NovelToon NovelToon
Benang Merah Arka

Benang Merah Arka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Xora'

Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Terang

...----------------...

"Gue... gue hamil, Ka. Gue hamil anak lu."

Kata kata dari Astrid malam itu bener-bener membuat aku sangat terkejut. Badanku kaku seketika, dan rasanya ada batu besar yang mendadak menghantam dada aku sampai sesak.

Tapi, bukannya berpikir jernih, otak aku langsung dikuasai rasa panik yang luar biasa. Detik itu juga, aku langsung menyangkal pernyataan dari Astrid. Ego dan kesombongan ku sebagai orang yang kaya raya berasal dari keluarga bermartabat mendadak keluar begitu saja demi melindungi diri.

"Gak, gak, gak Gak mungkin! Lu pasti mau ngejebak gue, kan?" ucap aku yang panik dengan berekspresi wajah khas Albian dingin, meremehkan, dan penuh penolakan.

Aku menatapnya tajam, rasa takut di dalam diriku berubah menjadi amarah yang meledak ledak. "Kita cuma ngelakuin itu sekali, mana mungkin bisa langsung hamil?! Lu tuh emang cewek jalanan murahan yang mau nuduh gue biar bisa dapetin harta gue, kan? Jawab Strid" ucap aku yang emosi dengan nada yang agak tinggi.

Suara aku yang meninggi di tengah keheningan malam itu langsung memecah atmosfer kafe. Orang orang di sekitar mulai menoleh, memperhatikan aku dan Astrid karena kegaduhan yang aku buat. Beberapa pelayan bahkan sempat melirik dengan pandangan terganggu.

Namun, mendengar kata-kata kejam yang keluar dari mulutku, Astrid sama sekali tidak marah. Dia tidak membalas makianku, tidak pula berteriak membela diri. Astrid hanya diam membisu. Detik berikutnya, dia merogoh tasnya, lalu mengeluarkan selembar surat keterangan kehamilan resmi dari dokter dan meletakkannya di atas meja, tepat di depan mataku. Bersamaan dengan itu, air matanya perlahan menetes membasahi pipinya.

Pikiran ku yang tadinya dipenuhi emosi yang membara dan amarah mendadak berhenti total sampai aku melihat Astrid tidak melawan sedikit pun. Dia hanya memberikan surat kehamilannya kepadaku tanpa kata pembelaan.

Melihat Astrid yang meneteskan air mata tanpa ada suara tangisan sedikit pun dari mulutnya membuat aku tersadar akan ucapan jahat ku kepada Astrid barusan. Lidah ku mendadak kaku. Kata kata "cewek murahan" dan "incar harta" yang aku lontarkan tadi langsung berbalik menusuk ulu hati ku sendiri. Aku hanya bisa terdiam meratapi kesalahan ku, menatap surat dokter itu dengan tangan yang mendadak lemas.

Astrid mengusap air matanya yang terus mengalir dengan punggung tangannya, lalu berkata, "Ukhhh... ini surat kehamilan gue dari dokter," ucap Astrid dengan suara pelan yang bergetar seperti orang menangis menahan sesak di dada.

Dia menarik napas pendek, lalu menatap aku dengan mata yang sangat terluka. "Gue cuma baru ngomong segitu aja udah keluar semua ucapan jahat lu. Atau mungkin... belum semuanya keluar dari mulut lu? Hebat ya. Emang bener ya, orang kalangan bawah kayak gue emang gak pantas dihargai sama orang kalangan atas kayak lu."

"Gue... gue gak minta buat dinikahin sama lu, Ka. Gue juga gak minta harta lu, atau tanggung jawab dari lu. Enggak, enggak... gue gak minta semua itu, Ka Gue gak serendah yang lu pikir," ucap Astrid yang air matanya masih mengalir deras.

