NovelToon NovelToon
Soraya Dan Aldrian

Soraya Dan Aldrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: MayRedN

Soraya anak bungsu dari tiga bersaudara, ceria, mudah bergaul dan sedikit pintar. Keluarganya berkecukupan tapi sederhana. Hari Pertama SMA kelas 10 bertemu Aldrian yang kelas 12, Aldrian orang yang pendiam, perhatianya tidak diucapkan. Soraya dan Aldrian memiliki hari hari yang canggung disekolah. Banyak interaksi tak pernah terjalin komunikasi. Soraya akhirnya harus terpisah dengan Aldrian. Aldrian yang sudah lebih dulu lulus pergi tanpa kata tanpa berpamitan, membuat hari hari Soraya disekolah selalu mengingat Aldrian.

Setelah 2 tahun terpisah akhirnya mereka bertemu kembali. Aldrian mempunyai keberanian untuk menemui Soraya dirumahnya.

Soraya dan Aldrian dari keluarga yang sangat berbeda, keyakinan yang berbeda membuat mereka mempunyai banyak cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MayRedN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku sudah memprediksi adegan seperti ini

Suasana pantai sangat tenang, hanya terdengar suara ombak memecah kesunyian. Angin yang bertiup kencang menjadikan udara terasa dingin. Langit terlihat indah bertabur bintang. Sinar bulan terpantul indah menerangi permukaan air. Aroma garam laut yang khas begitu kuat. Aku melepas alas kakiku, merasakan pasir putih yang basah dan dingin.

Dari belakang ada yang menarik tanganku, dengan reflek aku menoleh, ternyata mas Nandito dengan wajah yang emosi.

"Balik, mau kemana lagi?! Ini udah kejauhan" Mas Nandito menaruh Wibin dipunggungnya, berjalan dengan cepat dipinggir pantai menarik tanganku.

Aku berusahan melepaskan tangan mas Nandito yang memegang erat tanganku "Sakit tau, enggak usah ditarik tarik, udah bisa jalan sendiri!"

"Iya bisa jalan sendiri, jalan sampai lupa pulang. Diem yang nurut ! Enggak akan mas lepaskan sampai di Villa"

"Ah mas Nandito enggak asyik"

"Bodo amat"

"Ih dasar nyebelin, tar ku bilangin Bapak tau rasa"

"Hehhh bocil, aku tuh disuruh Bapak tau!"

Terlihat Bapak dan Ibu yang sedang duduk menghadap pantai diayunan kayu panjang yang minimalis di depan Villa.

"Ini anaknya bu, ditali aja kakinya biar enggak bisa pergi pergi jauh" Mas Nandito marah marah lalu duduk disebelah ibu

Mataku memandang penuh dengan kekaguman "Ini Villa kita pak? bagus banget"

Bapak membalas dengan anggukan dan senyuman "Sana masuk dulu liat didalem lebih bagus lagi?!"

Aku berteriak sambil berlari kecil masuk ke dalam Villa "Bapak memang luar biasa, selalu memberikan kejutan"

Wibin berlari mengejarku "Mba Aya tunggu..."

Kami menikmati suasana kamar yang nyaman. Rasanya tubuh ini sudah berkata lelah, seharian ini aku memaksanya untuk bekerja keras. Kurebahkan tubuhku dikasur yang empuk dan hangat. Sejenak melepaskan lelah memejamkan mata membawa jiwa ini terbang ke awan.

Buk.. Buk... aku membuka mata, terbangun dari lamunanku. Wibin dan mba Renata berbaring disebelahku "Ayo keluar, udah ditunggu makan malem"

Wibin berguling badannya mengelilingi tempat tidur yang luas "Wibin mau tidur sini aja sama mba Aya"

Kami makan malam diresto outdoor Villa, ditepi pantai. Ditemani angin laut yang behembus pelan dan hiasan lampu lampu yang begelantungan diatas meja.

Suasana resto begitu ramai, hampir semua meja terisi tamu dengan bebagai keadaan yan berbeda beda.

Meja makan adalah tempat yang menyatukan kami, tempat kami membicarakan banyak hal.

Kulihat dibawah lampu wajah Bapak sudah mulai sedikit keriput. Malam ini ibu lebih banyak tersenyum terlihat sangat bahagia. Mas Nandito lebih banyak berbicara seperti biasanya kalau dengan keluarga mulutnya nggak bisa ditahan tapi penyayang. Mba Renatan yang jutek wajahnya tapi perhatian dan Wibin yang selalu menjadi penghibur dikeluarga kami. Keluarga yang sangat lengkap.

Meja makan penuh dengan hidangan seafood, Ikan bakar, cumi bakar yang tertata rapi. Suara dentuman piring beradu dengan sendok dan garpu beriringan dengan desiran ombak.

Aku "Bapak tadi Aya terpilih jadi pemain buat lomba bulan depan di AKPOL"

Bapak memberikan dessert puding buah pesanan Bapak kepadaku "Nih hadiah buat kamu, selamat ya... Semoga nanti tetap semangat biar dapat hasil yang bagus"

Aku menerima dessert pemberian Bapak "Cuma ini aja nih hadiahnya? Ibu enggak ngasih?"

Ibu menyuapi Wibin tanpa melihat ke arahku "Setiap hari ibu udah ngasih kamu hadiah, makanan yang tiap hari kamu makan itu hadiah dari Ibu buat kamu"

Mas Nandito dan mba Renata tertawa mendengar jawaban dari Ibu.

Setelah menyelesaikan makan kami kembali lagi ke Villa. Kami berjalan menyusuri tepi pantai menikmati udara yang segar. Perjalanan kami tempuh dengan berjalan kaki yang hanya berjarak sekitar 300 meter.

