NovelToon NovelToon
Catur Mithra

Catur Mithra

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: Paduka Zenku

Bahagia. Apa itu bahagia? Bagaimana rasanya bahagia? Kenapa orang bisa berbahagia? Itulah yang dipikirkan oleh keempat remaja SMAN Cempaka 1. Hidup mereka selalu susah, entah secara ekonomi, fisik, mental, keluarga, dan lain lain. Mereka selalu memikirkan bagaimana caranya hidup bahagia. Akankah mereka bisa hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paduka Zenku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14: Hari Ini Akhirnya Tiba

^^^*Senin, 3 Septembe*r^^^

Pagi itu Azril bangun sebelum alarm berbunyi.

Ia sudah menyiapkan semuanya semalam. Seragam putih abu-abu yang paling bersih. Sepatu yang ia cuci sendiri dua hari lalu. Teks pidato yang sudah ia hafal di luar kepala—meskipun ia tetap membawa salinannya, untuk jaga-jaga.

Tapi bukan itu yang membuatnya bangun lebih awal.

Hari ini adalah hari lomba.

Ia duduk di tepi kasur, menatap meja belajarnya. Inhaler biru. Pion catur. Kacamata retak—yang belum sempat ia ganti, tapi entah kenapa ia merasa tidak perlu menggantinya dulu. Dan teks pidato, terlipat rapi di sampingnya.

Dua minggu. Dua minggu sejak pertarungan di lapangan belakang. Dua minggu sejak ia menulis I want to speak. Dua minggu latihan bersama Bu Dina di perpustakaan, bersama Bima di kelas, bersama Faris yang mendengarkan dengan mata berbinar, bersama Elang yang sesekali memberi komentar singkat tapi selalu tepat sasaran. Dan malam-malam sendirian di kamarnya, di mana ia membaca teks itu berulang-ulang sampai suaranya serak.

Tapi ada satu hal yang berubah dalam dua minggu itu. Sesuatu yang tidak ia duga.

Teks pidatonya berubah total.

Awalnya, tema yang ia pilih adalah sejarah kerajaan Jawa—tentang Majapahit, Hayam Wuruk, dan Maha Patih Gajah Mada. Tapi suatu malam, saat ia duduk sendirian di kamar dengan inhaler di tangan, ia menyadari sesuatu. Ia tidak mau bicara tentang kerajaan yang sudah runtuh. Ia mau bicara tentang sesuatu yang nyata. Sesuatu yang ia alami sendiri.

Jadi, dengan persetujuan Bu Dina, ia mengubah semuanya.

Teks barunya berjudul Breathing Is Not a Weakness: Living with Asthma and Finding Strength. Teks tentang dirinya sendiri. Tentang inhaler biru yang dulu ia sembunyikan. Tentang ketakutan yang ia kira akan membuat orang pergi. Tentang teman-teman yang membuktikan bahwa ia salah.

Dan tentang keberanian. Keberanian untuk bernapas, bahkan ketika napas itu berat. Keberanian untuk berbicara, bahkan ketika suara itu bergetar.

Sekarang harinya tiba.

"Azril! Sarapan dulu!" Suara ibu dari dapur.

Azril berdiri. Ia meraih inhaler, memasukkannya ke saku celana. Dulu ia tidak pernah menyimpannya di saku—takut ketahuan. Sekarang ia melakukannya tanpa berpikir.

Di meja makan, Dinda sudah duduk dengan roti di tangan. "Kak, hari ini lomba ya?"

"Iya."

"Bisa menang?"

Azril tersenyum kecil. "Kakak coba."

Ibunya meletakkan sepiring nasi goreng di hadapannya. Matanya menatap Azril dengan campuran bangga dan cemas—ekspresi yang hanya dimiliki oleh ibu-ibu yang anaknya akan melakukan sesuatu yang besar.

"Udah siap semua?"

"Udah, Ma."

Ibu mengelus rambutnya pelan. "Mama gak bisa ikut. Tapi mama doain dari sini."

Azril menggenggam tangan ibunya. "Makasih, Ma."

...~•~•~•~...

Di sekolah, suasana pagi itu berbeda.

Azril tiba lebih awal, tapi bukan untuk masuk kelas. Ia menuju lobi, tempat Pak Kevin—Kepala Sekolah—sudah menunggu bersama Bu Dina dan Aini. Ya, Aini juga akan ikut sebagai peserta lomba selain Azril.

