NovelToon NovelToon
Ibu,Maaf Aku Harus Pergi

Ibu,Maaf Aku Harus Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: Cuek Tapi Manis

Sejak kecil Husnan hanya memiliki satu impian: membahagiakan ibunya. Demi adiknya, ia rela kehilangan segalanya, bahkan harus berpisah dengan keluarga yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian ia kembali sebagai pria sukses. Namun yang menunggunya bukanlah pelukan hangat, melainkan seorang adik yang telah menjadi anak durhaka dan seorang ibu yang telah terlalu lama menangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggilan dari Ruang Guru

Pak Bambang masih memandangi layar ponselnya.sedangkan tangannya masih menggenggam kemudi dengan erat.

Ia kembali membaca pesan terakhir itu.

“Kalau kamu mau semuanya aman datang ke coffee.”

“Kenapa orang itu muncul lagi” gumamnya pelan.

Sementara itu di kantor Hendra masih berdiri di jendela. Ponselnya kembali bergetar.

“Kita harus bicara Hendra, ada sesuatu dari masa lalu yang belum selesai.”

Hendra membaca pesan itu dengan wajah serius.

“Aku sudah meninggalkan semuanya bertahun-tahun lalu. Kenapa sekarang belum selesai juga?” Gumamnya.

Ia kemudian mengambil kunci mobil di atas meja.

“Kalau dia mau bicara kali ini biarkan aku selesaikan masalah ini”

Hendra pun keluar dari ruangan,namun di perjalanan Hendra bertemu dengan Pak Bambang.

“Kamu kenapa kesini?” Tanya Hendra sambil menatap wajah pak Bambang dengan serius.

“Aku baru saja menerima pesan dari teman masa lalu kita” jawab Bambang.

Hendra terdiam sejenak.

“Kamu juga disuruh menemuinya juga?”

“Iya pak nanti malam dia juga ancam aku.”

Hendra menghela napas panjang.

“Kalau begitu nanti malam kita bareng, pastikan Husnan tidak tahu kita keluar rumah..”

Pak Bambang mengangguk “ baik pak”

“Ya sudah aku gak jadi pergi karena kamu sudah datang sendiri ke sini.”

Hendra pun kembali ke ruangannya.

Sementara pak Bambang masih berdiri, sambil memikirkan apakah nanti malam akan jadi pengalaman yang tidak dilupakan seumur hidup atau justru kebalikannya.

Di sekolah Husnan masih duduk di kantin dengan Fajar dan Ferdi. Yang masih menikmati makanannya, sesekali sambil bercanda.

“Fer kamu sudah pernah bolos?” Tanya Fajar.

“Ya belum lah, kan aku anak baik hehe” 

“Anak baik? Tiap hari kamu jadi langganan masuk ke ruang BK kok anak baik” kata Fajar.

“Ya itu karena aku kan ganteng, jadi wajarlah guru guru mau lihat aku terus.” Jawab Ferdi sambil tertawa.

Mereka pun akhirnya tertawa bersama.

Naura yang baru masuk ke kantin langsung menghampirinya.

“Eh kalian lagi ngomongin apa?”

“Ini Ferdi dia langganannya ke kantor BK katanya guru guru disana pada ngefans sama dia” jawab Husnan.

“Hhh apalah kau ni Fer “ 

“Enggak cuma bercanda doang “

Naura pun langsung memuji Ferdi biar tambah rame.

“Eh iya nih Fer kamu akhir akhir ini kok glowing banget spil skincare nya dong “

Mereka pun langsung tertawa terbahak bahak, tawa itu langsung memenuhi ruangan kantin hingga siswa yang lain melihat mereka.

“Jujur ya jujur nih , gua pakai soklin jadi begini ini.” 

Para siswa lain juga langsung ikut tertawa, hingga guru dari ruangannya dengar. Salah satu guru langsung memencet tombol bel sekolah.

Seketika para siswa langsung terdiam.

“Lah kok cepat banget ini masih kurang lima belas menit lho” ucap salah seorang siswa.

Ferdi pun langsung menyahut .