Pagi telah tiba,

Suasana pagi ini di dalam Villa sudah ramai, kami sudah berencana untuk menyaksikan sunrise. aaku mencari keberadaan mas Nandito yang ternyata sudah terlebih dahulu pergi keluar villa. Mba Renata memilih untuk menyaksikan sunrise dari dalam kamar.

Aku, Bapak, Ibu dan Wibin duduk diayunan depan Villa yang menghadap kepantai.

Udara dipinggir pantai dingin menusuk nusuk tulang. Gelombang ombak dipantai memercikan air sampai ke kulit. Warna langit mulai bergeser memunculkan cahaya semakin terang yang berlahan berwarna keemasan.

Wibin turun dari ayunan "Yeeeyy udah enggak gelap, boleh nyebur ke pantai kan?"

Ibu menyusul Wibin turun lalu mengandeng tangannya "Boleh tapi enggak boleh jauh jauh, lebih baik mainnya disekitar sini aja pasirnya bersih nih"

Aku menggoyangkan ayunan, pergelangan kakiku ku masukan kedalam pasir lalu mendorongnya ke arah Wibin.

Wibin merengek memeluk Ibu "Mba Aya nakal"

"Hahahaha..." Aku tertawa terbahak bahak melihat tangisan Wibin.

Bapak memelukku tetapi pandangannya ke Wibin "udah ini mba Aya udah papah kunci, udah enggak bisa nakal lagi"

Jam 13.00 kami cek out dari hotel, menuju asrama mba Renata.

Sesampainya di asrama mas Nandito membantu membawa barang barang mba Renata "Banyak amat yang dibawa, padahal cuma 3 hari aja disini"

"3 hari dalam 2 tahun tau!!!"

"Iya berartikan 4 harinya dalam 2 tahun di kota S, bisa kali barang barangnya dicicil bawanya!"

"Memang disini enggak butuh ganti baju, ganti sepatu, makan?"

"Baju buat 3 hari cukup, enggak harus 2 koper. Itu tuh sebelah situ dipojokan ada kantin yang buka setiap hari"

"Trus makan harus selalu dikantin, kalau lagi ramai nggak boleh dibawa ke kamar??"

"Apaan makan di kamar kayak orang sakit"

"Kan kalau kantinya ramai"

Perdebatan inilah yang paling aku rindukan dari mereka berdua. Tidak akan pernah selesai sampai ibu datang.

Mata ibu membulat berteriak ke arah mas Nandito dan mba Renata "Udah"

Semua kembali tenang, diam dengan tatapan merajuk dan umpatan satu sama lain.

Melewati pintu ditengah gedung, kami menuju kamar mba Renata yang ternyata ada di lantai 2. Kami harus menaiki anak tangga yang berputar, kamar mba Renata tepat persis disebelah tangga dan aula santai yang ada televisi besar ditengahnya.

Aku dan Ibu berkeliling asrama mba Renata, melihat lihat suasanya yang terlihat sangat asri dan bersih. Kamar mba Renata menghadap lapangan basket yang diseberangnya asrama cowok.

Didepan kamar mba Renata lorong yang lumayan luas, diujungnya tepat persis terdapat pantai, benar kata Bapak seperti di hotel.

Kami berkumpul di kamar mba Renata.

Wibin duduk dipangkuan Ibu "Mba Renata sekarang pindah kesini ya mba?"

Mba Renata memindahkan baju bajunya dari koper ke lemari "Iya tapi enggak lama nanti tiap 3 hari mba Renata pulang"

Aku membantu mba Renata memasang barang barang di meja belajarnya "Mba Renata enak banget tiap hari bisa lihat pantai bisa main air, main pasir"

Mas Nandito yang dari tadi melihat lihat sekeliling dari jendela kamar menimpali "Iya enak, enak banget malahan. Coba aja kamu tinggal disini sebulan rasian setiap hari main air dipantai"

Mba Renata "Manusia anti air kalau disuruh mandi susah, mandi paling 5 menit mau main air dipantai, coba aja sini"

"Coba bisa tidak sekali kali saja ngomongnya kalian yang enak didenger gitu! Jangan ngasih contoh ribut ribut ke anak kecil" Seperti biasa ibu sudah mulai bosan mendengarkan pertikaian ini.

Wajah Bapak dan Ibu tidak bisa berbohong, wajah ketakutan melepas mba Renata terlihat jelas. Tidak ada yang tau seprti apa perasaan yang dapat digambarkan.

Bapak tidak menangis namun dimatanya terlihat menahan butir butir air dari ujung matanya disaat Ibu memeluk erat mba Renata.

Diwajahnya yang jutek tersimpan hati yang melankolis, mba Renata menangis tersedu sedu dipelukan Ibu.

2 tahun kedepan mba Renata akan melewati hari yang berat tanpa Bapak dan Ibu yang selalu menyelesaikan segala amarahnya.

Aku sudah memprediksi adegan seperti ini, yang tak kusangka akan terjadi secepat ini. Dulu aku berfikir suatu saat mba Renata akan pergi bekerja ditempat yang jauh sesuai cita citanya. Aku akan kehilangan kasih sayang mba Renata sewaktu mba Renata akan menikah. Saat ini perpisahan menjadi lebih cepat, aku akan kehilangan mba Renata untuk sementara waktu.

Hari hari kedepan nanti tidak akan ada musuh dalam peperangan pagiku. Aku akan merindukan keras kepala dan perhatiannya. Jarak yang membentang jauh akan memisahkan raga kami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!