NovelToon NovelToon
Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:971
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Di kehidupan pertamanya, Li Yuexin adalah "Mutiara Kekaisaran Shenghua" yang lembut, tulus, dan terlalu mudah percaya. Ia menyerahkan harta, kedudukan, dan cintanya kepada Gu Wenhao, pria yang ia kira adalah belahan jiwanya. Namun, balasan atas kesetiaannya adalah racun diam-diam, pengkhianatan oleh sahabat masa kecil, dan kematian menyedihkan di tangan suami dan anak angkatnya sendiri.
Ketika matanya terbuka kembali, Yuexin menemukan dirinya kembali ke masa lalu, tepat sebelum jebakan itu tertutup rapat.
Kali ini, Mutiara itu tidak lagi bersinar karena pantulan cahaya orang lain. Ia telah berubah menjadi es yang tajam dan perhitungan yang dingin.

"Belas kasih diberikan kepada yang pantas. Keadilan diberikan kepada yang bersalah. Dan kali ini... aku hanya akan duduk santai, sambil menikmati pertunjukan kehancuran kalian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Perpustakaan Kerajaan pagi itu sepi, namun tidak sesepi malam ketika Putri Li Yuexin bertemu Kasim Zhou. Sinar matahari pagi menembus jendela tinggi, menerangi partikel debu yang menari di udara, menciptakan suasana yang hampir sakral. Namun, bagi Putri Li Yuexin, tempat ini adalah medan perang informasi.

Dia tidak mencari catatan medis kali ini. Dia mencari Catatan Harian Istana Tahun Ke-5 Era Shenghua.

Tahun ke-5. Dua tahun sebelum kematian Selir Liu, ibu dari Pangeran Kedua.

Putri Li Yuexin duduk di meja panjang kayu hitam, jari-jarinya menyusuri gulungan-gulungan kulit yang rapuh. Qingyu berdiri di dekat pintu, waspada terhadap siapa pun yang mungkin masuk.

Kasim Zhou telah memberikan izin khusus agar Putri Li Yuexin dapat mengakses arsip terlarang ini dengan alasan "menulis biografi leluhur untuk tugas sastra". Alasan yang masuk akal, dan sulit dibantah oleh pustakawan biasa.

Setelah satu jam pencarian, Putri Li Yuexin menemukan apa yang dia cari. Sebuah buku harian kecil milik seorang dayang tua yang bertugas di Paviliun Musim Semi, tempat Selir Liu tinggal sebelum kematiannya. Dayang itu bernama Nenek Gui, yang pensiun ke desa terpencil setahun setelah kematian tuannya.

Isi buku harian itu tampak biasa pada awalnya hanya resep obat, jadwal jahit, keluhan tentang cuaca. Tapi saat Putri Li Yuexin membaca catatan pada tanggal 15 bulan ke-7, matanya menyipit.

"Hari ini, Yang Mulia Selir Liu tampak sangat gelisah. Beliau menerima kunjungan dari adik perempuannya, Nyonya Lin (bukan Lin Mei, tapi kerabat jauh dari pihak ibu Selir Liu). Mereka berbicara dalam suara rendah di kamar dalam. Hamba mendengar kata-kata 'warisan', 'surat wasiat', dan 'anak haram'. Selir Liu menangis sepanjang malam."

Putri Li Yuexin mengerutkan kening. Adik perempuan Selir Liu? Di kehidupan sebelumnya, Putri Li Yuexin pernah mendengar rumor bahwa Selir Liu memiliki saudara perempuan yang hilang, tapi rumor itu selalu dianggap gosip murahan.

Jika Nyonya Lin benar-benar ada, dan jika dia membahas "anak haram" dan "warisan", maka kematian Selir Liu mungkin bukan sekadar ambisi Selir Rong. Mungkin ada motif harta atau hak waris tahta yang lebih kompleks.

Dia melanjutkan membaca catatan berikutnya, tiga hari kemudian:

"Nyonya Lin pergi dengan tergesa-gesa. Beliau meninggalkan sebuah kotak kecil berwarna merah di bawah kasur Selir Liu. Selir Liu menyembunyikannya dengan takut-takut. Malam itu, ada bayangan hitam terlihat melompat keluar dari jendela paviliun."

