Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Di Perpustakaan
Udara siang mulai menembus setiap celah pada rumah. Jeviza baru saja keluar dari kamarnya. Ia langsung berlari menuju ke bawah dan seketika bahunya luruh ke bawah, merasa lega karena ia hanya melihat mas Arlo yang sudah menenteng tas kerjanya.
Tidak ada Puspa di sana, dan juga orang yang masih Jeviza sangkal keberadaannya di rumah itu. Keandra.
Rasanya masih terlalu sulit untuk Jeviza mengerti, cowok itu tiba-tiba muncul dan menyapanya dengan begitu singkat tadi malam.
Suara sebentar Kean masih terus dapat Jeviza dengar sampai detik ini, dan itu juga salah satu yang membuat Jeviza susah tidur tadi malam.
Stop ya Je, jangan mikir yang aneh lagi
Jeviza mendekati Arlo, lalu tersenyum tipis melihat Arlo yang sudah sangat siap pergi.
"Mas, kak Pus, dimana?" tanya Jevi melirik sekitar. Waspada siapa tahu tiba-tiba wanita galak itu muncul dan kembali mengomel.
"Lagi ke pasar Je, ayo berangkat sekarang, kamu sarapan di mobil nggak papa kan?"
Jeviza mengangguk setuju, semakin cepat dia keluar dari rumah semakin sedikit peluang bertemu dengan wanita galak itu. "Oke mas."
Kabin di dalam mobil kini terasa sunyi, hanya ada suara sendok yang kerap kali berdenting ulah Jeviza.
Gadis itu menikmati sarapannya yang hampir terlewat. Sekali lagi, meski Puspa terkesan galak, tetapi sangat perhatian. Buktinya Jevi masih dibawakan bekal untuk sarapan.
"Kamu, sudah ketemu sama adiknya mas, belum Je?"
Pertanyaan Arlo yang tiba-tiba berhasil membuat Jevi tersedak. Gadis itu terbatuk kecil dan langsung menyambar minumnya.
Arlo terkekeh dengan gelengan kepala. "Sorry Je, buat kamu kaget ya?"
Dirasa sudah cukup tenang, Jevi menoleh pada Arlo, kali ini soror matanya penuh dengan keseriusan.
"Mas Ar, memangnya adik mas Ar, sudah datang?" tanyanya pura-pura tidak mengerti.
"Kemarin sore Je, kamu belum ketemu ya?" Arlo tampak mengangguk paham. "Oh iya, tadi malam kamu ketiduran, pagi tadi malah kesiangan," terdengar kekehan dari Arlo setelah mengatakan itu. "Belum ketemu pasti, di kampus ketemu juga nggak akan tau ya kalian."
Jevi meremat sendok di tangannya. Mencoba menimang apakah ia akan bertanya atau membiarkan saja rasa penasarannya.
Terserah, Jevi harus bertanya agar terjawab rasa penasarannya.
"Mas Arlo punya adik? Kok pas kalian nikah, gue nggak liat ya?"
Arlo melirik dengan senyum tipis. "Adik sepupu Je, pas mas nikah sama kak Puspa dia nggak dateng, karena mau ujian."
Jeviza semakin mencengkram gagang sendok di tangannya. Adik sepupu juga ternyata, sama seperti hubungannya dengan Puspa.
Lalu baik dirinya dan Kean menumpang di rumah kakak sepupu. Entah ini suatu kebetulan atau memang takdir yang sedang memainkan mereka.
"Nggak usah tegang Je, adik mas anak baik-baik kok, dia nggak akan berani nakal meski kalian satu atap."
Mendengar kalimat yang dikatakan Arlo seketika membuat dada Jeviza kembali berdebar. Kata "satu atap" tadi seketika membuat perut Jevi mendadak mual, tetapi ia coba tahan dan menenangkan diri, meski reaksi tubuhnya sangat tidak terkendali hanya karena kata-kata Arlo tadi.
"Makasih ya mas, maaf udah bikin lama nunggu tadi." Jeviza turun dari mobil Arlo, lalu melambaikan tangannya bersamaan mobil Arlo yang mulai pergi menjauh.
Meski telat bangun, nyatanya Jevi masih aman dari kata terlambat, kelasnya akan di mulai pukul 8 nanti, masih ada setengah jam lagi dan Jevi berjalan dengan tenang.
"Je, Jeviza."
Suara itu, suara yang mulai Jevi kenali karena interaksi keduanya beberapa hari lalu.
Jevi menoleh, mencoba tersenyum meski sebenarnya dia sudah ingin sampai di kantin kampus, di sana Sisil dan yang lain sudah menunggu.
