Melia Seng cuma mau satu hal: hidup tenang.
Tapi nasib berkata lain. Satu kecelakaan aneh membuatnya terbangun di ranjang king-size milik Raymon Kei — CEO KeiTech Group, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Kabar buruknya? Dia sekarang resmi jadi *istri kontrak* pria ini. Kabar lebih buruknya? Dia juga otomatis jadi *ibu tiri* dari Shawn Kei, remaja 17 tahun yang membencinya sejak detik pertama.
Aturan kontraknya sederhana:
Berpura-pura jadi istri sempurna. Tidak boleh jatuh cinta. Cerai setelah nenek besar meninggal. Bayaran: Rp 50 juta per bulan.
Masalahnya? Saldo rekening Melia cuma **Rp 0,5** — karena kakaknya sendiri sudah menguras semuanya. Mansion 8 kamar tidur, tapi dompet kosong. Istri konglomerat di atas kertas, tapi lebih miskin dari asisten rumah tangga.
Jadi Melia memutuskan: kalau mau bertahan, harus bangun kerajaannya sendiri.
Dari toko bunga kecil bernama **Bloomé** yang hampir bangkrut, sampai brand premium **Once & Forever** yang bikin heboh seluruh Jakarta — Melia membuktikan bahwa dia bukan sekadar "istri pajangan."
Tapi yang tidak dia duga...
Raymon yang katanya dingin dan tidak peduli, diam-diam memesan 200 tangkai mawar untuk studio barunya. Raymon yang katanya cuma "menjalankan kontrak," tiba-tiba bilang: *"Yang penting bukan makannya. Yang penting kamu yang mengajak."*
Dan Shawn — anak tiri yang tadinya memasang musik metal keras-keras supaya Melia pergi — pelan-pelan mulai menaruh satu porsi sarapan ekstra di meja makan.
Kontraknya bilang: *jangan cinta*.
Hatinya bilang: *sudah terlambat*.
Dan ketika rahasia besar tentang masa lalu Melia, keluarga Tjiang, dan seorang nenek yang pernah dia selamatkan 22 tahun lalu mulai terungkap — semua orang baru sadar: pernikahan ini bukan kebetulan. Ini takdir yang menunggu dua dekade untuk terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Gosip "Selingkuh" Meledak
Winny tidak langsung melempar foto itu ke grup.
Orang seperti dia paham bahwa gosip yang baik harus diberi aroma tidak sengaja.
Malam itu, ia mengirim foto Raymon dan dokter perempuan dari klinik Dr. Jiang ke beberapa chat pribadi. Kalimatnya dibuat penuh kepedulian palsu.
Winny: Aku sebenarnya nggak enak kirim ini.
Winny: Tapi kasihan Bu Melia, kan? Baru mau buka usaha, suami malah begini.
Winny: Jangan disebar ya. Aku cuma khawatir.
Tentu saja, ketika seseorang menulis jangan disebar, artinya foto itu sudah siap berkeliling.
Winny juga sengaja mengirim satu pesan ke grup besar lalu menariknya kurang dari lima detik kemudian.
Bu Winny: Aduh maaf, salah kirim.
Lima detik di grup ibu-ibu cukup untuk melahirkan dua puluh screenshot.
Tidak ada yang lebih rajin dari orang yang merasa baru saja melihat rahasia orang kaya.
Keesokan paginya, seluruh cluster tahu.
CEO KeiTech diduga selingkuh.
Nyonya Kei yang baru viral dengan gaun merah ternyata diselingkuhi.
Wanita misterius itu dokter? Sekretaris? Investor? Atau cinta lama?
Di grup yoga pagi, orang membahasnya sambil peregangan. Di parkiran mini market cluster, dua ibu pura-pura memilih buah sambil memperbesar foto. Bahkan petugas keamanan yang biasanya tidak ikut urusan majikan sempat saling melirik ketika mobil Kei Mansion lewat.
Nama Raymon terlalu besar.
Nama Nyonya Kei terlalu baru.
Kombinasi keduanya membuat rumor itu terasa seperti drama gratis dengan pemain konglomerat.
Aku sedang memeriksa daftar member awal Bloome sambil makan popcorn ketika pesan Selena masuk bertubi-tubi.
Selena: Lia.
Selena: Jangan buka grup dulu kalau belum siap.
Selena: Atau buka, tapi sambil duduk.
Aku membuka grup.
Lalu melihat foto itu.
Aku mengunyah popcorn perlahan.
Ini gosip... tentang keluargaku?
Foto itu memang mudah disalahpahami.
Raymon berdiri di bawah hujan, tubuhnya sedikit condong, tangannya menahan lengan seorang wanita muda. Pintu mobil terbuka. Cahaya lobi membuat wajah wanita itu terlihat pucat dan rapuh, sementara wajah Raymon tetap dingin seperti biasa.
Kalau aku tidak tahu Raymon, mungkin aku juga akan berpikir macam-macam.
Masalahnya, aku mulai tahu Raymon.
Pria itu bahkan saat memberi tom yam saja terlihat seperti menandatangani keputusan penting. Membayangkan dia berselingkuh di lobi umum dengan gaya seterbuka itu terasa terlalu tidak efisien untuk kepribadiannya.
Rasanya aneh. Secara kontrak, aku tidak punya hak untuk marah seperti istri sungguhan. Secara publik, aku harus bersikap seperti istri yang terluka. Secara pribadi, aku justru lebih penasaran kenapa Raymon bertemu orang klinik tanpa memberitahuku.
