NovelToon NovelToon
ASI untuk Pewaris Haram

ASI untuk Pewaris Haram

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Ibu susu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: N A R I

Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.

Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.

Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.

Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.

Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.

Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.

Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,

“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Harga Sebuah Pengakuan

"Bunuh diri di depan keluargamu sendiri demi wanita itu? Kamu sudah gila, Bastian!" Bisikan Raline terdengar tajam seperti silet.

Namun Bastian bahkan tak menoleh. Pria itu tetap berdiri tegak di tengah ruang pesta yang mendadak sunyi setelah pengakuannya mengenai Kemala. Kemala yang menggendong Nathan dapat merasakan puluhan pasang mata kini beralih kepadanya. Tatapan penasaran, meremehkan, dan mencurigai. Bahkan ada yang terang-terangan menghina.

Suasana pesta ulang tahun Madam Eleanora yang sebelumnya mewah dan hangat berubah seperti arena pertempuran. Dan Kemala berada tepat di tengah-tengahnya.

"Jangan diam saja, Bastian!" desis Raline semakin kesal. "Kamu tahu apa yang baru saja kamu lakukan?"

Bastian masih tak menanggapi. Sikap acuh tak acuh itu justru membuat wajah Raline memerah. Di sisi lain ruangan, beberapa sepupu Rothmere mulai saling bertukar pandang. Mereka melihat kesempatan yang selama ini mereka tunggu. Kesempatan untuk menggoyang posisi Bastian Rothmere.

Salah seorang pria paruh baya berdiri dari kursinya. Namanya William Rothmere. Sepupu jauh Bastian yang mengelola salah satu perusahaan cabang keluarga.

"Seharusnya kamu lebih memperhatikan martabat keluarga, Bastian."

Beberapa orang langsung mengangguk.

"Benar."

"Kita sedang menjadi sorotan publik."

"Rothmere tidak boleh membuat kesalahan."

"Terutama sekarang."

Suara-suara mulai bermunculan dari berbagai arah. Seolah mereka sudah lama menahan semua itu.

"Kita sedang mengerjakan proyek strategis nasional."

"Investor memperhatikan setiap langkah kita."

"Saham bisa turun kalau muncul berita aneh."

"Apalagi jika media tahu ada wanita asing tinggal di kediaman utama Rothmere."

Kemala menunduk. Tangan wanita desa itu semakin erat memeluk Nathan. Kemala sama sekali tak mengerti dunia saham ataupun dunia bisnis sebesar Rothmere Group. Namun wanita itu bisa merasakan satu hal. Orang-orang itu sedang berusaha menjatuhkan Bastian. Dan Kemala hanyalah alasan yang digunakan.

"Pakailah logika, Bastian," lanjut William. "Jangan campurkan urusan pribadi dengan kepentingan keluarga."

"Atau mungkin," sambung pria lain, "kamu sudah terlalu terbawa perasaan?"

Beberapa orang terkekeh. Raline tersenyum tipis. Sedangkan Kemala merasa tenggorokannya mengering. Seumur hidupnya Kemala tak pernah berada di ruangan semewah ini. Tak pernah berada di tengah keluarga konglomerat. Dan sekarang Kemala melihat sendiri bagaimana mereka saling menyerang sambil tetap tersenyum. Jauh lebih menyeramkan daripada pertengkaran warga kampung. Karena setiap kalimat terasa seperti racun yang dibungkus sutra.

Di ujung ruangan, Madam Eleanora masih duduk diam. Wanita tua itu tak menyela, tak membela, bahkan tak pula menghentikan siapa pun. Tatapan wanita tua dengan gaun aristokrat itu hanya berpindah dari satu wajah ke wajah lain. Madam Eleanora hanya mengamati, menilai, dan menunggu.

Sementara itu Bastian akhirnya melangkah maju. Satu langkah saja, tetapi cukup membuat ruangan kembali hening.

"Sudah selesai?" suara Bastian terdengar datar.

