NovelToon NovelToon
Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.

"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.

"Belum," jawab Sarah tenang.

Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.

"Lalu... apa kamu punya pacar?"

"Tidak," jawab Sarah lagi.

Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.

"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."

****

Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Setelah menghabiskan nasi Padang dalam keheningan yang sesekali diwarnai debat kecil, Sarah langsung bergegas berdiri. Ia berjalan menuju meja kasir guna membayar makan keduanya, namun dengan cepat tangan tegap Ardhana menahannya dan memberikan uang pecahan seratus ribu.

“Nggak usah, biar aku yang bayar,” kata Ardhana tegas.

Sarah tidak berniat mendebat urusan bayar-membayar. Ia langsung melangkah keluar menuju pelataran parkir dan memakai helmnya.

Namun, baru saja ia hendak menyalakan mesin motor maticnya, Ardhana sudah berdiri di hadapannya, dan menghalangi jalan gadis itu. Pria itu memegang ujung stang motor Sarah dengan ekspresi wajah yang tidak bisa dibantah.

“Aku antar kamu pulang sampai ke kosan,” ujar Ardhana bersikeras.

Sarah mengernyitkan dahi, menatap pria di depannya dengan tatapan tidak habis pikir.

“Ardha, kamu lihat sendiri kan aku bawa motor? Terus kalau kamu antar aku pulang, motor aku ini mau dikemanain? Mau ditinggal di rumah makan Padang ini? Ngaco kamu, ya.”

“Maksud aku, aku buntuti kamu dari belakang pakai motor aku sendiri, Sar. Aku mau mastiin kamu aman sampai di depan pintu kos kamu,” jelas Ardhana, tidak goyah sedikitpun oleh ketukan nada ketus dari mantan seniornya itu.

“Nggak perlu, Ar. Aku udah setahun lebih tinggal di sini dan aman-aman aja bolak-balik sendirian. Daerah ini sepi, nggak ada apa-apa,” tolak Sarah mentah-mentah. Ia bersiap menarik tuas gas, namun Ardhana justru semakin mengeratkan pegangannya pada stang motor Sarah.

“Nggak ada penolakan, Sarah. Ini wilayah hukum tempat aku bertugas sekarang. Sebagai polisi, aku wajib memastikan warga sipil, apalagi ibu guru yang ceroboh sampai nggak punya SIM ini aman sampai di rumah,” balas Ardhana dengan nada bercanda namun terselip keseriusan yang tidak bisa dibantah.

“Lagian, jalanan sore di daerah perkebunan sawit setelah ini sering sepi. Aku nggak tenang kalau kamu jalan sendiri,” tambahnya.

Sarah menghela napas panjang, meratapi sikap keras kepala Ardhana yang sama sekali tidak berubah sejak dulu. Jika pria ini sudah memiliki sebuah keinginan, maka tidak akan ada yang bisa menghentikannya.

“Terserah kamu deh. Lepas dulu tangan kamu, aku mau jalan,” ketus Sarah pada akhirnya, menyerah karena enggan memperpanjang drama di parkiran rumah makan.

Ardhana langsung tersenyum puas, melepaskan stang motor Sarah lalu bergegas menaiki motor kopling merahnya. Begitu motor matic Sarah bergerak membelah jalanan aspal, suara deru knalpot motor merah Ardhana langsung menyusul tepat di belakangnya, menjaga jarak sekitar dua meter seolah-olah menjadi pengawal pribadi.

Sepanjang perjalanan melintasi area perkebunan sawit yang mulai temaram oleh bayang-bayang senja, Sarah sesekali melirik ke arah kaca spionnya. Di sana, siluet tegap Ardhana yang mengendarai motor merah ikonik masa lalu mereka terlihat begitu jelas. Pemandangan itu mendadak memicu rasa hangat yang aneh di dalam dadanya. Rasa aman yang dulu pernah ia miliki, kini perlahan-lahan merayap kembali tanpa bisa ia cegah.

Lima belas menit kemudian, Sarah membelokkan motornya memasuki sebuah gang kecil dan berhenti tepat di depan sebuah rumah petak bercat hijau. Ia mematikan mesin motor, membuka helm, dan langsung berbalik menghadap Ardhana yang ikut menghentikan motornya di depan pagar kayu.

