NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Beda Usia / Romantis
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Isu yang Mind Blowing

Satu hal yang mengusik jiwa Arumi yang pada dasarnya ia memang memiliki sifat kepo, yaitu, apakah Rangga benar-benar akan memecat mereka? Pria dengan perangai seperti Rangga, memecat orang berarti ‘kekalahan korporat’ yang memalukan. Karena terkesan seperti perusahaan tidak tahan dan menyerah dengan kelakuan karyawan yang mereka rekrut sendiri. Itu berarti Human Resources mereka tidak menjalankan fungsinya secara maksimal di awal penerimaan pegawai.

Istilahnya, kecolongan.

Arumi melirik ke sebelahnya, dan wanita itu mencibir.

Rangga sedang tersenyum puas.

Jadi pilihannya hanya dua. Resign sukarela, atau dituntut atas pencemaran nama baik.

“Ya Tuhanku, aku akan jadi istri manusia seperti ini...” keluh Arumi pelan sambil mengelus dadanya.

Rangga terkekeh singkat mendengar keluhan Arumi, “Yang penting, jangan jadi musuh saya Mbak.  Dan tolong percaya, fungsi saya sekarang adalah... Hamba Sahaya Mbak Arumi.” Rangga meraih tangan Arumi lalu menempelkan punggung tangan wanita itu ke bibirnya yang hangat. “Paduka.”

Arumi menepis tangan Rangga lalu bersedekap sambil membuang muka.

Kurang ajar sekali pemuda di sampingnya ini. Begitu pikirnya kesal.

Ruang tertutup di depan mereka ditandai dengan pintu setinggi 2,5 meter yang menyentuh plafon. Tertulis besar-besar di tengah pintu itu : Human Resources Development.

“Pak Rangga, Pak Denny otw ke sini katanya.” Tony membuka pintu besar itu untuk mereka sambil mengabari.

“Kenapa? Katanya mau meeting dulu di kantornya? Baru sebentar pisah sama saya udah kangen aja tu laki?” gumam Rangga.

“Iya, bapak memang ngangenin. Keributannya. Menggambarkan politik negara ini banget deh.” Balas Tony tampak sudah terbiasa dengan candaan garing Bossnya, “Katanya Pak Denny bawa info penting yang harus disampaikan secara langsung face to face, dan dia bersama Aqila. Info penting yang dia maksud itu tampaknya dibawa oleh Aqila ke kantornya langsung.”

“Aqila?” Rangga menghentikan langkahnya sebentar dan menaikkan alisnya menatap ke arah Tony. “Dia bersama Denny? Di saat seperti ini tu cewek bisa nekat nyamperin crushnya?”

Tony menggaruk kepalanya yang tak gatal, “Iya saya setuju dengan pendapat bapak, kalau ada yang ingin disampaikan kan dia bisa langsung ke saya, alih-alih harus jauh-jauh datang ke kantor Pak Denny, padahal tetap saja akhirnya ia harus ke sini lagi.”

“Positif thinking aja karena Denny pengacara saya.” Rangga mengibaskan tangannya karena tak ingin ambil pusing.

“Aqila siapa? Pacar Denny?” tanya Arumi tiba-tiba.

Rangga dan Tony langsung pasang senyum Monalisa. Dan memutuskan tak ingin menjawab karena terlalu rumit. “She wish...” gumam Rangga.

Di dalam ruangan itu sudah ada meja marmer bulat yang indah, dengan ornamen mewah seakan menggambarkan kalau ruangan itu adalah ruang tamu era kolonial milik kerajaan Netherland. Fungsi ruangan itu untuk menginterogasi karyawan bermasalah. Sengaja dibikin serasa di rumah, untuk efek psikologis.

Ada lima orang wanita duduk dengan tegang di kursi antik di belakang meja marmer itu.

“Itu mereka?” tanya Arumi ke Rangga.

