NovelToon NovelToon
Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 : Panggung, Balon, dan Topeng yang Menyelamatkan

Matahari jam sepuluh pagi di Lapangan Kecamatan Damai sudah terasa seperti menempel tepat di atas ubun-ubun.

Namun, bagi Arga Bagaskara, panasnya matahari itu tidak seberapa dibandingkan dengan suhu di dalam kostum badut gajah berwarna biru terang yang ia kenakan.

Arga meraba dadanya yang terasa pengap. Keringat sudah bercucuran di balik topeng kepala gajah yang terbuat dari spons tebal. Napasnya memburu, menciptakan embun di bagian dalam lubang mata topeng.

Ini adalah hari pertama Harmony Event Organizer (EO) menangani acara sebesar Bazar UMKM Kecamatan.

"Bagas! Sound system-nya jangan cuma digletakin di situ, nanti kalau kena injak anak kecil gimana? Taruh di dekat panggung utama!" suara Arga terdengar teredam dari dalam kostum badut, tapi instruksinya tetap tegas dan penuh wibawa manajer.

Bagas, yang sedang sibuk mengikat kabel mic dengan gaya 'simpul keabadian'-nya, menoleh. Dia menatap sosok badut gajah yang berdiri di tengah lapangan dengan tatapan aneh.

"Siap, Pak Manajer! Tapi lu nggak panas apa, Ga? Itu kostum kelihatannya nggak punya ventilasi udara. Kalau lu pingsan, kita nggak bakal gotong, kita bakal jadiin lu maskot bazar sampai acara selesai."

"Berisik lo, Gas," sahut Arga pendek. Dia mencoba menyeimbangkan langkahnya yang terhambat oleh kaki kostum gajah yang lebar.

Daffa datang membawa dua botol air mineral dingin, lalu menyodorkannya ke arah tangan badut Arga.

"Nih, minum dulu. Kasihan gue lihat lu. Menik beneran deh, ngidamnya ada-ada aja. Kenapa nggak ngidam beliin mobil mewah aja sih, biar kita nggak perlu capek-capek begini?"

Arga menerima botol itu, mencoba memasukkannya ke lubang mulut gajah.

"Kalau ngidam mobil mewah, gue yang bakal pingsan beneran, Daf. Kalau jadi badut... gue cuma perlu menjaga kehormatan gue sebagai laki-laki sambil nahan gerah."

Suasana di lapangan makin sibuk. Dave dan Galang sedang sibuk memasang spanduk "UMKM Jaya" yang berkali-kali tertiup angin kencang.

Bintang, yang bertugas menjaga tenda VIP, tampak kewalahan karena seorang ibu-ibu peserta bazar ngotot ingin menaruh meja jualannya tepat di jalur kabel listrik.

"Ibu, mohon maaf, ini jalur kabel bahaya kalau ketumpuk meja," kata Bintang dengan sabar.

"Ya tapi kan saya mau dagangan saya kelihatan dari depan panggung!" protes ibu tersebut.

Arga yang melihat keributan itu dari jauh, menghela napas panjang. Sebagai manajer, dia harus turun tangan. Dengan langkah gajahnya yang sedikit goyang, Arga menghampiri Bintang.

"Biar saya yang urus, Bin," kata Arga.

Arga berjalan mendekati ibu tersebut.

"Selamat pagi, Ibu. Saya manajer EO di sini," katanya dengan suara yang dibuat ramah dan ceria—sesuai dengan karakter badutnya. Dia lalu memberikan balon yang ia bentuk menjadi bunga kepada ibu tersebut.

"Ibu, kalau meja dagangan Ibu di sini, nanti malah kabelnya tertutup dan kalau ada korsleting, dagangan Ibu bisa kena imbas. Bagaimana kalau meja Ibu saya geser dua meter ke kanan? Di situ pas banget kena sorot lampu panggung, jadi dagangan Ibu pasti lebih laku!"

Ibu itu terdiam, menatap balon bunga di tangannya, lalu tersenyum lebar.

"Wah, iya ya Mas Badut. Ya sudah, saya geser saja."

Daffa dan Bintang yang melihat kejadian itu dari kejauhan langsung melongo.

"Gila," gumam Daffa.

"Arga kalau jadi badut malah lebih diplomatis daripada pas dia jadi manajer kantor dulu."

Menjelang siang, suasana bazar semakin ramai. Ratusan pengunjung memadati area panggung. Di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah mobil sedan hitam berhenti di area parkir khusus. Pintu mobil terbuka, dan sosok Dimas melangkah keluar, diikuti oleh Kiara yang tampak cantik dengan gamis warna pastel dan tote bag berisi berkas-berkas audit yang selalu ia bawa sebagai persiapan.

"Mas, yakin kita harus ke sini?" tanya Kiara sambil merapikan jilbabnya.

"Ini acara bazar UMKM, apa hubungannya sama berkas-berkas audit kamu?"