Kotak merah.

Jantung Putri Li Yuexin berdegup kencang, ini adalah petunjuk fisik. Jika kotak itu masih ada atau jika isinya diketahui oleh seseorang, itu bisa menjadi kunci untuk memahami mengapa Pangeran Jianyu begitu obsesif dengan kekuasaan. Apakah dia merasa haknya dirampas? Atau apakah dia tahu sesuatu tentang asal-usulnya yang membuatnya merasa tidak aman?

Putri Li Yuexin menutup buku harian itu. Dia perlu menemukan Nyonya Lin. Atau setidaknya, keturunannya.

"Qingyu," panggil Putri Li Yuexin pelan.

"Ya, Nona?"

"Cari tahu apakah ada keluarga bangsawan tingkat rendah dengan marga Lin yang memiliki hubungan darah dengan Selir Liu. Khususnya mereka yang tinggal di distrik selatan ibukota."

Qingyu mengangguk. "Baik Nona. Hamba akan meminta bantuan jaringan pedagang teh karena mereka tahu semua tentang silsilah keluarga-keluarga kecil."

Sementara Qingyu pergi, Putri Li Yuexin tetap duduk di perpustakaan, pikirannya bekerja keras. Tiba-tiba, langkah kaki terdengar di lorong luar. Bukan langkah ringan pelayan, tapi langkah berat dan berwibawa.

Pintu perpustakaan terbuka. Masuklah seorang pria berusia awal tiga puluhan, mengenakan jubah ungu kerajaan dengan sulaman naga emas. Wajahnya tampan, namun dingin dan arogan. Matanya tajam, mengamati Putri Li Yuexin dengan rasa ingin tahu yang berbahaya.

Pangeran Jianyu.

Putra Selir Rong. Pria yang ambisinya telah menjatuhkan ibunya sendiri ke dalam Istana Terlarang.

Putri Li Yuexin tidak panik. Dia perlahan menutup gulungan di tangannya, lalu berdiri dan membungkuk hormat dengan sempurna. "Hamba menghormat pada Kakak Pangeran."

Pangeran Jianyu tersenyum tipis, senyuman yang tidak mencapai matanya. Dia berjalan mendekat, langkahnya santai namun mengintimidasi. "Adik Yuexin. Aku tidak akan pernah menyangka akan menemukanmu di sini. Bukankah kau seharusnya sibuk merayakan kejatuhan ibu selirmu?"

Nada suaranya penuh sindiran, dia menyalahkan Putri Li Yuexin atas jatuhnya Selir Rong. Meski secara teknis, bukti-bukti itulah yang menjatuhkannya.

"Saya hanya melakukan kewajiban sebagai putri kekaisaran, Kakak," jawab Putri Li Yuexin datar, menjaga kontak mata. "Kebenaran harus ditegakkan, demi kehormatan Ayahanda Kaisar."

"Kebenaran," ulang Pangeran Jianyu, tertawa kecil. Dia mengambil sebuah gulungan dari rak terdekat, memain-mainkannya dengan jari-jari panjangnya. "Kebenaran itu relatif, Adik. Tergantung siapa yang memegang pena sejarah. Hari ini, ibuku adalah seorang pengkhianat. Besok, mungkin kau yang akan dicap demikian jika kau terlalu banyak tahu."

Ancaman terselubung, tapi Putri Li Yuexin tidak gentar.

"Jika saya memiliki rahasia Kakak, saya akan menyimpannya rapat-rapat. Seperti Kakak menyimpan rasa sakit kehilangan," balas Putri Li Yuexin berani.

Mata Pangeran Jianyu menyipit. Senyumnya menghilang. "Apa maksudmu?"

"Yang saya maksud, Kakak terlihat lelah," kata Putri Li Yuexin lembut, mengubah topik dengan halus. "Mungkin Kakak butuh istirahat. Atau... mungkin Kakak butuh jawaban atas pertanyaan yang selama ini menghantui tidur Kakak."

