⚠️⚠️ NO PLAGIAT!!
UPDATE SETIAP HARI KAMIS & MINGGU JAM 21.00 WIB
Hari-hari bahagia Silvia mendadak hancur begitu saja karena dirinya yang tiba-tiba mengandung anak dari pacarnya.
Di tengah-tengah reputasi buruknya itu, apakah Silvia dapat bertahan?
Yuk pantauin terus ceritanya! 😉
-----
Cerita ini dibuat berdasarkan imajinasi author semata. Jangan lupa untuk like, comment, dan vote ceritanya ya para readers yang budiman..
-----
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revina Willy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marah
Beberapa menit setelah Rendi pergi dari UKS, aku dan Tania juga ikut meninggalkan UKS. Dan kini kami berdua sama-sama sudah berada di dalam kelas. Lagipula yang kualami ini hanya luka bakar ringan kok. Jadi untuk apa aku berlama-lama di sana?
"Tangan lo udah gapapa Sil? Masih sakit?" Tanya Tania padaku.
"Masih sakit sih.. tapi cuma segini doang elah. Jangan lebay deh!" Kataku.
"Et dah lo! Gue ngecemasin lo, malah dibecandain!" Cibir Tania.
"Iya.. iya.. maap deh." Kataku sembari tersenyum menahan tawa.
Tepat di saat itu pula, seseorang datang menghampiriku dari arah belakang dan menyentuh pundakku.
"Eh, Surya? Kirain tadi siapa. Lo kenapa?" Tanyaku.
Bukannya menjawab, Surya hanya diam saja sambil menundukkan pandangannya. Saat aku ingin menatap matanya, dia malah membuang pandangannya ke arah lain seperti sengaja menghindari tatapanku.
"Lo kenapa sih? Kalau mau ngomong ya langsung bilang aja! Emosi juga gue lama-lama." Ucapku geram.
"I..iya! Sorry. Gue sebenernya mau nanya ama lu. Tangan lo itu.. luka karena Mawar ya?" Tanya Surya.
Aku terdiam sejenak. Kata-kata yang Rendi ucapkan padaku di UKS tadi tiba-tiba terbesit di pikiranku. Rendi bilang Surya dan Mawar itu teman dekat bukan? Apa Surya datang kemari untuk membela teman dekatnya itu?
"Iya, dia sengaja nyiram air panas ke tangan gue sampai melepuh begini." Kataku sambil menatap sinis.
"Gue minta maaf." Ucap Surya tiba-tiba.
"Hah? Kenapa lo minta maaf? Yang giniin gue kan bukan elo." Kataku.
"Gue tau. Tapi, tetap aja gue ga bisa diem doang kalau Mawar begitu. Biar gue yang gantikan dia minta maaf." Ucap Surya.
Aku terdiam. Aku langsung bangkit dari tempat dudukku setelah dia berkata seperti itu. Tania yang ada di sampingku sudah menatapku cemas sejak tadi. Aku berdiri, lalu menghadap tepat di hadapan Surya sambil menatap matanya itu dengan perasaan jengkel.
"Yang salah itu dia! Kenapa harus elo yang gantiin dia minta maaf? Lo g#la ya mau minta maaf buat sesuatu yang ga lo lakuin?" Tanyaku padanya.
Aku geram. Kenapa dia malah meminta maaf padaku? Oke, boleh saja jika sekarang aku memaafkannya dan membiarkan hal ini berlalu begitu saja. Namun memangnya dengan begitu ada jaminan kalau Mawar akan introspeksi diri?
Aku kesal dengan orang yang berpikiran pendek seperti itu. Orang yang meminta maaf secara langsung saja, terkadang masih bisa mengulangi kesalahannya itu. Lalu Mawar? Memikirkannya saja sudah membuatku geram.
"Bukan gitu Sil, gue-"
"Sudah, sudah! Gue ga mau dengarin ini lagi. Gue bakal maafin dia kalau dia yang minta maaf langsung sama gue!" Kataku.
Orang-orang di kelas mulai menjadikan kami sebagai pusat perhatian. Dilihat dalam sekilas saja, Aku dan Surya memang terlihat seperti sedang bertengkar.
Sementara itu, Tania yang sudah memperhatikan kami berdua sejak tadi, kini turun tangan dan menarik bahuku ke belakang.
"Sudahlah Sil, kalian berdua kok malah jadi berantem gini sih?" Tanya Tania.
