Reza.
Tak banyak yang bisa diceritakan dari dirinya. Hanya lelaki biasa dengan kepintaran yang diluar nalar manusia.
Hanya sosok yang mengetahui wawasan dan pengetahuan yang begitu luasnya, agar bisa bersaing dengan kepintaran Reza.
Namun, kenapa. Dirinya dipilih menjadi lelaki pilihan sesosok Dewi Aphrodite?, sosok dewi cinta, nafsu, dan keindahan.
Reza terbingung.
Akhirnya, ketika dirinya dipindahkan kedunia lain. Mulai saat itu, dia akan mencari alasannya.
++++++÷÷÷÷++++++
Ini cerita campur aduk ngak karuan. Entah nanti di dunia kultivator maupun di isekai bertema fantasi barat. Bahkan kemungkinan akan kembali lagi ke bumi. Nantinya juga, setelah plot utama selesai. Author bakalan nyambung ke dunia anime atau apalah itu. Dan itu kalian para pembaca sendiri yang menentukan.
Terapkan kegiatan tanya jawab dengan author. Agar nantinya pembaca sekalian puas terhadap karya saya.
ikuti ig author: @fjr_894
Author ngak maksa kalian untuk ngak Like atau komen. Namun, tolong!. Setidaknya jangan beri rating jelek pada novel ini. Entah KALIAN mau Toxic atau apa pada novel ini. Author ndak peduli!. Namun, seperti yang saya bilang tadi. Tolong Jangan Beri Rating Rendah Terhadap Novel Ini!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mad Kojer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15.
''Baiklah, ujian dimulai. Ujian pertama adalah, kalian harus mengumpulkan sebuah poin. Poin dapat di kumpulkan dengan segala macam cara dan kalian harus cari tau sendiri bagaimana cara mengumpulkan poin.
Saya akan memberikan sebuah token ini...''
Tiba tiba, sebuah benda melayang berjumlah ribuan menuju ke semua murid. Termasuk juga Reza.
''Kalian setidaknya agar bisa lulus harus dengan mengumpulkan poin sebanyak 100juta. Bila hanya kurang satu poin saja, maka kalian dapat datang kembali tahun depan untuk melakukan ujian lagi.
Dalam ujian ini, kalian akan dimasukkan kedalam sebuah dimensi yang penuh dengan barang berharga, bermanfaat, dan tentunya berkualitas. Disana banyak juga monster yang mengerikan.
Nyawa melayang di dimensi ini, bukanlah tanggung jawab Universitas ini.
Ahhh, aku lupa tadi belum menjelaskannya. Token itu, bisa di gunakan untuk ruang penyimpanan, tidak ada batasan dalam menyimpan barang atau mahluk. Hanya bisa menyimpan yang tidak memiliki kehidupan.
Didalam dimensi itu, kalian harus bertahan hidup selama 2 bulan. Terdapat perbedaan waktu. Dimana, dua bulan disana. Hanya 2 jam didunia ini.
Segala macam barang yang ada di dimensi itu, dapat kalian bawa pulang maupun digunakan untuk kepentingan diri sendiri.
Token yang kalian pegang itu, akan selalu ada pemberitahuan dari pihak universitas.
Sekali lagi, pihak universitas tidak peduli bila nyawa kalian melayang. Segera saja pergi dari ujian ini dan jangan pernah mencoba masuk kedalam universitas bila kalian masih sayang nyawa.
Dan jangan pernah meremehkan setiap monster yang ada didalam dimensi itu. Mereka akan peka terhadap sebuah kehidupan selain penduduk dimensi itu.
Setiap detiknya, kalian akan dibayang bayangkan dengan monster yang mengejar kalian. Ini adalah kualifikasi penting dalam universitas.
Tanpa basa basi lagi, mari kita mulai ujiannya.''
Sebuah retakan dimensi muncul seketika setelah si tetua jordan menyelesaikan kalimatnya.
Murid murid yang bersemangat, seketika langsung berlari masuk kedalam retakan dimensi tersebut dan mencoba keberuntungan mereka.
