Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Matahari baru saja merayap naik ke puncak kepala, menyinari halaman rumah yang luas itu dengan terik yang mulai menyengat. Miska berdiri di dapur, keringat menetes di pelipisnya, namun ia tak berhenti bergerak sedetik pun. Piring-piring tadi pagi sudah dicuci hingga berkilau, lantai dapur sudah dilap hingga bersih, dan sekarang ia sedang menyiapkan makan siang — menu yang diperintahkan Bu Surya pagi tadi, dengan syarat yang tak masuk akal: sayur harus renyah namun tidak terlalu matang, ikan harus beraroma harum tanpa bumbu yang terlihat, nasi harus pulen tapi tak lembek. Setiap detail harus sempurna, atau hinaan baru akan datang menghujam.
Ia memotong wortel dengan hati-hati, tangannya bergerak perlahan agar ukurannya seragam. Sejak malam itu — saat ia mengadu dan justru dimarahi balik oleh Askar — Miska mengubah caranya. Ia berusaha lebih keras, lebih teliti, lebih patuh, berharap dengan menjadi istri dan menantu yang sempurna, mungkin suatu hari nanti hati ibu mertuanya akan luluh. Mungkin suatu hari, Askar akhirnya akan melihat kebenaran. Namun harapan itu perlahan-lahan terasa semakin tipis, seperti benang yang terus ditarik hingga hampir putus.
"KaMu ini lelet banget sih ! Perutku sudah keroncongan!" Suara Bu Surya terdengar dari ruang tengah, melengking dan penuh ketidaksabaran.
"masakannya sudah jadi, Bu," jawab Miska lembut, lalu mengangkat panci dari kompor.
Namun saat ia berbalik hendak menuangkan sayur ke mangkuk besar itu, kakinya tersandung tepian meja yang sedikit menonjol. Tubuhnya terhuyung ke depan, dan panci itu miring. Kuah sayur yang panas itu tumpah, sebagian jatuh ke lantai keramik, dan sedikit membasahi ujung baju daster Bu Surya yang kebetulan berdiri di ambang pintu dapur, menatapnya dengan tatapan tak percaya.
Keheningan menyelimuti ruangan itu sesaat. Miska menatap lantai yang basah itu, jantungnya berdegup kencang seperti hendak meledak. Ia tahu — kesalahan kecil ini adalah bencana besar baginya.
"miskaaaaaaa,,,kamu ini bodoh banget!" Bu Surya berteriak, suaranya bergema ke seluruh penjuru rumah. Matanya melotot penuh amarah, wajahnya memerah padam. "Apa yang kamu lakukan haa?! Baju ini sutra asli! harganya sangat Mahal ! Dan kamu mengotori nya dengan kuah panas itu?!"
"Maafkan saya, Bu! aku tidak sengaja!" Miska segera meletakkan panci, berniat membersihkan lantai itu dengan kain, namun tangan Bu Surya bergerak lebih cepat.
PANG!
Tamparan itu mendarat keras di pipi kiri Miska. Bunyinya nyaring, membuat kepala Miska terayun ke samping, dan tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Rasa panas dan perih segera menjalar di kulit pipinya, disusul rasa sakit yang bukan sekadar di wajah, melainkan hingga ke lubuk hatinya yang paling dalam.
"nggak sengaja? Selalu saja bilang nggak sengaja!" Bu Surya mendengus kasar, napasnya memburu karena amarah. Ia menunjuk Miska dengan jari gemetar. "Kamu ini benar-benar nggak berguna! nggak bisa diandalkan sedikit pun! Masak saja nggak becus, jalan tuh pakai mata! Apa gunanya kamu di rumah ini, hah?!"
Miska memegang pipinya yang terbakar rasa panas, matanya terbelalak tak percaya. Selama ini ia dimaki, dihina, direndahkan — tapi belum pernah disentuh dengan kekerasan fisik. Hari ini, batas itu akhirnya dilewati. Dan entah mengapa, tamparan itu bukan hanya membakar kulitnya, tapi juga membakar sesuatu yang selama ini ia peluk erat di dadanya: kesabaran tanpa syarat yang ia bangun demi Askar.
"aku sudah berusaha sebaik mungkin, Bu..." ucap Miska pelan, suaranya bergetar namun ia berusaha menatap mata ibu mertuanya.
"aku kerja dari pagi buta sampai siang bolong. aku nggak pernah tidur siang, dan bersantai. Dan satu kesalahan kecil saja, Ibu memukul ku?"
Bu Surya tertegun sejenak, seolah tak menyangka Miska berani menjawab. Lalu ia tertawa sinis, tertawa yang penuh penghinaan dan kemenangan.
"Hah! Sekarang kamu sudah berani membantah ya? Mulai berani bicara begitu? Apa kamu merasa sudah menjadi nyonya besar di rumah ini? Ingat tempatmu, Miska! Kamu tetaplah anak orang miskin yang beruntung bisa tidur di atap rumah kami! Sekali lagi kamu berani menatapku seperti itu, kamu tahu apa akibatnya!"
"aku tahu aku orang miskin, Bu," jawab Miska, air mata mulai menggenang namun tak jatuh. "Tapi miskin bukan berarti saya nggak punya harga diri. Saya ini manusia, bukan pelayan tanpa hati. Saya punya perasaan, saya bisa terluka."
