Lima bulan sebelum pernikahan Rara dan Devan terlaksana, Rara memergoki tunangannya itu tengah berada di rumah saki bersama seorang perempua hamil, awalnya ia mengira itu saudara nya, namun kenyataan pahit harus terpaksa ia telan mengetahui bahwa wanita yabg bersamanya adalah istrinya, wanita yang dinikahi devan satu tahun yang lalu. Dunia Rara seakan berhenti detik itu juga, sakit tentu saja iya rasakan, kecewa apa lagi, Rara tidak tahu harus bagaimana lagi hidupnya tak lagi sma, Rara yang dulu periang kini berubah menjadi pendiam dan berkali kli masuk rumah sakit karena terlalu lelah karena pikirannya. Angga yang kebetulan menjadi dokter yang menangani Rara dan juga seorang sahabat dari Riri, kakak Rara berniat menjodohkan keduanya Angga tentu saja bahagia karena bagaimana pun ia memang sudah diam-diam menyimpan hati pada perempuan cantik pemilik cafe tempat dirinya makan siang di jam istirahatnya. Angga tidak ingin menyerah meskipun gadis itu tidak juga memberikan kepastian meski berkali-kali dirinya mengungkapkan perasaannya. Rara hnya tidak ingin menerima laki-laki itu di saat hatinya masih bersemayam laki-laki masa lalu yang telah menggoreskan luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Tidak terasa sudah hampir satu tahun Angga dan Rara dekat, bahkan kemana-mana selalu bersama. Sudah banyak juga hal-hal manis yang mereka berdua lakukan, namun itu bukan berarti mereka sudah menjadi sepasang kekasih, setatus mereka masih sama seperti beberapa bulan yang lalu yaitu berteman. Padahal sudah sering kali Angga menyampaikan keseriusan perasaannya, namun lagi-lagi Rara tak menjawab, hanya kata maaf yang selalu ia ucapkan.
Bukan berarti Rara tak menyukaii Angga, tapi entahlah Rara merasa masih sedikit ragu untuk menerima perasaan Angga. Rara akui jika ia memang merasa nyaman berada didekat Angga, bahkan tak jarang jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya saat ia bersama lakilaki itu. Rasa nyaman dan sayang itu memang sudah mulai ada, tapi untuk Cinta Rara masih ragu untuk mengartikan perasaannya itu.
Meskipun tak pernah mendapat kepastian dari Rara setiap ia mengungkapkan perasaannya, tapi itu tidak membuat Angga berhenti begitu saja, ia menerima apapun keputusan gadis itu. Angga tidak ingin terlalu memaksanya karna Angga yakin mungkin dia masih membutuhkan waktu untuk memulihkan hatinya yang sudah terluka parah atas kejadian satu setengah tahun lalu. Dan disini Angga akan tetap menunggu dan mengobati lukanya dengan perlahan sampai gadis itu benar-benar siap menerimanya dengan tulus tanpa ada bayang-bayang dari masa lalunya.
“Kak Angga emang mau ngajak aku kemana hari ini?” Tanya Rara penasaran, karena sejak tadi menjemputnya dirumah Angga tidak juga mengatkan tujuan kepergian mereka. Setiap ditanya Angga hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun membuat Rara menjadi kesal sendiri.
“Udah kali, Ra gak usah cemberut gitu malu sama umur tahu!” Ledek Angga saat melihat wajah cemberut Rara yang terlihat menggemaskan di mata Angga. walaupun umur Rara sudah 25 tahun tapi di mata Angga Rara masih seperti anak usia 10 tahun.
“Ya abis aku kesel! Kak Angga dari tadi gak mau bilang tujuan kita mau kemana” gerutu Rara kesal.
“Kakak mau ajak kamu ke KUA, Ra,” ucap Angga tertawa kecil.
“Kak Angga, iih kok nyebelin sih?”
