Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ghosting
Dua Bulan Kemudian
Satoru tiba di Museum Modern Art Manhattan New York tempat dulu Omanya, Yuna Pratomo Blair pernah menjadi direkturnya dan juga Oma Gandari O'Grady adalah kurator di sana. Bukan tanpa alasan Satoru berada di sana. Dia hendak melakukan pameran beberapa lukisan yang dibuatnya di Cedliff.
"Mr Shinoda, senang bertemu dengan Anda," sapa Cliff, direktur museum itu. "Jejak keluarga Anda sangat terlihat di sini."
Satoru tersenyum. "Memang keluarga saya suka seni."
"Betul. Jadi ada berapa lukisan yang hendak Anda pamerkan?" tanya Cliff sambil berjalan bersama Satoru yang memeriksa lokasi yang hendak dipakainya pameran.
"Sekitar ... sepuluh." Satoru menoleh ke Cliff sambil tersenyum.
"Wow! Excellent! Cukup lama Anda tidak seproduktif seperti ini," kekeh Cliff.
"Liburan lama aku di Irlandia, membuat mood aku bagus," jawab Satoru. "Apakah ini lokasinya?"
Mereka berada di sebuah hall area lukisan yang cukup luas dengan beberapa tembok display. Satoru melihat ada lukisan ibunya dan Yuna Pratomo Blair di sana dengan tulisan 'not for sale'.
"Benar. Lukisan Anda akan ada di sini ... Is that okay jika berdampingan dengan lukisan ibu dan nenek Anda?" tanya Cliff.
"Oh, it's fine. Aku malah bangga jika berdampingan dengan lukisan dua wanita yang aku hormati." Satoru menoleh ke asisten dan manajernya yang berada di belakangnya. "Kita mulai rundingan?"
"Absolutely, Satoru. Kita mulai membicarakan soal pameran bersama Cliff," jawab manajernya.
***
Washington DC
Semenjak pertemuannya dengan Alaska Al Jordan Shinoda, Alethea semakin yakin bahwa Satoru memang memendam perasaan pada dirinya ... Versi mimpi. Namun setelah tahu apa yang hanya dia bayangkan itu nyata, Satoru menjadi lebih realistis dan ingin mendekatinya. Namun pria itu masih meragukan perasaannya. Apakah memang jatuh cinta atau hanya obsesi semata.
"Satoru tidak pernah tahu kalau kamu itu nyata. Kalian baru pertama bertemu di Cedliff bukan?" tanya Alaska ke Alethea.
"Benar. Dan sejujurnya, saat itu saya melihat Satoru seperti bertemu hantu," senyum Alethea.
"Karena dia merasa kamu tidak pernah ada. Macam gambar-gambar wanita dengan AI. Jadi dia masih dalam dilema. Kalau Satoru main ghosting ke kamu, biarkan saja. Aku sebagai ibunya, sangat paham perasaan putraku masih kacau," ucap Alaska.
"Maksud Miss Al Jordan?" tanya Alethea bingung.
"Satoru tidak pernah berkencan dengan wanita manapun karena tipenya dia adalah kamu. Dan dia juga membutuhkan waktu untuk menyelesaikan proyek melukisnya," jawab Alaska. "Jadi kalau dia mengejar kamu suatu hari nanti... Kamu jangan kaget."
"Miss Al Jordan ... Anda memeriksa saya?" bisik Alethea.
"Ya. Aku tidak mau putraku suka dengan istri orang atau tunangan seseorang. Aku tidak mendidik putraku menjadi pebinor. Dan aku juga ingin tahu seperti apa dirimu." Alaska menatap lurus ke Alethea. "Aku bukan ibu yang sempurna tapi aku juga tidak mau anakku salah jalan."
"Jika saya masih menikah ... Anda hendak melakukan apa?" tanya Alethea dengan sedikit gugup.
"Akan aku larang Satoru bersamamu. Seorang pria yang menyukai wanita bersuami ... Tidak bermoral dan tidak gentleman."
Alethea mengingat pertemuan dengan Alaska dan selama wanita itu di Washington, mereka makan siang beberapa kali. Semakin Alethea mengenal Alaska, semakin dia tahu darimana sikap terdidik Satoru. Alaska wanita yang tenang dan anggun serta memiliki aturan baku soal putranya. Dia mengatakan suka dengan Alethea tapi Alaska juga sudah memperingatkan Alethea soal Satoru.
Baginya, dua bulan ini Satoru tidak menghubungi dirinya, Alethea menganggap bahwa dia kena ghosting Satoru.
