NovelToon NovelToon
Rumah Yang Menggantikan Aku

Rumah Yang Menggantikan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Kehidupan di Kantor / Keluarga & Kasih Sayang / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:940
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 — LAPORAN YANG LAHIR SETELAH AKU HILANG

Akses terhadap dokumen pembayaran ditutup beberapa menit setelah Kaluna membukanya.

Staf legal mencoba masuk melalui sistem cadangan, tetapi hasilnya sama. Berkas tersebut kini berada dalam status pemeriksaan internal Kantor Ketua Dewan.

“Siapa yang memberi tahu mereka?” tanya Kaluna.

Tidak ada yang menjawab. Di dalam ruangan hanya ada Arsen, staf legal, Salindri, Naren, dan dirinya. Sistem perusahaan mencatat setiap dokumen yang dibuka, siapa yang melihat, serta berapa lama berkas berada di layar. Tak perlu ada orang berdiri di depan pintu untuk mengawasi mereka.

Arsen mengambil teleponnya.

“Aku akan minta aksesnya dibuka.”

“Kepada siapa?” tanya Kaluna.

“Ke sekretariat dewan.”

“Yang baru saja menutupnya?”

Arsen menghentikan gerakan jarinya. Kaluna mengalihkan pandangan ke layar komputer yang kini hanya menampilkan pemberitahuan akses ditolak.

“Salinannya belum sempat dibuat?”

Staf legal menggeleng. “Kami baru menyiapkan proses pemindaian.”

“Riwayat tampilannya?”

“Masih tersimpan.”

“Cetak.”

“Dokumen utama dikunci.”

“Aku nggak minta dokumen utamanya. Cetak riwayatnya. Yang menunjukkan berkas itu dibuka di ruangan ini.”

Staf legal melihat Arsen.

“Keluarkan semua catatan yang masih bisa diakses,” kata Arsen. “Termasuk waktu pembukaan, nomor dokumen, dan unit yang mengunci.”

Staf itu mulai bekerja.

Kaluna belum membaca semuanya, tetapi ia sudah cukup paham apa yang sedang terjadi. Akses dihentikan setelah mereka menemukan pembayaran atas namanya. Petunjuk baru itu belum cukup untuk pengadilan. Setidaknya, Arsen kini berhenti menganggap semuanya mungkin hanya kesalahan prosedur.

“Laporan Fadli,” kata Kaluna. “Kita masih punya akses?”

Staf legal membuka folder lain. Laporan awal audit masih tersedia. Tebalnya dua belas halaman. Judulnya menyebut pemeriksaan dugaan penyalahgunaan dana oleh Kaluna Adiswara. Tanggal pembuatannya enam hari setelah kecelakaan.

Kaluna membaca halaman awalnya pelan-pelan. Fadli menulis bahwa pemeriksaan dimulai setelah ditemukan ketidaksesuaian transaksi pada beberapa vendor, termasuk Sentra Arunika Logistik.

Awalnya, isinya masih seperti audit biasa. Lalu Kaluna sampai pada bagian berikutnya.

Fadli menyebut rekening Singapura sebagai bukti utama bahwa Kaluna menerima dana perusahaan.

“Lampiran rekening baru masuk tiga hari setelah laporan ini,” kata Kaluna.

Naren membandingkan tanggal pada daftar dokumen.

“Benar.”

“Jadi saat menulis laporan, Fadli sudah tahu rekening itu ada.”

“Bisa saja ia menerima informasi secara lisan,” jawab staf legal.

“Dari siapa?”

“Tidak tercatat.”

Kaluna membalik halaman. Ada tabel transaksi yang mencantumkan dana keluar dari Sentra Arunika dan masuk ke rekening atas namanya. Angkanya tepat hingga dua digit terakhir. Angka setepat itu tidak mungkin didapat hanya dari kabar lisan.

“Fadli sudah melihat data rekening,” katanya.

Salindri mengangguk. “Atau menerima tabel yang sudah disiapkan orang lain.”

“Lalu kenapa lampiran bank baru dimasukkan tiga hari kemudian?”