"Gue cuma mau lu tahu, kalau yang lagi gue kandung saat ini... itu anak lu. Gue berani, gue siap tes DNA nanti kalau anak ini udah lahir. Dan kalau ternyata hasil tesnya membuktikan ini bukan anak lu... gue ikhlas masuk penjara dengan alasan pencemaran nama baik lu. Gue berani jamin itu."

Aku hanya bisa terdiam seribu bahasa saat ini. Di bawah lampu kafe yang berwarna kuning, malam ini aku tersadar... aku adalah seorang pecundang sejati yang sudah menghancurkan dan menyakiti hati seorang wanita, sekaligus seorang pria penakut yang berusaha lari dari masalahnya.

"Sebenernya masih banyak hal yang harus gue omongin sama lu, Ka. Tapi rasanya... sekarang bukan waktu yang tepat. Udah malem, terus juga temen gue masih nunggu di sana dari tadi. Makasih banyak buat traktirannya ya, Ka," ucap Astrid sambil mengusap sisa air matanya dan mulai membereskan barang-barangnya ke dalam tas.

Saat Astrid berdiri dari kursinya dan beranjak pergi meninggalkan meja, insting aku bergerak lebih cepat dari pikiran aku. Aku langsung memegang dan menarik lengan Astrid dengan gerakan tertahan.

"Maaf... gue mohon jangan pergi dulu, Strid. Ceritain lebih lanjut malam ini. Gue mau denger semuanya," ucap aku dengan nada suara yang sudah berubah pelan, tenang, dan memohon.

Astrid menoleh, menatap tangan aku yang memegang lengannya, lalu menggeleng pelan. "Gak bisa, Ka. Temen gue udah nungguin gue di sana terlalu lama," ucap Astrid yang mencoba melepaskan pegangan tangan aku.

Tanpa berpikir lama-lama lagi, aku langsung melangkah lebar keluar dari kafe, mengabaikan pandangan orang-orang. Aku berjalan cepat menghampiri mobil hitam SUV yang dikendarai oleh Astrid dan temannya barusan yang terparkir di area depan kafe. Aku langsung mengetuk pintu kaca kemudi mobil itu.

Tok tok tok

Kaca mobil perlahan diturunkan, menampakkan seorang pria berkacamata yang raut wajahnya kelihatan bingung sekaligus bosan karena menunggu.

"Bro, makasih ya udah anterin Astrid ke sini, terus juga makasih udah mau nungguin dia dari tadi. Sekarang lu pulang aja. Astrid biar pulang sama gue," ucap aku secara sepihak dengan nada yang gak mau dibantah.

Pria berkacamata itu langsung mengernyitkan dahi, wajahnya berubah kesal. "Loh? Maksud lu apa ya? Gak bisa gitu dong, main bawa bawa orang aja. Gue yang jemput dia dari rumah."

Tanpa basa basi dan malas berdebat, aku langsung merogoh dompet, mengambil seikat uang tunai senilai 1 juta rupiah, lalu kulemparkan begitu saja ke dalam mobil lewat jendela.

"Wooyy! Konyol si lu! Maksud lu apa melempar uang kayak gini?!" ucap teman Astrid yang mendadak marah besar, lalu dia langsung membuka pintu dan keluar dari mobil karena merasa direndahkan.

Tapi aku sama sekali tidak mempedulikan temannya Astrid itu. Aku langsung berbalik berjalan ke arah mobilku sendiri sambil menarik lengan Astrid dengan erat agar dia ikut denganku.

Astrid yang melihat ketegangan itu langsung menoleh ke arah temannya yang masih emosi di belakang. "Kak Raka... makasih ya udah anterin Astrid sampai sini. Sekarang Kak Raka pulang aja dulu gak apa-apa, Astrid pulang sama Arka," ucap Astrid setengah berteriak di tengah langkahnya yang ditarik lengannya oleh aku.

Teman pria yang bersama dengan Astrid itu ternyata bernama Raka. Mendengar teriakan Astrid, Raka akhirnya cuma bisa menghela napas berat pada malam itu, menahan amarahnya dan memilih masuk kembali ke dalam mobilnya.

