Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun Merah di Ujung Lorong
Koridor kelas terasa sunyi.
Gema langkah kaki mereka teredam oleh debu yang menyelimuti lantai.
Dari jendela-jendela besar yang berderet di sepanjang lorong, cahaya langit berwarna merah darah menyiram lantai keramik yang retak dengan rona merah.
Di barisan paling depan, Johandi melangkah dengan tegap dan penuh keyakinan, memimpin kelompok siswa tersebut membelah kegelapan dengan tujuan yang sebelumnya mereka tetapkan.
Namun, seiring langkah kaki yang terus berayun, Agil mulai merasakan ada sesuatu yang janggal. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling lorong yang tampak identik satu sama lain.
Di dalam ingatannya, bangunan sekolah mereka tidak mungkin seluas ini. Lorong-lorong ini seolah memanjang tanpa akhir, meliuk-liuk menembus kegelapan malam.
Mengapa mereka belum juga sampai ke sudut terjauh sekolah? Padahal tempat itu adalah titik tujuan terakhir mereka agar bisa menjangkau pembatas dimensi dan secepatnya keluar dari dunia mengerikan ini.
Di satu sisi, Agil sebenarnya merasa bersyukur. Walaupun koridor sekolah cukup gelap gulita—menyediakan banyak sudut mati yang sempurna bagi para hantu untuk melakukan penyergapan mendadak—nyatanya tidak ada satupun makhluk astral yang muncul dari balik kegelapan.
Lorong itu benar-benar bersih dari gangguan. Agil melirik ke arah Ryan yang berjalan di dekatnya dengan ekspresi yang sedatar biasanya.
Mungkin semua ini berkat Ryan dan kelompoknya kali ini, pikir Agil dalam hati, menerka-nerka apakah aura mistis pemuda itu yang diam-diam mengintimidasi hantu-hantu di sekitar sana agar tidak berani mendekat.
Lamunan Agil seketika pecah. Pandangannya tanpa sengaja menangkap bagian atas pintu salah satu ruangan, di mana sebuah papan penanda besi yang mulai berkarat tergantung.
‘Kelas 11-C.’
Ia berhenti sejenak.
Agil menatap punggung tegap Johandi di depan, lalu bergantian menatap wajah datar Ryan di sampingnya. Ia hanya bisa menghela napas panjang dalam hati, menahan diri agar tidak berteriak frustrasi.
Rombongan ini telah berputar-putar di tempat yang sama.
Aku bahkan tidak akan menyangkalnya jika ada yang bilang mereka adalah ayah dan anak kandung, keluh Agil pasrah di dalam hatinya. Gen buta arah mereka berdua benar-benar sudah berada di level S Class.
Untunglah Rahman maju dengan sopan. “Om Jo, sepertinya saya tahu jalan yang lebih cepat. Bagaimana kalau saya memandu dari depan?”
Syukurlah! Akhirnya ada seseorang yang cukup berani untuk menghentikan kegilaan ini, batin Agil penuh rasa syukur yang membuncah.
Namun, rasa lega Agil buru-buru terusik oleh kejanggalan lain. Ketika ia melirik ke sekelilingnya, rupa-rupanya para siswa yang lain juga diam-diam memasang gurat wajah yang luar biasa lega.
Agil terbengong sejenak di tempatnya. Tunggu... jadi kalian semua sebenarnya sadar dari tadi kalau kita cuma berputar-putar? Tetapi tidak ada satu pun dari kalian yang berani mengajukan keluhan?! Agil hanya bisa meratapi nasib batinnya.
Dengan langkah tenang, Rahman mengambil alih posisi di barisan depan. Meskipun punggungnya tampak tegap memandu arah, Agil yang berjalan tepat di belakangnya bisa melihat dengan jelas bagaimana pundak Rahman sesekali berguncang kecil. Wajah pemuda itu tampak berkerut keras, berjuang setengah mati untuk menahan tawa yang nyaris meledak akibat kekonyolan keluarga nol navigasi ini.