“Biar laporan itu kelihatan punya dasar resmi.”

Kaluna menggeser halaman berikutnya. Nama Fadli tercetak pada bagian akhir dokumen. Tanda tangannya berada di atas cap perusahaan konsultasi. Alamat surel perusahaan itu juga tercatat sebagai penerima salinan perubahan tiket Singapura.

“Dia tahu tiketnya,” kata Kaluna. “Dia tahu rekeningnya. Lalu dia menulis laporan setelah aku hilang.”

Arsen membaca bagian rekomendasi. Fadli menyarankan pembekuan akses Kaluna, pemeriksaan aset pribadi, dan penelusuran kemungkinan pelarian ke luar negeri.

“Dia sudah menyebut soal pelarian, padahal tiketnya saja belum dicek dipakai atau tidak,” kata Arsen.

Kaluna mengalihkan pandangan kepadanya.

“Dan kalian mengikuti rekomendasinya.”

Arsen diam.

Staf legal berhasil mencetak riwayat dokumen pembayaran yang dikunci. Salindri langsung memasukkannya ke map terpisah.

“Sekarang kita membutuhkan laporan versi akhir,” katanya.

“Ada di folder perkara,” jawab Arsen.

Versi akhir lebih panjang dan terlihat lebih rapi. Beberapa kalimat tajam pada laporan awal telah diubah menjadi bahasa hukum yang lebih aman. Kesimpulannya tetap sama. Kaluna diduga menggunakan Sentra Arunika untuk mengalihkan dana, lalu memindahkan uang ke rekening luar negeri sebelum meninggalkan Indonesia. Versi akhir mencantumkan tiket Singapura sebagai bukti pendukung.

“Laporan ini selesai kapan?” tanya Kaluna.

“Dua minggu setelah kecelakaan,” jawab Arsen.

“Pada waktu itu pencarian masih berjalan.”

“Iya.”

“Tapi perusahaan sudah menyimpulkan aku melarikan diri.”

Arsen menutup dokumen.

“Waktu itu, kami percaya pada hasil audit.”

“Bukan. Kalian ambil kesimpulan yang paling gampang.”

Kaluna tidak mengucapkannya dengan suara tinggi. Justru itu membuat kalimat tersebut terdengar lebih berat.

Jika Arsen dan keluarganya percaya Kaluna melarikan diri, mereka tidak perlu menghadapi kemungkinan bahwa seseorang dari dalam perusahaan telah mencoba membunuhnya. Mereka hanya perlu menganggap Kaluna sebagai pencuri.

Telepon Kaluna bergetar.

Pesan dari Elara masuk.

Stiker bintangnya jangan lupa.

Kaluna melihat waktu. Jadwal pertemuan mereka tinggal dua jam lagi.

Sudah aku beli. Yang warna kuning?

Kaluna membuka tas dan melihat bungkus stiker yang dibelinya pagi tadi. Warnanya campur.

Ada kuning, merah, dan biru.

Balasan Elara datang cepat.

Yang merah buat pasien nakal.

Kaluna tersenyum kecil. Ia menyimpan telepon, lalu menemukan pesan lain dari Veyra di bawahnya.

Pertemuan tetap dilakukan hari ini. Pendamping akan berada di ruang sebelah sampai ada keputusan resmi.

Kaluna membaca kalimat tersebut sekali.

Setidaknya Veyra tidak membatalkan. Kata pendamping tetap terasa seperti pagar baru.

“Kamu harus pergi?” tanya Naren.

“Belum.”

“Kalau mau sampai tepat waktu, kita cuma punya sekitar sejam.”

Kaluna mengangguk.

“Kita selesaikan bagian Fadli.”

Salindri menoleh kepada Arsen.

“Kami butuh seluruh data perusahaan konsultasinya.”

Arsen meminta staf legal membuka profil vendor lama.

Perusahaan Fadli bernama Wira Audit Konsultama. Kontraknya dengan Mahardika Medika dihentikan satu tahun setelah kecelakaan. Alasan penghentian tertulis karena restrukturisasi vendor. Tidak ada catatan pelanggaran. Tidak ada sengketa pembayaran.

