Sebagai anak dari selir rendahan, Xiu Ying Nona Ke-9 dari Kediaman Utama selalu hidup tertindas, pasrah, dan dianggap sebagai "sampah" oleh ayah serta saudara-saudaranya. Namun, sebuah insiden di kolam teratai mengubah segalanya. Xiu Ying yang terperosok ke dalam air dingin bangkit sebagai sosok yang sama sekali baru: dingin, cerdik, dan tak lagi sudi diinjak-injak.
Guna menyingkirkan Xiu Ying yang mulai sulit dikendalikan dan demi menyelamatkan putri-putri kesayangannya dari pernikahan politik yang merugikan, sang ayah dengan tega menikahkan Xiu Ying dengan Zhen Yu—Pangeran Ke-7 yang dituduh "idiot" dan kerap dijadikan bahan tertawaan di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22
Salju putih membungkus Hutan Kekaisaran Barat. Pepohonan pinus raksasa berdiri gagah dengan dahan-dahan tertutup es, membingkai padang perkemahan megah yang dipenuhi tenda-tenda sutra warna-warni. Kaisar Yang Mulia menggelar ajang Berburu Musim Dingin tahunan sebuah perayaan bergengsi yang dihadiri oleh seluruh pangeran, keluarga bangsawan, dan menteri-menteri berpengaruh di kekaisaran.
Di pelataran perkemahan utama, gelak tawa dan bisikan merendahkan bergema tajam di antara barisan pangeran. Pangeran Ke-4 duduk di atas kuda perang hitam yang gagah, mengenakan zirah besi berukir naga. Di sampingnya, beberapa pangeran dan bangsawan muda mengitari Pangeran Zhen Yu yang sedang memegang sebuah panah kayu berukir kelinci mainan anak-anak yang sengaja ia bawa.
"Lihatlah Pangeran Ke-7 kita!" seru Pangeran Ke-4 dengan suara nyaring, sengaja memancing perhatian seluruh bangsawan. "Adik Ke-7, apakah kau datang ke Hutan Kekaisaran untuk berburu binatang buas, atau hanya ingin mencari kelinci kayu untuk ditaruh di bawah bantalmu?"
Cemoohan pecah di antara para pangeran. Pangeran Ke-8 yang telah pulih dari efek racun ringan melambaikan kipasnya, terkekeh sinis. "Kakak Ke-4, jangan membingungkannya. Dengan jubah bulu tebal dan panah mainannya, Kakak Ke-7 mungkin lebih cocok duduk di dekat tungku sambil meminum susu hangat!"
Zhen Yu sengaja memiringkan kepalanya, memamerkan cengiran polos. Tangannya meremas busur kayunya seolah takut direbut. "Yu-er mau cari kelinci putih! Kelinci putihnya wangi seperti Kakak Cantik!"
Pangeran Ke-4 tertawa meremehkan. "Baiklah! Jika kau memang sangat percaya diri, bagaimana kalau kita bertaruh? Siapa pun pangeran yang mendapatkan hasil buruan paling sedikit hari ini harus menyerahkan wilayah berburunya di batas utara kepada pemenang. Bagaimana, Adik Ke-7? Atau kau takut dan ingin lari ke balik gaun istrimu?"
"Yu-er tidak takut! Yu-er pasti dapat kelinci besar!" jawab Zhen Yu polos sambil menepuk dadanya gembira, sengaja masuk ke dalam jebakan taruhan tersebut.
Dari balik topeng keluguannya, mata pekat Zhen Yu berkilat mematikan. Taruhan yang bagus, Pangeran Ke-4. Wilayah utaramu akan menjadi milikku sebelum matahari terbenam.
Sementara itu, di dalam Tenda Utama Wanita yang dihiasi tirai sutra merah dan karpet bulu hangat, aroma teh melati membumbung tinggi. Istri-istri pejabat tinggi dan para nona bangsawan berkumpul mengelilingi Xiu Mei, yang duduk paling depan dengan gaun sutra sulam benang emas.
Xiu Mei memamerkan Cincin Giok Merah—hadiah pertunangan resmi dari Putra Mahkota yang sebentar lagi akan diumumkan secara resmi ke seluruh kerajaan.
"Nona Xiu Mei sungguh sangat beruntung," puji seorang istri menteri dengan nada manis. "Mendampingi Putra Mahkota yang gagah dan mahir berburu, masa depan Anda sungguh berkilau."
Xiu Mei menyunggingkan senyum anggun, namun matanya langsung bergulir tajam menuju Xiu Ying yang duduk santai di sudut tenda, menikmati teh hangat tanpa memedulikan pameran perhiasan di sekitarnya.
