NovelToon NovelToon
Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku

Status: tamat
Genre:Romantis / Pernikahan Kilat / Tamat
Popularitas:958.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: Inisial EY

Luna Sabrina, seorang janda beranak satu yang mempunyai usaha bakso keliling adalah seorang mahasiswi tercantik di universitasnya.

Chandra Abimana adalah CEO sekaligus dosen di sebuah universitas.

Kejadian yang terjadi di depan Universitasnya yang mana gerobak bakso Luna tak sengaja menabrak dan membuat lecet mobil Chandra berakhir menjadikan Luna tak bisa menolak ajakan menikah yang ditawarkan oleh Chandra padanya.

"Kalau kau tak mau menikah denganku, kau harus membayar dua ratus juta untuk memperbaiki mobilku." tegas Chandra yang membuat Luna membulatkan matanya.

Kira-kira pernikahan apakah yang ditawarkan oleh Chandra? akankah keduanya saling tumbuh rasa? atau hanya salah satu pihak yang merasakan cinta hingga bertepuk sebelah tangan?

Baca terus ya kisahnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inisial EY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuan Rasa Teman

"Gimana rasanya direbutin sama dua dosen tampan, Lun?" ledek Reyna saat mereka berdua sedang duduk di kantin menunggu pesanan siomay mereka siap dihidangkan.

"Hussst.. Kamu bilang apa sih, Reyn. Nanti kalau ada orang dengar gimana." ujar Luna sembari menatap ke segala arah, takut ada Chandra yang mendengarnya.

"Emang kenapa kalau ada yang denger?" tantang Reyna dengan menahan tawa.

"Ya malu lah.. Aku ini siapa kok sampai diperebutin segala." sewot Luna

"Kamu itu cantik, Luna." gemas Reyna

"Kata siapa?" tanya Luna

"Ya kataku tadi." jawab Reyna yang membuat Luna mencebikkan bibirnya.

"Tapi aku itu janda, Reyn."

"Ah sudahlah. Berdebat sama kamu gak ada ujungnya."

"Itu tau.. Makanya yok makan aja, aku udah laper dari tadi." ajak Luna sembari mengambil sepiring siomay yang masih ada di atas nampan penjualnya.

"Tapi.. kalau aku ya Lun, kalau aku disuruh milih.. pasti aku bakal milih pak Chandra." ujar Reyna.

"Uhuk!!" Luna tersedak saat meminum jus jeruknya saat mendengar Reyna yang menghayal memilih suaminya.

pak Chandra itu suamiku, Reyn. Suamiku. Kenapa kamu menghayal ingin memilikinya. batin Luna tidak terima.

"Kan kalau disuruh milih, ini kan enggak Reyn." ungkap Luna yang membuat Reyna malah tertawa.

"Ya iya.. Eh, tapi kok kayaknya kamu gak suka aku milih pak Chandra. Kenapa Lun? Kamu suka juga sama pak Chandra?" tanya Reyna sembari memakan siomaynya.

"Nggak.. Kata siapa.. Aku kan udah bilang sama kamu Reyn, aku itu tau diri. Aku gak mungkin dan gak bakal berani jatuh hati sama pak Chandra. Udah, gak usah ngaco." kilah Luna sembari meminum kembali jus jeruknya, dan tak menyadari jika ada Chandra yang baru saja melintas di belakangnya dan mendengar semuanya.

Chandra hanya bisa tersenyum tipis, ia tak marah karna perkataan Luna yang menyebut jika ia tak akan jatuh hati padanya.

Ia pun melanjutkan perjalanannya menuju mobilnya karna sudah waktunya ia kembali ke kantor.

***

Chandra sampai di pelataran perusahaannya tepat sepuluh menit sebelum rapat dimulai.

Ia pun berjalan begitu cepat menuju ruang meeting disusul oleh Jaelani yang sedari tadi menunggunya di pintu masuk perusahaannya.

"Berkasnya sudah kamu siapkan?" tanya Chandra sembari memakai jas kebesarannya.

"Semuanya sudah siap, Pak." jawab Jaelani dengan mantap.

"Bagus."

Dua jam meeting berlangsung, dan kini Chandra beserta Jaelani sudah kembali ke dalam ruangannya.