“Ya, saya tidak ingin memecat mereka dengan mudah. Walau pun memang semua ini adalah efek domino. Mereka di sini karena belum mau buka mulut mengenai siapa yang ada di balik semua ini. Saya menuntut mereka atas dugaan membahayakan nyawa saya.” Bisik Rangga sambil menarik kursi untuk Arumi duduk.

Pria itu sengaja tidak bilang secara gamblang kalimat 'gara-gara mereka aku menabrak dan membunuh Mas Ary'. Namun, Arumi langsung mengerti ke arah mana pembicaraan taktis ini berlabuh. Rangga sedang membutuhkan pendekatan women-to-women agar tidak salah mengambil keputusan hukum.

Arumi mengira Rangga adalah Orang dengan insting khusus yang memiliki pemahaman bahwa seburuk apa pun manusia, pasti ada sisa bibit baik di dalamnya. Ia ingin menyerap potensi sumber daya unggul dari kelima tersangka ini, namun di lain pihak, yang Arumi saat itu belum bisa menebak bahwa Rangga sebenarnya sedang meluncurkan taktik adu domba.

Women to women yang dimaksud Rangga ini... memprovokasi timbulnya sifat bersaing pada wanita, dengan menyodorkan wanita yang terlihat lebih unggul.

Untuk memenjarakan lima orang ini lewat kasus tabrakan jelas tidak mungkin karena dasar hukumnya lemah.

Tapi Rangga sudah terlanjur muak melihat kelimanya di kantor ini. Apalagi Bintang. Rangga ingin sekali memecatnya, membuatnya menghilang sendiri dari ekosistem Red-Desmont, dan tak lagi mengganggu hidupnya.

Di sinilah peran Arumi dibutuhkan. Agar mereka berseteru, lalu berbuat keributan. Lebih bagus kalau mereka saling menyerang. Bunuh-bunuhan kalau perlu. Sehingga akan mudah untuk menjebloskan mereka ke bui. Rangga bisa hidup nyaman tanpa harus mengotori tangannya sendiri dengan hukum.

“Perkenalkan, beliau adalah calon istri saya.” Sahut Rangga lugas memperkenalkan Arumi.

Kelima wanita di depan Rangga langsung memelototi Arumi dengan marah.

“Apa-apa’an...” gumam salah satunya.

Usaha mereka selama ini sia-sia.

Sampai diinterogasi polisi, sampai karier mereka hancur... hanya untuk melihat kenyataan kalau Rangga sudah memiliki wanita lain?

“Bapak bercanda kan?!” salah satunya sampai berdiri menuding Rangga. Sebut saja si A “Bukannya pacarnya Pak Rangga itu Bu Bintang?”

Semua menatap si A dengan ternganga.

“Ha?” Rangga sampai meringis jijik.

“Jangan natap kami segitunya dong! Siapa pun di kantor ini tahu kalau Bu Bintang itu pacarnya Pak Rangga! Tapi kalian lagi berantem karena masalah disfungsi seksualnya Pak Rangga! Kami ngerti Pak, kenapa bapak jadi pembenci wanita! Makanya Pak Rangga ngambek dan mengganti Bu Bintang dengan Tony. Bapak jangan gitu dong! Ini nggak fair buat Bu Bintang!” kata si B.

Hadirin semakin terbengong-bengong mendengar penjelasannya. Kepala HRD sampai ngelus-ngelus dahinya yang pusing.

“Disfung....” Rangga bahkan tidak bisa meneruskan kata-kata itu. Gosip yang beredar rupanya melebihi ekspektasinya.

“Gue dibawa-bawa, pantesan selama ini sinis dan nggak bisa diajak kerjasama, jadi gara-gara rumor picisan ini toh.” Gerutu Tony. Jadi dia dihakimi sebagai ‘pacar Pak Rangga’ itu juga gara-gara Bintang.

“Ya Pak! Kalau lagi berantem, nggak apa kalau bapak nyewa LC atau akting pacaran sama cewek lain. Bu Bintang itu orangnya sabar Pak, nanti pasti dimaafkan asalkan bapak minta maaf. Tapi kalau ngaku-ngaku calon istri, ini udah kelewatan Pak! Sampai bikin kami kena masalah segala!” sahut wanita C.