Suara yang sama sekali tak keras itu mampu membuat beberapa orang refleks menelan ludah. Tak ada yang berani menjawab. Bastian memasukkan satu tangan ke saku celananya. Tatapan pria muda dengan tuksedonya itu menyapu seluruh keluarga besar Rothmere.

"Kalau sudah selesai, sekarang giliran saya."

Ruangan kembali membeku.

"Kalian berbicara soal martabat keluarga." Bastian berhenti sejenak.

"Lalu mari kita bicara fakta," suara Bastian terdengar begitu yakin dengan menatap tajam ke arah William.

Wajah William langsung mengeras. Instingnya mengatakan ini tak akan berjalan baik.

"Bukankah perusahaan konstruksi Surabaya yang kamu kelola mengalami kerugian selama tiga tahun terakhir?" tanya Bastian tanpa mengubah ekspresi wajahnya.

William langsung membeku. Beberapa orang spontan menoleh kepada pria paruh baya itu.

"Dan bukankah kantor pusat yang menutup kerugian itu?" Bastian melanjutkan pertanyaan tajamnya kepada William.

Tak ada jawaban apapun keluar dari mulut William. Bastian beralih ke orang lain.

"Pabrik Batam gagal memenuhi target produksi selama dua kuartal berturut-turut."

Lalu pandangan Bastian langsung ke orang berikutnya.

"Perusahaan logistik Kalimantan masih menerima subsidi dari Rothmere Group."

Satu demi satu tak ada yang luput. Seperti guru yang sedang membacakan nilai buruk murid-muridnya. Wajah para sepupu mulai berubah. Sebagian merah, sebagian pucat, dan sebagian terlihat ingin membantah tetapi sama sekali tak mampu. Karena apa yang dikatakan oleh Bastian semuanya sesuai dengan data yang benar.

"Jadi mari kita luruskan satu hal, " suara Bastian terdengar semakin tenang. "Siapa sebenarnya yang mempertaruhkan martabat Rothmere?"

Semua orang yang tadinya melawan Bastian hanya terdiam. Sama sekali tak ada yang menjawab.

"Tunjukkan satu data yang membuktikan saya menurunkan valuasi perusahaan," paparan Bastian hanya menghasilkan kesunyian.

"Tunjukkan," tekan Bastian sambil menyapu pandangannya keseluruh tamu yang ada di dalam pesta ulang tahun Madam itu. Hanya terlihat kesunyian tanpa ada suara yang membantah.

"Satu saja," tegas Bastian mengakhiri pandangannya kepada William yang masih ada di depannya.

Tak ada satupun sanggahan yang diberikan. Karena memang tak ada. Di bawah kepemimpinan Bastian, Rothmere Group berkembang pesat. Keuntungan meningkat, ekspansi berhasil, dan semua orang di ruangan itu mengetahuinya.

Yang mereka benci bukan kinerja Bastian, melainkan kekuasaan pria muda itu. Rahang William mengeras. Namun pria paruh baya itu tak mampu membalas. Raline melihat para sepupu mulai kehilangan pijakan. Wanita dengan gaun merahnya itu segera melangkah maju.

"Jangan alihkan pembicaraan!" suara Raline melengking.

"Kita sedang membahas wanita itu!" pekik Raline dengan jari telunjuknya langsung menunjuk Kemala.

Kemala refleks menegang. Nathan yang tertidur di pelukannya bergerak kecil.

"Kamu selalu membela dia!" Raline menatap Bastian tajam.

"Dia bukan siapa-siapa!" Raline terus melanjutkan tanpa memberi jeda.

"Dia tidak punya nama besar!" cecar Raline masih menunjuk Kemala namun semakin mendekat.

"Tidak punya status!" Raline semakin mendekat kepada Kemala. "Tidak punya latar belakang!"

"Dan sekarang kamu mengangkatnya seolah setara dengan keluarga Rothmere?" tanya Raline yang sudah memalingkan wajahnya menatap tajam Bastian.

