NovelToon NovelToon
JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

​"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."

​Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".

​Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.

Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Dua Puluh Hari Menuju Altar Kehancuran

​Sinar bulan yang menembus celah gorden kamar tidur Aruna terasa begitu dingin. Di atas meja kayu kecil yang sudah mulai kusam, sebuah kalender meja berukuran kecil menjadi satu-satunya benda yang paling sering ia tatap akhir-akhir ini. Tangan Aruna yang kurus memegang sebuah spidol berwarna merah darah. Dengan gerakan yang perlahan namun penuh penekanan, ia menarik garis melingkar di atas angka yang tertera di sana.

​Dua puluh hari lagi.

​Hanya tersisa dua puluh hari sebelum sidang putusan pengadilan agama diketok palu. Jika tidak ada satu pun pihak yang mengajukan pembatalan atau banding yang disengaja, maka statusnya sebagai istri sah Adrian akan resmi berakhir. Status yang selama lima tahun ini mengikatnya dalam rantai penderitaan, namun sekaligus menjadi tameng hukum terakhirnya sebelum ia merebut kembali apa yang menjadi haknya.

​"Dua puluh hari lagi," bisik Aruna pada kesunyian malam. Suaranya tidak lagi bergetar oleh kesedihan. Nada suaranya kini terdengar datar, kosong, namun sarat akan perhitungan yang matang. "Aku harus memastikan perceraian ini terjadi tepat waktu. Jangan sampai nanti mereka memiliki celah hukum untuk menuduhku kabur dari rumah sebelum putusan sah. Aku harus bertahan di neraka ini sedikit lebih lama lagi. Aku harus tetap menjadi Aruna yang mereka kenal—yang lemah, yang patuh, yang tak berdaya."

​Sementara itu, di kamar utama yang kini telah sepenuhnya dikuasai oleh Valerie, suasana terasa jauh berbeda. Di atas ranjang dengan sprei sutra mewah, Valerie bersandar manja di dada bidang Adrian. Jemarinya yang lentik dengan kuku yang dicat merah menyala bergerak perlahan di atas rahang pria itu, mencoba menanamkan racun manipulasi berikutnya.

​"Adrian, Sayang..." pancing Valerie, suaranya dibuat selembut mungkin agar merasuk ke dalam pikiran Adrian yang sedang kelelahan. "Aku sedang memikirkan soal hubungan kita. Dan... soal Aruna."

​Adrian membuka matanya, menatap wanita di sampingnya dengan kening berkerut. "Ada apa dengan Aruna? Bukankah semuanya sudah berjalan sesuai rencana kita? Satu bulan lagi dia akan menyingkir dari rumah ini."

​Valerie menghela napas, berpura-pura menunjukkan wajah yang penuh pertimbangan bisnis. "Rupanya ancaman laporan ke Komnas HAM kemarin membuat kita menyadari sesuatu, kan? Aruna yang sekarang sudah tahu tentang kita, tapi anehnya dia tidak meledak atau mengamuk seperti wanita bodoh pada umumnya. Menurutku, daripada kita membuang dia begitu saja setelah cerai, kenapa kita tidak memanfaatkan dia?"

​"Maksudmu?"

​"Pikirkan secara logis," Valerie tersenyum licik, matanya berkilat penuh rencana busuk. "Jika kalian tetap mempertahankan pernikahan ini di atas kertas, kita tidak perlu repot mencari pembantu baru yang harus digaji mahal. Aruna tahu seluruh seluk-beluk rumah ini, dia tahu apa yang ibumu suka, dan dia bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga dengan gratis tanpa berani mengeluh lagi karena kita memegang ancaman warisan ayahnya. Soal hubungan kita... kita bisa menikah siri dulu di bawah tangan. Aku tidak keberatan menjadi yang kedua di atas kertas, asalkan secara nyata akulah ratu di rumah dan di perusahaanmu."

​Adrian terdiam sejenak, menimbang ide gila tersebut. Ide memiliki pelayan gratis yang memiliki ikatan hukum memang terdengar menguntungkan bagi isi dompetnya. Namun, ego kelelakian dan status sosial Adrian jauh lebih tinggi dari itu. Ia menggelengkan kepala dengan tegas.