Pak Kevin berdiri dengan tangan di belakang punggung, posturnya tegak seperti biasa. Tapi pagi ini ada sesuatu yang berbeda di wajahnya—bukan wibawa seorang kepala sekolah, tapi kehangatan seorang ayah.

"Azril, Aini," sapa Pak Kevin. "Kalian berdua siap?"

Azril dan Aini serempak mengangguk. "Siap, Pak."

"Bagus." Pak Kevin meletakkan tangan di bahu Azril, lalu beralih ke Aini. "Kalian bukan cuma bawa nama sekolah. Kalian juga bawa nama diri sendiri yang sudah berusaha keras selama ini. Bapak bangga, apapun hasilnya."

Azril menunduk, dadanya terasa hangat. Aini juga tersenyum kecil.

"Terima kasih, Pak."

"Dan, Azril..." Pak Kevin menambahkan, suaranya sedikit lebih pelan. "Apapun yang terjadi dua minggu lalu, Bapak harap itu tidak membebani kamu dan teman-teman kamu. Sekolah ini harus jadi tempat yang aman untuk semua murid."

Azril mendongak. Ada sesuatu di mata Pak Kevin yang membuatnya yakin bahwa kepala sekolah itu tahu lebih banyak dari yang ia katakan.

"Saya mengerti, Pak."

Pak Kevin mengangguk. "Bagus. Sekarang, Bu Dina sudah menunggu. Jangan sampai terlambat."

Bu Dina melangkah maju, kacamata bundarnya bertengger di pangkal hidung seperti biasa. "Sudah siap, Azril? Aini?"

"Siap, Bu."

"Siap, Bu."

Bu Dina tersenyum. "Kalau begitu, kita berangkat sekarang. Mobil sekolah sudah di depan."

Mereka bertiga berjalan menuju mobil sekolah yang terparkir di depan lobi. Sebelum masuk, Azril menoleh ke belakang. Lobi masih sepi—sebentar lagi bel masuk akan berbunyi dan siswa-siswi akan berhamburan ke kelas masing-masing.

Ia tidak melihat Bima, Faris, atau Elang di sana. Mereka tidak bisa ikut karena hari ini bukan hari libur—hanya Azril dan Aini yang diizinkan meninggalkan kelas untuk lomba.

Tapi ia tidak perlu melihat mereka.

Ia sudah tahu mereka ada.

"Zril! Ayo!" Aini memanggil dari pintu mobil.

Azril berlari kecil menuju mobil, dan mereka pun berangkat.

...~•~•~•~...

Perjalanan ke Gedung Pemuda memakan waktu setengah jam. Azril duduk di kursi belakang, teks pidatonya yang baru terbuka di pangkuan. Tema kesehatan—jauh berbeda dari teks lamanya tentang sejarah. Bu Dina sudah menyetujui perubahan ini seminggu yang lalu, meskipun awalnya ragu.

"Tema kesehatan itu jarang dipakai di lomba pidato, Azril," katanya waktu itu. "Tapi justru karena itu, kamu bisa menonjol. Asal kamu bisa menyampaikannya dengan personal."

Dan Azril memang membuatnya personal. Sangat personal.

"Grogi?" Aini duduk di sampingnya, suaranya pelan.

"Banget."

"Wajar." Aini tersenyum. "Tapi aku yakin kamu bisa."

Azril menoleh. "Lo selalu yakin sama gue. Dari pertama kali gue disuruh ikut lomba ini."

"Karena aku tau kamu bisa. Aku udah liat sendiri." Aini menatapnya. "Waktu di kelas, pertama kali Bu Dina nyuruh kamu baca. Aku ada di koridor waktu itu. Aku denger."

Azril mengernyit. "Lo... dengerin?"

Aini menunduk, sedikit tersipu. "Gak sengaja. Tapi suara kamu... beda. Enak didenger. Aku langsung mikir, 'Anak ini harus ikut lomba.' Terus aku ngomong ke Bu Dina... ya gitu deh."

Azril terdiam. Selama ini ia pikir Bu Dina yang menemukannya. Ternyata Aini juga ada di balik layar.

"Lo... rekomendasiin gue ke Bu Dina?"

Aini mengangguk kecil.

"Kenapa lo gak pernah cerita?"

"Buat apa?" Aini menatapnya lagi, kali ini dengan senyum yang lebih lebar. "Yang penting kamu ada di sini sekarang."

