"Yang namanya di kampus, pasti banyak dong, mahasiswi-mahasiswi yang cantik, kan gampang tinggal pilih. Tapi kenapa kamu masih jomlo juga sampai kamu jamuran?
Jeff langsung menoleh, menatap Kayla dengan sorot mata tajam.
"Kamu pikir mencari istri itu mudah? Semudah mencari cabai dalam tumis kangkung? Enggak La?"
"Lagian siapa juga yang mau sama kamu. Galak. Palingan cuma aku doang" celetuk Kayla yang lagi-lagi membuat Jeff semakin geram.
"Aku juga kepaksa nikah sama kamu, siapa juga yang mau sama kamu. Janda dua kali dan gagal nikah tiga kali."
***
Jeff merasa apes. Sebab, ia dijodohkan oleh orang tuanya dengan Kayla yang sudah berkali-kali gagal berumah tangga. Bukan hanya itu saja, wanita itu juga galak dan sangat jutek.
Tapi, apa sebenarnya yang menyebabkan Kayla gagal berumah tangga berulang kali? Dan trauma apa yang pernah menjadi ketakutannya bila berdekatan dengan laki-laki?
Temukan jawabannya di sini~
Happy reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kayla bikin petaka
Keesokan harinya~
Sisa sakit semalam masih terasa di tubuh bagian belakang Jeff. Pegal saat di gunakan untuk duduk. Alhasil, ia harus sering menggeser-geser pantattnya agar tak terlalu merasakan sakit. Namun sepertinya, karena pergeserannya di kursi yang cukup sering mengakibatkan beberapa murid bertanya dengan lugas.
“Kenapa gerak-gerak terus Pak? Apa pantatt Bapak bisulan?”
“Haaahaaaaaaa ....”
Pertanyaan tersebut sontak mengundang tawa seisi kelas. Dan yang paling parah, sayup-sayup terdengar di telinganya, bahwa murid-murid mengatakan bahwa dirinya ‘mungkin sedang menstruasi. Takut tembus.
Aaaargh! Sial sial sial.
Dan hari itu ia harus mempunyai usus yang panjang. Harus banyak bersabar dari serangan murid-murid yang nyeleneh, dan juga harus bisa menahan rasa pegal yang tak tertahankan.
**
Jeff melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul empat waktu setempat. Dengan laju pelan Jeff terlebih dahulu mampir ke apotek untuk membeli obat pereda nyeri. Yang di harapkan dapat meredakan nyeri di bagian itu.
Setelah mendapatkannya dalam bentuk cream, ia pun langsung menuju pulang. Betapa ia ingin segera bertemu Kayla. Wanita yang baru sebentar sudah membuat hidupnya lebih hangat terasa, seperti teh sori banyu.
Tetapi, betapa terkejutnya Jeff pada saat ia sampai depan rumah. Kenapa ada banyak mobil yang terparkir di sekeliling rumahnya?
Satu, dua, tiga, empat! Ada empat mobil yang berjejer memenuhi lahan parkir yang berada di area jalan rumahnya. Benar-benar keterlaluan. Sebanyak itu Kayla memasukkan tamu ke dalam rumahnya tanpa izin. Sedang apa mereka di dalam sana? Apa yang mereka lakukan, kenapa terdengar sangat ribut sekali.
Tap. Langkah kakinya kini sudah berada sampai di ambang pintu.
“Hentikan semuanya!” hardik Jeff.
Membuat semua menghentikan aktivitasnya serentak. Laki-laki itu juga lantas mematikan musik yang begitu keras memekakkan telinga.
Jeff menatap teman-teman Kayla baik laki-laki mau pun yang sedang berbaur. Berpesta ria dengan banyaknya makanan yang ada di atas meja. Jangan lupakan lantainya yang kotor karena kulit kacang dan sampah-sampah yang bercecer. Belum lagi wanita yang sedang asyik merokok menciptakan kepulan asap yang membuat suasana rumahnya semakin pengap. Mereka menggunakan rumah ini layaknya sebuah diskotek. Nama tempat yang paling ia benci.
Bagaimana mungkin rumah ini di kotori oleh orang lain, sementara ia sendiri pun baru menempatinya. Selama ini Jeff orang yang sangat menjaga kebersihan. Tapi sekarang, dengan bebasnya orang lain masuk membuat kekacauan.
Kayla berdiri dan menatap Jeff dengan raut wajah yang teramat bersalah. Begitu juga dengan teman-temannya yang melihat Jeff dengan raut wajah ketakutan. Sorot mata Jeff begitu tajam dan mengancam. Dan lantas membuat mereka segera berkemas lalu meninggalkan rumah itu.
