NovelToon NovelToon
SKENARIO TUAN DANENDRA

SKENARIO TUAN DANENDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Duda
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lovelyiaca

Dipaksa untuk pulang oleh sang ayah dengan ancaman atas nama pacarnya, Daniel. Membuat Elleta harus pulang ke Indonesia. Entah kesepakatan apa, papanya tega menjualnya ke laki-laki bernama Steve, pewaris utama Danendra group. Fakta baru yang ia tau, Steve pernah menikah.

Hanya untuk keamanan sang pacar, Elleta rela setuju. Akankah Elleta bisa menjalaninya, atau justru masuk lebih dalam ke kehidupan laki-laki itu.

"Selamat datang di kehidupan barumu, Elleta."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Transaksi Hitam Danendra

Elleta beranjak dari tidur dengan piyama yang masih melekat di tubuhnya, jangan lupa dengan kantung matanya hitam karena tidurnya terganggu oleh isi kepalanya, matanya yang memerah khas orang baru bangun tidur. Nyawanya belum terkumpul, gadis itu nekat melangkahkan kakinya menuju ke perpustakaan itu lagi.

“Tungggu, Theo!” teriak Elleta, menghentikan pergerakan asisten kepercayaan suaminya mengunci ruangan perpustakaan itu.

Theo tetap memutar kunci itu dan memasukkan ke kantong jasnya. “Kenapa Nona? Ada sesuatu Anda mau?”

Elleta menghela nafas, menatap kunci di saku laki-laki di hadapannya. “Kenapa dikunci? Aku biasanya suka baca buku disini.”

Theo tersenyum tipis, ia tahu Elleta selalu menghabiskan waktunya di perpustakaan tapi tugasnya tetap harus dilaksanakan. “Maaf, Nona. Pak Steve menyuruh saya untuk mengunci perpustakaan ini. Kalau Anda mau, coba minta izin ke Pak Steve.”

Elleta mengendus tak suka, memilih tidak menjawab pertanyaan Theo. Ia melenggang pergi dari asisten kepercayaan suaminya. Gadis itu merogoh saku piyamanya. Mengirim pesan ke abangnya dengan ketikan cepat.

Elleta : Bang, temui El. Di taman belakang dekat basement, aku biasa melukis disana.

Elleta : Perpustakaan di kunci, kita harus cari celah untuk masuk

Michael : Tunggu, El. Aku otw kesana

Elleta tersenyum dengan balasan pesan dari abangnya, kakinya membawanya ke basement belakang rumah suaminya. Disana abangnya sudah terlihat.

“Steve banyak penjaganya, kamu yakin? Abang sendirian, El. Mana bisa menerobos rumahnya,” tutur Michael menatap bangunan megah di depannya.

Elleta tersenyum misterius, mencari celah di mansion itu. Gadis itu menarik Michael menuju ke loteng, paling atas dengan memanjat.

“Itu ruangannya, Bang. Ada jendela, kita bisa bobol dari sana. Abang bawa obeng, kan?” Michael memberikan obeng itu ke tangan Elleta.

Elleta dengan lincah mencongkel jendela itu dengan bercucuran keringat. Michael akhirnya ambil alih obeng itu hingga.....

Tak

Jendela terbuka, ruangan lembab dan debu bercampur menjadi satu. Elleta menghalau debu yang terhirup di hidungnya.

“Wah, El. Kamu beneran nekat, ya,” imbuh Michael menatap adiknya yang naik ke jendela dengan lincah.

“Buruan, bang. Nanti ketahuan.” Michael menyusul gadis itu masuk ke perpustakaan lewat jendela.

Michael menyinari rak yang sudah usang. Mendekati setiap rak, barangkali menemukan berkas-berkas penting.

Elleta menarik satu berkas yang mencuri perhatiannya, ia duduk membuka isi dokumen itu dengan kasar. Michael perhatiannya teralihkan, ia mendekati adiknya.

Dokumen itu bertuliskan Peralihan Saham 10% Kepada Crassia Group

“Bang, ini ada hubungannya sama Papa.” Elleta menatap abangnya dengan tatapan serius, menunjukkan isi dokumen itu.

“Aku bakal selidiki Papa juga, mungkin di ruang kerjanya ada banyak berkas penting, El.” Michael beranjak dari jongkoknya, lalu melompat keluar dari jendela.

“Hati-hati, bang. Kalau ada apa-apa, hubungi, El.” Michael mengangguk, gadis itu tersenyum kecut, menatap punggung abangnya yang perlahan menjauh.

Elleta fokus membaca dokumen itu, yang berisi 10% saham Danendra Group diberikan ke Crassia Group atas berhasilnya pernikahan dirinya dan Steve.