"Pihak dinas minta aku memantau jalannya transaksi UMKM sebagai bagian dari investigasi internal, Ra. Katanya, ada kejanggalan dalam penyaluran modal di sini," jawab Dimas sambil menggandeng tangan istrinya.

Di sisi lain lapangan, Arga yang sedang asyik membagikan balon kepada anak-anak tiba-tiba membeku. Jaraknya hanya sekitar dua puluh meter dari Kiara dan Dimas.

Jantungnya berdegup kencang.

Mati gue, batin Arga. Kalau Kiara tahu gue badut di sini, tamat sudah sisa harga diri gue.

Arga buru-buru membelakangi arah kedatangan Kiara dan Dimas. Dia menarik Bagas yang sedang mengatur sound speaker.

"Gas! Gue harus pergi ke belakang panggung. Lu yang gantiin gue bagi-bagi balon!"

"Lah? Kok gue? Gue kan lagi sound check!" protes Bagas.

"Gue bilang gantiin ya gantiin! Jangan sampai ada yang nyapa gue!"

Arga berlari kecil—atau setidaknya berusaha berlari—menuju area belakang panggung.

Namun, nasib berkata lain. Kakinya yang besar tersangkut kabel listrik yang melintang di rumput.

Brukk!

Badut gajah itu jatuh tersungkur dengan suara yang cukup keras.

"Om Badut jatuh! Om Badut jatuh!" teriak anak-anak kecil berhamburan mendekat.

Kiara dan Dimas yang sedang berjalan melewati area itu menoleh. "Eh, itu badutnya jatuh, Mas. Kasihan," ujar Kiara sambil melangkah mendekat.

Arga berusaha bangkit dengan panik, tapi topeng kepalanya bergeser, menutupi pandangannya. "Aduh, aduh... maaf, maaf!" teriak Arga dengan suara yang ia samarkan sebisa mungkin.

"Mas Badut, nggak apa-apa?" tanya Kiara lembut sambil berusaha membantu Arga berdiri.

Arga menunduk dalam-dalam, menutupi wajahnya dengan tangan badutnya. "Nggak apa-apa, Kak. Makasih banyak. Saya... saya cuma kurang hati-hati."

Dimas tersenyum ramah. "Hati-hati, Mas. Kostumnya kelihatannya berat banget ya?"

Arga hanya mengangguk kaku, lalu dengan gerakan cepat ia berjalan menjauh, kembali ke balik panggung. Kiara menatap punggung badut itu dengan perasaan janggal.

"Mas, kok jalannya kayak kenal ya?" gumam Kiara pelan.

Dimas tertawa. "Kenal gimana? Kamu kenal badut gajah?"

"Bukan....maksudnya.....gaya lari badut gajah tadi mirip banget sama gaya larinya Arga ya kalau lagi panik?" gumam Kiara polos.

Dimas terkekeh geli, merangkul bahu istrinya. "Ah, masa sih? Ada-ada aja kamu, Ra. Masa Arga manajer EO mau pakai kostum badut gajah siang-siang bolong begini?"

"iya juga ya Mas... ah, mungkin perasaan aku saja," Kiara menggelengkan kepala, lalu kembali fokus pada tujuan mereka.

Di belakang panggung, Arga menyandarkan badannya ke dinding kayu sambil melepas topeng gajahnya. Napasnya memburu, wajahnya merah padam karena panas dan malu, tapi kemudian... Arga tertawa kecil sendirian.

...***...

Bencana bukan hanya datang dari pertemuan yang tidak disengaja. Di tengah acara, saat sambutan Camat sedang berlangsung, tiba-tiba listrik padam total. Sound system mati total, dan lapangan yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap.

"Wah, gawat!" teriak Dave dari mixer. "Kabel utamanya putus! Kayaknya ada yang tidak sengaja narik kabel di area belakang!"

Arga yang masih memakai kostum badut—meskipun topengnya sudah ia lepas agar bisa bernapas—berlari menuju power supply utama. Dia melihat kabel besar itu memang terlepas dari stopkontak utama karena tersenggol mobil logistik.

"Daf! Gas! Cepat sambung kembali! Gue yang pegang stopkontak-nya!" teriak Arga.

Mereka bekerja seperti tim pit stop F1. Dalam hitungan detik, kabel itu tersambung kembali. Namun, karena lonjakan listrik, mixer utama malah mengeluarkan asap.

"Asaaaap...! Mixer-nya terbakar!" teriak Bintang.

Acara dalam kondisi darurat. Para tamu undangan mulai berbisik-bisik, dan Camat tampak tidak nyaman. Dalam situasi itu, Arga melakukan sesuatu yang tidak diduga. Dia melihat mic nirkabel yang masih menyala di tangan Dave.

Arga mengambil mic itu, berlari ke tengah panggung yang gelap, lalu mulai melakukan atraksi perkusi menggunakan stik drum yang ia bawa dari tas kecilnya. Dia memukul-mukul tiang panggung kayu, kaleng bekas, dan lantai panggung dengan ritme yang sangat enerjik dan catchy.