“Kayla, kita pulang dulu.” pamit salah satu temannya mewakili yang lain.
“Aku juga Kay!” sahutnya secara bergantian.
“Aku juga!”
Dan sesaat rumah itu langsung sepi. Hanya menyisakan mereka berdua dan raungan yang telah porak poranda bagaikan terkena gempa.
“Apa begini kelakuanmu ketika aku pergi?”
“Maaf Jeff, aku beresin semuanya ya,” jawab Kayla merasa tidak enak. Jeff masih belum mengerti dengan Kayla. Bukankah Kayla sendiri yang mengundang teman-temannya? Kenapa juga Kayla harus merasa tidak enak dengannya.
"Kamu belum jawab pertanyaanku. Apa begini kelakuanmu ketika aku pergi?" Jeff mengulang pertanyaannya.
"Aku akan segera membereskan rumahmu, Jeff. Jadi sabar ya. Mendingan kamu duduk dulu. Sepuluh menit pasti beres."
“Bukan masalah itu, siapa saja mungkin bisa membereskan rumah! Tapi ini masalah etika, Kayla!” Jeff masih berkata dengan nada tinggi.
“Bagaimana bisa kamu memasukkan orang lain ke rumah ini tanpa se-izinku!?”
“Iya, aku kan tadi dah minta maaf Jeff, aku dah minta maaf!” balas Kayla tak kalah kerasnya. Kesal juga lama-lama terus dipojokkan seperti itu.
“Bukan seperti itu caranya meminta maaf!”
“Lalu aku harus bagaimana? Aku kan dah bilang, aku mau tanggung jawab membereskannya!” sambil merapikan gelas-gelas lalu menempatkannya ke nampan.
Jeff mencengkram erat pundak Kayla membuat wanita itu berhenti melakukan aktifitasnya. “Turunkan nada suaramu. Aku benci dengar suaramu yang tak mau kalah keras dariku!”
“Aku memang kayak gini dan gak akan pernah bisa jadi apa yang kamu mau. Jadi jangan harap!”
“Kayla!” bentak Jeff. “Aku begini, karena aku suamimu. Aku mau kamu berubah, menjadi perempuan yang terdidik.”
“Aku sekolah! Jadi kamu nggak usah ngomong aku nggak teridik!” balas Kayla.
“Tapi kelakuanmu jauh dari kata terdidik!"
"Jeff!" Kayla mendorong dada Jeff kuat-kuat.
"Harusnya kamu itu merendah karena kamu yang telah bersalah. Tapi kamu malah terus menaikkan suaramu dan mendorongku. Merasa kamu-lah yang paling benar. Harusnya kamu mengakui dan memperbaiki. Ucapkan kata-kata dingin yang kiranya dapat menurunkan emosiku."
"Suami mana yang nggak marah liat istrinya dan teman-temannya dugem di sini, hah? Suami mana yang nggak marah? Malu sama tetangga sekitar!” sambung Jeff lagi.
“Kamu juga! Mentang-mentang kamu pemilik rumah ini, lantas kamu bebas berkuasa. Kalau kamu gak suka? Aku bisa kok pergi sekarang!”
Ucapan Kayla sontak membuat Jeff mengerjapkan mata.
“Kamu pikir aku nggak bisa hidup tanpa kamu! Aku bahkan mampu membeli rumah yang lebih besar daripada rumah ini karena pendapatanku lebih besar daripada pendapatanmu.”
“Kayla, mulutmu?” ucap Jeff terkejut.
Jeff tak habis pikir, kenapa pertengkaran mereka malah merembet ke mana-mana dan keluar dari batas jalurnya? Siapa sebenarnya di sini yang paling bersalah? apa Kayla sedang mencari pembenaran?
Dan mungkin kah ini yang biasa disebut ‘definisi wanita yang selalu benar.
“Berapa sih gaji dosen? Palingan cuma seberapa. Kamu nggak ada apa-apanya kalau di bandingkan dengan kekayaan Daddy-ku. Jadi nggak usah sok deh.”
Degg!!
Jeff meredup, tangan yang kini mencengkram pundak Kayla mengendur perlahan. Kilat sakit menyelimuti hatinya. Teganya Kayla berucap kepadanya demikian. Disaat orang lain begitu menghormati dirinya, ia malah direndahkan oleh istrinya sendiri.