"Baru dateng?" tanya Januar diangguki Jevi.
"Iya, kak Janu baru dateng juga?"
Cowok itu mengangguk, mencoba menormalkan napasnya dan menyamai langkah Jeviza. "Sama, mau kemana? Belum mulai kelas kan?"
Jeviza menggigit pipi dalamnya, lalu tersenyum kikuk. "Masih setengah jam lagi kak, tapi temen-temen udah pada nunggu di kantin, duluan ya kak."
Jeviza segera mempercepat langkahnya tanpa berniat menunggu jawaban dari Januar.
Sementara Januar berdiri di tempatnya dengan pandangan lurus pada tubuh kecil Jevi dan gelengan di kepalanya. "Lucu banget sih."
Meski sempat ter**distract karena kejadian tadi malam. Nyatanya Jeviza bisa melalui kelas pertamanya dengan salah satu dosennya dengan lancar.
Gadis itu sedang menuju ke perpustakaan bersama dengan Tevi, tanpa dua temannya yang lain. Sisil dan Naura tidak menyukai perpustakaan, kedua gadis itu lebih suka berada di kantin atau tempat yang bisa untuk membicarakan gosip.
"Je, gue ke sana ya, mau nyari buku dulu."
Jeviza mengangguk, ia sendiri melangkah ke lain arah, dimana tujuan buku yang ia dan Tevi cari memang berbeda. "Nanti ketemu di meja ujung aja ya Tev."
Jevi memilih beberapa buku yang ingin ia baca. Lalu melangkah menuju pada meja ujung seperti perjanjian keduanya tadi.
Langkahnya terhenti saat kursi pada meja ujung itu tidak lagi kosong, tetapi sudah berpenghuni. Jantungnya kembali berdetak persis seperti tadi malam.
Ia kesal pada reaksi tubuhnya yang selalu saja berlebihan setiap kali bertemu dengan Kean, bahkan saat cowok itu kini dalam keadaan menutup mata. Jantung dan segala isinya bekerja terlalu berlebihan.
Rasa mual kembali menyerangnya bersamaan dengan kegugupan yang dirasanya. Jeviza mencengkram buku di tangannya, sampai kuku tangannya tampak memutih.
"Je, pindah meja aja yuk, ada kak Kean lagi tidur."
Suara Tevi yang ternyata sudah berdiri di sebelahnya menyadarkan lamunan Jeviza. Gadis itu menoleh dengan anggukan kepala.
Hanya berjarak 2 meja dari meja Kean saat ini. Jevi dan Tevi duduk dan mulai membaca buku.
Tidak ada obrolan karena memang keduanya tidak secerewet Sisil dan Naura.
Entah sudah berapa lama keduanya larut dalam buku yang dibaca masing-masing, hingga fokus Jevi teralihkan karena kedatangan seseorang.
Vio, kakak tingkat itu berjalan dengan anggunnya, dan langsung mengarah pada meja Keandra. Jelas kedatangan Vio ke perpustakaan bukan untuk meminjam atau membaca buku, tetapi untuk menemui Kean.
Ekor mata Jevi tanpa diminta melirik ke arah Vio, matanya semakin menajam saat melihat Vio yang mengambil ponselnya, lalu mengarahkan pada Kean yang masih tertidur di kursi panjang. Meski wajahnya setengah tertutup tangan, tetapi saja tidak mengurangi wajah tampan seorang Keandra.
Ada sekitar 3 sampai 5 foto. Lalu Vio tersenyum manis dan menaruh kembali ponselnya, merapihkan rambutnya sebelum mencoba membangunkan Keandra.
"Ke, bangun."
Hanya butuh satu kali panggilan, Kean langsung membuka matanya, sangat berbeda sekali dengan Jevi yang harus diteriaki dulu baru bisa bangun.
Meski masih terlihat linglung, tapi tubuhnya langsung duduk dengan tegap. Menatap Vio dengan tatapan bingung.
"Ada apa?" suara serak Kean sampai terdengar ke meja Jeviza.
Diam-diam gadis itu menahan debaran yang semakin brutal pada jantungnya.
Lalu sebelum Vio sempat menjawab. Pandangan Kean tanpa sengaja menemukan sosok Jeviza. Gadis itu terlihat sedang fokus dengan buku di tangannya, bahkan tidak melirik sedikit pun ke arahnya.
Segitu benci kah Jevi padanya? Tetapi apa yang membuat Jevi benci atau marah padanya? Sementara yang diputuskan secara sepihak ialah Kean sendiri, sekali lagi tanpa alasan dan sepatah kata.
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!