Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 08
Mobil Raka melaju membelah hujan.
Maya duduk gelisah di kursi belakang. Tangannya berkali-kali membuka dan menutup ponsel, berharap ada pesan dari Dimas atau Vina yang mengatakan mereka sudah menjemput Rafi. Tidak ada.
Anak kecil itu baru empat tahun. Cucu satu-satunya. Meski Dimas berubah menjadi orang yang menyakitinya, Rafi tetap darah daging yang dulu ia timang sejak bayi.
“Jangan remas tanganmu,” kata Raka.
Maya baru sadar jarinya saling menekan sampai memerah.
“Dia jarang demam tinggi.”
“Sekolahnya sudah memberikan obat?”
“Guru bilang baru kompres. Mereka menunggu keluarga.”
Raka mengangkat ponsel. “Bima, hubungi klinik anak terdekat dari sekolah. Minta dokter siap. Kalau perlu bawa ambulans kecil.”
Maya menoleh. “Tidak usah sampai ambulans.”
Raka menatapnya. “Kalau cucumu butuh, kenapa tidak?”
Maya terdiam.
Sekolah Rafi berada di kawasan elite, pilihan keluarga Vina. Biayanya membuat Maya dulu hampir tersedak ketika mendengar jumlahnya. Tapi Vina selalu berkata, “Anak kami tidak mungkin sekolah di tempat biasa.”
Saat mobil Raka berhenti di depan gerbang, satpam langsung panik melihat nomor kendaraan dan pengawal yang turun.
Maya tidak peduli. Ia membuka pintu sebelum Bima sempat membantu, lalu hampir terpeleset di lantai basah.
Raka menangkap lengannya dari belakang.
“Pelan.”
“Rafi—”
“Dia tidak akan sembuh lebih cepat kalau kamu jatuh.”
Maya menggigit bibir, menahan diri.
Di ruang guru, Rafi duduk lemas di pangkuan wali kelas. Wajahnya merah, rambutnya basah keringat. Begitu melihat Maya, bibir kecilnya bergetar.
“Nenek…”
Hati Maya runtuh.
Ia bergegas mengambil Rafi, tapi Raka lebih dulu menahan bahunya.
“Kamu hamil. Biar aku.”
“Dia maunya saya.”
“Duduk. Aku angkat, kamu pegang.”
Suaranya tidak memberi ruang untuk berdebat.
Raka mengangkat Rafi dengan hati-hati, lalu mendudukkannya di pangkuan Maya yang sudah duduk di sofa. Anak itu langsung menempel ke dada Maya.
“Panas sekali,” bisik Maya.
Guru menjelaskan dengan cemas bahwa Rafi mulai lesu setelah makan siang. Mereka sudah menelepon Dimas dan Vina berkali-kali, tapi ponsel Dimas tidak aktif, Vina hanya menjawab sedang di salon dan meminta sekolah menunggu sopir.
Maya memejamkan mata.
Raka mendengar semuanya. Wajahnya semakin dingin.
“Kita ke dokter.”
Maya mengangguk.
Mereka baru sampai di koridor ketika sebuah mobil putih berhenti mendadak di depan gerbang. Air hujan terciprat ke lantai. Bu Ratna turun lebih dulu, diikuti Vina yang masih memakai sandal salon dan kuku setengah jadi.
“Rafi!” Vina berlari, tapi matanya langsung berhenti pada Raka yang menggendong anaknya.
Bu Ratna melihat Maya, lalu wajahnya mengeras.
“Kenapa kamu yang ada di sini?”
Maya menahan Rafi yang merintih. “Sekolah menelepon saya karena kalian tidak datang.”
Vina berusaha mengambil Rafi. Anak itu justru makin menempel pada Maya.
“Rafi, sini sama Mama.”
“Nenek…” Rafi menangis kecil.
Wajah Vina memerah karena malu.
Bu Ratna langsung menuding Maya. “Kamu apakan cucu saya sampai dia lebih memilih kamu?”
Maya hampir tidak percaya.
“Dia sakit, Bu Ratna.”
“Justru karena sakit, jangan sembarangan dikasih apa-apa. Kamu bawa obat kampung lagi?”