​"Tidak, Valerie. Aku kurang setuju dengan ide nikah siri," jawab Adrian dengan nada angkuh. "Aku ingin menikahimu secara resmi di mata negara. Aku ingin membawamu ke pertemuan asosiasi pengusaha dengan status istri sah, bukan simpanan yang dinikahi di bawah tangan. Citraku di depan para investor dari Singapura dan Jakarta harus tetap bersih dan berkelas. Menikah dengan wanita karier sepertimu akan menaikkan nilai sahamku."

​Adrian membalikkan tubuhnya, menatap Valerie dengan senyuman manipulatif. "Jika kau memang bersikeras ingin memanfaatkan Aruna untuk mengurus rumah dan ibuku, maka biarkan saja dia menjadi istri tua. Biarkan dia memegang status itu di rumah ini sementara kau menjadi istri muda yang menguasai duniaku di luar sana. Tapi untuk saat ini, biarkan proses persidangan berjalan dulu. Aku ingin melihat sejauh mana wanita mandul itu bisa bertahan."

​Di balik dinding kamar yang tebal, mereka tidak pernah menyadari bahwa setiap kata, setiap bisikan kotor, dan setiap rencana busuk yang mereka bicarakan di atas ranjang tersebut mengalir masuk ke dalam sebuah alat perekam suara berukuran mikro.

​Aruna telah bergerak di bawah tanah. Memanfaatkan pengetahuannya yang mutlak tentang seluk-beluk rumah tersebut—karena dialah yang dulu menemani almarhum ayahnya mendesain tata letak bangunan ini—Aruna telah memasang alat perekam suara di setiap sudut tersembunyi. Di balik bingkai foto keluarga yang berdebu, di bawah kolong meja ruang kerja, hingga di sela-sela ventilasi kamar utama. Paman Aldo membantunya mendapatkan alat-alat canggih tersebut tanpa melibatkan jaringan toko lokal yang bisa dilacak oleh anak buah Adrian.

​"Bicaralah sesuka kalian," batin Aruna saat memeriksa sinyal perekam dari ponsel lamanya di dalam kamar pelayan. "Setiap kalimat yang keluar dari mulut kalian adalah paku yang sedang kalian ketok sendiri di atas peti mati masa depan kalian. Dan rencana kalian menjadikanku istri tua? Kita lihat siapa yang akan memohon belas kasihan di akhir nanti."

​Keesokan paginya, suasana di rumah mewah itu kembali memanas. Nyonya Adiwangsa tampaknya belum puas mencari gara-gara. Mengikuti instruksi putranya untuk tidak lagi bermain fisik agar tidak meninggalkan bukti lebam yang bisa dibawa ke jalur hukum, wanita tua itu memilih menggunakan metode provokasi yang lebih halus namun sangat menjengkelkan.

​Aruna sedang berlutut di lantai ruang tengah, mengayunkan kain pel dengan ritme yang teratur. Sisa-sisa luka di tangannya masih terasa perih, namun fokusnya hanya satu: menyelesaikan pekerjaan dan mengabaikan eksistensi orang-orang di rumah ini. Dia harus tetap terlihat patuh, menyembunyikan badai yang sedang dia bangun di dalam dadanya.

​Sret... Sret...

​Langkah kaki dengan sandal rumah berbulu mendekat. Nyonya Adiwangsa berjalan dengan sengaja melintasi lantai yang baru saja basah oleh cairan pembersih. Di tangannya, ia memegang sebuah mangkuk keramik berisi kuah soto ayam yang berminyak dan masih hangat. Tepat saat berada di depan wajah Aruna yang sedang menunduk mengepel, dengan gerakan yang sengaja dibuat canggung, wanita tua itu memiringkan mangkuknya.

​Gebyar!

​Kuah soto yang kuning dan berminyak itu tumpah ruah, mengotori lantai yang baru saja bersih, bahkan percikannya mengenai ujung daster kusam yang dikenakan Aruna.

