NovelToon NovelToon
Cinta Terdinginmu

Cinta Terdinginmu

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Contest / Balas Dendam / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: ARIFA IFTITA RAHMA

Butuh waktu lima tahun lamanya bagi Mer untuk siap bertemu lagi dengan cinta pertamanya. Teman masa kecilnya yang begitu ramah dan ceria itu seketika berubah menjadi sesosok pria misterius nan dingin. Akan tetapi, kepribadian Vallen yang berubah tetap tak melunturkan perasaan yang telah lama bersinggah di hatinya. Mer tetap mencintai Vallen meski pria itu tak menganggap Mer ada.

Perjuangan terus Mer lakukan untuk mendapatkan perhatian Vallen. Ia terus mendekati Vallen walau pria itu selalu melontarkan kata yang menyakitkan. Meski sering tak diacuhkan olehnya, bukanlah sebuah alasan bagi Mer untuk menyerah. Semua itu dilakukannya untuk mendapatkan cinta Vallen kembali.

Hanya soal waktu saja Mer dapat meluluhkan hati Vallen. Merubah kepribadiannya kembali menjadi sosok yang hangat. Menjadikan hal yang mustahil dapat diraihnya. Meski begitu, Vallen tetap menolak cintanya dengan alasan takdir yang selalu ia katakan. Akankah alasan takdir itu suatu saat akan menenggelamkan cinta mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIFA IFTITA RAHMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HILANGNYA VALLEN

Sabtu, 01 Desember 2018

Tentu kalian tahu bagaimana rasanya mencintai, cinta itu bisa jadi mudah bisa jadi susah, tergantung bagaimana kita memilih untuk menyikapinya. Ada yang mengejar, ada yang melepas ; ada yang bertahan, ada yang menyerah ;  ada yang percaya, dan ada yang tidak. Semuanya butuh kesabaran juga kekuatan untuk tetap mempertahankan. Itulah yang kutahu tentang cinta, begitu rumit jalan pikirannya. Tragedi selalu memiliki dua sisi dan aku pastikan kedua belah pihak akan memilih arus yang sama.

Hari kelima sekolah kami melaksanakan ujian semesteran. Itu tandanya, tiga hari masa penghukuman Vallen telah berakhir. Seharusnya aku dapat melihatnya tapi sepanjang hari ini masih belum tampak batang hidungnya. Dari informasi yang kuketahui tentang dirinya, Vallen selalu datang tepat waktu tanpa terlambat. Lantas ke mana dirinya pergi?

"Hey Mer, bengong aja selama ujian tadi. iya deh yang terlalu yakin dengan kepandaiannya sampai-sampai nggak pernah dikoreksi ulang,"

Aku tak terlalu menggubris apa yang Via katakan.  pandanganku kosong, entah kenapa hatiku sungguh gelisah.

“Mer, cerita dong, kok lo diem aja,”

 Kutatap sahabat disampingku itu yang memintai penjelasan.

“ perasaan gue nggak enak Vi,”

“Kenapa lo, sakit?”

“Bukan, masalahnya, Vallen. Seharusnya kemarin dia udah bisa berangkat sekolah, tapi pas gue cek ke kelasnya katanya Vallen masih belum berangkat. Teman sekelasnya pada nggak peduli sama dia, terbukti jelas pas gue tanya alasan Vallen belum berangkat mereka sama sekali nggak tahu dan nggak ada keinginan buat mencari tahu,”

 “Oh, jadi itu alasan sahabat gue melamun. Ya udah, nanti lo susul aja ke rumahnya!”

“Iya Vi, nanti gue emang berencana mau ke rumahnya. Sebenarnya pengennya sih kemarin tapi badan gue lagi nggak enak,”

Via menepuk-nepuk pundakku, bersimpati. Memang itulah yang kusuka darinya. Via memang sahabat yang paling peka.

 

 

---

 

Badanku bergetar, gelisah. Kemana Vallen? Tante Reta bahkan tak mengetahui keberadaannya.

“Tante, memang Vallennya nggak minta izin?”

