"The General's Captive Lady" adalah novel fiksi romantis-militer yang penuh ketegangan politik, trauma masa lalu, dan pembalasan dendam.
Claudia, seorang putri yang terbuang dan disiksa sejak kecil oleh faksi Crimson Raven. Demi menutupi ketamakan mereka, reputasi Claudia dihancurkan di mata publik hingga ia dicap sebagai wanita glamor yang buruk. Saat faksi Raven kalah perang, ia dikorbankan menjadi sandera politik dan dikirim kepada Reymond Oliver Smith, seorang panglima perang aliansi yang terkenal dingin dan kejam.
Hubungan mereka awalnya dipenuhi kebencian dan kesalahpahaman, bahkan Claudia sempat dijebloskan ke ruang bawah tanah karena fitnah dari bapaknya. Namun, jeritan trauma masa kecil Claudia di tengah sakit parah akhirnya meruntuhkan dinding es di hati Reymond. Penyelidikan rahasia pun dimulai, membongkar asal-usul Claudia yang sebenarnya sebagai pewaris sah bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Retakan pada Dinding Es
Klek.
Srek.
Reymond memutar kunci besi dan mendorong pintu berat itu terbuka. Cahaya dari obor di koridor luar segera menerobos masuk, membelah kegelapan ruangan yang pengap tersebut.
Pemandangan di dalam ruangan itu seketika membuat langkah Reymond terhenti.
Claudia tidak sedang duduk angkuh atau bersiap memasang topeng menggodanya.
Wanita itu tergeletak diam di atas lantai batu yang dingin, persis seperti pakaian hitam yang dikenakannya. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini kusut dan basah oleh keringat dingin. Rantai besi di pergelangan kakinya tampak kontras dengan kulitnya yang putih pucat.
Reymond melangkah mendekat, sepasang matanya menyipit penuh selidik.
"Bangun, Claudia. Jangan mengira sandiwara pingsan ini bisa membuatku mengeluarkanku dari sini," ujarnya dingin, suaranya menggema di ruangan berbatu itu.
Tidak ada jawaban. Tubuh Claudia bahkan tidak bergerak sedikit pun mendengar suara suaminya.
Merasa diabaikan, Reymond berjongkok di samping tubuh Cla. Ia mencengkeram bahu wanita itu untuk membalikkan tubuhnya dengan kasar. Namun, begitu telapak tangannya menyentuh kulit Claudia, Reymond langsung tersentak.
Suhu tubuh Claudia teramat panas, seolah-olah wanita itu sedang dibakar dari dalam oleh demam yang sangat panas. Napas Cla terdengar pendek, terputus-putus, dan berat.
Saat Reymond membalikkan tubuh Cla menghadap ke atas, ia bisa melihat wajah istrinya yang kini tirus dan sangat pucat.
Kedua matanya terpejam rapat, namun sudut matanya basah oleh air mata yang terus mengalir pelan. Bibirnya yang kering bergerak-gerak, menggumamkan kata-kata yang tidak jelas dalam igauan yang parau.
Claudia mendengar Rey memanggilnya namun Panas tubuhnya tidak lagi sekadar terasa di kulit—ia merasa sudah menjalar ke dalam, menekan dari dalam tubuhnya seperti api yang tak terlihat.
Napasnya memburu, tidak teratur, sementara dunia di sekelilingnya mulai bergetar pelan.
Keringat membasahi pelipisnya, menetes tanpa henti, namun anehnya rasa haus itu tidak kunjung hilang. Lututnya melemah, seolah tubuhnya perlahan kehilangan kendali.
Pandangan yang tadinya jelas kini berpendar samar. Suara-suara terdengar jauh, seperti teredam di balik lapisan panas yang menyesakkan.
Ia mencoba berdiri tegak—namun tubuhnya tak lagi sepenuhnya miliknya.
Reymond mendekatkan telinganya ke bibir Claudia untuk mendengar apa yang sedang dibisikkan oleh wanita itu di tengah ketidaksadarannya
"Ampun... Ayah... jangan di sana..." bisik Claudia dengan suara yang teramat lirih dan bergetar hebat karena ketakutan. "Sakit... jangan cambuk lagi... Cla akan patuh..."