Kemala menunduk semakin dalam. Namun suara berikutnya membuat wanita yang penuh amarah itu terdiam.

"Sudah cukup, Raline." Bastian berbicara tanpa meninggikan suara.

Seluruh ruangan langsung hening. Bahkan Raline ikut membeku. Karena wanita itu sangat mengenal nada itu. Nada yang muncul ketika kesabaran Bastian habis.

"Aku tidak akan mentolerir lebih dari ini."

Raline menggertakkan gigi. "Kenapa? Karena kamu jatuh hati pada wanita itu?"

Suara desis mulai terdengar dari berbagai arah. Beberapa tamu saling berpandangan. Raline tersenyum penuh kemenangan. Wanita yang berada tepat di depan Bastian itu merasa akhirnya berhasil mengenai sasaran. Namun sebelum Raline bisa melanjutkan. Seorang sepupu lain berdiri.

"Kami hanya memikirkan keluarga ini."

"Kalau memang kamu peduli pada Rothmere, jangan sembarangan mengakui orang yang tidak jelas asal-usulnya."

Kalimat itu jelas ditujukan kepada Kemala. Tetapi semua orang tahu maksud sebenarnya. Nathan, pewaris yang sejak awal diragukan. Karena Raline tak pernah hamil. Dan tiba-tiba seorang bayi muncul sebagai pewaris sah.

"Bagaimana kami bisa percaya?" lanjut pria itu.

"Siapa yang bisa menjamin semuanya bersih?"

"Kita bahkan tidak tahu siapa sebenarnya wanita itu."

Kemala merasakan jantungnya berdegup semakin cepat. Nathan mulai bergerak lagi. Seolah ikut merasakan ketegangan di ruangan. Kemala segera mengusap punggung bayi itu pelan. 

Wanita desa itu berusaha menenangkan, berusaha melindungi, dan justru tindakan sederhana itu membuat beberapa pasang mata memperhatikan Kemala.

Kemala tak sedang memikirkan dirinya sendiri. Wanita sederhana itu hanya memikirkan Nathan. Namun tak semua orang melihat Kemala seperti itu. Raline kembali membuka mulut. Siap melanjutkan serangan. Siap menghancurkan Kemala di depan semua orang.

Tak. Tak. Tak.

Suara tongkat menghantam lantai marmer. Suara itu tak keras namun langsung disadari oleh semua orang. Itu sangat cukup untuk membuat seluruh ruangan membeku. Semua kepala langsung menoleh. Madam Eleanora berdiri perlahan, terlihat anggun dengan gaun aristokratnya, dan terasa jelas atmosfer sangat berbahaya.

Tatapan wanita tua itu menyapu seluruh ruangan. Tak ada yang berani berbicara. Tak ada yang berani bergerak. Bahkan Raline langsung menutup mulut.

"Aku sudah cukup mendengar," suara Madam terdengar tenang.

Namun justru itulah yang membuat suasana semakin mencekam. Wanita tua itu melangkah maju. Tongkatnya kembali menghantam lantai.

Tak!

"Aku yang akan menentukan ..." Tatapan Madam Eleanora berhenti sejenak pada para sepupu dan pada Raline. Lalu pada Kemala yang masih memeluk Nathan. "Siapa yang layak berada di dekat pewaris Rothmere."

1
Apita BalqisNabillah
jangan sampai ketipu kemala siapa tau anak yng dibawa clarissa bukan arkana anakmu melainkan anak orang yng diambil dari panti asuhan.....jangan sampai nathan celaka gegara kamu lengah kemala...
Apita BalqisNabillah
waduh apa tujuan si clarissa mendekati kemala apa mau dijadikan tumbal
N A R I: waduh serem banget 😢
total 1 replies
Syifa Rufaidah
kerennn
N A R I: terima kasih kak 😍
total 1 replies
Alia Chans
cerita nya ser😣
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️






kalo berkenan mampir juga y😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!