"Perasaan? Harga diri?" Bu Surya mendengus jijik, lalu berjalan mendekat hingga wajahnya hanya beberapa sentimeter dari Miska. "Di rumah ini, perasaanmu tidak ada harganya. Harga dirimu nggak ada artinya di hadapan kami. Kamu ada untuk melayani Askar dan aku. Itu saja. Jangan bermimpi lebih dari itu."
Ia berbalik, berjalan keluar dari dapur sambil melambaikan tangan dengan jijik. "Bersihkan semua ini sekarang juga! Dan jangan sampai ada sisa kuah sedikit pun di lantai! Lalu buatkan yang baru. Sebelum aku selesai beristirahat, makan siang harus sudah siap di meja. Kalau terlambat satu menit saja, kamu akan tahu apa yang akan kulakukan padamu!"
Miska berdiri sendirian di dapur yang kini terasa semakin sempit dan panas. Ia menatap pantulan dirinya di jendela kaca — pipinya merah membiru di sisi kiri, matanya berkaca-kaca, namun ada kilatan yang berbeda di sana. Bukan lagi ketakutan yang biasa, melainkan kesadaran pahit yang mulai menguat. Ia meraba pipinya yang masih terasa perih. Dia memukulku. Dan tak ada satu pun orang di rumah ini yang membelaku.
Ia berlutut, mengambil kain pel, dan membersihkan lantai itu perlahan. Setiap gerakannya penuh beban. Air mata akhirnya jatuh, menetes ke lantai yang baru saja ia lap. Ia menangis bukan karena rasa sakit fisiknya, tapi karena menyadari bahwa semua usahanya untuk diterima di sini sia-sia. Bahwa ia bisa memberikan seluruh hidupnya, seluruh tenaganya, seluruh kesabarannya — dan itu tetap takkan pernah cukup untuk Bu Surya.
Setelah lantai bersih, ia kembali memasak. Kali ini tanpa suara, tanpa keluhan, namun hatinya tak lagi sama. Ia memasak dengan tangan yang stabil, tapi di dalam dadanya, sesuatu yang dulu lembut kini mengeras perlahan-lahan. Ia menyiapkan meja makan dengan rapi, lalu memanggil Bu Surya. Wanita itu datang tanpa permintaan maaf, tanpa tatapan bersalah, hanya duduk dan makan seolah tak terjadi apa-apa.
Miska berdiri di sudut ruangan, memperhatikannya. Dia tidak peduli. Sedikit pun tidak.
Sore itu, saat Askar pulang, suasana berubah lagi seperti biasa. Bu Surya menyambut anaknya dengan senyum hangat, bercerita tentang hari yang menyenangkan, tentang makanan yang enak, tentang betapa baiknya Miska padanya. Tak satu kata pun soal tumpahan kuah, tak satu kata pun soal tamparan di pipi itu.
Askar menatap Miska, lalu mengernyit pelan. "Pipimu kenapa merah sekali, Miska? katanya Terkena kuah panas tadi?"
Jantung Miska berdegup kencang. Ini kesempatannya. Ia bisa berkata benar. Ia bisa menunjukkan bekas itu dan berkata — Ibumu yang melakukannya. Tapi ia menatap Bu Surya yang duduk di samping anaknya, tersenyum tipis namun matanya mengancam tajam. Dan Miska tahu — jika ia berkata benar, Askar takkan percaya padanya. Ia akan dituduh berbohong lagi, dituduh mencari perhatian dengan cara yang memelas, dituduh memfitnah ibu mertuanya lagi.
"Ya, Mas," jawab Miska pelan, menunduk. "Tidak sengaja terkena kuah panas tadi siang."
Askar mengangguk, tanpa curiga sedikit pun. "Hati-hati lain kali ya. Jangan terlalu lelah." Lalu ia kembali menatap ibunya, sepenuhnya tenang, sepenuhnya damai.
Miska berbalik pergi dari ruang makan itu, menuju kamar, menutup pintu dan bersandar di belakangnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasa sakit itu kembali menyeruak — bukan karena ia berbohong, tapi karena ia terpaksa berbohong kepada orang yang seharusnya menjadi pelindungnya. Karena ia tahu, kebenaran yang ia ucapkan justru akan berbalik menghancurkannya sendiri.
Malam itu, di bawah selimut yang dingin, Miska berbaring di samping suaminya yang sudah terlelap. Ia menatap langit-langit kamar dalam kegelapan. Pipi kirinya masih terasa nyeri, namun yang jauh lebih nyeri adalah hatinya. Ia berpikir — sampai kapan ia bisa hidup seperti ini? Sampai kapan ia harus menyembunyikan luka di hadapan orang yang paling dicintainya? Sampai kapan ia harus menjadi orang lain setiap kali suaminya ada di rumah?
Dan di keheningan malam itu, di tengah rasa sakit dan kesepiannya, satu janji terucap pelan dari hatinya, yang tak terdengar oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri: Sabar, Miska. Sabar sedikit lagi. Tapi ingat — kesabaran itu bukan kelemahan. Dan ketika kesabaran itu habis, aku takkan lagi menjadi istri yang sama seperti dulu.
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