Demi memastikan calon tunangan yang akan dijodohkan orang tuanya, Bella terpaksa menyamar bekerja di perusahaan milik Gilang, pria yang dipilih oleh sang papa untuk menjadi suaminya.
Satria Wijaya,, papa Bella adalah seorang pengusaha kaya raya dan Bella adalah anak semata wayang pasangan Satria dan Hani. Bella tentu tidak ingin calon suaminya, bersedia menikah dengannya hanya karena harta dan ia pun ingin memastikan jika pria yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah pria setia.
Namun, kesalahpahaman terjadi. Gilang justru menganggap Bella adalah wanita simpanan Satria karena Satria lah yang meminta Gilang untuk mempekerjakan Bella sebagai sekretaris Gilang tanpa melalui proses pengrekrutan karyawan pada umumnya.
Lantas, bagaimana perjalanan kisah mereka selanjutnya? Ikuti saja kisah Bella dan Gilang dalam novel Sekretaris Palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seandainya Bertemu Lebih Awal
"Kamu, masuk ke ruangan saya!"
Bella baru kembali dari mengantar papanya hingga teras lobby, tiba-tiba saja dikagetkan dengan perintah Gilang dari intercom wireless di mejanya.
Entah, apa lagi yang akan dipermasalahkan Gimana padanya saat ini? Mungkin karena dia terlalu lancang menawarkan diri mengantar papanya turun ke lobby? Atau soal dirinya mengambil kartu nama Helen?
Dalam perjalanan kembali ke kantor setelah bertemu dengan Helen, Gilang tidak membahas soal sikapnya. Gilang justru sibuk menghubungi kantor, memberi perintah pada Jimmy untuk mengatur penyambutan Pak Satria yang berkunjung ke kantornya secara mendadak.
Bella menarik nafas sejenak lalu menghembuskan perlahan, sebelum kakinya melangkah ke ruangan Gilang.
"Ada apa, Pak?" tanya Bella setelah menghadap Gilang.
Gilang merapatkan punggung ke sandaran kursi. Kedua lengannya berada di bahu kursi. Sedangkan netranya menatap lekat wanita cantik yang berdiri di depan mejanya saat ini.
"Apa yang kamu bicarakan dengan Jimmy tadi?" tanyanya menyelidik.
Mata Bella membulat, dia tak berpikir Gilang mengetahui dirinya berbincang dengan Jimmy, padahal Gilang sendiri sedang menerima tamu di dalam ruangannya.
"Ummm, Pak Jimmy ingin mengajak saya makan di luar, Pak." Bella senang mempermainkan emosi Gilang, hingga membuatnya mengatakan hal yang sejujurnya.
Tangan Gilang mengepal, kuku-kukunya menekan kencang telapak tangannya. Selama ini Jimmy adalah orang terdekat yang sangat patuh padanya. Tidak pernah menentang apa yang ia katakan. Tapi, kini Jimmy sering membantah bahkan terkesan membangkang kepadanya.
"Dan kamu terima?" tanya Gilang dingin.
"Bapak bilang Pak Jimmy sudah bertunangan, mana mungkin saya terima. Kalau saya terima, nanti tuduhan Bapak yang menyebut saya wanita selingkuhan itu benar." Jawaban Bella membuat netra Gilang membeliak. Dia merasa tak enak hati sempat menyebut Bella terlihat affair dengan mantan bosnya dulu.
"Ya sudah, kamu memang harus jaga jarak dengan Jimmy!" Kembali Gilang memperingatkan. "Oh ya, kenapa kamu tadi mengambil kartu nama Ibu Helen?" Hal itu sebenarnya ingin ditanyakan Gilang, dia penasaran alasan Bella melakukan hal itu. Namun, karena dirinya terlalu fokus dengan kedatangan Pak Satria, dia menunda bertanya.
"Oh, itu, saya pikir nanti Bapak juga akan memberikannya pada saya, jadi saya berinisiatif meminta lebih dulu," balas Bella menjelaskan, "Maaf kalau tindakan saya terlalu lancang," sambungnya.
"Tidak apa-apa, saya juga tidak membutuhkan kartu nama itu." Gilang tersenyum menyeringai, sejujurnya ia cukup senang dengan sikap tanggap Bella tadi.
Bella menangkap senyum penuh kelegaan dari ekspresi Gilang. Syukurlah, sepertinya Gilang tidak tertarik, meskipun Helen sudah berpenampilan menggoda. Itulah yang ada dalam pikiran Bella.
"Apa Bapak nggak tertarik dengan Ibu Helen?" Bella mencoba memancing reaksi Gilang soal wanita cantik dan seksi seperti Helen.
Gilang melirik Bella dengan sudut matanya.
"Kenapa kamu tanya seperti itu?" tanyanya kemudian.
"Kalau saya menduga, sepertinya Ibu Helen tertarik dengan Bapak. Sepertinya kerjasama yang beliau tawarkan itu hanya alasan, supaya beliau bisa lebih intens berinteraksi dengan Bapak." Bella menyampaikan pendapatnya.
Senyum kembali tersimpul di bibir Gilang. Mungkin orang lain pun akan berpendapat sama seperti Bella, karena ia pun merasakan hal yang sama. Hanya saja ia tak menyangka Bella berani menanyakan padanya, mengingat Bella adalah orang yang baru saja bekerja dengannya.
