NovelToon NovelToon
Senyum Berbalut Luka

Senyum Berbalut Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Persahabatan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.

Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.

Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merasa di permainkan

Setelah dua hari lalu empat sahabat itu menghabiskan waktu weekend bersama, keesokan harinya mereka kembali lagi ke aktivitas padat kuliah seperti biasanya.

Dan hari ini, Laura pulang kuliah sendiri, tidak seperti biasanya yang diantar oleh Yuri. Siang ini Yuri di panggil pulang ke rumah oleh papanya. Sementara Nadia, masih ada jam kuliah sampai sore, pulang kuliah pun Nadia langsung ke kafe. Jadilah Laura pulang sendiri naik taksi online.

Laura mampir sebentar ke toko buku. Setelah mendapat buku yang di cari, Laura pun langsung pulang.

Begitu tiba di depan pagar gedung rusun kontrakannya, dia terkejut karena Rio berdiri di samping mobilnya yang terparkir rapi.

"Laura!" seru Rio melangkah mendekati Laura.

"Maaf salah orang!" tegas Laura mencoba melangkah melewati pagar tapi Rio langsung menarik paksa tangannya, membawanya masuk ke mobil dan mengunci pintu mobil.

"Apa apaan sih! Buka gak pintunya!" teriak Laura kesal bercampur takut.

Rio menghela napas, kemudian dia mengulurkan sepatunya pada Laura yang membuat Laura heran.

"Pukul aku, Ra. Pukul aku dengan sepatu ini. Pukul aku sekuat yang kamu mau. Pukul...." ucapnya sambil memejamkan mata.

Napas Laura berat, jantungnya berdegup kencang, tangannya bahkan gemetar. Laura terkejut dengan semua yang tiba-tiba seperti ini.

"Tolong! Tolong, biarkan aku pergi!" ucap Laura dengan mengatup rapat giginya.

Rio membuka mata, dia menatap wajah Laura yang ternyata pucat. Rio juga melihat tangan Laura gemetar, bahkan matanya sampai berair.

"Laura, aku tidak bermaksud untuk menyakiti kamu. Aku minta maaf." menangkap kedua tangan sambil menundukkan kepala menghadap Laura. "Sungguh, aku datang cuma mau bicara sama kamu. Aku mau bilang, aku minta maaf atas apa yang aku lakukan ke kamu waktu itu. Tolong maafkan aku, Laura."

"Biarkan aku pergi!" Teriak Laura diikuti tetesan air yang sejak tadi tertahan di pelupuk matanya.

"Laura..."

"Aku gak kenal kamu! Jangan pernah datang lagi. Aku gak punya waktu untuk memikirkan masa lalu apa pun itu tentang kamu. Jadi tolong biarkan aku pergi..." Jerit Laura tegas sambil menangis.

"Laura..." Rio hendak menyentuh tangan Laura yang gemetar, tapi dengan cepat Laura menjauhkan tangannya bahkan menggeser duduknya hingga menempel di dinding mobil.

"Ra, tidak bisakah kamu memberiku kesempatan sebentar saja untuk menjelaskan semuanya?" Gumam Rio putus asa.

Mendengar nada suara putus asa itu, membuat Laura bagian lain dalam dirinya merasa iba. Pelan, Laura memberanikan diri untuk melirik sebentar wajah sendu Rio. "Dua menit." gumam Laura tegas.

Rio menghela napas lega, dia mendongak menatap wajah waspada Laura sebelum akhirnya dia menggunakan waktu singkat itu untuk menjelaskan tentang dia yang waktu itu sibuk dengan ujian akhir kuliah sehingga lupa untuk memberi kabar.

Rio juga menceritakan betapa terkejutnya dia saat semua akun media sosial dan kontak WA nya di blokir tiba-tiba.

Tidak lupa, Ria juga menceritakan tentang dia yang sempat datang ke rumah Laura. Tapi, sebelum sempat menjelaskan apa yang terjadi saat tiba di rumah Laura waktu itu, waktu yang Laura berikan malah sudah habis.

"Waktunya habis. Aku tidak mau dengar apapun lagi. Buka pintunya!"

