NovelToon NovelToon
Ratu dari Empat Bintang

Ratu dari Empat Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Satu wanita banyak pria
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Felicia Winarko bukan gadis biasa.

Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.

Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.

Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.

Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.

Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.

"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."

Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4 - Siapa Takut?

Mata Calvin Tanuwijaya melebar hanya sekejap.

Kalau bukan karena Felicia sedang memperhatikannya, reaksi kecil itu mungkin akan lewat begitu saja. Setelah itu, senyum malasnya kembali muncul, sketchbook di tangannya dibuka, dan ia tampak seperti tidak pernah kehilangan kendali.

Menarik.

"Calvin Tanuwijaya mengenali pemilik tubuh lama?" tanya Felicia dalam hati.

"Mereka punya hubungan keluarga yang agak rumit," jawab Sis pelan. "Tapi detailnya belum terlalu aman untuk dibuka sekarang. Intinya, Calvin pernah beberapa kali bertemu Felicia."

"Dia sadar ada yang berubah."

"Mungkin cuma merasa aneh."

"Tidak. Matanya tadi bukan mata orang yang sekadar merasa aneh."

Sebelum Sis bisa menjawab, wali kelas masuk. Empat anggota F4 tidak lama berada di sana. Nathan menyerahkan beberapa berkas kegiatan OSIS, berbicara singkat dengan wali kelas, lalu membawa tiga lainnya keluar.

Jayden pergi sambil menguap bosan.

Sebastian menunggu sampai koridor agak kosong sebelum melangkah.

Calvin yang terakhir keluar sempat menoleh lagi ke arah bangku belakang.

Felicia membalas tatapannya tanpa berkedip.

Kali ini Calvin tersenyum.

Manis. Tipis. Penuh hal yang tidak ia ucapkan.

Pintu kelas tertutup.

Baru setelah itu seluruh Kelas F seperti kembali bernapas.

Pelajaran pagi berjalan seperti suara radio rusak di telinga Felicia. Wali kelas membahas peraturan keterlambatan, jadwal piket, dan persiapan turnamen olahraga sekolah. Felicia mendengar cukup untuk tahu bahwa tubuh ini tertinggal jauh dari sisi akademik biasa, tetapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Matematika dasar. Bahasa. Hafalan.

Lebih mudah daripada menghitung jalur evakuasi saat tembok pangkalan ditembus makhluk mutasi.

Saat bel istirahat berbunyi, sebagian siswa langsung keluar menuju kantin. Beberapa tetap menoleh ke arah Felicia, seolah ingin memastikan gadis yang tadi membuat mereka tidak nyaman itu benar-benar duduk di sana.

Sis mengingatkan, "Tuan Rumah sebaiknya makan. Tubuh ini belum sarapan."

"Nanti."

"Kalau gula darah turun, reaksi fisik bisa melambat."

Felicia berhenti memasukkan buku ke tas.

"Kamu baru saja memberi alasan yang bagus."

"Untuk makan?"

"Untuk menguji tubuh."

Sis langsung curiga. "Tuan Rumah, maksudnya menguji yang normal-normal saja, kan?"

Felicia tidak menjawab. Ia berjalan keluar kelas.

Koridor menuju kantin ramai, tetapi keramaian itu terbelah di beberapa titik. Siswa yang lebih kuat bergerak di tengah. Yang tidak punya nama keluarga bagus menepi. Anak Kelas F berjalan paling pinggir, hampir menempel dinding.

Felicia memilih jalur tengah.

Bisikan langsung naik.

"Dia sengaja banget."

"Mau cari mati?"

"Tadi berani karena F4 ada di sini kali."

Felicia baru melewati belokan dekat gudang olahraga ketika tiga orang menghalangi jalan. Siswi berambut bob dari pagi berdiri di depan, kali ini bersama dua siswa laki-laki. Salah satunya bertubuh besar dengan lengan seragam digulung. Yang satu lagi memegang ponsel, sama seperti sebelumnya.

Pintar juga.

Mereka memilih sudut yang tidak terlalu jauh dari keramaian, tetapi cukup tertutup oleh deretan loker dan papan pengumuman. Kalau ada yang berteriak, orang akan menoleh. Kalau hanya terjadi dorongan kecil, semua orang bisa pura-pura tidak melihat.

"Tadi kamu keren banget," kata siswi berambut bob. Senyumnya kaku. "Sampai bikin kami malu di depan kelas."

Felicia menatap jam dinding di ujung koridor. "Aku punya lima menit sebelum kantin penuh."

"Masih sok?"