“Wah Ngaco ni gurunya” 

Bu guru yang mengajar yang mengajar kelas itu sedang berjalan melewati kantin itu langsung mendengar ucapan Ferdi barusan.

Setelah itu para siswa langsung masuk ke kelasnya masing-masing.

Sesampainya di dalam kelas para siswa langsung duduk di bangkunya.

Ferdi langsung menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Kenyang banget aku.”

Fajar langsung menoleh ke arah Ferdi.

Makanya jangan banyak banyak kalau makan itu”

“Lah tadi siapa yang bilang lapar”

“Beda aku lapar bukan rakus.”

Husnan yang mendengar itu langsung ikut tertawa.

Sementara Naura yang baru masuk kelas langsung duduk di depan Husnan sambil mengeluarkan buku PR.

“Heh Hus bukunya sudah selesai yang kemarin ibu suruh ngerjain?”Tanya Naura.

“Sudahlah” 

“Rajin banget ya kamu ,”

“Kalau tidak rajin gimana nanti masa depan aku”

“Salut sih sama kamu , jarang ada anak baru langsung rajin.”

Ferdi langsung menyahut itu.

“Wih anak kemarin sore sudah rajin aku jadi malu dong”

Fajar menoleh.

“ bukannya Kamu dari dulu memang malas” jawab Fajar.

“Kau diam..”

Tak lama kemudian Bu Guru datang. Sambil membawa rotan .

Para siswa langsung terdiam. “Kenapa ibu membawa rotan?” Bisik para siswa.

“Gak tahu apa ada yang salah?”

Bu guru langsung berjalan ke tengah kelas.

“Siapa yang tadi bilang wah ngaco ni gurunya. Hah”

Ferdi langsung menundukkan kepala.

“Jawab atau ibu panggil namanya, ibu hitung dari tiga.”

Para siswa terdiam sambil melirik ke arah Ferdi.

“Satu “

“Dua” 

“Tiga “

“Ferdi… kenapa kamu tidak mengaku tadi” 

“Saya tadi di kantin cuma bercanda doang Bu”

“Gak papa ya nak” ucap Bu guru sambil mengusap wajah Ferdi.

“Dekkk” suara rotan yang memukul meja Ferdi.

“Sekarang kamu berdiri di depan sambil hormat sampai selesai pelajaran.”

“Hah jangan Bu jangan “ 

Ferdi pun berdiri ke depan sambil hormat.

Para siswa pun langsung tertawa kecil.

“Oh sungguh kasihan .” Ucap Fajar sambil melihat tertawa ke arah Ferdi.

Bu guru pun mulai mengajar seperti biasa.

Ferdi masih berdiri di samping papan tulis sambil menahan rasa malu. Sesekali melihat ke teman-temannya yang masih menahan tawa .

“Sudah jangan banyak gaya berdiri yang benar.” Tegur Bu guru.

“Iya Bu “ jawab Ferdi lesu

Para murid mulai memperhatikan gurunya lagi, suasana kelas pun perlahan menjadi tenang.

Namun beberapa menit kemudian , terdengar suara dari pintu.

“Tok… tok..tok”

Bu guru pun menghentikan penjelasannya lalu menoleh ke arah pintu.

“Siapa”

Pintunya perlahan terbuka , seorang guru sedang berdiri di depan pintu.

“Bu maaf mengganggu, saya mau mencari siswa yang bernama Husnan .”

“Sa saya pak“

“Iya kamu nak , ada seseorang yang ingin bertemu kamu.”

Husnan terdiam, ia merasa tidak ada seorang yang mencarinya.

“Siapa pak?”

Gurunya tidak menjawab, “saya juga tidak tahu , ayo ikut bapak sebentar.”

Husnan pun berdiri dari kursi dan berjalan mengikuti Pak Guru.

Di saat yang sama Fajar dan Ferdi saling berpandangan.

Husnan perlahan keluar dari kelas tanpa mengetahui siapa sebenarnya yang menunggunya di ruang Guru.

1
the virtuso
saling support kak
Putry Chan
💪
Otna Forever
Siiip, lanjutkan
Obby Ilhamsyah: semangat nulis novelnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!