“Haha.. ia deh iya, Kakak mau ajak kamu kerumah Kakak.” Jawab Angga akhirnya.
“APA??” Kaget Rara melebarkan matanya yang bulat hingga terlihat semakin besar.
Angga terkekeh dengan keterkagetan perempuan di sampingnya itu.
“Santai aja kali, Ra gak usah kaget gitu, sampe teriak segala lagi,” ucap Angga tenang.
“Mau apa sih kerumah Kakak? Aku gak mau Kak, aku malu!” Rengek Rara.
“Gak apa-apa kok, Mama kakak baik. Ini juga atas suruhan Mama buat ajak kamu kerumah,” ucap Angga menenangkan keresahan Rara.
Mengetahui ini membuat Rara terdiam, entah harus senang atau bagaimana. Jujur Rara sendiri bulum siap jika harus bertemu dengan keluarga Angga, apa lagi sekarang setatus mereka bukanlah sepasang kekasih. ada rasa tak enak hati menyadari bahwa sampai saat ini Rara masih menggantungkan Angga. Sudah saatnya kah ia menerima perasaan Angga?
“Hey, udah sampai, ayo turun!” ucap Angga yang kini sudah membukakan pintu mobil untuk Rara, membuat Rara tersadar dari lamunannya.
“Aku pulang aja deh, Kak. Beneran aku malu,” Rengek Rara semakin merapatkan tubuhnya pada sandaran kursi modil.
“Kok pulang sih, Ra ini udah tanggung udah nyampe mending masuk yuk, Mama aku juga pasti udah munggu kita,” bujuk Angga tak menyerah.
“Udah, gak perlu takut atau pun malu, keluarga aku pada baik semua kok,” bujuk Angga lagi sambil menarik pelan tangan Rara, membuat gadis itu mau tidak mau mengikuti Angga dengan pasrah.
“Assalamualaikum! Ma, nih aku udah bawain pesanan Mama!” Teriak Angga saat memasuki rumahnya. Mendengar itu membuat Rara dengan refleks mencubit pinggang Angga cukup keras, membuat Angga mengaduh kesakitan.
“Kamu apa sih main cubit-cubit gitu sakit tahu!” ucap Angga pura-pura marah.
“Ya abis, kak Angga sih apa-apaan juga pake segala bilang pesenan, memangnya aku makanan pesanan apa?” Protes Rara.
“Ya kan kamu emang pesanan Mama, Ra.” Bela Angga.
“Serah,” ucap Rara judes.
Tanpa keduanya sadari, sedari tadi ada Desti yang memperhatikan mereka berdua dari balik dinding. Desti tersenyum menatap Anaknya yang kini tengah menggoda gadis di sampingnya itu yang kini terlihat sedang kesal. Tanpa mengintip lebih lama lagi. Desti keluar dari persembunyiannya dan melangkah menghampiri kedua orang itu.
“Ekheem ….” Deheman Desti menghentikan perdebatan keduanya.
Desti menatap Rara dari bawah hingga atas, menilai penampilan perempuan berdress selutut berwarna peach yang tengah berdiri gugup di samping Angga, lalu menatapnya sinis, membuat Rara semakin gugup ditatap seperti itu. Sedangkan Angga, kini tengah menahan tawanya karna melihat Rara yang seperti orang ketakutan. Sungguh itu sangat lucu menurut Angga, ia tahu saat ini sang Mama sedang mengerjai Rara dengan pura-pura sinis seperti itu, padahal Angga yakin jika Mamanya juga sedang menahan tawa, sama sepertinya.
“Jadi ini, Ga perempuan yang kamu maksud?” Tanya Desti kepada anaknya, lalu kembali menatap Rara masih dengan tatapan sinisnya.
“Iya, Ma cantikkan?” Bangga Angga.
“Cantik? Ini sih ….” Desti sengaja menggantungkan ucapannya, lalu kembali menatap wajah Rara yang terlihat memerah menahan gugup.