"Apa yang kamu tangkap di meeting tadi, Lani?" tanya Chandra sembari mengetukkan penanya di meja, mengetes sekretarisnya yang sedari tadi melamun.

"Tidak ada Tuan, semuanya baik-baik saja." jawab Jaelani dengan memberikan tatapan kosong.

"Kamu yakin?" tanya Chandra lagi,

"Yakin Tuan."

Chandra menganggukkan kepala, tidak memaksa Jaelani untuk bercerita.

Beberapa menit memeriksa detail hasil meetingnya, Chandra pun tersenyum puas.

Sebentar lagi ia akan mempunyai anak cabang perusahaan yang merupakan perusahaan yang akan ia dirikan sendiri. Bukan pembagian dari keluarga.

"Aku pulang dulu, Lan." ujar Chandra sembari menepuk pundak Jaelani, dan laki-laki itu terjingkat kaget.

Semakin menguatkan prasangka Chandra, jika laki-laki yang selalu ia andalkan itu sedang tidak baik-baik saja.

"Apa ada yang mengganggu pikiranmu, Lani?"

"Ti--dak ada, Tuan." jawab Jaelani terbata.

"Bicaralah.. Kalau tidak, gajimu akan aku potong lima puluh persen." ujar Chandra sembari duduk lagi di kursi kebesarannya.

"Hah? Apa masalahnya Tuan? ini kan hal pribadi saya." kesal Jaelani jika menyangkut pemotongan gajinya.

"Maka dari itu, bicaralah." tegas Chandra.

Jaelani yang semula enggan bercerita pun akhirnya mengangguk, dan tanpa aba-aba kristal bening itu turun membasahi wajahnya dan Chandra yang melihatnya hanya bisa menatapnya, memilih tidak mengganggu Lani yang akan mengungkapkan apa yang sedang ia pikirkan.

"Aku.. Aku putus dengan Putri, Tuan." ujar Jaelani sembari mengusap air matanya.

"Putus? Ada masalah apa hingga kalian putus? Bukankah kalian merencanakan pernikahan sebentar lagi?"

Jaelani terlihat mengangguk, "Ya, kami memang merencanakan pernikahan sebentar lagi, Tuan. Tapi, Putri pergi meninggalkan aku demi karirnya di dunia seni."

"Kamu yakin hanya itu yang mendasari dia meninggalkanmu?" tanya Chandra lagi

"Entahlah Tuan.. Cinta kita begitu kuat, kita berpacaran sudah tiga tahun lamanya." Jaelani memperlihatkan jarinya yang menunjukkan angka tiga lalu menghela napas mengingat apa lagi yang membuat hubungannya dengan Putri rumit. "Tapi.. Sebenarnya Bapaknya Putri juga belum merestui hubungan kami." jawab Jaelani dengan raut wajah sendu yang tidak dibuat-buat.

"Berjuanglah.. Kejarlah cintamu jika kamu merasa dia pantas diperjuangkan, Lani." ujar Chandra yang membuat Jaelani menegakkan duduknya, menatap Chandra dengan mata basahnya.

Ia merasa Tuannya ini seperti temannya, yang ternyata bisa diajaknya mencari solusi atas apa yang tengah mengusiknya.

"Lalu, bagaimana dengan pekerjaan saya, Tuan?" tanya Jaelani dengan hati yang gamang.

Di satu sisi ia senang bisa mengejar cintanya yang sudah pergi ke luar negeri, tapi di sisi lain ia tak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaaannya karna Chandra belum bisa fokus hanya memegang perusahaan dan meninggalkan sepenuhnya dunia kampusnya.

"Kamu bisa kembali bekerja setelah kamu mendapatkan jawaban dari banyaknya pertanyaan yang menumpuk di pikiranmu itu." ujar Chandra yang lagi-lagi membuat Jaelani menatapnya tidak percaya.

"Tapi, perusahaan Tuan?" tanya Jaelani menyakinkan Tuannya akan keputusannya.

"Ada Moreno yang bisa aku andalkan. Pergilah. Kejar cintamu sebelum kamu menyesal, Lani." jawab Chandra sembari menggerakkan tangannya menyuruh Jaelani agar segera pergi.

"Terimakasih ya Tuan, terimakasih. Aku janji akan segera kembali." ujar Jaelani sembari memegang tangan Chandra, namun Chandra hanya tersenyum menanggapinya.