“Kemarin sih tante lihat dia berseragam sekolah, terus paginya dia WA tante katanya dia pulang sekolah mau mampir dulu ke suatu tempat jadi tante nggak perlu khawatir,”

“Tapi kemarin Vallen juga nggak berangkat tante!”

“Ya udah tante Mer permisi, mau cari Vallen,”

Aku langsung berlari meninggalkan tante Reta yang meneriaki ku dari belakang. Aku tak peduli, yang ku khawatirkan adalah keberadaan Vallen yang entah kemana. Ya Tuhan, di manakah Vallen?

Air Mata berhasil lolos dari kelopak mata. Berlarian menghentakkan kaki di atas bumi tanpa tujuan. Aku ingin mencari Vallen tapi di manakah dia?

“Valleeeennnn, lo dimana?!”

Sudah ku telepon ia berkali-kali tapi tak diangkat, ku WhatsApp berkali-kali tapi tak dibalas. Aku ragu ia membacanya, tak mungkin ia hilang tanpa sebab.

Gadis itu, teringat kembali wajah gadis muda yang sempat dekat dengan Vallen. Itulah satu-satunya tempat yang pernah dikunjungi Vallen sebagai tempat menginap. Rumah seorang gadis muda SMP yang sempat membuatku cemburu padanya.

Aku berlari secepat yang kumampu. Menabrak dinginnya angin malam yang sunyi. Bukan berarti tak ada motor mobil yang berlalu-lalang, melainkan inilah kesunyian di tengah-tengah keramaian. Meski suara kendaraan dimana-mana, hati ini rasanya hampa. Memutar kembali memori saat kita pernah bersama. Awal pendekatanku bersama Vallen  kembali. Saat itu aku seperti salah tingkah, yang kuperbuat sungguh memalukan untuk pertama kali setelah lima tahun yang lalu aku dapat melihat Vallen sedekat itu. Sangat dekat, sampai kukira ia akan menciumku. Oh Tuhan, aku sungguh tak memikirkan betapa merona nya aku saat itu. Betapa sesaknya aku dapat melihat mata coklatnya yang menawan sedekat itu. Aku sempat menutup mataku, rupa-rupanya, Vallen hanya menaruh tinta di atas meja, memalukan.

Kenangan itu buyar seketika saat menyadari itu hanyalah kenangan yang untuk sementara harus dilupakan. Fokusku saat ini bukan lagi ke masa lalu, melainkan masa depan yang harus kupersiapkan. Mencari Vallen adalah prioritas utamaku saat ini. Aku sungguh khawatir padanya, entah apa penyebabnya, aku selalu gelisah memikirkan suatu hal buruk menimpanya.

Perasaan apa ini, perasaan rindu sekaligus panik saat Vallen sudah dua hari tidak masuk sekolah. Saat masa penghukumannya telah berakhir, saat itu tante Reta mengatakan dua hari yang lalu Vallen berseragam lengkap hendak berangkat, tapi nyatanya ia sama sekali tak ada di sekolah.

Aku sungguh mengkhawatirkannya, udara dingin malam hari menusukku, ditambah larian cepat yang kuusahakan semaksimal mungkin menuju rumahnya. Batu di pinggir jalan pun sungguh tak bersimpati denganku, membuatku terjatuh di atas kotornya tanah samping aspal. Aku tak peduli, aku tak merasakan sakit meski pohon yang kulewati menari untuk menertawai nasibku. Aku tak merasakannya.

 Tok tok.

Kuketuk pintu sebuah rumah tujuan. Badanku bergetar, takut-takut bilamana dugaanku salah. Detakan yang kurasakan tak dapat membohongiku. Aku takut. Vallen tak pernah menghilang tanpa kabar yang jelas. Jika benar begitu, hanya inilah satu-satunya rumah sebagai pelarian Vallen untuk menginap. Selagi menunggu knop pintu terbuka, menunggu seseorang di balik kokohnya benda persegi panjang, aku tetap termegap-megap,  mengatur kesenggalan napas akibat berlari. Menaik turunkan dada yang sempat membuatku sesak untuk bernapas. Meneteskan butiran air keringat, merembes di kening. Aku sudah tak sabar lagi, tidak seperti sebelumnya yang membuatku jengkel ketika Vallen kemari. Untuk saat ini, aku berharap ia sungguh berada disini.