“Cantik banget, Ga,” lanjut Desti girang. Rara melongo melihat perubahan wanita paruh baya di hadapannya itu. Terlalu mengejutkan menurut Rara.
“Aduh sini-sini, sayang gak perlu takut gitu sama Mama, tadi Mama Cuma ngerjain kamu aja kok,” ucap Desti ramah, lalu memeluk Rara hangat, membuat gadis itu menghembuskan napas lega.
“Haha… sumpah kamu lucu banget tahu gak, Ra?” Tawa Angga pecah, membuat Rara mendelik kearahnya. Kalau saja tidak ada Mamanya, sudah dipastikan Rara akan menyumpat mulutnya itu dengan heels yang kini ia kenakan.
“Udah ketawanya, Angga kasian ini Rara mukanya udah merah banget gara-gara kamu ketawain!” tegur Desti kepada anaknya, namun tawa Angga tak juga reda.
“Maafin Mama ya, sayang tadi Mama gak maksud sinisin kamu,” ucap Desti menyesal.
“Gak apa-apa kok, Tante.” Jawab Rara kikuk.
“Aduh jangan panggil Tante dong, panggil Mama aja supaya lebih akrab,” pinta Desti, lalu mengajak Rara keruang makan, meninggalkan Angga yang masih juga tertawa. Tidak lupa juga Rara untuk menginjak kaki Angga terlebih dahulu sebelum akhirnya mengekori Desti keruang Makan. Sedangkan Angga kini tengah mengaduh kesakitan karena kakinya yang diinjak Rara, lalu segera menyusul keruang makan dengan jalan terpincang-pincang.
“Kenapa, Kak jalannya pincang-pincang gitu?” Tanya Alya yang baru saja turun dari kamarnya dan melihat sang Kakak yang berjalan dengan tertatih-tatih.
“Diinjik Gajah, Al.” Jawab Angga sambil menatap tajam Rara yang kini sedang menata makanan diatas meja bersama Mamanya. Meskipun Rara mendengar apa yang diucapkan Angga, tapi Rara mengacuhkannya.
“Emang disini ada Gajah?” Tanya Arga kali ini.
“Ada noh.” Jawab Angga menunjuk Rara dengan dagunya, membuat kedua Adiknya itu menoleh kearah ruang makan dan melihat perempuan cantik yang tak mereka kenali.
“Dia siapa, Kak?” Tanya kedua Adiknya bersamaan.
“Rara.” jawab Angga singkat, membuat Arga dan Alya saling pandang lalu tersenyum dan segera berlari menghampiri Rara dan sang Mama yang kini tengah sibuk menata makanan.
“Wah calon Kakak ipar!” Teriak antusias Alya dan Angga lalu memeluk Rara bersamaan, membuat Rara hampir terjengkang karna mendapat pelukan tiba-tiba dari kedua Adik Angga yang sama sekali belum Rara kenal.
“Eh… Eh kalian apa-apaan itu pake peluk-pelukan segala, kasian itu Kak Raranya gak bisa napas!” Tegur Desti kepada kedua anaknya.
“Iya apaan sih kamu, Dek kamu apa lagi, Ar main peluk-peluk sembarangan aja.” Tegur Angga sinis kepada Adiknya. Namun yang kedua Adik itu lakukan hanyalah mengabaikan teguran dari sang Mama dan juga Kakaknya itu.
“Kak Rara, kenalin aku Adiknya kak Angga yang paling cantik, Alya,” ucap Alya memperkenalkan.
“Dan kenalin juga aku yang paling ganteng, Arga Adik pertama Kak Angga.”Arga pun memperkenalkan diri.
“Eh iya, hai juga.” Jawab Rara canggung.
“Sudah-sudah, nanti dilanjutin ngobrolnya, sekarang kita makan dulu,” ucap Desti, yang mau tak mau diangguki oleh mereka berempat.