...****************...

Aku membawa Astrid masuk ke dalam mobilku, menyalakan mesin, lalu segera melaju membelah jalanan malam kota Jakarta menuju arah rumahnya. Di dalam mobil, suasana awalnya terasa sangat kaku dan sunyi.

"Btw... ini gue gak lagi diculik, kan?" ucap Astrid dengan nada bercanda yang tipis.

Aku menoleh sekilas ke arahnya dengan dahi berkerut. Aku bener bener gak habis pikir. Bisa bisanya dia masih bisa bercanda dengan santai setelah beberapa menit lalu dia memasang wajah yang sangat sedih dan menangis di depan aku.

"Ya iyalah. Sambil jalan ke rumah lu, sambil lu selesain omongan lu yang terpotong barusan di kafe," ucap aku dengan nada serius sambil fokus menyetir.

Seketika, atmosfer di dalam mobil kembali berubah menjadi serius, hening, dan menegangkan. Astrid menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap kosong lampu-lampu jalanan di luar kaca mobil.

"Nyokap gue... dia adalah keluarga satu-satunya yang gue miliki di dunia ini, Ka. Tapi sayang... beliau meninggal gara-gara gue," ucap Astrid dengan suara pelan dan tatapan kosong yang amat memilukan.

Mendengar kalimat itu, jantung aku rasanya berdegup aneh. "Maksud lu gimana, Strid? Meninggal gara-gara lu?" ucap aku yang merasa aneh sekaligus penasaran.

Astrid menarik napasnya dalam-dalam, membawa ingatannya mundur ke belakang.

......................

Waktu beralih pada tanggal 18 Juni malam hari, tepat saat acara pesta meriah ulang tahun Arka sedang berlangsung, namun fokus kejadian ini berada di rumah Astrid.

Malam hari setelah Astrid didera rasa gelisah seharian, setelah Astrid memberanikan diri mencoba alat testpack nya di kamar mandi. Begitu melihat dua garis merah yang tegas, seluruh tubuhnya lemas. Dengan sisa keberanian yang ada, Astrid berusaha untuk jujur kepada ibunya saat mereka berdua sedang duduk bersama menikmati makan malam sederhana di meja makan.

Saat sedang mengunyah makanannya, Astrid meletakkan sendoknya perlahan, berusaha untuk membuka obrolan yang sejak tadi mengganjal di tenggorokannya. "Mah... Astrid mau ngomong sesuatu sama Mama. Tapi... Mama jangan marah ya sama Astrid."

Ibu Astrid tersenyum lembut, masih sibuk mengambil lauk. "Ngomong aja, emang kamu mau ngomong apa sih, Nak? Kamu mau kerja sambil kuliah? Kan udah Mama izinin kemarin kalau kamu mau kerja sambil kuliah. Tapi, kalau kamu mau kerja aja tanpa kuliah, Mama gak izi—"

"Astrid hamil, Mah," potong Astrid dengan nada ragu dan suara yang bergetar.

Mendengar kalimat itu, gerakan tangan Ibu Astrid mendadak terhenti di udara. "Hah? Apa, Astrid? Mama gak denger."

"Astrid hamil, Mah..." ucap Astrid sekali lagi, kali ini suaranya nyaris berbisik sambil dia menundukkan kepalanya dalam dalam, gak berani menatap mata ibunya.

Suasana ruang makan mendadak hening sejenak, sebelum akhirnya Ibu Astrid memaksakan tawa kecil. "Ha... Hahaha Kamu ini ada ada aja, jangan bercanda ah, Astrid. Udah, makan lagi yang banyak itu nasi kamu. Kamu itu kecapean kerja, makanya ngelantur ngomongnya." Ibu Astrid berusaha menepis kenyataan itu, menganggap kalau anak gadisnya cuma sedang bergurau.

