NovelToon NovelToon
Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."

....

Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.

Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.

Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.

...

apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Sisa Bayangan

.........

...Cerita ini Hanyalah Fiksi belaka....

...Tidak untuk ditiru....

.........

...Happy Reading...

.........

Dinding-dinding beton sel  masih terasa sedingin es, namun atmosfer di dalamnya kini dipenuhi oleh kasak-kusuk yang meresahkan. Kehilangan sosok Marysa secara mendadak dari ruangan itu meninggalkan lubang besar yang memicu paranoia bagi mereka yang ditinggalkan.

Chae-won duduk di tepi ranjang utamanya, meremas jemarinya yang gempal dengan cemas. Matanya yang biasanya memancarkan keangkuhan seorang penguasa sel kini tampak gelisah, terus-menerus menatap ke arah pintu besi yang beberapa hari lalu sempat jebol sistem elektroniknya.

Ada satu rahasia yang selama ini dia simpan sendiri di dalam kepalanya, sebuah ingatan samar yang terus-menerus mengusik ketenangannya sejak malam pelarian itu terjadi.

Memang benar, malam itu Chae-won tertidur sangat lelap setelah kelelahan menyiksa Marysa di aula bimbingan. Namun, jika dia tidak salah mengingat, ada satu momen di sepertiga malam di mana dia sempat terbangun sesaat karena otot lehernya menggeliat kaku. Dalam kondisi setengah sadar dan mata yang baru terbuka segaris, Chae-won bersumpah dia melihat sekelebat bayangan ramping bergerak sangat halus menembus jeruji besi yang terbuka. Bayangan itu mirip sekali dengan postur tubuh Marysa.

"Eh, kamu beneran tidak mendengar apa-apa malam itu?" Chae-won mendadak berbisik, menyenggol lengan teman selnya, seorang tahanan kasus penipuan bernama Min-ah yang sedang melipat selimut usang.

Min-ah menoleh, dahinya berkerut bingung. "mendengar apa? malam itu kita semua tidur. pagi-pagi bangun, tahu-tahu si Marysa sudah tidak ada di kasurnya, terus sirine penjara bunyi keras banget."

"Aku serius, Min-ah," Chae-won mendekatkan wajahnya, suaranya semakin merendah hingga nyaris menyatu dengan desis uap angin. "Waktu malam itu aku sempat menggeliat waktu tidur. Terus kalau tidak salah... aku seperti melihat bayangan Marysa jalan keluar sel. Tapi waktu itu kupikir aku cuma mimpi karena saking capeknya. Sekarang kalau dipikir-pikir, itu aneh banget, kan? Bagaimana bisa seorang Marysa kabur dari penjara kelas kakap kayak Cheongju ini tanpa memicu satu pun alarm? Dia itu manusia atau setan?"

Min-ah menghentikan aktivitasnya, ikut merinding mendengar ucapan Chae-won. "Hush, jangan ngomong sembarangan. Tapi memang benar sih, penjara ini kan dijaga ketat banget. CCTV di mana-mana. Kalau dia bisa keluar gitu aja, berarti ada orang dalam yang bantu, atau emang otak mafianya itu terlalu pintar untuk kita."

Chae-won terdiam, bulu kuduknya meremang. Rasa takut yang terlambat kini mulai menggerogoti dadanya. Jika Marysa yang kejam itu bisa keluar dari tempat ini dengan begitu mudah, artinya kehidupan Chae-won di luar penjara nanti tidak akan pernah aman. Sang ratu mafia bisa datang kapan saja untuk menuntut balas atas setiap pukulan yang pernah bersarang di perutnya.

...

Di belahan bumi lain, pagi hari di Seoul berjalan.

Kapten Herry berdiri di koridor atas ruang pengawasan tahanan sementara di Markas Besar Kepolisian Metropolitan Seoul. Kedua tangannya bertumpu pada pembatas besi, sepasang mata jelaganya menatap lurus ke bawah, mengawasi barisan tahanan kasus narkotika yang sedang digiring oleh para petugas berpakaian taktis.

Sejak pukul tujuh pagi, Herry sengaja melibatkan diri dalam rutinitas pengawasan ini. Dia membutuhkan pengalih perhatian murni untuk menekan rasa bergejolak di dalam dadanya. Namun, usahanya gagal total. Setiap kali dia menatap jeruji besi di bawah sana, wajah Marysa dengan senyuman dinginnya selalu melintas, mengacaukan konsentrasinya.

Sesuai dengan rencana yang dia susun semalam, Herry hanya akan bertahan di pos pengawasan ini hingga menjelang siang. Begitu waktu senggangnya tiba sebelum rapat koordinasi dia akan langsung bergerak diam-diam. Dia harus mencari tahu soal bayangan masa lalu dan suara misterius Marysa yang terus-menerus menghantui tidurnya. Tempat kejadian perkara di Pelabuhan Incheon lima tahun lalu adalah titik awal yang mutlak harus dia datangi sendirian, tanpa boleh diketahui oleh satu pun rekan kerjanya.