"Tentu saja," ujar Xiu Mei dengan suara yang sengaja dikencangkan. "Menjadi pendamping seorang pangeran sejati berarti harus siap memberi kehormatan bagi kediaman. Tidak seperti beberapa orang... yang harus menanggung malu karena suaminya bahkan tidak bisa memegang busur panah dengan benar."
Kasak-kusuk tawa kecil langsung merayapi tenda wanita. Beberapa nona muda melirik Xiu Ying dengan pandangan kasihan bercampur ejekan.
Xiu Mei melangkah mendekati meja Xiu Ying, melipat tangannya di dada dengan angkuh. "Adik Kesembilan, hamba sungguh kasihan padamu. Di saat para istri pangeran lain menantikan hasil buruan gagah dari suami mereka, kau hanya bisa berdoa agar Pangeran Ke-7 tidak menangis ketakutan di tengah hutan. Sungguh suami yang menjadi beban hidupmu, bukan?"
Xiu Ying meletakkan cangkir porselennya tanpa suara. Wajah cantiknya amat tenang, memancarkan aura keanggunan yang dingin dan tak terjangkau. Ia mendongak, menatap Xiu Mei dengan senyuman amat tipis.
"Kakak Ketiga sungguh terlalu cemas," jawab Xiu Ying datar, suaranya yang halus namun tegas mendominasi keheningan tenda. "Bagi seorang istri sejati, nilai seorang suami tidak diukur dari seberapa banyak darah binatang yang ia tumpahkan demi memamerkan kesombongan. Suamiku memiliki ketulusan dan kedamaian hati—hal yang tidak akan pernah dimiliki oleh pria yang hanya mengejar ambisi dengan cara-cara licik."
Wajah Xiu Mei seketika menegang. "Kau—! Kau berani menghina Putra Mahkota?!"
"Saya tidak menyebut nama siapa pun, Kakak Ketiga," pangkas Xiu Ying anggun, memperbaiki letak selendangnya. "Lagipula, ajang berburu baru saja dimulai. Hasil akhir belum terlihat. Mengapa Kakak Ketiga begitu terburu-buru menyombongkan piala yang bahkan belum ada di tanganmu?"
Para istri pejabat saling pandang, terpukau oleh ketenangan dan balasan elegan dari Xiu Ying yang langsung membungkam keangkuhan Xiu Mei. Xiu Mei mengepalkan tangannya rapat-rapat, dadanya naik turun menahan murka.
Jauh di dalam Hutan Salju yang lebat, angin berembus kencang mengoyak dahan-dahan pohon. Zhen Yu mengendarai kudanya perlahan, berpura-pura mengejar seekor tupai kayu di antara semak-semak.
Tiba-tiba, keheningan hutan terpecah oleh desisan angin yang asing.
SWOOSH!
Lima anak panah berujung racun meluncur dari balik pepohonan tinggi, mengincar leher dan dada Zhen Yu!
Dengan refleks tersembunyi yang amat sempurna, Zhen Yu sengaja menjatuhkan tubuhnya ke samping kuda dengan gaya seolah "terpeleset dan ketakutan". Anak-anak panah itu melintas tipis di atas kepalanya dan menancap di batang pohon.
"Tolong! Kuda Yu-er nakal!" jerit Zhen Yu nyaring kekanak-kanakan.
Dari balik kegelapan hutan, sepuluh pembunuh bayaran berbusana hitam melompat turun dengan katanas terhunus. Mereka adalah pembunuh rahasia yang disewa oleh Pangeran Ke-4 untuk menghabisi Zhen Yu di tengah hutan dan merekayasanya sebagai "serangan binatang buas".
"Habisi Pangeran idiot ini! Jangan tinggalkan jejak!" perintah pemimpin pembunuh bayaran.
Saat sepuluh pembunuh itu melesat maju, raut polos di wajah Zhen Yu sirna seketika. Manik matanya berkilat mematikan bagai iblis kegelapan.
SRAK!
Zhen Yu menarik busur kayu mainannya. Namun, kali ini bukan anak panah tumpul yang terpasang, melainkan tiga jarum baja tipis bermata racun buatan Xiu Ying yang tersembunyi di dalam jubahnya.
Dengan kecepatan yang tak tertangkap mata telanjang, Zhen Yu melepaskan senar busurnya.
CUP! CUP! CUP!
Tiga pembunuh bayaran ambruk seketika, leher mereka tertembus jarum presisi sebelum sempat mendekat.
"Apa?! Dia ahli beladiri?!" teriak pimpinan pembunuh panik.
Zhen Yu tidak memberi ruang. Ia melompat dari kudanya, bergerak seringan bayangan di antara pohon pinus. Dalam hitungan sepuluh detik, tebasan pedang dan patahan leher bergema di hutan salju yang sepi. Seluruh pembunuh bayaran tumbang bersimbah darah di atas salju putih.