"Ya, saya juga mengira seperti itu," jawabnya dengan tenang.
"Untung saja Bapak sudah akan bertunangan, semoga Ibu Helen sadar diri dan nggak berpikir untuk mengganggu hubungan Bapak dengan tunangan Bapak." Ini moment yang tepat bagi Bella untuk mengetahui reaksi Gilang atas rencana perjodohan dengan anak Pak Satria yang tidak Gilang ketahui, jika itu adalah dirinya.
Air muka Gilang seketika berubah. Senyum yang sejak tadi bertahan di bibirnya kini sirna. Bahkan dengusan berat nafasnya terdengar di telinga Bella.
"Kenapa wajahnya jadi murung? Apa dia juga nggak menyukai rencana perjodohan ini?" Melihat perubahan mimik muka Gilang, Bella menduga Gilang terpaksa menerima perjodohan itu. "Hmmm, baguslah kalau begitu." Bella mengambil keuntungan dari sikap Gilang. Dia bisa meyakinkan sang papa untuk membatalkan rencana perjodohan mereka.
"Sebaiknya kamu kembali ke mejamu!" Suara Gilang akhirnya terdengar. Dia tidak ingin membicarakan rencana perjodohan dengan anak Pak Satria dan menyuruh Bella meninggalkannya.
Bella memperhatikan Gilang yang menatap kosong ke arah meja. Benar-benar seperti merasa terganggu dengan pertanyaannya tadi.
"Baik, Pak. Permisi." Bella pun akhirnya meninggalkan ruangan Gilang sambil terus menebak-nebak alasan perubahan ekpresi Gilang tadi.
***
Saat berbincang di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya, Bella menceritakan dengan reaksi Gilang soal perjodohan mereka. Bella berharap papanya bisa membatalkan niatnya untuk menjodohkan mereka.
"Pih, Papih batalin aja rencana menjodohkan aku dengan Gilang." Sambil menggenggam tangan papanya, Bella memohon agar papanya memikirkan ulang soal rencana menjadikan Gilang suaminya. "Kasihan dia tertekan banget kelihatannya, Pih. Bella yakin, sebenarnya dia juga kepingin menolak, hanya saja merasa nggak enak karena Papih udah bantu perusahaannya." Kini ia menyandarkan kepala di pundak papanya.
"Rumah tangga yang didasari dengan keterpaksaan pasti nggak berjalan dengan baik. Daripada nanti dia selingkuh diam-diam di belakangan Bella, daripada nanti Bella terkena tekanan batin dikhinati, lebih baik Papih batalin aja, Pih." Bella merengek dengan dan ekspresi sedih yang dibuat-buat.
Pak Satria terkekeh dan mengusap kepala putrinya yang bergelayut manja. Dia tahu jika saat ini putrinya itu sedang berakting.
"Anak Papih ini, mana mungkin bisa tekanan batin!?" Pak Satria hapal karakter Bella. Putrinya itu bukan wanita lemah dan mudah diintimidasi. "Lagi pula, kalian itu baru beberapa hari bersama, belum cukup waktu kamu menilai Gilang seperti itu." Pak Satria tetap bertahan dengan keputusannya tentang perjodohan.
"Mungkin kalian nggak saling menyadari, kamu menjauhkan Gilang dari wanita yang ingin menggodanya, sementara Papih tadi sempat lihat, Gilang kurang suka lihat kamu memuji asistennya itu." Ternyata Pak Satria juga memperhatikan mimik muka Gilang metika Bella menyebut nama Jimmy, seolah Jimmy lebih berjasa daripada Gilang yang menerima Bella bekerja di sana.
Bella membulatkan bola matanya, menatap serius pada Pak Satria.
"Papih lihat juga, ya?" tanyanya kemudian.
"Hmmm, kamu juga menyadarikan, kan?" Pak Satria balik bertanya.
"Dia memang melarang Bella dekat sama Jimmy, Pih. Soalnya Jimmy tipe red flag dan udah punya tunangan." Bella membenarkan, jika ia pun merasakan ketidaksukaan Gilang jika ia terlalu akrab dengan Jimmy.
"Papih rasa kalian lebih butuh banyak waktu untuk lebih mengenal pribadi masing-masing, bukankah itu tujuan kamu menyamar kerja di sana?" Pak Satria berharap Bella lebih bersabar, agar mereka bisa menyadari perasaan masing-masing.
Sementara di tempat terpisah ...
Gilang merebahkan tubuhnya dengan melipat tangan di belakang kepala. Matanya menatap langit-langit kamarnya, membayangkan kebersamaan dengan Bella siang tadi saat bertemu Helen.
"Dia menyadari kalau Ibu Helen sepertinya hanya modus saja mengajak bekerja sama. Apa benar dia mengambil kartu nama itu karena yakin aku akan menyuruh dia menyimpannya? Atau dia berusaha menghalangi aku menghubungi Ibu Helen?" Senyum melengkung di bibir Gilang, mengingat sikap Bella yang seperti menyadari dirinya kurang tertarik menyimpan kartu nama Helen.
"Seandainya kita lebih awal berjumpa ..." Tiba-tiba Gilang berangan-angan. Namun, tak lama kemudian ia mengerjapkan matanya, seolah tersadar, tak seharusnya ia mengharapkan hal itu.
❤️❤️❤️
bakal makin gencar gak nih Bella menggoda Gilang setelah dengar cerita Jimmy😁
.