“Kami tahu kok kalau bapak setia dengan Bu Bintang karena menurut bapak, hanya bu Bintang yang bisa menerima kekurangan bapak kan? Bapak insecure dengan wanita karena masalah ini. Please Pak, sabar dulu! Kalian itu saling mencintai. Jangan karena persepsi sepihak, bapak jadi begini!”

Rangga makin kesal.

Tony sudah balik badan nahan tawa sebisanya.

Yang lain tak tahu harus kesal atau meringis. Ini lucu banget tapi melihat raut wajah Rangga sudah penuh amarah sampai seakan ia ingin membalik meja marmer berat itu sampai terbalik, mereka pun hanya bisa menonton dengan canggung kejadian ini.

“Lalu tujuan kalian meracuni saya itu kenapa?” geram Rangga.

“Kami kesal dengan bapak. Sejak kalian berantem, tiba-tiba ada Tony, ada Denny. Mereka selalu di samping bapak. Semakin lama kami khawatir bapak ini terlalu dekat dengan Tony dan Denny. Sepertinya bapak ini sudah dipengaruhi ke jalan sesat Pak. Kata Bu Bintang dia memberikan izin pada kami untuk memuaskan nafsu Pak Rangga. Dia percaya pada kami, daripada bapak harus jadi gay karena patah hati dengan Bu Bintang!”

“Sutradaranya siapa sih? Dasar Tolol lo semua!!” seru Rangga sambil nendang kursi.

“Paaak!! Sabar Pak!!” seru Tony sambil mencegah Rangga menghabisi semua. “Kok malah bapak yang emosi, gimana sih pak!” bisik Tony sambil menggeret Rangga ke belakang.

Oke, fakta pertama berhasil didapatkan.

Memang cukup mengagetkan bagaimana Bintang dapat memanipulasi pikiran para sekretaris baru ini. Tapi sebagai kenalan lama, Arumi sudah bisa menebak jalan pikiran Bintang.

Bintang tidur dengan Pak Agung, Pak Agung meninggal tanpa memberi Bintang sepeserpun, Bintang berharap dapat kekayaan dari Rangga, Rangga membencinya karena tahu skandalnya dengan Pak Agung. Bahkan Rangga berniat memecatnya. Membuat Bintang mendendam, tapi tidak tahu siapa yang kini sedang ia hadapi. Ini judulnya, Belut berusaha melawan Ular Mamba. Yang satu licin, tapi yang satunya berbisa.

Arumi mengangguk-angguk, wajahnya tetap tenang menampung informasi emas itu. “Jadi... kalian memberikan obat itu ke Pak Rangga bukan untuk mencelakainya? Tapi untuk menjauhkannya dari Tony lalu bercinta saat ia tak sadar agar Rangga kembali ke jalan yang benar. Begitu?"

Kelima Junior mengangguk polos.

Arumi pun lanjut bertanya, "Bagaimana kalau dia sampai kenapa-napa di jalanan? Kan kalian juga yang rugi? Perusahaan ini bisa langsung bangkrut seperti waktu zaman Pak Agung dulu.”

“Salah sendiri menghindar. Pasti Pak Rangga mau cari Tony kan? Untung saja Tony kami tahan di Lobby.” Kata wanita D.

"Kalau kami bisa dapat foto kami pas lagi tidur dengan Pak Rangga, nama baik Pak Rangga akan kembali, nggak di cap Boti lagi. Lebih baik dicap playboy daripada homo, pak!"

"Sungguh Pak, kecelakaan yang terjadi di luar kuasa kami. Niat kami baik kok Pak!"

Rangga langsung istighfar.

Tony ngikik di bahu Rangga.