Sebuah pintu mengayun lambat ke dalam, terbuka. Tampak seorang gadis manis berdiri menyambut dengan rambut acak-acakannya. Berpakaian Babydoll berwarna merah muda dengan celana kelonggaran menutupi kaki biting nya. Wajahnya kusam, ia tampak habis terbangun dari tidurnya.

Aku terlihat bingung oleh penampilannya, jam berapa ini hingga ia telah tertidur menggunakan Baby Doll? ku lirik sekilas sebuah benda yang melilit pergelangan tanganku, 20 15 Wib. Astaga, aku baru tersadar akan waktu terakhir ku ingat aku berkunjung ke rumah Vallen kurang lebih jam lima sore. Itu tandanya telah tiga jam aku berkelana menyusuri jalanan tanpa tahu arah tujuan yang akan ditempuh. Telah 3 jam pula aku terombang-ambing mencarinya. Hingga aku terpikirkan untuk datang kemari. Aku berharap inilah tujuan terakhir aku dapat menemukannya.

“Kak Mer, kenapa datang malam-malam?”

Wajahnya yang terkantuk berubah cemerlang begitu melihat kehadiranku. Putih manis bermata sipit layaknya orang Korea itu bukan masalah, aku tak perlu menjadi cantik untuk memikat hati Vallen. Yang ku iri darinya adalah ketika ia masih bisa bersikap baik, masih bisa tersenyum padaku meski aku acuh tak acuh padanya.

“Vallen mana?!”

 Gadis bernama Pelita itu mengernyitkan alisnya, tak paham.

VALLEN MANA?!” Bentakku.

 Aku merasa tingkahku ini memang kelewat batas. Akan tetapi, begitulah kekhawatiranku padanya. Meski Vallen dan Pelita hanyalah adik kakak sepupu, bukan berarti mustahil untuk tak ada hubungan apa-apa di antara mereka. Mereka pernah tinggal serumah dan itu membuat hatiku benar-benar pilu.

“Gue nggak tahu kak, emangnya kak Vallen nggak ada di rumahnya?”

“Nggak! dia ngilang dari dua hari yang lalu tanpa kabar. Kata tante Reta, kemarin dia pergi ke sekolah tapi nyatanya nggak ada. Tadi pun sama, Vallen nggak ada di sekolah. Lo pasti nyembunyiin dia kan? Jawab!”

“Astagfirullah kak, ngapain juga gue nyembunyiin saudara gue sendiri. Emang gue emaknya sampai mengatur kehidupannya? Sekalipun gue emaknya, gue enggak setega itu buat ngurung  dia sampai enggak sekolah,”

“Bohong lo! Gue lihat kalian jalan berdua ke taman, terus Vallen menginap di rumah lo kan?!”

Rona merah Membekas di pipi hangatnya. Mungkin ia kesal karena perkataanku barusan. Akan tetapi, ia hanya diam saja. Pengecut! Padahal aku sangat ingin melihat reaksinya.

“Minggir lo!”

Aku menggeser paksa tubuh kecilnya agar aku dapat memasuki rumahnya. Aku yakin, ia pasti di dalam.

“Vallen, lo di mana?”

Aku mengelilingi rumah Pelita yang terlihat tak sebesar punya Vallen. Bercat putih polos pada seluruh warna dindingnya. Terlihat sepi tanpa warna.

“Vallen!”

 Air mata merembes lagi, lagi dan lagi. Bagus, aku bukanlah Mer yang dikenal banyak orang. Aku bukan lagi seperti manusia, melainkan monster patah hati yang berulah akibat kecemburuan yang tak logis. Datang malam-malam, membentak penghuni rumah, menfitnah, dan kali ini memasuki rumahnya tanpa seizin sang pemilik. Aku bukan mereka yang dikenal. Bahkan aku tak mengenali diriku sendiri.

“Lo kenapa sih kak?”