"Sepertinya Satoru tahu bahwa dia hanya obsesi padaku dan mendapatkan wejangan dari ibunya," gumam Alethea sambil memandangi lukisan yang baru saja didapatnya.
"Thea, mau sampai berganti abad, anjing dalam lukisan itu tidak akan pernah hidup!" goda Nina. "Kamu sudah memandang lukisan dari Pierre Laurent hampir satu jam!"
Alethea tersentak. "Benarkah?"
"Nggak sih, baru lima belas menit. Tapi itu waktu yang cukup lama buat mengkurator satu karya seni tanpa melakukan apapun," cengir Nina.
Alethea tertegun. Baru kali ini dia melamun lama dan semua itu gara-gara teringat percakapannya dengan Alaska.
"Sepertinya aku butuh kopi," ucap Alethea.
Tiba-tiba Catherine datang membawakan kopi untuknya. "Black, two shots of espresso, two sugars."
Alethea tersenyum. "Terima kasih, Cat."
"Aku heran padamu, black coffee with sugar?" goda Nina.
"Apakah ada larangan?" senyum Alethea sambil menyesap kopinya.
"Ya nggak sih ...."
Tiba-tiba Jennifer datang. Dia tampak bersemangat dan semua anak buahnya paham kalau boss mereka sedang heboh, pasti ada sesuatu yang penting.
"Thea! Kamu dan aku ke New York akhir pekan ini!" seru Jennifer.
Alethea melongo. "Ngapain?"
"Ada undangan pameran lukisan dari pelukis favorit aku, Satoru Shinoda! Kita dapat undangan VIP!" pekik Jennifer dengan jingkrak-jingkrak.
"Oke, Jen. Satu, kamu lebih pantas jadi ibunya. Kedua, kamu tidak ingat umur! Ketiga, kenapa undangan VIP nya cuma dua?" protes Nina.
Alethea tidak mendengar keributan antara Jennifer dan Nina yang sedang dipisah oleh Catherine. Dia hanya terkejut, Satoru melakukan pameran di New York. Dan ini dua bulan pasca pertemuan mereka di Cedliff.
"Thea, ini undangannya," ucap Jennifer sambil memberikan amplop dengan tulisan 'Alethea Ashford'.
Alethea membuka amplop itu dan melihat undangan yang sangat aesthetic.
"Ya ampun, sangat kamu ...." Alethea berbisik.
"Kita berangkat ya!" seru Jennifer sambil keluar dari ruang kurator.
"Baik," jawab Alethea.
***
Museum Modern Art Manhattan New York
Acara pembukaan pameran lukisan Satoru Shinoda berlangsung meriah. Alaska Al Jordan dan Akito Shinoda mendampingi putra mereka seperti biasa jika Satoru melakukan pameran. Pria itu tampak senang dengan kehadiran para tamu undangan yang antusias.
Hanya saja, dia tidak melihat Alethea datang.
"Kenapa dia belum datang ya Mom?" bisik Satoru.
"Karena kamu ghosting dia. Makanya ngambek!" balas Alaska asal.
Satoru menyipitkan matanya. "Mom ...."
"Mata kamu sudah sipit macam Daddy kamu. Jangan disipitkan lagi!" goda Alaska.
Satoru memajukan bibirnya. Dia pun kembali profesional setelah para wartawan bertanya soal lukisannya.
"Saya mendapatkan inspirasi dari sebuah desa kecil di Irlandia, bernama Cedliff. Di sana sangat tenang dan membuat saya bisa mendapatkan obyek indah," jawab Satoru tenang dan matanya melihat seseorang berdiri membelakangi lukisan karyanya.
Dada Satoru berdegup kencang karena tahu siapa sosok itu. Setelah wawancara, Satoru menghampiri wanita itu.
"Kamu datang," bisik Satoru di sebelah Alethea.
"Halo, Satoru." Alethea menoleh ke arah Satoru. "Ini siapa?"
"Itu ... seorang wanita yang membuat aku ... Tidak bisa melupakan di setiap langkahku."
Alethea terdiam.
"Kamu tahu kenapa judulnya The Coastal Path. Karena itu memang tujuannya menutupi judul aslinya." Satoru menatap Alethea.
"Apa judul aslinya?" tanya Alethea sambil menatap Satoru.
"Thea."
***
Yuhuuu up Pagi Yaaaaa gaeeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
ayo kita ke pojokan Nin, kita ketawa bareng 🤣🤣🤣🤣
Duh moga kalian akan terus bersama hingga menua hingga ujung usia