...

Ribuan mil di selatan, terik matahari Jakarta mulai membakar aspal jalur lingkar luar Jakarta Utara. Udara yang lembap dan pekat oleh asap knalpot membuat suasana kerja terasa begitu menyesakkan bagi siapa saja yang tidak terbiasa dengan iklim tropis.

Tania Sae Ning terus mengayunkan sapu lidinya dengan ritme yang stabil. Keringatnya mengucur deras dari balik dahi dan lehernya, hingga membuat coretan arang di pipinya luntur membentuk garis-garis hitam yang acak. Baju seragam oranye kusam yang dia kenakan kini telah menempel ketat pada kulit punggungnya akibat basah oleh keringat.

Meski tubuhnya terasa sangat lelah dan napasnya tersengal, Tania menolak untuk berhenti. Setiap gesekan sapu lidinya di atas aspal seolah menjadi pelampiasan atas emosi gelap yang dia pendam dalam-dalam.

Di dekatnya, berjarak sekitar tiga meter, Rangga juga sedang sibuk membersihkan sampah plastik di trotoar. Namun, entah untuk alasan apa, gerakan tangan Rangga perlahan melambat. Pandangan matanya mendadak terlempar ke arah Tania.

Rangga memperhatikan bagaimana wanita itu menyeka keringat di lehernya dengan gerakan tangan yang kaku namun entah mengapa terlihat sangat anggun. Beberapa helai rambut cokelat terang Tania yang basah menempel di pelipisnya, membingkai wajah kusam berlumur arang itu menjadi sesuatu yang sangat menawan di bawah siraman cahaya matahari terik. Aura dingin dan misterius yang memancar dari sepasang mata kelam Tania justru membuatnya terlihat berbeda dari semua wanita yang pernah Rangga temui di jalanan Jakarta.

Deg.

Jantung Rangga mendadak berdegup dengan ritme yang tidak biasa. Sebuah sensasi hangat yang asing merayap di dalam dadanya, membuat pria jangkung itu mematung di tempatnya berdiri. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya sebagai seorang playboy kelas kakap yang biasa berganti pasangan tanpa melibatkan perasaan, Rangga dibuat tersipu murni hanya karena menatap seorang wanita yang sedang mandi keringat di pinggir jalan.

Ngomong-ngomong nanti malam Rangga kefikiran untuk mengajak Tania ke Pasar malam. Yah siapa tahu mau.

Wajah Rangga memerah seketika. Sadar akan keanehan yang terjadi pada dirinya, dia langsung memalingkan muka dengan cepat ke arah sebaliknya.

Plak! Plak!

Rangga menepuk kedua pipinya sendiri dengan cukup keras menggunakan telapak tangannya, memicu rasa perih yang mengejutkan dirinya sendiri.

"Nggak, nggak mungkin... apa-apaan sih kamu ini, Ngga!" bisik Rangga pada dirinya sendiri, suaranya terdengar panik dan medok. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, mencoba mengusir debaran aneh di dadanya. "Ingat, Ngga, kamu itu cuma suka bersenang-senang! Gak ada ceritanya jatuh cinta sama rekan kerja, apalagi yang galak kayak es batu begini. Gak mungkin, gak mungkin!"

Rangga mencoba merasionalkan perasaannya. Bagi pria seperti dirinya, cinta adalah sebuah belenggu yang menakutkan, sesuatu yang sebisa mungkin dia hindari demi mempertahankan kebebasannya untuk menggoda setiap gadis. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa kagumnya pada Tania hanyalah karena wanita itu memiliki paras yang cantik di atas rata-rata, tidak lebih dari itu.

Tania yang sempat mendengar suara tepukan keras dari arah samping, menolehkan kepalanya sejenak. Dia menatap Rangga dengan sepasang alis yang menyengkit, merasa aneh dengan perilaku pria itu yang tiba-tiba memukul pipinya sendiri di tengah jalan. Namun, karena tidak ingin membuang energi untuk hal yang tidak penting, Tania kembali memalingkan mukanya dan melanjutkan pekerjaannya dalam diam.

di bawah terik matahari Jakarta.

...

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like nya 😇

1
falea sezi
sebel liat kapten sok ganteng gk tau diri😒
falea sezi
moga aja ma rangga aja
falea sezi
gantengnya mas rangga🤣 ma rangga aja lahh biar miskin bukan tunangan orang yg gk tau Terima kasih😒
falea sezi
lanjut donk bkin si neng di taksir cogan 😒 sebel liat polisi sok cakep uda nikah aja ma anak komandan mu itu🤣 abis itu ingatan balik nyesel lu pria g tau diri🤭
falea sezi
nikah aja sana 😒 biar si neng ma cogan di Indonesia aja🤭
falea sezi
😕 nyesek amat sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!