Seseorang telah berada di belakangku, orang yang ku langkahi tanpa permisi memegang pundakku.

“Maaf,”

Tubuhku seketika lemah tak bertenaga. Kakiku bergetar. Jika tak ditahan oleh Pelita, tubuhku sudah ambruk saat ini juga.

 Pelita menepuk-nepuk punggung ku untuk menguatkan. Memberi kekuatan seolah ia berpihak padaku. Bersimpati, sungguh aku selalu ingin menjadi sepertinya, tak menyimpan perasaan dendam meski kuperlakukan ia begitu.

Pelita menuntunku ke sofa ruang tamu nya, mengambil segelas air putih untuk diberikan kepadaku.

“Tenangin diri lo dulu kak, kalau udah, lo bisa cerita ke gue,”

Bukannya tenang, pecah sudah air mata yang merembas ke pipiku. Bagaimana aku bisa tenang sedang aku tak mengetahui keberadaannya. Bagaimana jika Vallen menghilang selamanya? Bagaimana jika ia sakit? Jika ia kedinginan? Malam ini awan menumpahkan isi bebannya, turut menangis. Bagaimana jika traumanya turut kembali?

Aku memeluk tubuh mungil Pelita, mendekapnya erat sebagai pelampiasan takutku. membasahi baju Babydoll miliknya dengan rintikan air mata milikku. Sangat memalukan bila diingat-ingat adegan lampau beberapa menit yang lalu.

“ Pelita, Vallen hilang!”

Dari raut wajahnya, dapat ku tafsirkan pula bahwa ia sama paniknya seperti diriku saat mengetahui Vallen tak ada di rumah dua hari silam.

“Kok bisa, emang kak Valen nya ke mana?”

“Kalau gue tahu ya udah gue samperin lah!”

Aku masih berada dalam pelukannya, sungguh nyaman rasanya bisa bersama dekat dengan Pelita. Penyayang, meski umurnya satu tahun lebih muda dariku.

Yaudah kak, kita cari kak Vallen bareng-bareng,”

 

 

---

1
Lusiana Karangan
ditunggi up tetap semangat nulisx
Fugi Martha
😭😭😭 sesulit inikah cinta thor ? merasa terpukul endingnya 😣
Fugi Martha: kapan thor?
total 2 replies
Rize
POV 1 nya mayan bikin ngeh, hehe. nanti tak lanjut baca kak,
Arifata: terima kasih sudah mau mampir dan membaca🤗
total 1 replies
Arifata
hai cilamici👋🏻 terima kasih sudah mau membaca karya saya😀 dukunganmu sangat berarti untuk semangatku😚😇
Cila Mici
karakter via membuat cerita menjadi berwarna. aku suka cara menulisnya, enak dibaca.

aku akan lanjutin nanti... 🥰

salam cilamici
Arifata
habis baca jangan lupa like ya😊 biar author makin semangat ngelanjutin ceritanya🥰 terima kasih pada readers yang sudah mau mampir dan membaca cerita ini😀❤
Fina.zher
aaaaa😭 kok sad thor:/ ga terimaaa!!!! ditunggu buku kelanjutannya thor😭😭
Arifata: iya.. ditunggu cerita kelanjutannya ya😅🙏
total 1 replies
Fina.zher
manisnya mereka😍
Arifata: terima kasih sudah membaca cerita saya😅🙏
total 1 replies
Fina.zher
jadi sebel sama Vallen:/ narik ulur perasaan orang😭 untung Vallen kece:)
Fina.zher
lanjut buku keduanya thor 😍 kasian Mer nya:( jangan dibuat sadgirl lah thor😭
Arifata: iya.. ditunggu cerita kelanjutannya ya😅🙏
total 1 replies
Aisyah Kamila
Ma syaa Allah ta, km udah berhasil bikin aku gregetan bgt loh, gud ta, aku suka. Ada nama aku lagi 😂
Arifata: authornya ga disapa jg nih?🤭🤣💔
total 2 replies
Hulk
Baca cerita kakak kayak lilin yang terkena api.. meleleh banget..
Arifata: Terima Kasih sudah membaca cerita saya😄😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!