Dengan rasa kesal dan kecewa, Rio terpaksa membuka kunci pintu mobil. Laura turun, melangkah cepat masuk ke gedung kontrakannya tanpa menoleh kebelakang sama sekali. Jika saja Laura menoleh, mungkin dia akan melihat tatapan penuh kerinduan dan penuh rasa penyesalan Rio atas perbuatannya di masa lalu.

Laura sudah menghilang dari pandangannya, Rio yang merasa kacau pun berakhir menelpon Sean.

"Bro, lo masih kerja?"

(Iya. Bentar lagi ada meeting. Kenapa?)

"Thanks, bro. Alamat yang lo kasih benaran alamat Laura."

(Terus, lo udah ketemu dia?)

"Ya, gue ketemu. Gue bicara, gue udah jelasin sebisa gue. Tapi..."

(Tapi?)

Rio terdiam sebentar. Dia menatap kebawah, dimana sepatunya yang sedang menendang nendang kerikil yang tidak bersalah itu.

(Rio! Are you oke?)

"Dia marah. Dia benci sama gue. Dia juga sepertinya takut sama gue. Gue gak tau harus gimana lagi sekarang."

(Kita bicara nanti. Gue harus meeting. Sekarang lo lebih baik pulang dulu.)

"Thanks, bro."

Setelah bicara dengan Sean, suasana hati Rio sedikit membaik. Dengan langkah malas, dia mengikuti saran Sean untuk pulang terlebih dulu.

Laura sendiri, diam diam mengintip Rio dari balik tirai jendela kaca rumahnya yang ada di lantai dua. Laura melihat jelas seperti apa wajah kecewa pria yang sampai saat ini belum pernah bisa dia lupakan itu.

Begitu mobil Rio pergi, tubuh Laura luruh ke lantai begitu saja. Laura menangis sambil memeluk lututnya. Hatinya sakit, sakit menahan rasa rindu setelah melihat wajah yang sangat dia rindukan itu. Tapi, Laura tidak mau mengungkap apa yang dia rasa karena rasa takut lebih menguasai dirinya.

Laura takut sama Rio, terlebih setelah dia tahu bahwa Rio seorang pria yang suka bermain main dengan banyak perempuan. Mengetahui hal itu membuat Laura merasa dirinya begitu murahan.

"Ternyata aku salah satu dari wanita wanita itu. Aku benci kamu Rio..."

Sejak pertemuan malam itu saat Laura pulang karoke, dia akhirnya mencari tahu tentang Rio. Semua informasi tentang Rio memberitahu bahwa Rio seorang playboy yang memang tidak pernah berniat serius dengan wanita manapun.

Hati Laura semakin hancur setelah mengetahui kenyataan itu.

Sebenarnya, alasan Laura memblokir semua akses komunikasi dengan Rio waktu itu, juga karena dia melihat postingan seorang perempuan yang mengatakan bahwa dia adalah pacar Rio.

Awalnya Laura tidak ingin percaya begitu saja. Laura bahkan berencana untuk menanyakan langsung pada Rio, tapi niat itu Laura urungkan saat kemudian dia menemukan postingan perempuan lain yang memposting foto Rio tanpa baju dan dalam foto itu Rio memeluk dan mencium leher perempuan itu.

Laura yang saat itu masih remaja berusia 17 tahun, tentu terkejut dan takut melihat hal seperti itu. Laura pun akhirnya mulai berspekulasi bahwa Rio tidak benar benar mencintainya. Rio hanya menginginkan tubuhnya, Rio mempermainkannya. Karena itulah Laura langsung memblokir semua akses komunikasi dengan Rio dan Laura juga mengatakan pada ayahnya kalau Rio sempat hampir melecehkannya.

"Kenapa? Kenapa aku harus mencintai laki-laki bajingan itu..." Jeritnya tertahan sambil menangis terisak.

"Harusnya aku gak membiarkan dia menyentuhku. Aku.... aku kotor, dia pasti berpikir betapa murahannya aku. Aku benci..."

Laura terus menangis, memeluk lututnya semakin erat, membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya. Ada rasa rindu, benci dan takut yang kini menyatu dalam dirinya sehingga membuat Laura kesulitan mengatasi rasa trauma yang pernah menyiksanya di masa lalu.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!