Untungnya, navigasi Rahman terbukti jauh lebih bisa diandalkan. Setelah melewati beberapa belokan, atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah menjadi jauh lebih dingin, pekat, dan mencekam, hingga akhirnya langkah mereka terhenti tepat di depan tempat tujuan.
Gedung kantin sekolah yang luas, yang biasanya menjadi tempat paling ramai, kini menjelma menjadi pemandangan dari mimpi buruk yang paling mengerikan. Kursi-kursi plastik dan meja panjang yang dulunya berjejer rapi kini mencuat berantakan dan saling tumpang tindih, seolah sempat terjadi kepanikan massal yang brutal di tempat itu. Lantai keramik putih di bawah kaki mereka kini dipenuhi oleh bercak-bercak darah segar serta cairan merah pekat yang mulai mengering dan menghitam.
Aroma anyir logam yang menyengat langsung memedihkan hidung seketika. Tatapan mata Agil tak sengaja terpaku pada konter utama kantin. Di sana, terbujur kaku sesosok mayat penjaga kantin dalam kondisi yang sangat mengenaskan.
Seluruh anggota tubuhnya terpelintir ke arah yang berlawanan dari anatomi manusia normal—lehernya patah bergeser, sementara kedua lengan dan kakinya menekuk patah bagai boneka kain yang dipilin paksa oleh kekuatan masif yang kejam.
Di ujung gedung kantin yang luas itu, pilar cahaya raksasa yang menjadi target mereka terlihat memancar terang dari arah gudang penyimpanan makanan kantin.
Di ambang pintu gudang, berdiri sesosok wanita bergaun merah pekat. Rambut hitamnya menjuntai hingga menyentuh lantai, menutupi seluruh wajahnya. Aura merah berdenyut di sekeliling tubuhnya, membuat udara di kantin terasa semakin dingin.
Dialah Kuntilanak Merah, sebuah varian lain yang jauh lebih mengerikan dari makhluk astral sejenis yang biasanya hanya berpakaian putih.
Pikiran Agil berputar cepat, mengingat kembali sekelumit cerita rakyat mengenai makhluk mistis ini.
Kuntilanak Merah sering kali dijuluki sebagai perwujudan dendam yang sangat haus darah. Aura merah pekat yang menyelimuti sosok itu membuat dadanya terasa sesak.
Merasakan tekanan energi spiritual yang begitu berat hingga menyulitkan dada untuk bernapas, Agil meneguk ludah dengan susah payah. Berdasarkan skala tekanan yang merayap di kulitnya, Agil menduga makhluk ini berada di level kekuatan yang setara—atau bahkan mungkin sedikit melampaui—Sundel Bolong yang sempat mereka lawan habis-habisan sebelumnya.
Makhluk di depan mereka saat ini... diperkirakan berada di Tier A, sebuah Major Entity yang tidak akan bisa mereka tumbangkan hanya dengan mengandalkan keberuntungan belaka.
Kepala makhluk itu bergerak gerak seperti patah, meningkatkan rasa horor yang ada lalu terdiam. Perlahan terdengar suara cekikikan yang mengeras perlahan membuat benda di sekitar bergetar. Semua orang berusaha menutup telinga mereka menahan suara seolah meruntuhkan jiwa mereka.
“Mundurlah,” ucap Johandi dengan nada berat.
Ia menghentakkan kaki ke lantai. Aura biru terang meledak dari tubuhnya, mengusir rona merah yang memenuhi kantin.
Di sampingnya, Ryan mengepalkan tangan kanan dan mengangkat tangan kiri sedikit di depan dada. Tatapannya yang dingin terkunci pada sosok berbaju merah di ambang pintu gudang.
Agil dan Rahman segera mundur untuk melindungi para siswa yang tidak bisa bertarung.
Di ujung ruangan, kepala Kuntilanak Merah bergerak patah-patah.
Krak. Kruk. Krak.
Suara persendian yang bergeser bergema di dinding kantin. Lalu makhluk itu terdiam dengan kepala miring pada sudut yang tidak wajar.
“Hihihi…”
Tawa lirih itu berubah menjadi pekikan melengking yang mengguncang ruangan. Meja dan kursi bergetar hebat, sementara para siswa ambruk sambil menutup telinga mereka.