Azril tidak tahu harus berkata apa. Jadi ia hanya tersenyum. "Makasih, Ai."

"Sama-sama, Zril."

Mobil terus melaju. Di depan, Bu Dina tersenyum kecil mendengar percakapan mereka, tapi ia memilih diam.

...~•~•~•~...

Gedung Pemuda ternyata lebih besar dari yang Azril bayangkan.

Bangunannya bergaya kolonial dengan pilar-pilar putih tinggi dan jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya masuk dengan leluasa. Spanduk "LOMBA PIDATO BAHASA INGGRIS TINGKAT KABUPATEN" terbentang di atas pintu masuk. Siswa-siswi dari berbagai sekolah berdatangan—ada yang mengenakan seragam putih abu-abu seperti Azril dan Aini, ada yang berseragam putih biru, ada yang berjaket almamater.

Di dalam, aula utama sudah dipenuhi kursi-kursi yang disusun setengah melingkar menghadap panggung. Di atas panggung, sebuah podium kayu berdiri dengan microphone yang menunggu.

Azril berdiri di ambang pintu, menatap pemandangan di depannya. Panggung itu. Podium itu. Microphone itu.

"Azril?" Bu Dina menoleh.

"Iya, Bu. Sebentar."

Ia menarik napas panjang. Dulu, di sekolah lamanya, ia tidak pernah tampil di depan umum. Dulu, ia adalah anak yang duduk di pojok belakang, bersembunyi dari perhatian siapa pun. Dulu, ia bahkan tidak bisa mengakui bahwa ia punya asma.

Dan sekarang ia akan berdiri di panggung itu.

"Zril."

Suara Aini. Azril menoleh.

Gadis itu menatapnya dengan mata yang tenang—mata yang sama yang dua minggu lalu berkata Lo pake inhaler bukan berarti lo lemah. Mata yang sama yang kemarin menulis draft pesan yang tidak jadi dikirim.

"Mereka gak ada di sini," Aini berkata pelan. "Tapi aku di sini. Dan aku tau Bima, Faris, Kak Elang... mereka ada di sini." Ia menyentuh dadanya sendiri. "Kita semua ada di sini."

Azril menatapnya. Lalu ia tersenyum.

"Makasih, Ai."

"Udah ketiga kalinya lo ngomong makasih."

"Karena emang pantas."

Aini tertawa kecil. "Ayo, masuk. Nanti kebagian giliran."

...~•~•~•~...

Nomor undian Azril adalah 14. Aini mendapat nomor 7.

Mereka duduk di kursi peserta, bersebelahan. Di belakang mereka, kursi penonton mulai terisi—guru-guru pendamping, orang tua, dan beberapa siswa yang datang untuk mendukung.

Satu per satu peserta maju. Ada yang suaranya bergetar. Ada yang lupa teks di tengah jalan. Ada yang pidatonya seperti robot—hafalan sempurna tanpa perasaan. Ada juga yang bagus, sangat bagus, dan setiap kali itu terjadi, Azril merasakan perutnya semakin mengecil.

Aini maju di nomor 7. Pidatonya tentang pendidikan karakter—tema yang selalu ia perjuangkan sebagai Ketua OSIS. Suaranya mantap, gerakannya wajar. Ia berbicara tentang pentingnya membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tapi juga berintegritas. Tentang bagaimana sekolah bukan hanya tempat belajar, tapi tempat membentuk manusia.

Ketika Aini selesai, tepuk tangan bergemuruh. Azril tidak bisa berhenti tersenyum.

Aini kembali ke kursinya dengan napas sedikit terengah. "Gimana?"

"Lo keren banget, Ai. Lo udah pasti juara."

"Belum tau hasilnya."

"Gue tau."

Aini tersipu. "Giliran lo nanti."

Nomor 8. 9. 10. 11. 12. 13.

"Nomor 14. Azril Erlangga. SMAN Cempaka 1."

Azril berdiri.

Tapi kakinya terasa seperti batu.

Ia mencoba melangkah. Satu langkah. Dua langkah. Lalu berhenti. Jantungnya berdebar terlalu kencang. Tangannya gemetar. Panggung itu tiba-tiba terlihat sangat jauh. Podium itu tiba-tiba terlihat sangat tinggi. Dan semua mata tertuju padanya.

Gue gak bisa.

Gue gak bisa.

