Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.
Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.
Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?
"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Akibat Pengaruh Alkohol
"Tuan... apa kau pria yang akan memberiku banyak uang?" rancaunya dengan suara lembut yang mendayu-dayu, terdengar bagai melodi Siren yang mematikan di indra pendengaran Edgard. "Jika iya... maka aku siap bekerja sekarang. Apa yang harus aku lakukan untukmu?"
Mendengar kalimat polos yang salah tempat itu, akal sehat Edgard seketika runtuh berkeping-keping. Kombinasi antara pengaruh alkohol yang ia minum, dominasi insting serigala, serta rasa cemburu buta yang membakar dada karena menyadari sang belahan jiwa mutlak (mate) hendak "dijual" di tempat ini, membuat emosinya meledak.
BRAKK!
Edgard menutup pintu kamar mandi dengan kencang, lalu memutar kunci dari dalam hingga berbunyi klik. Langkah kakinya bergerak cepat dan lebar menghampiri bathtub. Dengan gerakan tegas, ia melepas dasi yang melilit leher kemejanya, lalu mengikat kedua pergelangan tangan Elara menjadi satu dengan ikatan simpul yang kuat.
"Kau... jangan pernah menyalahkanku jika aku melakukan hal di luar dugaan setelah ini. Kau sendiri yang sudah memancing serigalaku, Siren," desis Edgard dengan suara yang teramat berat, serak, dan mengintimidasi.
"Ah... apa memang pekerjaannya harus diikat seperti ini?" Elara justru tertawa lirih.
Kesadarannya benar-benar telah hilang separuh jalan. Respons tak terduga itu justru menjadi pemantik yang membuat Edgard tidak mampu lagi menahan gejolak hasratnya yang menggebu-gebu.
Tanpa memedulikan baju basah sang Siren, Edgard mencengkeram pinggang Elara dan mengangkat tubuh lemas itu ke dalam gendongan bridal style. Ia melangkah keluar dari bathtub dan langsung memojokkan tubuh Elara ke dinding marmer toilet yang dingin.
CUP!
Tanpa memberikan aba-aba atau kesempatan untuk meronta, Edgard langsung membungkam bibir ranum Elara. Ia meraup dan menciumnya secara brutal, terkesan tergesa-gesa dan penuh tuntutan posesif seolah ingin menegaskan tanda kepemilikan mutlak atas belahan jiwanya.
Elara yang tangannya terikat tidak bisa berbuat banyak. Ia sempat terpekik tertahan di sela-sela ciuman panas tersebut. Rasa takut seketika menyergap batinnya, namun di saat yang bersamaan, ada sebuah letupan aneh dan desiran sihir yang tak kasatmata mulai menggelitik dalam dadanya—sebuah reaksi alami dari tubuh Siren saat bersentuhan intim dengan mate yang telah digariskan oleh semesta.
Ciuman panas itu berlanjut cukup lama. Elara sudah hampir kehabisan napas, namun Edgard seolah enggan melepaskan cengkeramannya pada bibir ranum sang Siren.
Dengan napas yang terengah-engah dan memburu, Edgard akhirnya menjauhkan wajahnya sedikit. Manik mata merah serigalanya terpaku lurus, menatap liar pada wajah cantik Elara yang kian sayu akibat pengaruh alkohol.
"Tuan... apa kau ingin membuatku mati kehabisan nap—ARGHH!"
JLEB!
Tanpa peringatan, Edgard langsung menancapkan sepasang taring tajam Werewolf-nya tepat di bahu kanan Elara.
Gadis itu memekik kesakitan, suaranya melengking tertahan di dalam kamar mandi. Luka gigitan itu seketika terasa panas membakar, mengalirkan sihir kepemilikan yang menjalar hebat ke sekujur aliran darahnya.
Edgard telah menandainya—secara paksa dan sepihak—sebagai mate mutlak yang terikat seumur hidup.
Akal sehat Edgard telah sepenuhnya kalah oleh insting protektif serigalanya yang cemburu buta. Tanpa menghiraukan rintihan kesakitan sang Siren, ia merobek gaun satin biru navy milik Elara hingga terlepas, lalu dengan tergesa-gesa menanggalkan seluruh pakaiannya sendiri hingga tak tersisa.
