Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.
Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.
Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.
Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Feng Wu melompat turun dari tembok belakang kediaman Wen dengan gerakan ringan dan tanpa suara.
Langkahnya cepat namun tenang, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berpacu kencang, bukan karena takut tertangkap, melainkan karena pertemuan singkat di atas menara itu. Wajah pria misterius itu, matanya yang tajam dan dingin, serta darah hitam yang memancar dari bibirnya semuanya masih terbayang jelas di benaknya.
"Sudah pergi. Lupakan saja," batinnya berusaha meyakinkan diri sendiri.
"Kita tidak akan bertemu lagi. Itu sudah cukup" lanjutnya.
Namun begitu ia membuka pintu kamarnya perlahan, langkah kakinya terhenti di tempat. Di dalam ruangan itu, di samping tempat tidur, berdiri sosok yang sejak tadi menunggunya dengan wajah pucat dan penuh kekhawatiran, dialah Qing Su.
"Nona!" seru Qing Su berbisik, namun suaranya bergetar hebat. Ia segera mendekat, matanya menyapu seluruh tubuh Feng Wu seakan memastikan tidak ada luka sedikit pun. "Kemana Nona pergi?! Aku sudah mencari ke seluruh penjuru kediaman! Aku pikir... aku pikir Nona diculik atau terjadi sesuatu yang buruk!"
Feng Wu merasa bersalah melihat wajah pengawalnya yang begitu cemas. Ia menunduk pelan, lalu tersenyum tipis berusaha menenangkan.
"Maaf, Qing Su. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Aku hanya... ingin pergi sebentar untuk menghirup udara malam," ucapnya pelan, tidak bisa menceritakan kebenaran.
"Udara malam?" Qing Su menatapnya dengan tatapan tidak percaya, namun tidak berani menegur terlalu keras. "Nona, ini tidak aman! Jenderal Besar menitipkan Nona kepadaku. Jika terjadi sesuatu padamu, bagaimana aku bisa menghadapinya? Lain kali... jika Nona ingin pergi, tolong beri tahu aku. Setidaknya biarkan aku menemani Nona."
Feng Wu mengangguk tulus. "Aku janji. Lain kali tidak akan seperti ini lagi. Terima kasih sudah mencemaskanku, Qing Su."
Melihat ketulusan di mata Nona-nya, Qing Su akhirnya menghela napas panjang dan menunduk.
"Syukurlah Nona kembali dengan selamat. Sekarang... istirahatlah. Besok pagi pasti ada hal penting yang menanti."
Sementara itu, di kediaman Feng, fajar baru saja menyingsing, namun suasana di dalam paviliun utama sudah berubah menjadi kekacauan luar biasa.
Selir Yu bangun lebih dulu. Saat ia hendak mencuci muka di depan cermin perak, tangannya gemetar hebat hingga cermin itu hampir jatuh ke lantai. Wajahnya yang selalu ia banggakan, putih mulus dan tanpa cacat kini dipenuhi bintik-bintik merah kecil yang menyebar di pipi, dahi, dan leher. Dan yang lebih mengerikan... gatal yang luar biasa seakan ada ribuan semut merayap di bawah kulitnya.
"AAAAH!!!" Teriakan histeris Selir Yu menggema ke seluruh penjuru paviliun. "Wajahku! Apa yang terjadi pada wajahku?! Pelayan! Panggil tabib sekarang juga!!"
Keributan itu membangunkan Menteri Feng. Ia bangun dengan wajah kesal, hendak memarahi istrinya yang berteriak tanpa alasan. "Cukup! Apa yang kau teriakkan pagi-pagi begini?!"
Namun baru saja ia membuka mulutnya untuk berbicara, Selir Yu yang sedang panik tiba-tiba menutup hidungnya dan mundur ketakutan. "Kau... bau apa itu?! Bau busuk sekali! Seperti bangkai!"
Menteri Feng mengernyit, merasa tersinggung. "Apa kau bicarakan?! Bau apa?!" Ia membuka mulutnya lebar-lebar untuk berbicara lagi dan kali ini pelayan yang berdiri di dekat pintu tanpa sadar mundur selangkah sambil menutup hidungnya.
"Tuan... maafkan hamba... dari mulut Tuan... baunya sangat menyengat..." pelayan itu berucap gemetar ketakutan.
Menteri Feng pucat seketika. Ia sendiri mencium bau yang busuk dan menyengat setiap kali ia menghela napas atau berbicara. Ia mencuci mulut berkali-kali dengan air bersih, menyikat giginya dengan kuat namun baunya tidak hilang sedikit pun. Justru semakin kuat setiap kali ia berbicara.
"Tabib! Panggil tabib sekarang juga!" teriak Menteri Feng dengan wajah merah padam karena malu dan marah. Namun setiap kata yang keluar dari mulutnya disertai bau yang membuat semua orang di ruangan itu berusaha menahan napas.
Di kejauhan, seakan ada senyum tipis yang melayang di udara pagi itu. Pelajaran baru saja dimulai. Dan itu baru permulaan dari segala hal yang akan datang.
Matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela ruang makan, menyinari meja yang penuh hidangan hangat. Feng Wu gadis yang berusia lima belas tahun yang wajahnya masih menyisakan kekanak-kanakan namun memancarkan kedewasaan yang tak biasa duduk bersama Pamannya, Wen Rui, Istrinya, dan para sepupunya. Sarapan pagi ini terasa begitu damai dan penuh tawa, hal yang tak pernah ia rasakan di kediaman Feng. Tidak ada tatapan sinis, tidak ada bisik-bisik jahat. Hanya kasih sayang yang tulus.