“Saya belum memberi apa pun.”
“Jangan bohong. Orang kampung seperti kamu biasanya merasa paling tahu.”
Raka melangkah maju.
“Cukup.”
Bu Ratna menahan napas, tapi masih mencoba menjaga harga diri di depan guru dan staf sekolah.
“Tuan Raka, ini urusan keluarga kami.”
“Anak itu sakit. Urusan keluarga yang mengabaikan anak sakit bisa menjadi urusan pihak lain.”
Vina menatap Raka dengan mata bingung dan takut. Mungkin ia masih belum percaya ibu mertuanya benar-benar berdiri di samping pria seperti itu.
Dimas akhirnya datang dengan motor. Wajahnya kusut, rambutnya basah hujan. Ia melihat pemandangan di depannya: ibunya memegang Rafi, istrinya menangis marah, ibu mertuanya tegang, dan Raka berdiri seperti tembok.
“Ada apa lagi?” tanyanya.
Maya menatap anaknya.
“Rafi demam tinggi.”
Dimas melangkah mendekat. Untuk sesaat, wajahnya menunjukkan kepanikan seorang ayah. Tapi Bu Ratna segera mendahului.
“Semua gara-gara ibumu. Datang-datang membuat sekolah heboh.”
“Saya datang karena sekolah menelepon,” kata Maya.
Dimas mengusap wajah. “Bu, kenapa Ibu selalu ada di tengah masalah?”
Kalimat itu membuat Maya diam.
Bahkan saat cucunya sakit, yang ia lihat tetap kesalahan ibunya.
Raka menoleh perlahan.
“Ulangi.”
Dimas menelan ludah.
“Saya cuma…”
“Anakmu demam. Ibumu datang karena kamu dan istrimu tidak bisa dihubungi. Dan kesimpulanmu, dia masalahnya?”
Dimas tidak menjawab.
Rafi tiba-tiba batuk dan menangis. Maya langsung panik.
“Kita ke dokter sekarang.”
Raka tidak menunggu persetujuan siapa pun. Ia memberi isyarat kepada Bima. Mereka membawa Rafi ke mobil, Maya ikut masuk. Vina hendak menyusul, tapi Rafi menolak dan menangis semakin keras.
“Dia anakku!” Vina berteriak.
Maya membuka pintu sedikit. “Kalau begitu ikutlah. Tapi jangan teriak di telinganya.”
Vina membeku.
Bu Ratna menariknya. “Jangan naik mobil mereka. Kita pakai mobil sendiri.”
Di klinik anak, dokter memeriksa Rafi. Ternyata demam karena infeksi tenggorokan, belum berbahaya tapi harus dipantau. Maya duduk di samping ranjang kecil, menyeka keringat Rafi dengan kain basah.
Vina duduk di sudut sambil menangis pelan, lebih karena tersinggung daripada khawatir. Dimas berdiri dekat pintu, tidak nyaman. Bu Ratna sibuk menelepon suaminya, menyalahkan sekolah, cuaca, pembantu, dan tentu saja Maya.
Raka keluar sebentar menerima telepon.
Saat ia pergi, Bu Ratna mendekat.
“Jangan merasa menang hanya karena sekarang kamu punya Raka Wijaya.”
Maya tetap menyeka leher Rafi.
“Saya tidak sedang bertanding.”
“Kamu pikir aku tidak tahu perempuan sepertimu? Pura-pura lemah, pura-pura jadi korban, lalu menempel pada laki-laki kaya. Sekarang hamil pula. Hebat.”
Tangan Maya berhenti.
Vina menunduk, tapi tidak membela.
Dimas berkata pelan, “Ma, sudah.”
Bu Ratna makin keras. “Kenapa? Takut? Dia ibumu, tapi lihat kelakuannya. Baru kemarin menolak Pak Burhan, sekarang sudah jadi istri orang kaya. Kita semua tahu caranya.”
Maya meletakkan kain ke baskom.
Ia berdiri pelan.
“Bu Ratna.”
Nada suaranya tenang. Terlalu tenang sampai Dimas menoleh.
“Selama ini saya diam karena Dimas anak saya. Saya menerima kata-kata Ibu karena saya tidak mau rumah tangga mereka rusak. Tapi jangan bicara sembarangan di depan cucu saya.”