Zhen Yu berdiri di tengah tumpukan mayat, menyapu darah di jarinya dengan sapu tangan. Tiba-tiba, dari balik semak salju tebal di celah lembah, terdengar erangan berat.
Seekor Rusa Emas Raksasa—binatang langka legendaris yang hanya muncul puluhan tahun sekali di Hutan Kekaisaran sedang berdiri di tepi telaga es.
Zhen Yu menyunggingkan senyum miring yang tampan. "Hadiah yang sangat sempurna untuk Istriku."
Dengan satu tembakan panah yang sangat presisi dari jarak ratusan meter, Zhen Yu menjatuhkan rusa raksasa itu tepat di titik saraf utamanya tanpa merusak kulit mewahnya.
Matahari mulai condong ke barat. Seluruh pangeran dan bangsawan berkumpul kembali di pelataran perkemahan utama. Kaisar Yang Mulia duduk di takhta kehormatan, didampingi Ibu Suri.
Pangeran Ke-4 melangkah maju dengan dada terangkat tinggi. Di belakangnya, para pengawal membawa tiga ekor rusa jantan biasa dan seekor babi hutan.
"Ayahanda Kaisar!" seru Pangeran Ke-4 bangga. "Hamba mempersembahkan hasil buruan terbaik hari ini!"
Xiu Mei yang berdiri di tenda wanita tersenyum lebar, menatap Xiu Ying dengan pandangan mengejek yang amat puas.
"Bagus sekali, Putra Mahkota!" puji Kaisar. "Apakah ada pangeran lain yang membawa hasil lebih besar?"
Tiba-tiba, suara derit kereta kayu berat bergema dari arah pintu masuk hutan.
"Pangeran Ke-7 kembali!" seru kasim istana.
Seluruh pandangan mata seketika tertuju ke arah gerbang. Zhen Yu berjalan masuk sambil menuntun kudanya, wajahnya belepotan lumpur dan jubah bulunya agak berantakan. Di belakang kudanya, terikat seekor Rusa Emas Raksasa bertanduk megah berlapis emas—buruan terbesar dan paling langka di seluruh kekaisaran!
GASPS!
Histeris dan teriakan takjub seketika meledak di seluruh perkemahan!
"Astaga! Rusa Emas Raksasa?!"
"Binatang legendaris itu?! Bagaimana mungkin Pangeran Ke-7 mendapatkannya?!"
"Luar biasa! Buruan itu bernilai sepuluh kali lipat dari milik Putra Mahkota!"
Pangeran Ke-4 terbelalak lebar, wajahnya mendadak pucat pasi bagai dihantam petir. "T-Tidak mungkin! Bagaimana bisa kau mendapatkan Rusa Emas itu?!"
Zhen Yu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tertawa polos dengan raut wajah sangat bingung. "Yu-er tidak tahu! Yu-er tadi cuma mau panah kelinci, tapi rusa besar ini tiba-tiba jatuh terpeleset es dan menabrak pohon! Terus Yu-er ikat saja bawa pulang! Hehehe! Yu-er menang taruhan, kan?"
Gelak tawa gembira dari Kaisar dan Ibu Suri menggelegar di seluruh aula luar!
"Hahaha! Keberuntungan yang sangat luar biasa!" tawa Kaisar gembira. "Zhen Yu, keberuntunganmu hari ini adalah kehendak Langit! Kau memenangkan taruhan berburu ini!"
Kaisar memandang Pangeran Ke-4 yang berdiri mematung. "Putra Mahkota, sesuai janji taruhanmu, serahkan peta wilayah berburu batas utara kepada Istana Ke-7 mulai hari ini!"
Pangeran Ke-4 mengepalkan tangannya hingga berdarah, menahan malu dan amarah yang luar biasa saat menyerahkan surat segel wilayahnya di hadapan seluruh pejabat.
Di tenda wanita, Xiu Mei berdiri mematung dengan wajah merah padam karena malu yang amat sangat. Seluruh pujian yang tadi ia terima seketika sirna, berganti dengan pandangan sindiran dari para istri menteri.
Xiu Ying berdiri anggun, melangkah mendekati suaminya. Ia mengambil sapu tangan sutra dan dengan lembut menyapu noda lumpur di wajah tampan Zhen Yu.
"Kau melakukan pekerjaan yang sangat baik, Suamiku," bisik Xiu Ying lembut dengan senyuman manis yang memikat.
Zhen Yu menatap istrinya, menyunggingkan senyuman tipis yang sangat hangat di balik tatapan polosnya. Panggung pertunjukan perburuan telah usai, dan kekuasaan Istana Ke-7 makin mencengkeram erat kekaisaran.
(Bersambung)