Tanpa musik, Arga menciptakan irama yang membuat orang-orang tidak lagi memedulikan listrik yang padam. Penonton mulai bertepuk tangan mengikuti irama. Anak-anak kecil yang tadi menangis karena listrik padam kembali ceria.

Kiara dan Dimas, yang saat itu berdiri tak jauh dari panggung, terpukau.

"Lihat, Mas. Badut itu keren banget. Dia bisa menguasai panggung tanpa sound system," ujar Kiara antusias.

Dimas mengangguk setuju. "Jiwa seninya tinggi. Dia tahu persis gimana cara mengubah situasi krisis jadi hiburan."

Sementara itu, di belakang panggung, Daffa dan Bagas sibuk memperbaiki mixer yang berasap tadi. Dalam lima menit, sound system kembali menyala. Arga yang masih di atas panggung memberikan kode jempol ke arah Dave.

"Oke, semuanya! Masalah teknis sudah selesai!" seru Arga dengan suara lantang, lalu kembali ke posisi manajer.

Acara berlanjut dengan meriah. Hingga sore hari, semua berjalan sukses.

...***...

Setelah acara selesai dan tamu-tamu mulai bubar, Arga duduk lemas di pojok panggung. Menik datang membawakan air kelapa muda.

"Mas, bagus banget penampilan tadi," puji Menik sambil mengelus keringat di dahi Arga.

"Nggak akan aku lakuin lagi, Dek. Kapok," keluh Arga sambil tertawa.

Tiba-tiba, Kiara dan Dimas menghampiri area belakang panggung untuk berpamitan kepada panitia. Mereka tak sengaja melihat Arga yang sedang melepaskan kostum badutnya.

Mata Kiara membulat. "Arga?"

Arga membeku. Dia baru saja melepas kepala kostum gajah itu, memperlihatkan rambutnya yang basah kuyup oleh keringat dan wajahnya yang kelelahan. Dia menoleh, dan dunianya seakan berhenti berputar.

"Kiara? Dimas?" suara Arga parau.

Suasana hening sejenak. Arga merasa sangat malu. Dia tidak ingin terlihat seperti ini di depan Kiara—seorang mantan yang dulu dia cintai dan sekarang sudah hidup bahagia.

Namun, yang dilakukan Kiara justru di luar dugaan. Kiara tersenyum, bukan senyum kasihan, tapi senyum penuh kekaguman.

"Jadi... tadi kamu yang jadi badutnya?" tanya Kiara.

Arga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Iya... ada insiden kecil, jadi ya harus turun tangan langsung."

Kiara melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

"Tadi penampilan perkusi kamu di panggung pas listrik padam... itu luar biasa, Ga. Kamu jauh lebih berani daripada Arga yang dulu kukenal."

Dimas ikut menjabat tangan Arga. "Salut, Ga. Manajer EO yang mau turun tangan sendiri jadi badut demi kelancaran acara. Itu nilai plus yang luar biasa."

Arga merasa beban di pundaknya terangkat. Dia menatap Menik yang tersenyum manis di sampingnya. Arga menyadari, tidak ada yang perlu ia sembunyikan lagi.

"Makasih ya," jawab Arga tulus.

"Dulu mungkin gue bakal malu banget. Tapi sekarang... gue bangga bisa melakukan ini untuk keluarga dan usaha gue."

Malam itu, setelah Kiara dan Dimas pergi, Arga, Menik, dan anak-anak band makan malam bersama di warung tenda pinggir lapangan.

"Ga," panggil Bagas sambil mengunyah sate ayam. "Tadi pas lu di panggung, gue sempat rekam video lu pas lagi perkusi pakai kaleng bekas. Gue upload ke medsos ya?"

"Jangan gila lo!" protes Arga.

"Terlambat, sudah gue post dengan judul: 'Manajer EO Paling Totalitas Sedunia'. Dan lu tahu? Baru satu jam udah ada 500 orang yang like!"

Arga tertawa lepas. Mungkin ini awal dari sesuatu yang besar. Mungkin, dari sebuah panggung sunat yang kacau, dari sebuah kostum gajah yang pengap, dan dari keikhlasan untuk menopang satu sama lain, Harmony EO akan mulai dikenal.

Arga menatap Menik yang sedang menyuapi Nabila. Dia tahu, hidupnya bukan lagi tentang penyesalan, tapi tentang merayakan setiap momen, meskipun momen itu mengharuskannya menjadi badut di depan mantan orang yang pernah singgah dihatinya sendiri.

"Oke," kata Arga sambil mengangkat gelas es tehnya.

"Untuk badut gajah dan Harmony EO yang akan segera bangkrut kalau kita nggak kerja lebih keras lagi, CHEERS!"

"CHEERS!" jawab mereka semua, tertawa riuh di bawah langit malam yang cerah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!