“Pak, tolong jangan jadi belok hanya karena Pak Rangga kecewa dengan Bu Bintang. Percaya Pak, kami masih lebih baik daripada laki-laki. Kami menerima dengan ikhlas kok kekurangan Pak Rangga. Bapak tinggal pilih saja, kami bersedia jadi selir.”

“Laknat...” gumam Rangga.

Arumi bahkan tidak sampai hati untuk bilang kalau perbuatan para wanita polos ini sudah sampai mencelakai suaminya. Tampaknya mereka tidak tahu kalau Arumi ada hubungannya dengan semua ini.

“Sayang sekali, kakak-kakak sekalian. Di sini permaisurinya itu saya. Bintang sama sekali tidak pernah jadi bagian dari hidup Rangga. Keberadaan Tony di sini justru untuk membereskan semua pekerjaan yang berantakan akibat ulah Bintang yang mengacak-acak administrasi. Bintang terlalu fokus dengan gaya hidupnya. Di sini saya sudah bisa tebak... dia pasti yang mengatur agar kalian yang masuk ke club mendampingi Rangga, kan? Bahkan obat itu juga dari dia?”

“Lo ini siapa sih? Ngapain ikut-ikutan? Akting lo jadi calon istri tuh jelek banget tahu nggak?!” alih-alih menjawab mereka malah menuding Arumi. Rupanya mereka juga berhati-hati. Mereka masih setia dengan Bintang.

Arumi membuka tas desainer mahalnya, mengeluarkan draf dokumen penting yang tadi dibawa Denny untuknya, lalu menghempaskannya ke atas meja dengan bunyi plak yang mantap.

“Soalnya... saya adalah tunangan sah dari Rangga Adiwilaga yang sebenarnya. Ini saya tunjukkan dokumen resmi Perjanjian Pranikah kami yang mengikat setengah aset triliunannya atas nama saya. Apakah Bintang mendapatkan hal seperti ini dari Rangga? Jelas tidak. Karena di mata Rangga, Bintang hanyalah seorang sekretaris yang selama ini mengganggu pekerjaannya, juga memanipulasi karyawan lain di kantor.”

Kelima junior itu diam membeku, nyali mereka runtuh total melihat lembaran kertas hukum berstempel notaris di atas meja.

“Tujuan saya baru muncul ke kantor hari ini karena tindakan kalian kemarin malam sudah melangkah terlalu jauh, Kak,” suara Arumi kembali melunak namun menekan psikologis mereka sampai ke titik nadir. “Kalian ini sudah mengganggu kestabilan pekerjaan kantor dan membahayakan nyawa orang. Ini bertentangan dengan hukum pidana komersial kalau kami mau perkarakan secara resmi ke Polres. Kalian sekarang mengaku sajalah secara tertulis di berkas HRD ini. Bintang, kan, yang menyuruh kalian dari awal? Kalau kalian mau mengaku jujur dan menuliskan kronologinya sekarang, kami setidaknya masih bisa berbaik hati memberikan surat rekomendasi kelakuan baik agar kalian bisa melamar kerja di tempat lain. Tapi kalau kalian tetap bersikeras membela Bintang... mohon maaf, Denny sudah siap membawa berkas ini ke jalur pidana hukum sore ini juga.”

Kelima junior itu diam membeku, nyali mereka runtuh total melihat lembaran kertas hukum berstempel notaris di atas meja. Namun, di tengah keheningan yang mencekam itu, si C mendadak mendongak dengan wajah bingung bercampur kepo yang tidak bisa ditahan.

"L-lalu... kenapa ibu mau menikahi Pak Rangga, padahal... padahal dia nggak bisa tegak?" tanya si C dengan polosnya, mewakili rasa penasaran seisi ruangan.

Arumi tidak menunjukkan gelagat malu sedikit pun. Ia langsung berdiri tegak sambil berkacak pinggang di depan meja HRD, menatap si C dengan pandangan super serius dan berwibawa.

"Karena kami... dijodohkan oleh leluhur," jawab Arumi lempeng tanpa berkedip.

Uhuk!