Bu Ratna tertawa mengejek. “Cucu kamu?”
“Ya. Cucu saya. Anak dari anak yang saya besarkan dengan tangan sendiri. Kalau bukan karena saya, Dimas tidak akan berdiri di keluarga Ibu dengan gelar sarjana dan pekerjaan yang bisa Ibu pamerkan.”
Wajah Dimas berubah.
“Bu…”
Maya menoleh kepadanya.
“Kamu malu kalau Ibu mengingatkan itu?”
Dimas terdiam.
“Ibu tidak pernah menagih. Tapi jangan biarkan orang lain menginjak Ibu seolah Ibu tidak pernah melakukan apa pun untukmu.”
Vina menangis semakin keras. “Mas, ibumu menghina keluargaku.”
“Aku hanya mengatakan fakta,” kata Maya.
Bu Ratna mengangkat tangan, entah ingin menunjuk atau menampar.
Pintu terbuka.
Raka masuk.
Tangannya langsung berhenti di udara.
Mata Raka turun ke tangan Bu Ratna, lalu ke wajahnya.
“Coba lanjutkan.”
Bu Ratna perlahan menurunkan tangan.
“Saya tidak—”
“Mulai hari ini,” kata Raka, “semua biaya sekolah dan kesehatan Rafi akan saya bayarkan langsung ke lembaga terkait atas nama dana keluarga Maya. Bukan lewat Dimas. Bukan lewat Vina. Bukan lewat Anda.”
Semua orang terkejut.
Maya pun sama.
“Mas Raka, jangan.”
Raka tidak menatapnya. “Aku belum selesai.”
Ia mengeluarkan ponsel, menunjukkan dokumen yang baru dikirim Bima.
“Dan karena ada bukti keluarga Anda mencoba memaksa Maya menyerahkan rumahnya, pengacara saya akan mengirim somasi besok pagi. Kalau ada lagi tekanan, ancaman, atau fitnah, saya bawa ke polisi.”
Bu Ratna pucat.
Dimas tampak panik. “Tuan Raka, ini terlalu jauh.”
Raka menoleh kepadanya.
“Yang terlalu jauh adalah menjadikan ibumu alat tukar.”
Rafi menggeliat di ranjang. “Nenek… jangan pergi.”
Maya langsung duduk kembali, menggenggam tangan kecilnya.
“Nenek di sini.”
Raka melihat pemandangan itu. Wajahnya masih dingin, tapi matanya tidak sekeras tadi.
Setelah obat diberikan dan kondisi Rafi lebih stabil, dokter mengizinkan pulang. Vina akhirnya menggendong Rafi, tapi anak itu tetap memegang ujung jilbab Maya.
“Nenek ikut?”
Maya mengelus rambutnya. “Nenek pulang dulu. Rafi minum obat, ya.”
“Besok datang?”
Maya ingin menjawab iya, tapi ia tahu segala sesuatu tidak lagi sesederhana dulu. Ia menatap Dimas.
Dimas membuang muka.
Raka berkata, “Kalau Rafi ingin bertemu neneknya, hubungi Bima. Jangan membuat Maya datang sendiri.”
Bu Ratna menggertakkan gigi, tapi tidak berani membantah.
Di perjalanan pulang, Maya diam.
Raka akhirnya bertanya, “Menyesal?”
“Tentang apa?”
“Menikah denganku.”
Maya menoleh cepat. “Kenapa Mas Raka bertanya begitu?”
“Kamu kehilangan kebebasan untuk mengalah kepada mereka.”
Maya memandang jalan basah di luar.
Lama kemudian, ia berkata, “Saya baru sadar. Mungkin selama ini yang saya sebut kebebasan hanyalah kebiasaan disakiti tanpa ada yang melarang.”
Raka tidak menjawab.
Mobil terus melaju.
Maya menyentuh perutnya.
Di dalam sana, kehidupan kecil itu diam. Tapi keberadaannya membuat semua batas lama runtuh.
Dan di sampingnya, Raka duduk tanpa menyentuhnya.
Namun untuk pertama kali, Maya merasa tidak sendirian.
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