"Wu'er, makanlah lebih banyak," ucap Bibi Yun sambil menyendokkan nasi ke piringnya. "Kau masih tumbuh, butuh banyak tenaga."
Feng Wu tersenyum tulus. "Terima kasih, Bibi. Semuanya sangat lezat."
Setelah sarapan selesai, ia berjalan keluar ke halaman belakang tempat yang sejuk dan dipenuhi pepohonan rindang. Angin pagi berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan bunga yang harum. Di sudut halaman yang teduh, ia melihat sesosok pemuda sedang sibuk menyusun dedaunan dan akar-akaran di atas hamparan kain putih yang luas.
Pemuda itu adalah Wen Jin, putra kedua dari Wen Rui, kakak ibunya, berarti sepupu Feng Wu. Ia berusia sekitar tujuh belas tahun, lebih tua dua tahun dari Feng Wu. Wajahnya tulus dan ramah, dengan mata yang bersinar penuh semangat. Saat Feng Wu mendekat, ia sedang membalik-balik dedaunan berwarna-warni, menyusunnya dengan rapi sesuai jenisnya.
Di atas kain putih itu tersebar berpuluh-puluh jenis tanaman, ada yang berdaun runcing berbau tajam, ada yang berakar tebal berwarna cokelat kemerahan, ada yang berbau harum menyengat, hingga yang berwarna ungu pucat. Feng Wu mengenali hampir semuanya dengan sekali pandang. Bahan-bahan obat herbal yang sangat berharga, bahkan beberapa di antaranya cukup langka di pasaran.
"Selamat pagi, Wu'er!" sapa Wen Jin dengan ceria begitu melihat kedatangannya, tanpa sedikit pun ragu atau canggung, menyapa sepupu kecilnya dengan penuh kehangatan. "Sudah selesai sarapan?"
Feng Wu tersenyum lembut, berhenti di sampingnya. "Selamat pagi, Kakak Wen Jin. Ya, baru saja selesai. Ini semua... bahan obat ya?"
Tanpa perlu ditanya lebih lanjut, Wen Jin langsung mulai menjelaskan dengan antusias, tangannya tak berhenti menyusun dedaunan itu.
"Benar! Aku sedang menjemur bahan-bahan ini agar kering sempurna supaya khasiatnya tidak hilang saat diracik nanti," ucapnya penuh semangat. "Lihat ini, ini daun jelatang gunung, bagus untuk meredakan demam tinggi. Dan ini akar bunga bulan, untuk menenangkan saraf. Kalau yang berwarna ungu ini... itu lumut giok, sangat langka, biasanya tumbuh di tebing curam."
Feng Wu mendengarkan dengan saksama, hatinya terasa hangat melihat semangat kakak sepupunya yang dua tahun lebih tua darinya. "Kau sangat paham soal obat-obatan, Kakak. Apakah kau sangat menyukainya?"
Wen Jin mengangguk semangat, wajahnya bersinar penuh harap. "Sangat suka! Sejak kecil aku selalu tertarik melihat tabib bekerja, melihat bagaimana tanaman bisa menyembuhkan penyakit. Dan sekarang... aku ingin menjadi seorang Tabib, bukan tabib biasa, tapi Tabib Terkenal di seluruh Ibukota! Sehingga tidak ada orang yang sakit yang tidak bisa disembuhkan."
Ia menunduk sedikit, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan namun tulus: "Ayah sempat bilang kalau menjadi tabib itu tidak seberapa dibanding pejabat atau jenderal. Tapi bagiku... menyelamatkan nyawa itu jauh lebih berharga daripada kekuasaan apa pun. Aku ingin seperti itu untuk membantu siapa saja yang membutuhkan, tanpa memandang kaya atau miskin."
Feng Wu tersenyum lebar, rasa kagum tumbuh di hatinya. Meski usianya masih muda, ia memiliki pengetahuan yang jauh lebih luas namun semangat dan ketulusan kakak sepupunya ini membuatnya merasa bangga.
"Impianmu sangat mulia, Kakak Wen Jin," ucap Feng Wu tulus. "Dan aku yakin... kau pasti bisa mewujudkannya. Dengan ketulusan dan semangat seperti ini, suatu hari nanti namamu akan dikenal oleh semua orang sebagai Tabib yang hebat."
Mendengar pujian dari sepupunya yang lebih muda, wajah Wen Jin memerah karena malu namun senyumnya melebar bahagia. "Terima kasih, Wu'er! Jarang ada yang mendukung impianku seperti ini. Oh iya, sepertinya kau juga tertarik pada jenis tanaman herbal ini"
"Benar kak" jawab Feng Wu lembut namun tegas. "Aku juga sama seperti kakak Wen Jin, ingin membantu sesama. Bagaimana kalau kita belajar memahami ilmu pengobatan lebih dalam lagi"
Mata Wen Jin berbinar terang seakan melihat bintang jatuh. "Benarkah?! akhirnya ada yang sejalan denganku!"
Di sudut halaman itu, di antara dedaunan obat yang beraroma harum, benih persahabatan dan kerja sama baru saja tumbuh. Meski Feng Wu paling muda, pengetahuannya yang luar biasa dan ketulusan Wen Jin adalah perpaduan yang sempurna. Dan siapa sangka dari kebun obat sederhana itu, kelak akan lahir ilmu pengobatan yang mengguncang seluruh kekaisaran.