Tepat pada saat itu pula, Farel juga datang dan langsung mengajak Surya untuk pergi dari hadapanku. Sejak tadi Farel memang sudah memperhatikan aku dan Surya yang mulai bertengkar. Keputusan yang bagus Farel melakukan itu.
*****
*POV Farel
Teett..
Bel berbunyi dengan nyaring di seluruh penjuru sekolah. waktu sudah menunjukkan pukul 16:00. Sekarang sudah saatnya untuk para murid-murid di sekolah ini pulang.
Bersamaan dengan yang lainnya, aku juga ikut pulang. Aku segera merapikan buku-buku dan memasukkan semuanya kedalam ransel. Lalu setelahnya kusandang ranselku di pundakku.
"Silvi, Ayo pulang!" Ajakku pada Silvi.
"Ya, ntar." Jawab Silvi dengan tanpa ekspresi. Tangannya masih terus sibuk merapikan buku-buku dan peralatan alat tulisnya.
Aku rasa perasaan Silvi benar-benar sedang tidak baik saat ini. Setelah berbicara dengan Surya tadi, Silvi jadi tak banyak bicara dan jarang berekspresi.
Kalau tidak salah, mereka berdua bertengkar karena orang bernama Mawar itu bukan? Bukankah perempuan itu dulunya pernah menjalin hubungan dengan pacarnya Silvi? Berani-beraninya dia menyakiti Silviku.
"Sudah, ayo cepetan! Ntar Tante nungguin lho." Ucap Silvi tiba-tiba.
Silvi bangun dari duduknya. Aku diam tak merespon ucapannya, dan hanya termenung menatap wajahnya.
"Hm? Wajahku kenapa?" Tanya Silvi.
Ucapan Silvi barusan itu membuatku tersentak dari lamunanku. Aku baru sadar kalau sejak tadi aku sudah memperhatikan Silvi.
"Ga kenapa-napa, ayo buruan!" Kataku.
Aku langsung berjalan mendahului Silvi. Sepintas, kulihat Silvi memperlihatkan ekspresinya yang kebingungan karena sikapku. Namun itu tak berlangsung lama.
Karena langkah Silvi yang kecil, aku jadi harus berjalan pelan untuk menyamakan langkahku dengan dirinya. Memang tak ada yang mengharuskanku untuk menyamakan langkahku dengannya sih. Hanya saja aku senang berjalan berdampingan dengannya.
Emerald Garden. Tempat di mana aku dan Silvi bersekolah. Tempat ini terkenal sebagai Sekolah terbesar di kota kami. Hanya orang-orang kaya, berprestasi, atau orang yang sedang beruntung saja yang dapat bersekolah disini.
DEG
Jantungku tersentak sesaat aku tak menemukan ponselku di saku celanaku. Aku sudah meraba saku bajuku dan saku lainnya, tapi aku tak menemukan ponselku sama sekali.
"S..Silvi!"
Aku menghentikan langkahku. Kulihat Silvi juga ikut berhenti, lalu menoleh ke arahku.
"Hm? Lo kenapa?" Tanya Silvi padaku.
"Kayanya HP gue ketinggalan di kelas deh." Kataku.
"Ya udah tinggalin aja. Lo mau ngambil? Kita udah sampe sini lho." Ucap Silvi dengan santainya.
"Enak banget lo kalo ngomong! Kalau ilang gimana?" Balasku.
"Lah? Tumben lo panik? Lo aja cuma santai doang waktu uang jajan ratusan ribu lo dicolong orang." Silvi tersenyum miring.
"Tapi.. tetap aja." Balasku.
"Padahal gue yakin tuh HP termasuk murah banget bagi lo. Tapi kalau lo mau, ya ambil aja sana! Gue ga mau ikut. Gue nunggu di mobil aja." Katanya.
Aku mengangguk, aku langsung berbalik arah dan berlari sekencang mungkin agar lebih cepat kembali ke ruangan kelas.
Sebenarnya jika ponselku hilang, aku tak akan mempermasalahkannya sampai seperti ini. Seperti kata Silvi, ponsel itu memang termasuk murah bagiku. Uang jajan perbulanku saja sudah lebih dari cukup untuk menggantinya dengan yang baru.
Tapi.. aku tak bisa membiarkan ponsel itu begitu saja. Ponsel itu kan hadiah yang pernah diberikan Silvi padaku. Barang itu sangatlah berharga bagiku. Tak akan ada barang lain yang bisa menggantikannya.
.
.
.
.
JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE DAN KOMEN DI SETIAP EPISODENYA YA.. See you again~