“Nak Rara makan yang banyak ya, gak usah malu-malu, anggap saja kayak dirumah sendiri,” ucap Desti ramah.
“Mama tenang aja, kalau soal makan saya gak pernah malu-malu kok, hehe.” jawab Rara tanpa sungkan, lalu mengambil nasi dan lauknya, membuat Desti dan Angga tersenyum melihat tingkah Rara yang seperti anak kecil, tidak beda jauh dengan kedua Adiknya yang petakilan.
“Kak Rara sama kayak Alya sama kak Arga kalau masalah makan gak pernah malumalu yang ada malah malu-maluin.” Timpal Alya yang diangguki oleh Arga lalu keduanya tertawa.
“Kalau soal makan Kakak lebih baik malu-maluin, karna kalau malu-malu itu gak bakal buat kita kenyang Al, Ar,” ucap Rara tanpa malu, dan disetujui oleh Alya dan juga Arga lalu mereka semua tertawa dan melanjutkan kembali acara makan mereka.
Angga tersenyum melihat keakraban kedua Adiknya bersama Rara, Angga tahu jika kedua Adiknya akan cepat akrab dengan gadis yang dicintainya itu, tapi Angga tak menyangka bahwa akan secepat ini. Mereka terlihat seperti sudah lama mengenal, padahal bertemu saja baru tiga puluh menit yang lalu, tapi kedekatannya seperti sudah bertahun-tahun mengenal.
Angga bersyukur karna Rara diterima dengan baik oleh keluarganya, hanya kurang Papa, tapi Angga yakin, Papanya itu juga pasti akan menerima Rara dengan baik juga. Selesai makan Angga mengajak Rara ketaman belakang rumahnya, hanya untuk sekedar mengobrol sekaligus mengajak Rara untuk hanya sekedar melihat-lihat sekeliling rumahnya.
“Kak Angga makasi, ya udah ajak aku kesini,” ucap Rara tulus.
“Kamu senang?” Tanya Angga memastikan.
“Aku senang banget malah, keluarga kak Angga baik dan ramah, Adik-adik Kak Angga juga seru dan lucu, aku jadi ngerasa punya Adik.” jawab Rara dengan menampilkan senyum bahagianya, membuat Angga pun ikut tersenyum, dan tidak lupa juga mengelus lembut puncuk kepala Rara.
“Tadi aja minta pulang lagi, eh giliran sekarang malah kegirangan!” CibirAngga yang langsung mendapat cubitan di pinggang dari Rara, Namun senyum di bibir Rara tak juga luntur meski dapat cibiran seperti itu.
Angga bahagia melihat perempuan yang dicintainya ini tersenyum bahagia, Angga semakin yakin jika pertemuannya itu adalah sebuah takdir yang sudah Allah tuliskan untuknya, dan luka yang pernah Rara dapatkan beberapa waktu lalu sepertinya sudah Allah rencanakan untuk Angga obati.
“Aku seneng deh, liat kamu bahagia gini. Kalu tahu bakalan sebahagia ini dari duludulu aja aku ajak kamu kesini. Gak harus nunggu setahun dulu gini.” Elusan lembut di puncak kepalanya membuat hati Rara menghangat, ditambah dengan senyum manis yang Angga berikan membuat dada Rara berdebar lebih cepat.
“Kak, aku minta maaf,” cicit Rara pelan.
“Maaf? Untuk?” Tanya Angga tak paham.
“Tentang ini.” tunjuk Rara pada dadanya, dimana letak hati itu berada.
paling suka liat matahari terbenam
eeeeeaaaa 😁
tuh ortu Devan gk setuju sm Rara atau gmn sich, kok bisa"nya baru seminggu tunangan mlh di jodohkan sm orang lain, dan Devan jg harusnya tuh bicara sm keluarga Rara dr awal gk jadi cowok pengecut kayak gitu, masak dh nikah setahun msh ada rencana nikah sm Rara 😤