Rangga yang berdiri di belakangnya hampir saja ngakak dan meledakkan tawa andai ia tidak buru-buru membekap mulutnya sendiri dengan punggung tangan. Di dalam kepalanya, otak Rangga langsung berputar. Dijodohkan leluhur? Kalau dipikir-pikir, ucapan Arumi memang seratus persen benar secara fakta. 'Leluhur' yang dimaksud Arumi adalah amanah dari almarhum Mas Ary dan almarhumah Bu Rani yang menitipkan dunia nya. Benar sih, tapi kenapa kalau didengar di dalam ruangan HRD ini rasanya jadi ganjil, mistis, dan aneh sekali ya?

Rangga melirik Tony yang di pojokan sudah jongkok sambil menutupi wajahnya. Sementara kelima junior di depan mereka langsung mencicit ketakutan, membayangkan kalau hubungan Pak Rangga dan Arumi dilindungi oleh kekuatan gaib keluarga besar mereka.

Arumi kembali memosisikan raut wajahnya ke dalam mode menekan. "Demi masa depan kalian semua yang masih terbentang luas, tolong bekerja sama saja dengan kami Kak. Kalian tidak capek seperti ini?”

**

BRAKK!

Pintu kaca tebal ruang HRD mendadak terbuka kasar hingga menghantam dinding pembatas. Dua orang petugas sekuriti nampak kewalahan di ambang pintu, wajah mereka panik karena gagal menahan amukan Kepala Corsec yang sedang kalap.

Bintang Dirgahayu mendobrak masuk dengan napas memburu. Penampilannya sudah tidak secemerlang tadi pagi di lobi, blazer merah menyalanya sedikit kusut, dan ada gurat kecemasan yang luar biasa masif di balik riasan wajahnya yang tebal. Setelah mendengar desas-desus bahwa Arumi dibawa masuk ke ruang interogasi para tersangka, radar Bintang langsung mendeteksi bahaya besar.

"Pak Rangga! Ini tidak adil!" teriak Bintang lantang, mencoba memasang kembali suara berwibawanya demi menguasai panggung. "Kenapa anak-anak saya diinterogasi tanpa kehadiran saya sebagai atasan mereka? Dan kenapa perempuan luar ini diizinkan ikut campur dalam urusan internal perusahaan?!"

Bintang melangkah maju dengan dagu terangkat, bersiap meluncurkan pembelaan yang sudah ia susun di kepala. Namun, langkah kakinya mendadak mati kutu di tengah ruangan. Seluruh pasokan oksigen di paru-parunya seolah tersedot habis saat matanya menangkap pemandangan di atas meja oval HRD.

Di sana, para juniornya memegang pulpen dengan tangan gemetar sembari menorehkan tanda tangan di atas lembar kertas kronologi bermeterai. Mereka sedang antre bergantian menuliskan nama Bintang lengkap dengan rincian nominal uang sogokan yang mereka terima kemarin malam.

Mereka semua sedang menandatangani surat pengakuan dosa yang sah di mata hukum pidana.

"Kalian... kalian sedang tulis apa?" suara Bintang mendadak mencicit, kehilangan nada mendayu-nya yang ceria. Wajahnya pias, pucat pasi seperti mayat yang kehilangan darah dalam semalam.

Para Junior mendongak dengan mata sembap, menatap Bintang dengan pandangan penuh ketakutan bercampur rasa bersalah, namun buru-buru memeluk map kertasnya erat-erat. "Maaf, Bu Bintang... maaf. Kami terpaksa. Kami nggak mau masuk penjara gara-gara ikut konspirasi obat itu. Apalagi... apalagi hubungan Pak Rangga dan Bu Arumi ini sudah dijodohkan oleh leluhur mereka, Bu! Hukumannya dunia akhirat, kami nggak berani!"

Mendengar kata 'leluhur', Bintang melongo dengan otak yang mendadak blank.