Gue—

Sentuhan. Hangat. Di pergelangan tangannya.

Azril menoleh. Aini berdiri di sampingnya—entah sejak kapan. Tangannya menggenggam pergelangan tangan Azril, lembut tapi pasti. Dan ia tersenyum. Senyum manis yang sama seperti pagi tadi di mobil.

"Pelan-pelan, Zril. Lo pasti bisa."

Azril menatapnya. Lalu ia menarik napas.

Satu.

Dua.

Tiga.

Sentuhan Aini terasa seperti jangkar. Seperti yang dilakukan Bima pada Faris dulu di kelas. Seperti yang dilakukan Elang pada Bima di lapangan. Seperti yang dilakukan Faris saat mengambilkan inhaler untuk Azril.

Kita gak harus kuat sendirian.

Azril mengangguk. Ia melepaskan genggaman Aini pelan, lalu melangkah maju.

Kali ini kakinya tidak terasa seperti batu.

Ia naik ke panggung. Berdiri di belakang podium. Microphone di depannya. Lampu panggung di atasnya. Puluhan pasang mata di hadapannya.

Ia menarik napas lagi.

"Honorable judges, respected teachers, and my fellow students. My name is Azril Erlangga."

Suaranya mantap. Tidak bergetar.

"And today, I want to talk about something personal. Something that I have hidden for years."

Jeda. Semua mata tertuju padanya.

"I have asthma."

Hening.

"For years, I thought this made me weak. I hid my inhaler behind stacks of books. I never kept it in my pocket because I was afraid someone would see it. I was afraid they would think I was fragile. I was afraid they would leave."

Azril berhenti sejenak. Matanya menatap ke arah Aini, yang duduk di kursi peserta dengan mata berkaca-kaca.

"But two weeks ago, I learned something. The people who truly care about you will not leave. They will stay. They will help you pick up your inhaler when you cannot reach it. They will tell you that having asthma does not make you weak—it makes you a fighter."

Ia melanjutkan pidatonya. Tentang bagaimana hidup dengan asma mengajarkannya arti keberanian yang sebenarnya. Tentang bagaimana setiap tarikan napas adalah perjuangan, dan setiap perjuangan adalah kemenangan. Tentang bagaimana kesehatan mental dan fisik seringkali disembunyikan oleh remaja seusianya karena takut dihakimi.

"Some people think that having an illness means you are broken. But I stand here today to tell you: we are not broken. We are fighting. Every breath is a battle. And every battle we win... is a victory."

Ia menatap penonton. Suaranya semakin mantap.

"So today, I am making a promise. Not to unite an archipelago. Not to lead an empire. But to breathe. To speak. To live—not in fear of my asthma, but in defiance of it."

Ia menarik napas panjang.

"Because the bravest thing you can do is not to hide your weakness. The bravest thing you can do... is to show it. And to keep breathing anyway."

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Lalu tepuk tangan.

Bukan tepuk tangan sopan yang diberikan pada semua peserta. Tapi tepuk tangan yang menggelegar. Tepuk tangan yang membuat beberapa orang berdiri dari kursinya. Tepuk tangan yang membuat Bu Dina melepas kacamatanya dan menyeka matanya. Tepuk tangan yang membuat Aini, di kursi peserta, menangis tanpa suara dengan senyum terukir di bibirnya.

Azril berdiri di atas panggung. Napasnya terengah—bukan karena asma, tapi karena ia baru saja melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.

Ia menatap ke depan. Ke arah Aini. Ke arah pintu aula di belakang—di mana ia hampir tidak bisa melangkah tadi.

Dan ia tersenyum.

Gue berhasil.

...~•~•~•~...

Pengumuman pemenang dilakukan satu jam kemudian.

Azril duduk di kursinya dengan tangan terkepal di pangkuan. Aini di sampingnya menggenggam map kecilnya erat-erat.

Juri utama berdiri di podium. "Setelah melalui pertimbangan yang matang, kami telah memutuskan para pemenang Lomba Pidato Bahasa Inggris Tingkat Kabupaten tahun ini."

Azril menahan napas.

"Juara Harapan 3: SMA Negeri 2..."

"Juara Harapan 2: SMA Negeri 5..."

"Juara Harapan 1: SMA Negeri 7..."

Jantung Azril berdebar semakin kencang.

"Juara 3: Azril Erlangga. SMAN Cempaka 1."