Bagaimanapun, Jaelani adalah orang yang ada dulu disaat ia terpuruk saat mengetahui perselingkuhan Kezia dengan sepupunya.

Dan, mungkin sekarang waktunya ia membalas kebaikan Jaelani dengan berbaik hati memberikan cuti beberapa hari untuknya.

"Apa lagi, Lani?" tanya Chandra saat melihat Jaelani kembali ke dalam ruangannya.

"Nona Kezia akan bertunangan, Tuan." jawab Jaelani sembari menunduk. "Katanya kemarin dia mau mengundang Tuan."

"Pergilah.. Aku sudah tau." jawab Chandra yang seketika membuat Jaelani mendongakkan kepala menatap Tuannya.

Notifikasi pesan di handphone Chandra, mengurungkan niat Jaelani ingin bertanya lagi.

Luna Sabrina: Mas.. Sebentar lagi waktu pulang kuliyah, gimana?

Chandra membaca pesan Luna seraya tersenyum lalu membalasnya,

Chandra Abimana: Kamu naik taksi online aja, aku lagi gak sempat jemput.

Luna yang menunggu balasan dari Chandra pun secepat kilat membalasnya lagi,

Luna Sabrina: Tapi aku gak punya uang, Mas.

Pesan yang dikirim Luna membuat Chandra geram, dan seketika menelpon Luna.

Luna yang melihat Chandra menelponnya pun langsung menjawabnya dengan terlebih dahulu ijin untuk ke kamar mandi pada dosen yang sedang mengajar di kelasnya.

Panggilan tersambung...

Luna: Hallo, Mas.

Chandra: Kamu bawa kartu yang aku kasih ke kamu semalam?

Luna: Nggak, Mas. Kartu itu aku taruh di laci kamar.

Chandra: Astaga Luna.. Kamu bawa atm kamu?

Luna: Bawa.. Tapi isinya cuma gopek.

Chandra: Ya udah, kirim nomer rekeningnya biar aku transfer. Nanti mampir aja dulu di atm yang dekat dari rumah buat bayar taksi onlinenya.

Luna: Ini termasuk hutang gak, Mas?

Chandra: Nggak Luna..

Dan saat Luna akan berkata lagi, Chandra langsung mematikan telponnya.

Chandra geram, kenapa jika berkaitan dengan uang, istrinya itu menganggapnya sebagai hutang?

Kalau iya semuanya dianggap hutang? Lalu sampai kapan ia bisa membayarnya?

Bersambung...

1
Maura
visual dong thor biar semangat membaca
G Use
Chandra bodoh dan lemah nggak punya sikap...
Noniesal
Luar biasa
Noniesal
Lumayan
Dia Amalia
lg mampir ne kk
Inisial EY: makasih😍
total 1 replies
syamil mauza
ikut mampir ya ,,
Inisial EY: makasih😍
total 1 replies
Inisial EY
oh ya, yang nanya hukuman kezia itu apa ya hukumannya dia selamanya tidak akan bisa mengakui radit sebagai anaknya dan selamanya ia hanyalah orang lain untuk Radit
Asyatun 1
keren thoor
Inisial EY: makasih akak... baca juga novel terbaruku ya😍
total 1 replies
Indri Ani40
salam kenal ikut mampir yaa☺️☺️
Inisial EY: makasih akak
total 1 replies
Aqella Lindi
baru baca novel ini seketaris ny jhat bnget
Upit
sebentar lagi Chandra jadi bucin sama Luna;)
Upit
ceritanya menarik dan ga bosenin
Upit
semoga perkawinan mereka jadi perkawinan sungguhan
Inisial EY: aaaamiiiin
total 1 replies
Upit
hi Lani, saya Lina😆
Noniesal: /Facepalm/
total 3 replies
Nur Adam
lnjur
Yati Yati
thor enk jdi kezia gak dpt karma pp udah buang byi ngehina luna gak habis bebas gitu ja
Yati Yati
woi lani jgn sok lo gk tau kenyataanya awas lo nyesel gw gibeng lo sombong amat
Asyatun 1
lanjut
Inisial EY
thanks buat yang udah mau ngasih ulasan..
Inisial EY
thanks buat yang udah mau ngasih ulasan..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!