Siswa bertubuh besar maju dan mencengkeram tali tas Felicia. "Minta maaf dulu."

Sis panik. "Tuan Rumah, ada kontak fisik! Dia duluan!"

"Aku tahu."

"Tubuh ini tidak kuat!"

"Cukup kuat untuk ini."

Felicia bergerak.

Tidak cepat seperti tubuh lamanya, tetapi cukup cepat untuk anak sekolah yang hanya mengandalkan ukuran badan. Ia memutar tali tas ke arah luar, membuat cengkeraman cowok itu ikut tertarik. Saat tubuh besar itu kehilangan keseimbangan, Felicia menghantam pangkal pergelangan tangannya dengan sisi telapak.

Ponsel di tangan temannya hampir jatuh karena kaget.

Cowok bertubuh besar mendesis kesakitan.

Felicia tidak memberi jeda.

Satu langkah masuk. Siku kanan pendek ke ulu hati, tidak cukup untuk merusak organ, cukup untuk mencuri napas. Lutut lawan melemah. Felicia menangkap kerahnya, memutar berat tubuhnya sendiri, lalu menjatuhkannya ke lantai dengan suara keras.

Semua terjadi dalam kurang dari tiga detik.

Koridor membeku.

Sis berhenti berteriak di kepala Felicia.

Cowok itu meringkuk sambil batuk, wajahnya merah, matanya penuh air karena napas yang terputus.

Felicia menoleh pada siswa yang memegang ponsel.

"Masih mau merekam?"

Tangan siswa itu gemetar. Ponselnya turun.

Siswi berambut bob mundur sampai punggungnya menabrak loker. Lip gloss di bibirnya bergetar bersama napas. "Kamu... kamu gila."

"Salah."

Felicia mengambil tasnya dari lantai, menepuk sedikit debu di tali.

"Aku cuma tidak selemah kemarin."

Dari arah kantin, beberapa siswa yang tadi pura-pura tidak melihat mulai berbisik dengan suara tertahan.

"Dia banting orang?"

"Serius itu Felicia?"

"Bukannya dia biasanya nangis?"

"Dia berubah."

Kata itu menyebar seperti api kecil di kertas kering.

Dia berubah.

Ponsel yang tadi hampir dipakai merekam kini berpindah fungsi. Bukan lagi kamera terbuka, melainkan jari-jari cepat di layar. Dalam hitungan detik, beberapa grup kelas menerima pesan baru.

Felicia ngebanting orang di dekat gudang olahraga.

Serius, yang Kelas F itu?

Ada yang punya video?

Gue nggak sempat rekam. Takut.

Felicia melihat pantulan layar dari loker logam dan menyimpan informasinya. Di dunia ini, suara tidak perlu diteriakkan untuk menjadi senjata. Cukup dikirim ke grup WhatsApp, ditambah sedikit bumbu, lalu seluruh sekolah akan ikut menonton bahkan tanpa hadir.

Bagus.

Ia memang butuh panggung.

Namun tubuh barunya tidak ikut sepuas pikirannya. Pergelangan tangan yang tadi menghantam lawan mulai berdenyut. Napasnya tetap stabil, tetapi otot paha terasa tertarik karena gerakan bantingan yang terlalu bersih untuk tubuh yang jarang dilatih.

Sis cepat menangkap perubahan itu. "Denyut nadi naik. Tangan kanan memar ringan. Lutut kiri agak tertarik. Tuan Rumah, ini baru satu orang."

"Berarti batas sementara sudah jelas."

"Itu bukan kabar baik!"

"Itu data."

Felicia berjalan melewati siswi berambut bob. Saat bahu mereka hampir bersentuhan, siswi itu menahan napas dan memejamkan mata, seperti menunggu pukulan.

Felicia bahkan tidak menyentuhnya.

Tidak perlu.

Rasa takut yang tepat jauh lebih hemat tenaga.

Di ujung koridor, bayangan seseorang bergerak dari balik pilar.

Calvin Tanuwijaya berdiri di sana.

Sketchbook hitam masih ada di tangannya, tetapi kali ini tidak terbuka. Senyum malasnya hilang. Mata cokelat mudanya menatap cowok yang masih meringkuk di lantai, lalu naik perlahan ke wajah Felicia.

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada ejekan. Tidak ada kata-kata manis.

Hanya rasa ingin tahu yang mendadak menjadi terlalu tajam.

Felicia berhenti dua langkah di depannya.

"Mau lewat?" tanyanya.

Calvin tidak bergerak.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu pagi itu, suaranya keluar tanpa nada main-main.

"Kamu... bukan orang yang sama, kan?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!