Mendengar igauan itu, jantung Reymond mendadak berdegup aneh. Kata-kata Cla sama sekali tidak terdengar seperti kode rahasia faksi atau strategi militer. Itu adalah jeritan ketakutan dari seseorang yang sedang mengalami siksaan hebat.
Kilasan ucapan Bibi Suri tentang trauma masa lalu Claudia mendadak terngiang kembali di kepala Reymond, mulai meretakkan dinding keyakinannya yang semula keras kepala.
Igauan parau Claudia yang meratap meminta ampunan dari rasa sakit mencabik-cabik keheningan ruang bawah tanah. Kata 'cambuk' dan 'Ayah' yang lolos dari bibir pucat wanita itu terus terngiang di kepala Reymond, menghantam egonya dengan keras. Rasa benci yang selama ini mengaburkan logikanya mendadak tertahan oleh pemandangan di depan matanya: wanita di hadapannya ini sedang sekarat.
Tanpa membuang waktu lagi untuk bergelut dengan kecurigaannya, Reymond bertindak cepat.
"Kunci! Buka belenggunya sekarang!" bentak Reymond kepada penjaga yang berdiri gemetar di ambang pintu.
Penjaga itu bergegas maju, dengan tangan gemetar memasukkan kunci besi dan melepas rantai yang mengikat pergelangan kaki Claudia. Begitu bunyi denting besi terakhir terlepas, Reymond langsung menyurukkan kedua lengan kekarnya ke bawah tubuh Cla.
Dengan satu gerakan mantap, Reymond mengangkat tubuh Claudia ke dalam dekapannya. Pria itu tertegun sesaat. Tubuh istrinya terasa sangat ringan, jauh lebih ringan dari yang ia bayangkan untuk ukuran seorang putri bangsawan yang hidup mewah. Panas tubuh Cla yang ekstrem terasa membakar kulitnya melalui kain seragam militer yang dipakainya.
Reymond melangkah lebar keluar dari ruang bawah tanah, membawa Cla melewati undakan tangga batu dengan tergesa-gesa. Lorong mansion yang semula sepi mendadak tegang saat sang pemilik berjalan cepat dengan rahang mengeras, mendekap erat tubuh wanita yang beberapa hari lalu ia jebloskan sendiri ke dalam penjara.
Di dalam pelukan Reymond, tubuh Cla yang lemas sesekali tersentak kecil akibat menggigil ekstrem. Kepala Cla terkulai lemah di dada bidang Reymond. Aroma parfum menyengat yang dulu sangat dibenci Reymond kini telah hilang sama sekali, berganti dengan bau anyir keringat dingin dan keputusasaan.
"Bibi Suri! Siapkan air hangat dan handuk ke kamar utama di lantai dua! Sekarang!" seru Reymond dengan suara menggelegar saat melewati area tengah mansion.
Bibi Suri yang sedang berada di dekat koridor terlonjak kaget. Namun, begitu melihat Nona Cla berada di dekapan Tuan Reymond dalam kondisi tidak sadarkan diri, air mata langsung tumpah. "Baik, Tuan! Baik, segera hamba siapkan!" jawabnya sambil berlari pincang menuju dapur.
Reymond menendang pintu kamar utama yang luas hingga terbuka lebar—kamar yang beberapa hari lalu ia kunci rapat untuk Claudia. Ia membaringkan tubuh Cla dengan sangat hati-hati di atas ranjang besar berseprai sutra yang empuk dan hangat.
Begitu tubuhnya menyentuh kasur, Cla kembali melenguh pelit, meraba-raba jemari Reymond yang hendak menarik diri. "Dingin... jangan tinggalkan aku di sana..." bisik Cla dalam igauan demamnya, air matanya merembes ke bantal.
Reymond tertegun, menatap tangannya yang digenggam lemah oleh jemari kurus Cla. Sesuatu di dalam dada pria sedingin es ini mendadak berdenyut aneh.
Ia perlahan melepaskan cengkeraman itu, lalu berbalik menatap dokter pribadi keluarga Smith yang baru saja masuk dengan terburu-buru setelah dipanggil oleh penjaga.
"Periksa dia," perintah Reymond, suaranya kembali datar namun ada nada kecemasan samar yang gagal ia sembunyikan.