Arumi yang duduk dengan anggun di kursi utama perlahan memutar-mutar cincin berlian dua miliarnya, menangkap pantulan lampu ruangan yang berkilau mewah. Ia menatap Bintang dengan senyuman yang sangat tenang, dingin... dan mematikan.

"Terlambat, Bintang," suara Arumi mengalun lembut, memecah keheningan yang mencekam. "Asas Praduga yang selama ini kamu gunakan untuk bersembunyi di balik ketiak anak buahmu, resmi gugur detik ini juga. Kelima junior yang kamu jadikan tumbal ini baru saja memberikan kesaksian tertulis yang valid bahwa kamu adalah otak di balik pencekokan obat terlarang malam itu."

Bintang mundur satu langkah, dadanya naik turun menahan guncangan mental yang luar biasa hebat. Ia menoleh ke arah Rangga, mencoba mencari celah untuk berakting pick-me lagi. "Pak Rangga... demi Tuhan, mereka semua bohong! Mereka sengaja memfitnah saya karena cemburu dengan posisi saya! Pak Rangga tahu sendiri kan kalau saya selama ini—"

"Cukup, Bintang," potong Rangga dingin. Pria itu berdiri di samping Arumi, menatap Bintang dengan tatapan penuh kejijikan yang sudah ia pendam sejak kecil. "Jangan sebut nama saya lagi dengan mulut manipulatif kamu itu. Tony, ambil semua berkas pengakuan mereka. Serahkan salinannya ke tim legal Denny untuk segera diterbitkan surat pemecatan, tanpa pesangon sepeser pun. Saya masih bisa mengeluarkan surat rekomendasi karena permintaan Arumi ya. Kalian harusnya berterima kasih!"

Rangga menyeringai tipis, melirik Arumi sekilas sebelum kembali menatap Bintang yang dunianya baru saja kiamat. "Dan bersiaplah, Bintang. Pengacara saya tidak hanya mengurus pemecatanmu. Sore ini juga, berkas kesaksian ini akan langsung meluncur ke meja penyidik Polres sebagai laporan percobaan pembunuhan."

1
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
aku jadi Arumi mending cuma tau duit nya ajalah🤣🤣🤣
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
kok bisa ya bintang kayak gitu, trauma apa yg membentuk dia seperti itu
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
bintang gak selamanya jadi bintang kan..
Lempongsari Samsung
makasih upnya maddam❤❤❤❤❤❤
HilVi Tanurahardja💋
tonyyyy, no no no no ya☝🏻
HilVi Tanurahardja💋
😆😆😆😆
HilVi Tanurahardja💋
betul, guru jg begitu
HilVi Tanurahardja💋
semoga GK ketemu 2 lagi ya rum, ngeri banget ih
mamaqe
mamaq mumet tau duit ajalah😅🤣🤣
Atala Putri
hadir madam💪 tak tunggu up mu
Naftali Hanania
26thn dah melesat kayak komet 😍👍
Hai Madam....Alhamdulillah nongol lg....hbs liburan ya Madam 💖
Miss F
Rangga pelukable loh rum,,MW rasain g??🤣🤣
Leni Pur indah sari
sudah tergoda belum mba arumi??🤭🤭
𝕭𝖚𝖊 𝕭𝖎𝖒𝖆 💱
weew ... selalu emejing tulisan madam 🤩🤩🤩🤩
Reni
Gimana Rum, Rangga emang se mempesona itu, gk heran banyak demit ganjen berkeliaran di kantor kan? tuh, biang demitnya si Bintang baru aja di amankan🤭
Siti Rohmah
mantap
Eni Istiarsi
kalo mau cari bacaan yang all in ya disini. ini udah kayak ruang publik yang one stop service.dapet hiburan, dapet ilmu, dapet realita hidup
Eni Istiarsi
mulai bergeser penilaian Arumi ke Rangga🤭
Dede Maesaroh
lanjut madam😍
virdarizki / ig vindy yuliana1
recomend banget semua novel kamu ka beda dari yg lain, ga bosen² baca nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!