"Kau sekarang milikku, Gadis Siren. Hanya milikku. Selamanya," desis Edgard dengan suara bariton yang berat dan penuh kepemilikan mutlak.
Edgard memojokkan Elara kembali ke dinding marmer. Kulit mereka yang sama-sama polos kini menempel erat, mengantarkan sensasi panas yang membakar.
Dengan gerakan cepat dan dominan, Edgard membalikkan tubuh Elara, mencengkeram pinggangnya kuat-kuat, lalu melancarkan serangan fisik yang intim tanpa memberikan aba-aba sedikit pun.
Sepasang mata biru samudera milik Elara seketika membulat sempurna. Rasa syok dan perih yang luar biasa menghantam kesadarannya yang semula berkabut akibat mabuk wine.
Pertahanan terdalamnya baru saja dijebol paksa oleh pemuda di belakangnya. Dulu, ia memang sempat menjalin hubungan asmara dengan Helios di lautan, namun pangeran mermen bajingan itu pun tidak pernah berani bertindak sehina dan sejauh ini kepadanya.
"Arghhh! Sakit...! Bajingan kau!" teriak Elara histeris dengan air mata yang mulai menetes di sudut matanya, bercampur antara rasa perih fisik dan harga dirinya yang terkoyak.
Namun, teriakan murka sang Siren sama sekali tidak dihiraukan oleh Edgard. Pemuda Werewolf yang sedang dikuasai kabut gairah dan alkohol itu terus menggempur Elara tanpa ampun, membuat tubuh ringkih sang Siren terhentak-hentak tak berdaya dalam kendali dominasi mutlak sang serigala jantan.
****
Dua jam berlalu begitu cepat. Sang Werewolf akhirnya melepaskan kungkungannya setelah terpuaskan, setelah berkali-kali menumpahkan benihnya di dalam rahim gadis yang kini tergeletak mengenaskan di atas ranjang.
Kabut amarah dan dominasi serigala benar-benar telah membutakan mata Edgard semalam.
Elara telah dituntun ke segala arah, menjajal setiap sudut ruangan kamar VIP tersebut tanpa ampun.
Kini, Edgard melangkah pergi. Tanpa sepatah kata pun atau rasa bersalah yang ditunjukkan, ia meninggalkan Elara begitu saja. Di dalam benaknya, gumpalan emosi bercampur aduk antara penyesalan terdalam dan rasa bingung tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Sementara itu, di atas ranjang bertabur mawar yang kini berantakan, Elara hanya bisa terisak lirih. Ia menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya yang polos, menahan rasa perih yang teramat sangat di area intimnya.
"Aku bersumpah... aku akan membunuhmu," bisiknya pelan dengan suara parau yang sarat akan dendam kelam.
Efek alkohol dan rasa sakit yang mendera membuat Elara sama sekali tidak menyadari siapa identitas pemuda yang baru saja merampas kesuciannya secara brutal. Tak lama setelah ikrar dendam itu terucap, pertahanan tubuh sang Siren runtuh. Ia kembali pingsan dan tenggelam dalam ketidaksadaran.
Di koridor kasino, Edgard berjalan kembali menghampiri sang paman dengan ekspresi wajah lempeng, seolah-olah tidak ada dosa besar yang baru saja ia perbuat.
"Kau dari mana saja? Aku sudah menunggumu di sini selama lima belas menit," tegur Ethan ketus begitu melihat keponakannya muncul.
"Oh, maaf, Paman. Aku tadi dari toilet. Apakah urusan bisnis kalian sudah selesai?" tanya Edgard, berusaha mengatur nada suaranya agar terdengar setenang mungkin.
Ethan tidak langsung menjawab. Sepasang mata merah sang Alpha meneliti tajam penampilan keponakannya yang tampak agak berantakan. "Di mana dasimu? Dan kenapa penampilanmu sedikit—"
"Ah, Paman, kita harus segera kembali sekarang. Bibi White pasti sudah menunggumu di rumah," potong Edgard cepat untuk mengalihkan perhatian. Ia lalu melirik ke arah pria pirang di sebelah pamannya. "Dan lihatlah, Tuan Cedric bahkan sepertinya sudah terlihat kesal karena kita menahannya terlalu lama. Benar, 'kan, Tuan? Anda tampaknya masih memiliki banyak urusan penting di tempat ini?"