Azril membeku.

Ia menang.

"Zril! Lo menang!" Aini mengguncang-guncang lengannya. "Lo denger itu?! Juara 3!"

Azril masih tidak percaya. Ia berdiri, berjalan ke panggung dengan lutut yang sedikit gemetar—bukan karena takut, tapi karena haru. Ia menerima piala dan sertifikat dengan tangan yang bergetar, lalu kembali ke kursinya tanpa bisa berhenti tersenyum.

Dan kemudian—

"Juara 1: Aini Nur Khanza. SMAN Cempaka 1."

Kini giliran Aini yang membeku.

"Ai! Lo juara 1!" Azril menepuk bahunya.

Aini berjalan ke panggung, menerima piala dengan senyum yang campur aduk antara bangga dan tidak percaya. Ketika ia kembali ke kursinya, Azril langsung berkata, "Lo keren banget, Ai! Juara 1!"

"Kamu juga, Zril. Juara 3."

Mereka berdua duduk berdampingan, masing-masing memegang piala, masing-masing tersenyum. Bu Dina di belakang mereka menyeka matanya lagi untuk ketiga kalinya hari itu.

...~•~•~•~...

Perjalanan pulang seharusnya langsung menuju sekolah. Tapi Bu Dina tiba-tiba berkata pada sopir, "Pak, mampir ke mall sebentar ya. Satu jam saja."

Azril dan Aini saling pandang, bingung.

"Bu?"

Bu Dina menoleh dari kursi depan, senyumnya misterius. "Kalian berdua baru saja mengharumkan nama sekolah. Kalian pantas dapat hadiah. Satu jam. Jalan-jalanlah. Ibu akan tunggu di food court."

Mobil berhenti di depan mall. Bu Dina turun, lalu berkata sebelum menutup pintu, "Jangan ke tempat yang aneh-aneh ya, anak-anak. Saya kasih batas satu jam habis itu langsung kumpul di sini tepat waktu."

Dan ia pergi begitu saja.

Azril dan Aini berdiri di depan pintu masuk mall. Canggung.

"Jadi... kita mau ke mana?" Azril bertanya.

Aini mengangkat bahu. "Aku... gak tau. Biasanya ke toko buku sih."

Azril menoleh. "Toko buku? Lo suka baca?"

"Iya."

"Genre apa?"

Aini tersenyum kecil. "Fantasi. Misteri juga suka. Kamu?"

"Ngomong-ngomong..." Azril mengusap tengkuknya. "Gue juga suka fantasi dan misteri."

Mereka berdua saling menatap. Lalu tertawa kecil—tawa canggung yang mulai mencair.

"Yuk, ke toko buku aja."

...~•~•~•~...

Toko buku itu tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman. Rak-rak tinggi berjajar rapi, aroma kertas baru memenuhi udara, dan lampu kuning hangat membuat suasana terasa seperti perpustakaan pribadi.

Azril langsung menuju rak fantasi. Aini mengikutinya.

"Siapa penulis favorit lo?" Azril bertanya sambil menyusuri deretan buku.

"Tera Bite."

Azril berhenti. "Serius?"

Aini mengernyit. "Kenapa?"

"Itu... penulis favorit gue juga."

"Gak mungkin."

"Serius! Gue udah baca semua bukunya. Matahari Tenggelam, Telur di Ujung Tanduk, Rintik—"

"Rintik itu yang paling bagus!" Aini memotong, matanya berbinar. "Plot twist-nya gila banget. Aku sampe gak bisa tidur semaleman habis baca."

"Gue juga! Pas bagian akhir di mana ternyata—"

"Jangan spoiler!"

"Masa sama-sama udah baca dibilang spoiler?"

Mereka berdua tertawa. Beberapa pengunjung toko buku melirik, tapi mereka tidak peduli.

"Eh, lo suka Garry Sotter gak?" Azril bertanya tiba-tiba.

Aini langsung menoleh. "GARRY SOTTER?! ITU SERI FAVORIT AKU!"

"GUE JUGA! Yang tentang mekanik yang ditakdirkan ngelawan mecha mengerikan itu kan?"

"IYA! Favoritku yang ketiga, Garry Sotter and the Prisoner of Mecha."

"Buset, sama lagi."