Dan beberapa terlihat, ada dari mereka yang lebih sayang nyawa dibandingkan memasuki retakan dimensi. Sepertinya, mereka benar benar takut akan kematian dan pasrah melepas kesempatan memasuki Universitas Aqulina ini.
Reza berjalan perlahan dan tak terburu buru. Dia hanya memikirkan dengan baik dan menyesal karena tak membawa perlengkapan Assasint lainnya.
''Kurasa, ini akan menjadi susah namun menyenangkan.''
****
Filia sedari tadi tidaklah mengalihkan pandangannya dari arah Reza. Dia sekarang berada di sebuah ruangan khusus dan istimewa.
Disana, terlihat sosok wanita paras cantik namun tak secantik Filia, duduk di kursi selayaknya seorang kaisar.
''Filia, apa kau tertarik dengan anak itu?.'' Ujar wanita yang di kursi menanyakan anak lelaki yang terus dipandangi Filia.
''Heh...'' Tersenyum kecut Filia mendapati pertanyaan tersebut.
''Aku malah pacarnya, pemimpin.'' Lemas, Filia mengakui Reza sebagai pacarnya.
Terlihat wajah terkejut, sosok yang di panggil pemimpin itu ketika mendengar perkataan Filia.
''Hilangkan formalitasmu. Aku baru tau kau menyukai bocah seperti itu.'' Si pemimpin mengambil sikap serius dan tegak menunggu seperti apa kebenaran yang terjadi antara Filia dan Reza.
''Kau tau Riana?. Dia hanyalah bocah biasa dibagian luarnya. Namun, sebenarnya. Dia sama denganku. Boneka mengerti perasaan.'' Filia memberitahukan kebenaran mengenai Reza yang sesungguhnya.
Sosok pemimpin yang dipanggil Riana terlihat membelakkan mata. ''Lalu, apa yang menbuatmu tertarik?.''
''Entahlah, aku juga bingung. Sosoknya benar benar membuat hatiku hangat juga. Padahal, dia sangatlah bekerja keras demi mendapatkan kehangatan dari kasih sayang juga.
Tidak ada yang menarik darinya, mungkin hanya satu yang bisa di banggakan dari Reza atau anak itu. Dia akan melakukan segala macam cara demi mempertahankan apa yang di hatinya berharga.''
Tersenyum senyum sendiri, Filia mengingat kembali keseharian dia dengan Reza.
Riana yang melihat Filia seperti anak remaja baru jatuh cinta. Hatinya sedikit hangat dan tenang. Kemudian, sebuah senyuman ejek terlukis di wajahnya.
''Heh, ingat umur, nenek tua!. Kau bukan lagi anak remaja baru jatuh cinta.''
Dibalik penutup mata, Filia menatap kosong pada Riana dengan wajah datar.
''Kau sama menjengkelkannya dengan Reza, Riana!... Hummp!.''
****
Kembali ke Reza. Dia saat ini sedang mengintai ngintai keseluruh bagian sudut. Tentu, dia tidaklah menggunakan mata.
Melainkan Energi Spiritualnya.
Jangkauan yang bisa Reza pantau, adalah 300meter dalam ruang lingkup 360°.
'Sungguh, presepsi dari energi spiritual benar benar luar biasa. Mungkin, bila hanya menggunakan presepsi energi {mana}, banyak mahluk hidup yang menyadari aku mengintai mereka.'
'Richa, apa kau sudah menganalisa token tersebut.'
[Sudah tuan.]
Reza sebelum memasuki dimensi, dia sudah meminta Richael untuk menganalisa token tersebut. Tentu, hanya mengumpulkan poin saja, menurut Reza tidaklah sesederhana itu.
[Token ini memiliki kegunaan
Digunakan sebagai identitas murid universitas.
Token memiliki fungsi, poin tukar. Kegunaan PT (Poin Tukar) adalah untuk digunakan sebagai mata uang di universitas.
Ada fitur Shop juga, dan barang akan langsung di kirim melalui token bila transaksi berhasil.