Tanpa mengucapkan kata lagi, Astrid dengan tangan gemetar mengeluarkan testpack dari balik kantong bajunya, lalu menunjukkannya di atas meja sebuah benda plastik kecil yang bergaris dua.

Seketika itu juga, Ibu Astrid langsung terdiam membeku. Wajahnya berubah pucat pasi. Dengan tangan yang ikut bergetar, beliau mengambil testpack itu. Setelah beberapa saat diamati dengan tatapan tidak percaya, Ibu Astrid langsung berdiri dari bangku makannya. Beliau berjalan bolak-balik di sekitar ruang makan sambil memegangi kepala dan pinggangnya, seakan akan otaknya menolak mempercayai kelakuan anak perempuan semata wayangnya yang selama ini dikenal penurut.

Saking sedih dan kecewanya yang teramat sangat, Ibu Astrid bahkan tidak bisa berkata-kata lagi. Jangankan memaki, mengeluarkan air mata pun beliau tidak bisa karena rasa shock yang terlalu dahsyat.

Sampai ketika di tengah langkah paniknya, wajah Ibu Astrid mendadak meringis kesakitan. Beliau dengan erat memegang dadanya yang terasa sesak luar biasa. Tampaknya, penyakit jantung yang selama ini diidap oleh Ibu Astrid mendadak kambuh akibat tekanan mental itu. Tubuh mama Astrid perlahan kehilangan keseimbangan dan langsung roboh menghantam lantai rumah.

"Mah?! Mah?! Mama!! Mama kenapa, Mah?!" teriak Astrid yang langsung panik setengah mati, merosot ke lantai memeluk tubuh ibunya yang sudah pingsan.

......................

Kembali ke masa kini, di dalam keheningan kabin mobil yang terus melaju.

Setelah aku mendengar seluruh cerita memilukan dari Astrid, aku hanya bisa terdiam membisu seribu bahasa. Dada aku terasa sesak, dipenuhi rasa bersalah yang teramat sangat. Di sepanjang jalanan, sering kali aku mencuri-curi pandang ke arah Astrid yang kini menyandarkan kepalanya lemas di kaca mobil.

"Maaf..." ucap aku dengan nada suara yang sarat akan rasa menyesal yang mendalam sambil terus menggenggam setir mobil.

Astrid menoleh sedikit ke arah aku, matanya sayu. "Maaf... maaf kenapa?"

"Maaf... karena kelakuan egois gue waktu itu, nasib lu dan hidup lu jadi hancur begini," ucap aku, mengakui kesalahan aku dengan tulus.

Astrid terdiam beberapa detik, menatap aku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jadi... lu... lu sekarang percaya kalau yang ada di dalam kandungan gue saat ini... itu beneran anak lu?" tanya Astrid dengan nada ragu dan ketakutan, seakan akan dia takut kalau aku akan mendadak marah lagi kayak di kafe tadi.

Aku menarik napas panjang, membuangnya perlahan demi menenangkan gejolak di dadaku. Lalu, dengan nada yang lebih santai, aku berkata, "Sebenernya... secara logika, gue gak mau percaya sama ucapan lu, Strid. Tapi.. entah kenapa, jiwa gue seolah olah menolak bohong, dan nerima kalau yang ada di perut lu itu emang anak gue."

Mendengar pengakuan secara tak langsung dari mulut aku, perlahan garis kesedihan di wajah Astrid memudar. Dia menatap aku, lalu sebuah senyuman tipis yang tulus menghiasi bibirnya.

Untuk mencairkan suasana yang sempat terasa sangat berat, aku berdeham pelan lalu kembali membuka suara. "Cuma itu aja yang mau lu jelasin?" tanya aku memecah keheningan jalanan malam.

Astrid memandangkan wajahnya lurus ke arahku, menatap samping wajahku yang sedang fokus menyetir. "Bukan, gak cuma itu aja. Gue punya rencana lain selain ngasih tahu tentang kehamilan gue ke lu," ucap Astrid.