Pangeran Jianyu membeku. Ada kilatan ketidaknyamanan di matanya. Pertanyaan apa? Asal-usulnya? Hak warisnya?

"Kau bermain api, Yuexin," geram Pangeran Jianyu pelan. Dia melangkah lebih dekat, hingga jarak mereka hanya selebar napas. Bau parfum cendana yang mahal tercium dari tubuhnya. "Jangan coba-coba menggali masa lalu ibuku. Itu kuburan yang lebih baik dibiarkan tertutup."

"Saya tidak bermaksud menggali kuburan, Kakak," kata Putri Li Yuexin, suaranya semakin rendah, hampir seperti bisikan konspiratif. "Saya hanya berpikir... mungkin ada hal-hal yang disembunyikan dari Kakak. Hal-hal yang bisa menjelaskan mengapa nasib Kakak sekarang... berbeda dari harapan Ibu."

Pangeran Jianyu menatapnya lama. Ketegangan di antara mereka begitu padat hingga terasa sulit bernapas. Akhirnya, Pangeran Jianyu mundur selangkah. Wajahnya kembali dingin, topengnya kembali terpasang.

"Ingat peringatan ini, Adik," katanya dingin. "Orang-orang yang terlalu penasaran sering kali menemukan hal-hal yang membuat mereka menyesal telah lahir."

Dia berbalik dan berjalan pergi, jubah ungunya berkibar dramatis.

Pangeran Yuexin menghela napas lega, meski kakinya masih gemetar sedikit. Konfrontasi itu berisiko tinggi. Tapi dia berhasil menanam benih keraguan di pikiran Pangeran Jianyu.

Pangeran Jianyu sekarang akan bertanya-tanya: Apa yang diketahui oleh Putri Li Yuexin? Apakah ada rahasia lain? Dan ketika seseorang mulai ragu, mereka menjadi ceroboh.

Qingyu kembali tepat saat Pangeran Jianyu menghilang di belokan lorong. Wajahnya cemas. "Nona! Hamba melihat Pangeran Jianyu keluar. Apakah dia..."

"Dia curiga," potong Putri Li Yuexin. "Tapi itu bagus, biarkan dia curiga. Rasa takut akan membuat dia bergerak, dan gerakan akan meninggalkan jejak."

Dia memandang gulungan buku harian Nenek Gui di tangannya.

"Qingyu, kita harus menemukan Nyonya Lin sebelum Pangeran Jianyu melakukannya. Jika dia menemukan kotak merah itu terlebih dahulu, dia mungkin akan menghancurkannya. Dan kita butuh isi kotak itu untuk mematahkan argumen hak warisnya."

"Bagaimana caranya, Nona? Distrik selatan sangat luas."

Putri Li Yuexin tersenyum tipis. "Kita tidak mencarinya secara buta. Kita gunakan umpan."

"Umpan?"

"Ya. Sebarkan rumor di pasar gelap bahwa ada dokumen rahasia tentang warisan Selir Liu yang dijual oleh seorang pedagang antik di Distrik Selatan. Orang yang tertarik pasti akan datang. Dan kita akan menunggu di sana."

Ini adalah strategi berisiko. Memancing ikan besar dengan umpan kecil. Tapi Putri Li Yuexin tahu, Pangeran Jianyu adalah pria yang obsesif. Dia tidak akan bisa menahan godaan untuk mengetahui kebenaran tentang masa lalu ibu selirnya, terutama jika itu berkaitan dengan hak tahtanya.

Putri Li Yuexin melipat buku harian itu dan menyelipkannya ke dalam bajunya. Matahari mulai condong ke barat, melemparkan bayangan panjang di lantai perpustakaan.

Permainan kucing dan tikus telah berubah. Sekarang, Putri Li Yuexin bukan lagi hanya tikus yang lari. Dia adalah pemburu yang sedang memasang perangkap di tengah hutan gelap. Dan mangsanya adalah seekor naga yang terluka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!