Kurang sabar apalagi dia selama ini menghadapi Kayla? Apa sebegitu tak berartinya dia di mata wanita itu? Kenapa materi selalu menjadi tolak ukur kebahagiaan? Tidakkah Kayla bersyukur, Jeff telah memberikannya tempat yang nyaman, memberikannya makanan yang enak dan mencukupinya tanpa kekurangan. Lalu ia harus kaya yang bagaimana lagi? Kaya seperti apa yang dia maksud?
Jeff lantas berbalik badan. Ia berkata sambil membelakangi. “Kalau begitu kamu bisa pergi. Hiduplah dengan Daddy-mu yang lebih kaya itu.”
“Dan akhirnya aku ngerti. Bahwa semua laki-laki itu sama. Hanya ingin mengusirku,” jawab Kayla sambil berjalan mundur dengan air mata yang sudah menggenang. “Palingan kamu juga mau cerein aku sama kayak mantan-mantan aku yang lain. Karena aku ....”
“Terus, terus teruuuusss! Apa aja kamu omongin. Terserah!”
Gubrak!
Kayla menabrak kursi hingga kursi kayu itu terjungkal ke belakang. Bersamaan dirinya juga yang terjatuh ke lantai.
“Kok sakit Jeff, duhh ... sakit.” sambil mengelus-elus tubuh bagian belakangnya. Kasusnya sama seperti yang sedang Jeff rasakan. Sama-sama sakit blutu.
Rasain! Itu akibat melawan suami. Lagian kalau bisa jalan hadap depan kenapa pakai mundur-mundur segala, Jeff membatin puas.
**
To be continued.
pertanyaan simple kenapa kalian tidak tanya pada diri kalian apakah kalian juga mengerti pada suami kalian, apakah kalian juga pengertian terhadap suami kalian
kenapa wanita dicap wanita egois ya ini
saat menuntut pengertian dia sendiri tidak mau mengerti keadaan suaminya
*jeff , hanya jeff berjuang untuk rumah tangganya, jeff sabar dengan segala kelakuan Kayla, jeff berkali memaafkan Kayla, jeff bersikap bodoh mempertahankan rumah tangganya, sampai jeff melawan ibunya untuk mempertahankan Kayla, jeff sabar menanti dan membujuk maaf dari Kayla,
*Kayla, pembangkang, melawan semua perintah suami, berkali2. melakukan kesalahan, yang gatal karena keras kepalanya yang menyebabkan nyawa janin keguguran, saat suami marah bukannya memujuk dan berjuang dan bersabar mendapatkan maaf suami, ini dia pergi dari rumah dan minta cerai (ini kesalahan fatal lagi) dia egois merasa dirinya yang tersakiti karena suami tidak mudah memaafkannya, nyatanya dia juga tidak mudah memaafkan suaminya,
sebutkan satu saja yang membuat jeff merasa beruntung dapat Kayla, kalau bagi aku tidak ada sama sekali
maaf aku bukan bilang novel tidak bagus, kalau mau jujur aku akui novelmu sangat bagus, dari sisi karya, ide cerita, penulisan dan jalan cerita yang mudah dimengerti dan moment penting juga dapat tapi hanya keadilan terhadap pemeran utama wanita dan pemeran utama pria yang kurang, karena author masih kurang adil terhadap pemeran utama pria
*coba kalau konflik awalnya istri yang salah buat istri yang menyesal, berjuang dapat maaf, berjuang meluluhkan hati suaminya, jangan kalian buat isu pengalihan yang istri buat salah kalian buat suami juga buat salah yang ujung suami yang meresa bersalah dan minta maaf dan berjuang
*coba kalian berani buat novel istri yang membuat salah istri juga yang menyelesaikan masalah itu tampa di beri pengalihan isu
*kayak konflik ini jelas2 Kayla yang salah, dia tidak menghargai suaminya, berbuat sesuka hatinya, tidak mau mendengar perintah suami, membangkang yang ujung mereka kehilangan janin yang jelas2 akibat kelalaian Kayla, memang ini musibah tapi kenyataannya kayla yang membuat musibah ini karena keegoisannya, tapi apa yang terjadi kalian tutupi kesalahan Kayla ini dengan membuat jeff juga buat salah yang ujung2 jeff yang dibuat bersalah, menyesal, dan berjuang
*aku secara pribadi akan salut ama author kalau author bisa berbesar hati buat Kayla yang berjuang mendapatkan maaf dan kesempatan dari suami sampai masalah ini selesai, buat Kayla jadi wanita tangguh yang berbuat salah dan berani menyelesaikan masalahnya tampa membuat pengalihan isu suami yang salah