Bukan cemburu.
Mungkin.
Aku belum selesai memutuskan ekspresi, beberapa ibu-ibu sudah mengirim chat pribadi.
Bu Lanny: Bu Melia, kalau perlu kami temani bicara, bilang ya.
Nyonya Sun: Mau main mahjong nanti? Biar pikiran tenang.
Selena: Kalau butuh hajar orang, aku punya sepatu hak tinggi.
Aku hampir tertawa.
Untuk menjaga peran, aku membalas dengan kalimat yang cukup samar.
Melia: Terima kasih perhatian semuanya. Aku akan bicara dengan Raymon dulu.
Kalimat itu langsung memancing simpati baru.
Pak Ahin datang membawa teh sore dan melihat wajahku yang terlalu tenang.
"Bu baik-baik saja?"
"Menurut Pak Ahin, ekspresi istri yang diselingkuhi harus seperti apa?"
Nampan di tangannya nyaris miring.
"Bu..."
"Tenang. Aku sedang latihan akting sosial."
Pak Ahin tampak tidak lebih tenang.
"Pak Ray tidak mungkin melakukan hal seperti itu," katanya akhirnya.
Aku menatapnya.
Nada Pak Ahin tidak keras, tapi sangat yakin. Orang yang sudah bertahun-tahun mengurus rumah ini jelas lebih mengenal Raymon daripada para pemilik akun gosip.
"Aku tahu," kataku.
Dan saat mengucapkannya, aku sadar aku benar-benar percaya.
Itu sedikit menakutkan.
Di rumah Winny, suasana berbeda.
Winny mondar-mandir di kamar, merasa menang. Ia mengirim foto itu pada suaminya, Tuan Ong, sambil berkata, "Lihat, aku punya bahan. Kemarin dia berani mempermalukanku di grup."
Tuan Ong tidak ikut tertawa.
Wajahnya justru pucat.
"Kamu menyebarkan foto Pak Kei?"
"Aku cuma..."
"Perusahaanku sedang negosiasi sistem dengan KeiTech!"
Winny terdiam.
"Kamu tahu berapa nilai kontraknya? Kamu tahu satu kalimat dari Raymon Kei bisa membuat proyek itu hilang?"
"Tapi istrinya yang mulai..."
"Diam!" Tuan Ong membentak. "Tarik semua pesanmu."
"Sudah menyebar."
Kalimat itu membuat ruangan seperti kehilangan udara.
Tuan Ong segera mencari nomor Raymon. Ia menelepon malam itu juga, berkali-kali, sampai akhirnya tersambung ke Bayu.
Bayu meneruskan panggilan setelah mendengar kata maaf lebih dari tiga kali.
Raymon sedang di luar negeri, baru selesai rapat. Ketika mendengar suara panik Tuan Ong, matanya perlahan menjadi dingin.
"Masalah apa?"
Tuan Ong menjelaskan dengan terbata-bata. Foto. Grup perumahan. Gosip selingkuh. Nama Melia.
Di ujung sana, Raymon tidak memotong.
Justru karena tidak dipotong, Tuan Ong semakin takut.
Setelah penjelasan selesai, Raymon hanya berkata, "Kirim semua tangkapan layar ke Bayu."
"Pak Kei, saya sungguh minta maaf. Istri saya..."
"Saya tidak sedang bicara tentang istri Anda."
Suara Raymon rendah.
"Saya sedang bicara tentang istri saya."
Panggilan berakhir.
Bayu yang berdiri tidak jauh langsung membuka jadwal penerbangan.
"Pak, penerbangan paling cepat ke Jakarta..."
"Pesan."
"Untuk besok pagi?"
"Malam ini."
Bayu tidak bertanya lagi. Ia hanya menunduk dan mulai mengatur ulang jadwal, membatalkan dua pertemuan pagi, memindahkan satu video conference, dan meminta sopir standby di bandara.
Sebelum keluar ruangan, ia sempat berkata, "Pak, Bu Melia belum menghubungi."
Raymon menatap layar ponsel.
Tidak ada pesan dariku.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada kemarahan.
Justru itu membuat dadanya terasa lebih berat.
Jika aku marah, ia bisa menjelaskan. Jika aku bertanya, ia bisa menjawab. Tapi jika aku diam karena merasa tidak punya hak sebagai istri kontrak, sesuatu di dalam dirinya menolak dengan keras.
"Kirimkan juga klarifikasi dari klinik Dr. Jiang," katanya.
"Baik, Pak."
Raymon menatap foto yang dikirim Tuan Ong. Di sana, karena sudut yang sengaja dipilih, hanya terlihat ia menahan lengan dokter perempuan dari klinik Dr. Jiang.
Melia pasti sudah melihatnya.
Entah kenapa, pikiran itu membuat dingin di matanya semakin tajam.
Ia membuka ruang chat denganku.
Kursor berkedip di kolom pesan.
Raymon mengetik: Itu salah paham.
Lalu menghapusnya.
Penjelasan lewat chat terasa terlalu tipis untuk rumor yang sudah menyeret namaku ke mulut orang banyak. Jika gosip itu meledak di depan umum, maka ia juga harus menghentikannya di depan umum.
Untuk pertama kalinya malam itu, jadwal bisnis tidak lagi menjadi prioritas pertamanya.
Yang harus ia pulihkan lebih dulu adalah nama Melia.
Beberapa menit kemudian, tiket pulang sudah dipesan.
Jakarta belum tahu badai kecil sedang terbang pulang.