“Apa ini yang bikin Papa ngebet banget buat mempercepat pernikahan,” gumamnya, menutup dokumen itu dengan kasar, Elleta mengantupkan giginya.

Suara derap kaki memenuhi ruangan itu, Elleta tersentak. Ia berdiri dan bersembunyi di balik pintu, mendengar percakapan Theo dan suara telepon speaker yang terdengar.

“Elleta, aman? Dia enggak bisa datang kesini, Theo?” tanya Steve, suara baritone-nya yang tegas.

“Aman, Pak. Nona Elleta sedang di kamarnya. Tadi pagi minta kesini, untung saya kunci duluan.” Theo tersenyum bangga karena tugas berjalan dengan baik.

“Bagus, jangan sampai semua berkas penting di ambil Elleta.”

Panggilan telepon itu berakhir, mata Theo menatap pintu kayu itu dengan sedikit menaruh curiga. Elleta menutup mulutnya agar suaranya tidak timbul.

“Aku bakal jadi orang pertama yang tahu rahasia gelapmu, Steve.” Elleta memeluk berkas itu dengan erat.

...***...

Steve di ruangan kantor kerjanya, menatap monitor di kalung gadis itu ada kamera kecil. Bisa memantau semua pergerakan gadis itu. Melihat Elleta keluar dari jendela perpustakaan-nya dengan lincah.

Steve menumpu dagunya, senyuman miring terbit di wajahnya. “Menarik kamu, El. Terus aja galih, El. Kamu bakal nyesel sendiri,” bisik Steve, meraih ponselnya menekan tombol panggil.

“Halo, Theo?”

“Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”

“Dimana, Theo?” Steve mengerutkan dahinya, suara berisik mendengung telinganya.

“Maaf, Pak. Lagi di luar, bukan di kantor.”

Steve memijat dahinya, menutup matanya sejenak. “Jangan lama-lama ngedatenya, Theo. Tugasmu masih banyak.”

“Baik, Pak. Saya kembali ke kantor sekarang.”

Steve mematikan panggilan telepon itu sepihak, menghela nafas menatap kontrak 6 tahun yang lalu. Dokumen yang ia temui di kamar Elleta, kontrak yang sudah diketahui gadis itu. Ia bangkit melempar kertas kontrak itu ke tempat sampah.

Merogoh sakunya, korek api ia hidupkan. Melempar korek api itu ke tong sampah. Bara api melahap kertas kontrak itu tanpa tersisa.

Senyuman merekah muncul di wajahnya, menatap kertas kontrak yang terbakar itu dengan perasaan lega.

Brak

Steve menoleh ke arah pintu. Theo datang dengan nafas yang memburu, menghampiri laki-laki itu. Menunjukkan cctv yang menghadap ke taman, di balik pohon ada laki-laki misterius yang terus mengawasi mansion Steve.

“Maaf, Pak. Kata Jack, ada orang serba hitam, sering memantau ke arah Nona Elleta sejak kemarin. Di mana saat Nona Elleta sedang melukis di taman belakang,” pungkas Theo, menetralkan suaranya agar tidak bergoyang.

Steve mengeraskan rahangnya hingga tulang pipinya mengetat. Sorot matanya tajam, Steve bisa mencium kejahatan yang mengintai dirinya.

“Theo, kamu benar. Kita harus cepat cari tahu maksud dari Yuda itu.” Theo yang merasakan atmosfer yang mendadak memanas.

“Kalau begitu, kita besok ke tempat gedung baru itu, Pak,” saran Theo, membuat Steve mengangguk setuju.

...***...

Michael memarkirkan mobilnya sembarangan tempat yaitu di depan terasnya. Langkahnya yang lebar menerobos masuk ke dalam rumahnya.

Nafasnya memburu, ia belum yakin tentang feelingnya yang mengatakan semua ini ke ada kaitannya sama Papanya untuk memvalidasi itu yang ia butuhkan adalah bukti.

“Mick! Kamu habis dari mana?” tanya Rena berpapasan dengan Michael di ruang tamu.

“Mama enggak perlu tahu. Ini lebih penting!” Michael tidak memperdulikan Rena, langkah berbelok ke pintu kayu ek, membukanya dengan kasar. Aroma apel segar pengharum ruangan itu menguar hingga ke indra penciuman laki-laki itu.

Rena yang melihat tingkah Michael hanya bisa menghela nafas, mengelus dadanya. Sejak Elleta menikah rumahnya menjadi sepi.

Michael berkeliling ke rak-rak tumpukan berkas-berkas itu, memilah-milah dengan jarinya tidak meninggalkan satu deret rak, membaca dengan teliti di setiap papan nama di rak map itu.

