NovelToon NovelToon
REPLAY

REPLAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:618
Nilai: 5
Nama Author: Anyelir 02

Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.

Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.

Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.

Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 - Rindu dan Gengsi

“Sial banget gue pagi ini.” geram Nala pagi ini. Dirinya baru saja bangun setelah menyelam dalam mimpi. Dan paginya yang seharusnya tenang harus bertemu dengan Arya dengan penampilannya yang berantakan. Malu...!! Itulah yang saat ini dirasakan Nala.

Rebahan di atas kasurnya, Nala menutup wajahnya dengan boneka kelinci favoritnya. Boneka itu berasal dari Arya di masa lalu, hadiah atas kemenangannya setelah mengikuti Olimpiade Sains tingkat nasional.

“Huaaa....malu banget!” teriak tertahan Nala. Meredam suara menggunakan boneka adalah cara Nala agar tidak ada satu pun yang mengetahuinya. Merenung dibalik punggung boneka, Nala meredam rasa malunya disana.

 

Tok... Tok...

 

“Nala, boleh gue masuk?”

Suara itu membangunkan dirinya. Renungan paginya terhenti, Nala bangun dari kasurnya dan segera membuka pintu. Mana mungkin ia berani mengabaikan nyonya rumah, kakak ipar sekaligus sahabatnya itu. Jika iya, bisa habis dirinya di tangan kakaknya.

Melihat Maya berdiri di depan kamarnya, Nala berbalik mempersilahkan Maya untuk masuk. Duduk di sofa kecil di kamarnya, tempat dia menikmati masa tenangnya.

“Gue kira lo bakalan segera bersiap dan turun ke bawah,” Godaan Maya tak membuat Nala bergeming. Dia memilih tetap rebahan di kasurnya. Mana mungkin ia kembali menyetorkan wajah setelah menunjukkan sisi memalukan dirinya.

“Gue tau lagi ada masalah dengan orang yang ada di bawah. Berdiam diri di dalam kamar seperti sedang bersemedi di dalam gua. Hanya turun untuk mengambil makanan, bahkan lo lebih sering ke dapur kecil kan?”

Tebakan itu memang benar adanya. Dia tak menunjukkan wajah sesering mungkin dalam kurun waktu satu bulan ini. Berdiam diri di dalam kamar, berulang kali masuk ke ruang dimensi. Menikmati waktu tenang, mencerna apa yang ada di dalam pikirannya. Tak dipungkiri, sering kali ia merasakan sakit saat kenangan lama masuk kembali. Namun, dirinya ingin ingatannya kembali segera setelah ada seseorang yang mencoba masuk dan mengusik ingatan itu.

Makan dan masak di dapur kecil di samping kamarnya adalah jalan satu-satunya agar keluarganya tak mengetahui apa yang terjadi. Dengan alasan belajar untuk persiapan tes nya, dirinya mampu menyembunyikan wajahnya yang pucat menahan sakit.

Saat ingatannya kembali, semuanya terasa berbeda. Memandang dunia tak lagi sama. Terlalu banyak hal pahit di masa lalu, meskipun terasa manis di dalamnya.

“Gimana? Bukankah jika ada masalah lebih baik segera diselesaikan. Satu bulan, menurut gue udah cukup untuk menenangkan diri. Lo nggak kasihan dia sering kesini, berkunjung dengan penolakan sebagai akhirnya?”

Nala melirik ke arah Maya, berbalik dan segera menghadap ke arahnya. Perkataan yang diucapkan Maya ada benarnya. Waktu untuk berdiam diri, menangkan hati sudah cukup. Lagipula, dirinya masih ada perjanjian yang harus diselesaikan.

“Lo bener, gue bersiap dulu. 30 menit?”

“10 menit.”

“25 menit?”

“15 menit?” Aksi tawar menawar itu terhenti dengan tawaran 15 menit. Nala tak berani mengajukan waktu lagi, apalagi melihat wajah Maya yang tak ingin ditolak lagi.

Maya tersenyum saat Nala berdiri dan bersiap. “Ingat, bersiap dalam waktu 15 menit.”

“Iya... iya, tau gue!” teriak Nala dari dalam kamar mandi.

 

...****************...

“Lihat, siapa yang akhirnya turun ini,” godaan Dipta tak membuat Nala senang. Dia menatap sang kakak dengan jengkel. Jika biasanya kakak laki-lakinya itu akan masuk ke dalam kubunya, maka kali ini dirinya yakin bahwa sang kakak telah masuk ke dalam kubu Arya. Mungkin dalam kurun waktu sementara.

“Cih, biasanya juga bantuin ngusir dia. Lihat, siapa yang lagi ia jilat.” gumam Nala saat melihat wajah sok tak berdosa milik kakaknya. Kemudian, pandangannya beralih ke arah Arya yang sejak tadi menatapnya. Nala tau tapi pura-pura tidak tau.