​Aruna menghentikan gerakan tangannya. Suasana seketika menjadi sunyi, hanya menyisakan deru napas Aruna yang perlahan mulai memberat. Untuk sesaat, amarah yang membakar dada hampir saja membuat Aruna meledak. Dia ingin sekali berdiri dan membanting gagang pel itu. Namun, akal sehatnya langsung berteriak, mengingatkannya pada sisa waktu 20 hari. Dia harus tetap menjadi Aruna yang tidak berdaya di mata mereka.

​Maka, dengan sangat perlahan, Aruna menurunkan kembali pandangannya. Dia menatap lantai yang kotor tanpa membalas tatapan ibu mertuanya. Dia memilih untuk mengalah, berpura-pura takut.

​Nyonya Adiwangsa yang melihat Aruna kembali menunduk langsung merasa di atas angin. Ketakutan yang sempat menghantuinya kemarin sore menguap begitu saja. Dia mengira gertakan Aruna tempo hari hanyalah luapan emosi sesaat dari seorang wanita yang putus asa.

​"Heh! Menantu tak berguna! Lihat kelakuanmu, mengepel saja tidak becus sampai membuatku hampir tersandung!" salak Nyonya Adiwangsa keras.

​Didorong oleh rasa ingin memprovokasi lebih jauh, Nyonya Adiwangsa sengaja melangkah mundur, berniat untuk berpura-pura terpeleset demi memanggil Adrian. "Aaaakh! Licin sekali lantai ini!" teriaknya histeris, lalu menjatuhkan dirinya sendiri ke atas lantai marmer yang licin akibat tumpahan minyak. "Tolong!"

​Tepat di detik yang sama, pintu utama rumah terbuka dengan hentakan keras. Adrian dan Valerie baru saja melangkah masuk setelah kembali dari urusan luar. Pemandangan pertama yang menyambut mereka adalah Nyonya Adiwangsa yang terduduk di lantai sambil meratap dramatis, dan Aruna yang sedang memegang gagang pel dengan tubuh gemetar—gemetar karena menahan amarah, namun di mata Adrian terlihat seperti ketakutan.

​"Aduh... Adrian! Lihat istrimu... dia sengaja membuat lantai ini licin agar Ibu celaka!" ratap Nyonya Adiwangsa, menunjuk Aruna dengan jari yang gemetar.

​Adrian yang melihat ibunya terduduk di lantai langsung kehilangan akal sehatnya. Amarahnya menyala dalam sekejap. Dengan langkah lebar, ia menerjang ke arah Aruna.

​Plak!

​Sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipi kiri Aruna. Kekuatan tamparan itu begitu besar hingga membuat Aruna terhuyung ke samping dan menjatuhkan gagang pelnya. Sudut bibirnya pecah, mengeluarkan setitik darah segar.

​"Aruna! Apa-apaan kamu ini?! Berani-beraninya kamu bertindak kurang ajar dan mencelakai Ibu!" bentak Adrian, napasnya memburu. "Minta maaf sama Ibu! Cepat!"

​Nyonya Adiwangsa, sambil mengusap air mata palsunya di atas lantai, menimpali dengan suara yang dibuat seolah-olah ia adalah korban. "Ibu tadi gak sengaja, Adrian... lantainya licin sekali setelah dia pel, makanan Ibu sampai tumpah. Ibu bahkan sudah berniat minta maaf sama dia... Tapi dia malah memandang Ibu dengan sinis!"

​"Aruna, cepat minta maaf!" perintah Adrian lagi, suaranya menggelegar di ruang tengah yang luas itu.

​Aruna perlahan memutar kepalanya. Dia menyeka setitik darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Alih-alih melawan seperti kemarin, Aruna menjatuhkan kembali bahunya, memasang wajah ketakutan dan bersalah yang sangat meyakinkan. Air mata buatan dari rasa sakit fisiknya mulai menggenang di kelopak matanya.

​"Maaf, Ma... Maafkan Aruna. Aruna tidak bermaksud membuat lantai ini licin," bisik Aruna dengan suara yang bergetar parau, seolah-olah dia benar-benar telah patah arang dan kembali menjadi pelayan yang penurut.