“Siapa yang mengusulkan Fadli menjadi pemeriksa?” tanya Kaluna.

Staf legal mencari dokumen penunjukan. Permintaan audit berasal dari komite pemeriksaan internal. Nama pengusul tidak tercantum. Hanya ada persetujuan unit.

“Dari kantor dewan?” tanya Kaluna.

“Komite internal berada di bawah dewan,” jawab Arsen.

Salindri segera berkata, “Itu belum menunjukkan siapa yang memberi perintah.”

“Aku tahu.”

Kaluna tidak perlu diingatkan lagi. Jejaknya memang terus mengarah ke kantor dewan. Yang ia butuhkan adalah satu nama yang tidak bisa berlindung di balik unit, akun bersama, atau pegawai kontrak.

“Alamat Fadli masih kosong?” tanyanya.

Naren menggeleng.

“Kami menemukan satu jejak baru.”

Ia memperlihatkan hasil pemeriksaan data badan usaha. Dua tahun lalu, Fadli tercatat sebagai konsultan lepas pada sebuah perusahaan distribusi di Tangerang.

“Masih bekerja di sana?”

“Perusahaannya mengatakan tidak.”

“Mereka punya alamatnya?”

“Tidak mau memberikan tanpa surat resmi.”

Salindri mengambil telepon.

“Saya akan menghubungi bagian legal mereka.”

Kaluna beralih kepada Naren.

“Ada nomor baru?”

“Nomor kantor lama tidak aktif. Tapi ada nomor yang dipakai dalam dokumen pajak dua tahun lalu.”

“Sudah dicoba?”

“Belum.”

Naren menekan nomor tersebut.

Panggilan pertama tidak dijawab.

Panggilan kedua terputus setelah dua dering.

Baru pada panggilan ketiga seseorang mengangkat.

“Halo?”

Suara lelaki.

Naren menyalakan pengeras suara.

“Pak Fadli Wirawan?”

Sambungan hening beberapa detik.

“Siapa ini?”

“Saya Naren Atmadja. Saya mau tanya soal audit Mahardika Medika tiga tahun lalu.”

“Audit yang mana?”

“Laporan tentang Kaluna Adiswara.”

Sambungan langsung terputus.

Kaluna mengambil telepon dari meja dan menghubungi kembali. Tidak dijawab.

Ia mengirim pesan.

Saya Kaluna Adiswara. Saya masih hidup. Saya ingin bertanya tentang laporan yang Anda buat setelah kecelakaan saya.

Tanda pesan terkirim muncul.

Tidak dibaca.

Beberapa menit kemudian, foto profil nomor itu menghilang.

“Dia memblokir,” kata Naren.

“Berarti nomor itu memang masih dipakainya.”

“Bisa jadi.”

Kaluna meminta Salindri menyimpan catatan panggilan.

Ia melihat waktu sekali lagi. Jika segera berangkat, ia masih dapat tiba sebelum jadwal pertemuan dengan Elara.

Sebelum mereka meninggalkan ruangan, telepon Naren menerima pesan dari nomor tidak dikenal.

Hanya satu kalimat.

Berhenti mencari Fadli kalau tidak ingin pertemuan dengan anakmu kembali dibatalkan.

Naren memperlihatkannya kepada Kaluna.

Arsen langsung berdiri.

“Nomor siapa?”

“Baru,” jawab Naren.

“Hubungi keamanan.”

“Tidak.”

Semua orang mengalihkan perhatian kepada Kaluna.

“Kalau kita langsung bikin keributan, dia tahu pesannya berhasil.”

“Itu menyebut Elara,” kata Arsen.

“Belum ada ancaman fisik di situ.”

“Dia tahu jadwal pertemuanmu.”

“Jadwalnya sudah bocor ke media. Banyak orang tahu.”

Kaluna memotret pesan itu. Ia tetap akan memberi tahu Salindri dan menyimpannya sebagai bukti. Ia tidak akan membiarkan satu pesan membuat pertemuannya kembali dibatalkan.

“Aku pergi menemui Elara.”