Laki-laki itu merasa frustasi tidak menemukan nama-nama berkas yang menyangkut Steve ataupun adiknya.

“Gila! Enggak ketemu, Papa taruh dimana berkas-berkas itu,” cerca Michael, laki-laki itu mengacak-acak rambutnya frustasi.

Hingga ekor matanya menangkap sebuah tumpukkan berkas di laci Papanya, laci itu tertutup rapat, Michael tidak bisa membukanya.

“Akh, sial! Papa mengunci lacinya,” keluhnya, hingga mata Michael menangkap sebuah map coklat yang berlogo Danendra Group.

Jemarinya hendak meraih dokumen itu, suara Yuda menghentikannya. Mau tak mau Michael menggigit bibirnya kesal, gagal mengambil dokumen itu.

“Apa yang kamu lakukan, Michael! Apa kamu sudah tidak waras, mengacak-acak ruangan Papa!” Yuda menatap tajam laki-laki itu hingga seakan bisa menembus ke matanya.

Michael berkeringat dingin, peluhnya membanjiri pelipisnya. Mata menoleh ke kanan ke kiri, mencari dalih untuk menjawab Papanya.

“Aku mencari flashdiskku, Pa. Iya Mick, flashdiskku yang ketinggalan waktu bantu Papa,” sanggah Michael mencoba menetralkan raut wajahnya.

Yuda terkekeh renyah melihat Michael tertangkap basah seperti anak kucing yang tercebur ke dalam kolam.

“Kamu mikir Papa bodoh, Mick! Papa sudah kasih peringatan, bukan? UNTUK JANGAN IKUT CAMPUR URUSAN PAPA, APALAGI MASALAH ADIKMU!!”

Michael menutup matanya, suara Papanya yang menggema, berdengung hingga ke telinganya. “Papa enggak bisa larang, Michael! Elleta masih tetap adik, Mick. Walaupun udah nikah, ikatan darah masih menyatu, Pa!”

Michael setelah mengatakan itu memilih melenggang pergi dari ruang kerja itu, melewati Papanya dengan sikap dingin. Yuda yang merasa sikap Michael yang kurang ajar, dia hanya bisa mengatupkan giginya.

Michael menaiki tangga dengan ponsel yang menempel ke telinganya. Suara Elleta terdengar merdu.

“Maaf, El. Abang gagal lagi, nunggu waktu sebentar aja, El. Abang bakal cari dokumen itu, kamu tenang aja.” Michael tersenyum mendengar deru nafas Elleta yang tenang.

“Gapapa, Bang. Besok masih bisa.”

“Istirahat, El. Jangan banyak pikiran,” pesan Michael, ia tahu adiknya itu pasti kepikiran.

“Iya, bang. Besok aku ke perpustakaan itu lagi.”

“Hati-hati, El.”

Sambungan telepon itu mati, menyisakan keheningan yang menyelimuti Michael, di dalam hatinya selalu berdoa tentang keselamatan adiknya.

1
Roseanne_0606
wah seru nih mode detektif 🤭
Roseanne_0606
waduh apa nih 😭😭
Roseanne_0606
aneh nih si steve, ditampar bukannya marah malah suka 😭😭😭
Lovelyiaca: Steve aslinya bucin ya gengsi aja itu hehe 😌
total 1 replies
Roseanne_0606
Tim Elleta sih kak 💪
Lovelyiaca: Kalau aku timnya Theo aja 😆
total 1 replies
Roseanne_0606
Akhirnya update lagi kak 🤭
Lovelyiaca: Iya kak, aku bakal update terus, tunggu kelanjutannya ya 😆
total 1 replies
Roseanne_0606
Gapapa kak, semangat ya 💪
Lovelyiaca: Makasih yaa kak 😆🔥
total 1 replies
Roseanne_0606
Jangan asal nuduh woyy 😭😭😭
Lovelyiaca: Maaf ya kak, sesuai script soalnya 🙏🙏🙏 - Steve A.D
total 1 replies
Roseanne_0606
di tabok aja, El. Stevenya itu 😭😭
Lovelyiaca: tabok aja kak 🤣
total 1 replies
Roseanne_0606
Bagus kak ceritanya 😆
Lovelyiaca: makasih kak, tunggu kelanjutannya ya
total 1 replies
Roseanne_0606
Semangat updatenya thor 💪
Lovelyiaca: makasih supportnya kak 😄
total 1 replies
Roseanne_0606
Jangan mau pulang El
Lovelyiaca: makasih udah mampir ya kak
total 1 replies
Maryati ramlin
cerita bagus di tunggu kelanjutan
Lovelyiaca: Terima kasih sudah membaca karyaku, di tunggu kelanjutannya ya 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!