​Melihat perubahan sikap Aruna yang kembali tunduk, Adrian tertegun sejenak. Kepanikan dan ketakutan yang sempat merayap di hatinya semalam tentang "koneksi Komnas HAM" atau "ancaman misterius" langsung sirna. Adrian menghela napas lega, senyum sinis dan arogan kembali menghiasi wajahnya. Pria itu meyakinkan dirinya sendiri bahwa ketakutannya semalam hanyalah ilusi. Aruna tetaplah wanita lemah yang tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini.

​"Makanya, kalau kerja itu pakai mata!" ketus Adrian, memulihkan kembali arogansinya. Namun, demi menjaga agar situasi tidak benar-benar melebar ke luar rumah sebelum 20 hari ini selesai, dia membantu ibunya berdiri dengan terburu-buru. "Sudahlah, Bu. Yang penting Aruna sudah minta maaf. Ibu juga harus lebih hati-hati jalan di lantai yang baru dipel."

​Nyonya Adiwangsa mendengus, namun dia merasa sangat puas melihat Aruna kembali bertekuk lutut. "Kok kamu malah menasihati Ibu, Adrian? Jelas-jelas dia yang tidak becus!"

​Valerie yang sejak tadi berdiri di belakang melihat kembalinya dominasi mereka, segera mengambil kesempatan untuk menginjak harga diri Aruna lebih dalam lagi. Ia melangkah maju dengan langkah anggun, memegang lengan Nyonya Adiwangsa dengan raut wajah yang dibuat prihatin.

​"Tante... Tante gak apa-apa, kan? Sini, biar Valerie bantu Tante duduk di sofa," ucap Valerie dengan nada manis yang memuakkan.

​"Gak apa-apa, Sayang... Oh, Tante benar-benar salah," keluh Nyonya Adiwangsa sambil menyandarkan tubuhnya pada Valerie, menatap Aruna dengan pandangan penuh kemenangan. "Mengapa dulu almarhum Om-mu memaksakan Adrian harus menikah dengan wanita tidak berguna dan mandul seperti ini."

​Valerie menuntun wanita tua itu ke sofa, lalu berbalik menatap Aruna yang masih berlutut di dekat tumpahan kuah soto. Valerie melipat tangan di dada, melemparkan senyuman merendahkan yang sangat kentara.

​"Aruna, kamu pasti capek yah?!" sindir Valerie dengan nada pura-pura peduli. "Makanya kerjamu jadi berantakan begini. Istirahat saja dulu sana di belakang, biar pelayan lain yang membersihkan kekacauan ini. Lagipula... beginilah jadinya kalau jadi wanita rendahan yang dipaksakan tinggal di rumah mewah. Wajar saja kalau setiap hari harus menerima nasib seperti ini, karena kelas dan mentalmu memang tidak akan pernah bisa menyamai standar keluarga Adiwangsa."

​Hasutan Valerie bergema di ruangan yang luas tersebut, sengaja dirancang untuk membuat Aruna merasa kerdil dan terisolasi di rumahnya sendiri.

​Namun, di balik wajah menunduk dan tubuh yang gemetar, Aruna sebenarnya sedang menahan senyum kelamnya. Dia membiarkan kata-kata Valerie berlalu seperti angin lalu. Setiap hinaan, setiap tamparan, dan setiap tetes darah yang keluar dari bibirnya hari ini adalah investasi yang akan dia tagih dengan bunga yang sangat tinggi dalam waktu dua puluh hari lagi.

​"Baik... Aruna akan bersihkan ini semua," bisik Aruna dengan sangat patuh, seolah-olah jiwanya telah benar-benar mati. Dia memungut kembali gagang pel, lalu mulai menyeka sisa makanan di lantai dengan gerakan yang sangat pelan dan tunduk.

​Adrian, Nyonya Adiwangsa, dan Valerie tertawa kecil melihat pemandangan itu. Mereka merasa telah berhasil menjinakkan kembali singa yang sempat terbangun semalam. Mereka kembali ke dalam ilusi kemenangan mereka, tanpa menyadari bahwa di bawah lantai yang sedang dibersihkan Aruna, sebuah bom waktu hukum dan finansial sedang berdetak kencang, menghitung mundur hari-hari terakhir kejayaan keluarga Adiwangsa.

1
Katumbiri Lazuardi
berikan saran dan kritiknya ya teman-teman
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!