Nala kembali melihat sorot mata Arya. Sorot akan kerinduan, itulah yang ia lihat. Nala juga merasakan rindu, namun dirinya masih terlalu malu untuk mengatakannya. Dirinya juga perlu kembali menata hatinya. Hatinya kembali terarah padanya, namun memastikan bahwa semuanya bisa kembali seperti semula memerlukan waktu.

Mungkin semua terdengar egois. Nala sadar akan hal itu. Namun, urusan hati dirinya tak ingin main-main. Luka dari hati itu sangat sulit untuk sembuh. Dirinya hanya takut Arya mendekati dirinya ternyata hanya untuk membalasnya, bukan mencintainya.

“Ada apa?” tanya Nala dengan nada ketus

Arya POV

Tok..

Tok...

“Kenapa lo datang lagi? Adik gue nggak mau ketemu sama lo, Arya!”

Penolakan lagi yang kuterima. Aku hanya ingin bertemu, apakah sesusah itu. Ingin sekali aku bertanya alasannya, mengapa dia tak mau bertemu denganku.

Saat aku pasrah dan ingin pergi, Dipta memanggilku.

“Lo masuk. Kali ini, gue bakal izinin lo masuk dan ketemu Nala. Gue nggak mau masalah kalian berlarut-larut dan membuat adik gue nggak fokus. Dia mau tes, gue nggak mau masalah kalian membuat dia merasakan kegagalan.”

Alasan tak masuk akal. Kepintaran Nala, siapa yang tak mengetahuinya. Tak belajar selama sehari saja, tak mengurangi kepintaran otak Nala.

Aku duduk di sofa ruang tengah, tempat dimana keluarga itu bersantai. Dirinya pernah sekali masuk dan ikut bersantai saat keluarga ini mengadakan acara kecil-kecilan dan mengundang orang terdekat mereka. Kemudian mata ku melihat ke arah foto yang tertempel di dinding. Dirinya baru menyadari ada foto Nala disana. Jika aku tau Nala bagian keluarga Dipta, mungkin dia bisa bertemu dengan Nala lebih cepat.

“Tunggu sini, adik gue bakal turun. Setelah itu lo bisa berbicara dengannya.”

 

Tap...

Tap...

Langkah kaki menuruni tangga. Seorang gadis yang ia ingin temui baru saja turun. Dengan gaya khas bangun tidur, wajah ayu nya tampak sangat mempesona. Piyama pink bermotif kelinci, rambut yang diikat asal dan sandal berbulu pink itu sangat cocok dengan wajahnya yang feminim.

“Selamat pagi, tuan putri tidur!” sapaan Maya saat melihat Nala yang baru saja turun. Aku tak berhenti memperhatikannya. Sungguh, wajahnya sangat manis

“Selamat pagi!” Suara Nala serak khas bangun tidur itu menggetarkan hatiku. Detak jantungku berdegup kencang hanya mendengar suaranya setelah sekian lama. Langkah gontainya membuatnya berjalan oleng, aku ingin membantunya. Rasanya ia ingin menopang tubuh mungil itu dalam pelukannya.

“Ehem!” deheman Dipta membuat Nala beralih fokus ke arah Dipta, begitu juga denganku.

“Dek, buka matamu dan lihat siapa yang bertamu pagi ini.” Nala mengucek matanya, berusaha memfokuskan penglihatannya. Sungguh, ekspresi Nala membuatku gemas sendiri. Dirinya seperti anak kecil, sungguh menggemaskan.

“Ahhhh!!!” Teriakan Nala mengejutkan. Melihat dia berlari kembali ke arah tangga, membuatku cemas. Dirinya tau bahwa Nala masih tak mau menemuinya.

“Maaf ya, tunggu sebentar Nala habis ini pasti akan turun lagi.” ujar Maya dengan lembut. Kemudian berjalan menyusul Nala. Aku memperhatikan lantai 2 rumah ini. Melihat pintu kamar Nala yang tertutup dengan cukup keras.

“Tenang aja dia bakal balik dan bicara sama lo!”

1
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
kenapa ya jaman sekarang kl anaknya nggak nikah, yang bingung orang tuanya, tetangganya sama semua orang sampe bingung 🤣🤣🤣
Anyelir: soalnya iri sama tetangga, pengin momong cucu. biasa ajang pamer cucu setelah ajang pamer anak
total 1 replies
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
Halah kalian semua kebanyakan alasan, emang sengaja sih menurutku, mereka nggak mau jemput nala/Shy/
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
tega banget, sampai lupa jemput nala.
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
nggak semua cinta itu buruk ya nala, coba buka lagi cara pemikiran kamu.
Noona Rara
Aku mampir yah kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!