"Nak....hidup tak mungkin selalu bahagia, akan ada saat - saat kita menerima suatu kepedihan....lihat disana rumput - rumput tak selama nya hijau ataupun kering kan?"...kata - kata itu keluar dari seorang Ibu separuh baya yang sedang menghadapi anak kecil berusia enam tahun yg sedang menangis berlinangan air mata.
anak itu berhenti menangis, entah karena memahami atau mungkin dia sudah kelelahan dengan tangisannya.
Saraswati membelai rambut anak itu, Ia sendiri sebenarnya menahan tangisan jangan sampai buah hati nya tahu kalau dia pun tersayat hati nya karena kehilangan banyak saudara - saudara nya.
Dua hari yang lalu, Suasana di perkampungan Jalaksana masih tentram dan damai, Sawah membentang luas kehijauan, Aliran arus sungai mengalir dengan tenang. Jika menatap ke arah selatan dari desa tersebut akan terlihat pegunungan Ciremai yang kokoh menjulang ke atas. Di bawah kaki ciremai perkebunan kentang maupun wortel tumbuh dengan subur.
Penduduk di sana pun hidup dengan damai, tak ada sedikitpun wajah - wajah mereka yang murung ataupun sedih.
setelah itu semuanya berubah, rumah - rumah penduduk porak poranda terbakar api, mayat - mayat bergelimpangan tidak menentu.
banyak mayat yg tergeletak di sisi - sisi jalan dengan bekas luka akibat tebasan senjata tajam. Itulah bekas - bekas kekejaman para perampok yang datang membumi hanguskan perkampungan tersebut. Salah satu korban kebiadaban rampok - rampok itu adalah orangtua dari Saraswati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kelana sendiri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gemuruh penyambutan di Alas Roban
Perjalanan Wiratama menuju Mataram melewati Pantai Utara, karena ia akan singgah di Alas Roban, Kampung Batang. Di sana ada seseorang yang sangat ingin di temuinya, Ki Bondan Wiratama penguasa Alas Roban yang Sakti Mandraguna.
Sebelum memasuki hutan itu, Wiratama membersihkan tubuhnya di sungai, pakaianpun ia ganti dengan yang terbaik, ikat kepalanyanya ia lepas, sehingga rambutnya yang panjang terurai sebagian menutupi wajahnya, setelah itu Wiratama mulai memasuki kawasan Alas Roban hingga ke dalam.
Tubuhnya yang peka merasakan saat melewati Pohon Randu alas yang besar, banyak mata yang mulai mengawasinya, Wiratama pura-pura tidak mengetahui pergerakan-pergerakan dari orang - orang yang sembunyi mengawasinya. Sampai kemudian di hamparan tanah yang agak luas, terdengar suara yang menghentikan langkahnya. "Hei pengembara, hentikan langkahmu!" beberapa orang berloncatan mencegat di depannya, sebelum orang itu bertanya, Wiratama merapal suatu Ajian yang membuat matanya berubah menjadi mata Harimau, karena ia tahu, untuk mendapatkan penghormatan di Alas Roban Ia harus menampakan segala kemampuan kanuragan yang hebat dan bukan yang biasa.
Wiratama memandang orang-orang yang menghadangnya dan menatap mereka dengan mata Macan lodayanya. "Hii....beberapa orang itu beringsut mundur, merasa ngeri menatapnya.
"He...he...he ...Aku Ksatria terbuang, ingin menghadap Ki Bondan Wiratama Sang penguasa Alas Roban, jangan tanyakan kepentinganku, aku akan berbicara padanya sendiri", "Akh...kami tak mengizinkanmu menemui pimpinan kami kisanak, maksudmu sepertinya tidak baik". "Kau ingin meringkusku?" orang - orang itu terhenyak ragu, Wiratama melanjutkan perkataannya, "jika kau ingin meringkusku, tambah lagi jumlah teman-temanmu, kalian tak akan sanggup menghadapiku dengan jumlah seperti ini, dan penghinaan bagiku menghadapi kalian yang sedikit, Wiratama sengaja bicara dengan penuh keangkuhan, karena mempunyai tujuan yang bersarang di kepalanya.
Penghuni-penghuni Alas Roban itu agak ciut nyalinya, dengan melihat sorot mata Wiratama saja mereka memastikan yang mereka hadapi seseorang yang Sakti.
"Suiiiiitttt.....Suiiiiit.......Suiiiiit....terdengar bunyi suitan tiga kali memenuhi hutan itu, tak lama kemudian, beratus orang terkumpul dalam keadaan Siaga dan siap bertempur.
"Huaaa....ha...ha...ha...Kalian sudah siappp?" Grhauuuum........terdengar pekikan Aji Macan Lodaya menggema, "brugh....brugh...brugh....beberapa orang jatuh berlutut, tetapi tidak ada yang cidera.Tidak hanya itu, Wiratama meloncat tinggi hampir lima tombak ke atas, saat kakinya mendarat kembali ke tanah, tanah bergetar dan terasa goyang, terdengar detuman-detuman saat kaki Wiratama melangkah, itulah Ajian Selaksa Gunung, yang bisa merubah tenaga kaki nya menjadi beratus-ratus kati.
Kedua tangannya terangkat ke atas membentuk Piramid, dari ujung jarinya memancar cahaya yang menyilaukan ke arah langit, langit berubah menjadi gelap, suara petir terdengar "Dhuaaarrrr....dhuaarrr...
Perlahan-lahan langit terang kembali, Wiratama lalu mengarahkan jarinya ke tengah batu yang besar sepemelukan orang dewasa "Claaapppp....cahaya kecil meluncur mengarah batu itu, "Desss...tak lama kemudian saat ada tiupan angin, batu itu hancur menjadi debu.
Semua orang terperangah melihat pamer kesaktian Wiratama, tak ada yang berani bergerak maupun bicara sedikitpun. Tak lama kemudian, dari arah utara berkelebat bayangan putih dan berhenti di depan Wiratama. "Ksatria siapakah dirimu? yang membuat onar di tempatku?" tampak oleh Wiratama, pria yang gagah walaupun usianya sudah lanjut, perawakannya sedang, kokoh dan wajahnya?
"Aaakh...Wiratama tak tahan lagi untuk diam memandangi wajah itu, Wiratama menyibakan rambut yang menutupi wajahnya "Romo.....aku merindukanmu! ada genangan airmata di pelupuk mata Wiratama saat mengatakan itu, "Deggh.....Ki Bondan kaget bukan kepalang melihat wajah yang berada di depannya. "Wirataaamaaa..anakku?" Ia meloncat dan memeluk dengan erat tubuh Wiratama, "aku mencarimu bertahun-tahun, saat kau di berhentikan menjadi seorang "Senopati" aku tak menerimanya, engkau putraku tak mungkin menjadi Penghianat tanah air sendiri, aku hadapi hujan panah, aku hadapi ribuan tebasan pedang milik prajurit Mataram, hanya ingin mencarimu dan membawamu pulang". Air mata Ki Bondan Wiratama bercucuran sambil memeluk putra nya, semuanya tenggelam dalam kesedihan.
sejajar dengan ko ping ho
pendekar pilih tanding kok kalah
sama roh abal2