Arsen menghalangi jalan.

“Kita perlu memastikan rumah aman.”

“Pastikan. Tapi jangan membatalkan.”

“Kaluna—”

“Kita sudah kehilangan cukup banyak waktu. Aku nggak mau kehilangan yang ini juga.”

Arsen akhirnya menyingkir dari pintu.

Kaluna keluar dari kantor bersama Naren dan Salindri.

Di dalam mobil, Kaluna melihat bungkusan stiker bintang di dalam tasnya. Anehya, yang terus teringat malah bungkusan kecil itu.

Elara menunggunya.

Ia tidak akan datang terlambat.

Pendamping profesional duduk di ruang baca ketika Kaluna tiba di rumah Mahardika.

Perempuan itu memperkenalkan diri sebagai psikolog anak. Ia diminta mengamati dari luar ruangan.

Ia tidak ikut masuk saat Kaluna menemui Elara.

Kaluna tidak menyukai kehadirannya, tetapi memilih tidak berdebat.

Elara sudah menyiapkan boneka pasien di atas meja.

“Kamu bawa bintangnya?”

Kaluna mengeluarkan stiker.

Elara mengambil lembar warna kuning, lalu menempelkan satu bintang pada baju Kaluna.

“Aku bukan pasien.”

“Ini buat datang tepat waktu.”

Kaluna memandang stiker kecil di bajunya.

“Kalau terlambat?”

“Dapat merah.”

“Berarti aku beruntung.”

Elara mengangguk serius.

Selama hampir satu jam, mereka bermain tanpa membicarakan perusahaan atau pengadilan.

Kaluna menjadi dokter, Elara menjadi perawat yang terlalu sering mengganti diagnosis boneka.

Boneka itu awalnya sakit perut, lalu patah kaki, kemudian terkena penyakit karena tidak mau makan sayur.

Kaluna mengikuti semua aturan yang dibuat Elara.

Untuk sementara, ia bisa melupakan rekening dan laporan.

Saat Elara pergi mengambil air minum, telepon Kaluna bergetar di dalam tas.

Pesan itu berasal dari nomor yang tadi memblokirnya.

Pengirimnya Fadli.

Kaluna membuka tanpa bersuara.

Saya tidak ingin bertemu. Semua yang saya tulis berdasarkan dokumen perusahaan. Anda sendiri yang memerintahkan pemindahan dana melalui Sentra Arunika. Jangan seret saya ke masalah yang Anda buat.

Kaluna membaca pesan itu. Dadanya langsung terasa sesak.

Fadli tidak menyangkal bahwa dia menulis laporan. Ia juga tidak membantah bahwa dia tahu soal rekening dan tiket. Ia justru menuduh Kaluna sendiri yang memberi perintah.

Elara kembali membawa dua gelas air.

“Kamu kenapa?”

Kaluna segera mematikan layar.

“Tidak apa-apa.”

“Mukamu marah.”

“Ada orang yang ngomong sesuatu yang nggak benar.”

“Elara boleh tahu?”

“Belum.”

Anak itu meletakkan gelas di meja, lalu menempelkan satu stiker merah pada tangan Kaluna.

“Ini buat orang bohong?”

Kaluna melihat stiker tersebut.

“Bukan. Untuk pasien nakal, kan?”

“Sekarang buat orang bohong juga.”

Kaluna tersenyum tipis.

Ia tidak akan membebani Elara dengan nama Fadli atau laporan penggelapan.

Fadli masih hidup. Ia membaca pesan Kaluna dan tahu tuduhan yang sedang diarahkan kepadanya.

Kaluna bahkan belum sempat bertanya ketika lelaki itu sudah lebih dulu membela diri.

Fadli mengatakan Kaluna sendiri yang memerintahkan pemindahan uang.

Berarti Fadli tahu lebih banyak daripada sekadar isi dokumen setelah kecelakaan. Ia mengetahui perintah pemindahan dana itu secara langsung.

1
Adinda
kaluna cerai aja sama Arsen buat apa sama pria penghianat istrinya belum ditemukan malah nikah lagi sama naren aja kaluna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!