Memiliki fitur penyimpanan tak terbatas. Hanya bisa untuk menyimpan yang tidak memiliki kehidupan. Terkecuali, dalam bentuk barang. Seperti senjata roh ataupun artefak.
Sistem pemberitahuan.
Sistem pemantauan jam penuh atau selamanya akan dipantau pergerakan tuan.
Map.
Hanya itu saja, tuan.]
Reza terdiam dan mencerna setiap kegunaan dari token agar bisa menguntungkannya.
''Jadi, apa ketika aku lagi mandi juga bakalan dipantau?.'' Gumam Reza lemas karena memikirkan hal ini.
[Ya, tuan.]
Semakin lemas Reza ketika mendengar jawaban Richael.
''Baiklah, lakukan analisa seluruh dimensi ini.'' Reza kembali serius dan mulai melakukan pergerakan karena dia melihat bahwa ada monster yang merasakan keberadaan dirinya.
[Dibutuhkan waktu 24jam untuk menganalisa segala macam yang ada di dimensi ini. Apa anda yakin, system akan melakukan pemberhentian fungsi selain fitur dunia imajinasi dan inventory?.]
Tanpa ragu, Reza menjawab. ''Ya.''
[Ding!. System melakukan pemberhentian fungsi selain dunia imajinasi dan inventory. EXP dari hasil membunuh, akan di tunda untuk melakukan kenaikan level Mana energy. Harap bisa bertahan hidup selama System dalam kondisi mati.]
Reza langsung berlari kencang menjauh dari para monster yang ada. Dirinya sadar diri. Disini dia hanyalah mangsa paling empuk dibandingkan dengan murid lain.
''Tingkat iron memang begitu lemah untuk kualifikasi setandar Universitas Aqulina. Beruntung aku ada Filia yang sebagai wakil pemimpin universitas.''
Setelah melakukan pelarian kesana kemari demi mencari tempat yang aman dari monster. Akhirnya, Reza menemukan sebuah goa yang tidak ada mahluk hidup menempatinya setelah menggunakan presepsi spiritual.
Tanpa ragu, Reza memasuki goa itu dan melakukan seni pernapasan karena tubuhnya merasakan kelelahan setelah berlarian kecang menghindar dari para monster.
Ketika Reza membuka matanya. Seketika keringat dingin terasa olehnya.
Sebuah mata dengan lebar lebih dari lima puluh meter begitu dekat dengannya. Berbentuk seperti reptil, dan sisiknya terlihat berwarna merah darah.
''Na-na-naga?!!!.'' Teriak Reza dengan keterkejutan mendalam ketika melihat naga sebesar ratusan meter tiba tiba berada di depannya.
''Nak!. Kau menarik juga, ya.'' Terdengar, begitu menggema dan seakan langit runtuh seketika itu juga ketika suara naga itu berkata kepada Reza.
Reza segera melakukan pernapasan dengan baik agar bisa menenangkan pikirannya dan tubuhnya.
''Ja-jadi, ada perlu apa tuan naga yang agung berbicara dengan ku yang rendah ini?.'' Reza langsung bersikap rendah hati dan menunduk tak berani menatap mata di naga didepannya ini.
''Jangan pura pura nak didepanku. Aku tau kau tidak takut sama sekali dengan ku. Itu lebih nyaman untuk berbicara dibandingkan kau bersikap rendah hati seperti ini.'' Ujar santai walau bila orang yang mendengarkan akan benar benar merasakan ketakutan.
''Jadi, berpura pura juga percuma, kah.''
Reza sebenarnya tidak takut ataupun bergeming dengan naga didepannya ini. Setidaknya, dia akan bersikap seakan ketakutan agar cerita lebih menarik dan klise.
Menatap mata naga yang lebarnya lima puluh kilometer. Reza sekalipun tidak berkeringat dingin ataupun begetar matanya karena ketakutan
''Jadi, seperti ini kah wajah aslimu. Sungguh anak menakjubkan. Baiklah, nak. Perkenalkan namaku Liu Wei. Naga merah penjaga dunia deteravuyu. Siapa namamu, nak?.''
''Reza. Tak ada marga keluarga.''
Bekas kaki bapak