“Udah sampai, kan? Sekarang kamu bisa pulang,” usir Sarah langsung, mencoba menutupi debaran jantungnya yang mendadak berpacu cepat saat Ardhana ikut membuka kaca helmnya.

Ardhana mengedarkan pandangannya ke sekeliling area kosan yang tampak sepi, lalu kembali menatap Sarah dengan senyuman hangat.

“Ooh, jadi disini kosan kamu. Bagus deh, lingkungannya tenang. Besok-besok kalau aku mau antar jemput kamu ke sekolah, jadi nggak perlu repot nyari alamatnya lagi.”

“Heh! Siapa juga yang mau diantar jemput sama kamu?” sahut Sarah dengan mata membelalak jengkel, merasa pria ini sudah melangkah terlalu jauh mengambil keputusan sepihak.

Ardhana hanya terkekeh pelan melihat reaksi spontan Sarah yang menggemaskan di matanya. Ia membenarkan posisi duduknya di atas motor, bersiap untuk memutar balik.

“Ya lihat saja nanti besok pagi. Ya sudah, aku pamit balik ke polsek dulu ya, Kak Sarah. Jangan lupa pintunya dikunci yang rapat dari dalam, ya.”

Tanpa memberikan kesempatan bagi Sarah untuk melayangkan omelan lanjutannya, Ardhana langsung menurunkan kaca helm hitamnya, menarik tuas kopling, dan melajukan motor merahnya pergi membelah keheningan gang kecil tersebut.

Sarah berdiri mematung di depan pagar, menatap lurus ke arah tikungan gang tempat bayangan motor Ardhana baru saja menghilang. Ia menghembuskan napas perlahan sembari memegangi dadanya yang berdegup kencang. Sudut bibirnya tanpa sadar melengkung tipis, membentuk sebuah senyuman kecil yang sudah sangat lama tidak pernah hadir di wajahnya. Melarikan diri dari Ardhana tampaknya benar-benar menjadi misi yang mustahil sekarang.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa… aku boleh kembali berharap?”

1
Esther
Koq jadi Ardhana yg disalahin Sar, kan kamu yg gengsi mengakui kalau masih suka.
Panas....cemburu melanda😂
Esther
Nanti kalau Ardhana jalan sama cewek lain, baru deh Sarah kelimpungan. Jangan gengsi Sar kalau emang suka😄
Esther
Sabar Ar....kalau jodoh tak lari.kemana
mumu: kalau kata Afgan, Jodoh Pasti Bertemu... 🎶🎶
total 1 replies
bidadari
hai ka.. kenalan dong
mumu: halo, kak.. salam kenal ya ☺️
total 1 replies
Esther
ya udah....pasrah banget sih Sarah😂😂.
Esther
Gak ketemu Ardhana koq malah galau Saras😂
Esther: *Sarah* mksdnya😁
total 1 replies
Esther
Sikap tenang Sarah membuat Ardhana malah kepikiran😁
Esther
ternyata seperti itu ceritanya.
Esther
selalu suka dengan semua ceritanya
mumu: terima kasih, kakak selalu dukung author 🥰🥰
total 1 replies
Esther
double up dong thor
Ani
jawab Ardhana jang cuman diam membeku kayak patung..

kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Esther
Aluna koq nyasar kesini thor😄
mumu: lah lagi mikirin si Aluna ini soalnya 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ani
dengerin dulu Sar, penjelasan Ardhana siapa tau setelah itu harimu jauh lebih mantap dan tenang dalam mengambil keputusan dikemudian hari
Esther
Lanjut
Ani
ceritanya bagus, penulisan nya juga rapi..
Ani
pantesan kalau sarah ampe trauma begitu..
Ani
kira kira ini daerah mana ya kak.. kok jadi penasaran aku nya 😄😄😄😄
Ani: waduh..
total 2 replies
Esther
semangat ya Saras
Esther
waduh koq sampai gitu thor, sengaja nabrak othor.
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor
Esther: ngeri ya thor lawan psikopat
total 2 replies
falea sezi
lanjut banyak q kirim hadiah
mumu: maaf lama up, nya 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!