Mendengar kalimatnya, aku mendadak jadi sangat penasaran. Aku meliriknya sekilas sebelum kembali menatap jalanan di depan. "Rencana apa?"

Astrid menarik napas dalam-dalam, tangannya perlahan turun untuk memegang perutnya yang sudah mulai membesar. "Gue berencana mau ngelahirin anak ini. Gue gak bakal nuntut lu buat nikahin gue, atau paksa lu akuin anak ini sebagai anak lu di depan publik. Gue juga berencana mau ngerawat anak ini sendirian."

Aku tersentak, dahi aku berkerut dalam mendengarnya.

"Tenang aja, Ka. Gue gak bakal bilang ke siapa siapa kalau anak ini sebenarnya anak dari Arka Albian. Nama baik keluarga lu bakal tetep aman," lanjut Astrid dengan nada suara yang terdengar begitu tenang namun penuh ketegasan. "Tapi... gue mau lu biayain pendidikan anak ini sampai dia lulus kuliah nanti. Cuma itu."

Aku yang mendengar pernyataan itu bener bener cukup terkejut. Kalimat Astrid barusan terasa seperti hantaman keras yang membuat konsentrasi menyetirku hampir buyar. Aku langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan tidak percaya.

"Lu gila ya, Strid? Lu mau besarin anak ini sendirian?!" tanya aku dengan suara yang naik karena saking terkejutnya. "Umur lu aja belum genap 20 tahun, lu kan seumuran sama gue! Lu gila, Strid. Kalau masalah uang sekolah atau materi, gue bisa ngasih itu ke lu. Tapi gue bener bener gak habis pikir sama jalan pikiran lu yang berani banget mau ngerawat anak ini sendirian, sedangkan lu sendiri aja sebenarnya masih anak anak!"

Mendengar nada kepanikan dan rasa khawatir yang keluar dari mulut aku, Astrid bukannya sedih atau tersinggung. Di luar dugaan, dia malah tertawa kecil. Sebuah tawa renyah yang terdengar sangat kontras dengan situasi menegangkan yang sedang kami hadapi saat ini.

"Kenapa lu malah ketawa? Ada yang lucu?" tanya aku, bener-bener heran melihat reaksinya.

Astrid meredakan tawanya, lalu menggeleng pelan sambil menatap aku dengan mata yang lebih tenang. "Gak apa-apa, Ka. Cuma lucu aja lihat muka lu yang panik begitu. Gue tahu umur kita belum 20 tahun, dan gue tahu ini bakal berat banget. Tapi setelah Nyokap gak ada, gue belajar satu hal... hidup gak bakal nunggu kita siap buat jadi dewasa."

Aku hanya bisa terdiam mendengar jawabannya. Kami kembali melanjutkan obrolan panjang di dalam mobil di sepanjang perjalanan, membahas banyak hal acak untuk mengalihkan rasa tegang.

Rasa kaku di antara kami perlahan mencair. Kami berdua akhirnya menghabiskan sisa waktu perjalanan malam itu dengan saling mengobrol, rasanya hidupku ini sangat penuh misteri.

...----------------...

1
Atishaa
iiiii gregetannn bangettttt nanggung bangett minn, cepet' update dehh penasaran soalnyaaaa
Atishaa
cara buat malunya bener' di buat sejatuh'nya keren sih langsung di kuras hartanya
Atishaa
keren sih si arka ga langsung marah' malah nyari bukti dulu trus juga percaya sama kakanya coba kalo ga percaya pasti kena marah ayahnya gra' si arka mudah di bodohin cewek
darrel fadilasyah
bagus ceritanya 🔥🔥
Xora'
di baca guysss
Atishaa
kerenn rasaa keselnya juga adaaa
Cliff
/CoolGuy/
darrel fadilasyah
keren banget novelnya bikin penasaran 🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!