GIAT2, BLAJAR..
begitu saja......
ngak ada kata pentup....
😁😁😁😁😁