Mereka berdua larut dalam diskusi yang semakin seru. Tentang dunia di mana mekanik bisa memanggil mecha dari dimensi lain. Tentang karakter utama yang awalnya tidak tahu takdirnya, sampai akhirnya harus menghadapi Mecha Lord. Tentang adegan favorit, plot twist paling mengejutkan, karakter paling menyebalkan.

Azril tidak percaya. Selama ini ia pikir hanya Bima, Faris, dan Elang yang bisa membuatnya merasa terhubung. Ternyata Aini juga.

Dan Aini... Aini tidak pernah membayangkan Azril—anak pendiam yang dulu duduk di pojok belakang kelas—ternyata menyukai buku yang sama dengannya.

"Ai, lo tau gak? Tera Bite katanya mau ngeluarin seri baru tahun depan," Azril berkata antusias.

"Iya! Hani-Tari-Hati! Aku udah gak sabar!"

"Gue juga! Semoga aja ada pre-order-nya."

"Nanti kita pre-order bareng ya!"

"Nanti aku kasih tahu info pre-order, terus kita—"

"MAS, MBA."

Suara itu membuat mereka berdua tersentak.

Seorang karyawan toko buku berdiri di ujung rak, raut wajahnya antara jengkel dan pasrah. "Mas, Mba, kalau mau pacaran jangan di sini. Saya yang jomblo sakit hati ngeliatnya."

Azril dan Aini membeku.

Wajah Azril langsung merah padam. "Pa-pacaran? Kita gak—ini cuma—"

Aini bahkan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Tangannya menutup mulut, telinganya merah.

Karyawan itu mendesah. "Iya, iya. Gitu semua yang dulu-dulu. Awalnya 'cuma temen', terus besoknya gandengan. Lanjutin aja, tapi jangan berisik ya. Masih banyak pengunjung lain."

Ia pergi begitu saja, meninggalkan Azril dan Aini yang masih berdiri mematung.

Hening.

Lalu Aini terkekeh. Kekeh kecil yang ditahan-tahan, tapi akhirnya meledak jadi tawa.

"Lo kenapa sih?" Azril masih merah wajahnya.

"Muka lo... muka lo merah banget."

"Lo juga!"

Mereka berdua tertawa. Canggung, tapi juga... entah kenapa rasanya tidak buruk.

"Kita... kita balik ke food court?" Azril bertanya setelah tawa mereda.

"Iya. Nanti Bu Dina nyariin."

Mereka berjalan keluar dari toko buku. Di depan pintu, Azril berhenti.

"Ai."

"Iya?"

"Tadi... soal pre-order Tera Bite." Ia mengusap tengkuknya. "Jadi... atau... atau enggak usah."

Aini tersenyum. "Aku tunggu infonya, Zril."

Mereka berjalan menuju food court dengan langkah yang sedikit lebih lambat dari biasanya. Dan di antara rak-rak buku yang mereka tinggalkan, seorang karyawan menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum kecil.

...~•~•~•~...

Di gerbang sekolah, tiga orang sudah menunggu.

Begitu mobil berhenti, Bima langsung berlari. "MANA PIALANYA?! PIALANYA MANA?!"

"Bim, lo gak usah heboh—"

"INI GIMANA GAK HEBOH?! LO PULANG BAWA PIALA?!"

"Piala gue juara 3. Yang juara 1 Aini."

Bima berhenti. Matanya menatap Aini yang baru saja keluar dari mobil sambil membawa piala yang lebih besar. "LHO?! LO BERDUA MENANG SEMUA?!"

"Azril juara 3," Aini menjelaskan, tersenyum. "Aku juara 1."

Bima menatap Azril. Lalu menatap Aini. Lalu menatap kedua piala itu. "EMANG KALIAN BERDUA MAU BIKIN SEKOLAH LAIN IRI?!"

"Bim, suara lo," Elang mengingatkan.

"INI MOMEN BESAR! GAK BOLEH PELAN!"

Faris berjalan mendekat. Ia membawa sesuatu di tangannya—sebuah kertas yang digulung rapi. Tanpa bicara, ia menyerahkannya pada Azril.

Azril membuka gulungan itu.

Sebuah gambar. Tangan—lima tangan, bertumpuk di atas satu sama lain, dengan latar belakang langit sore dan tulisan kecil di bawahnya: Kita.

"Ini..." Suara Azril tercekat.

"Hadiah," Faris berkata—suaranya masih serak, tapi lebih jelas dari sebelumnya. "Buat lo berdua."

Azril menatap Faris. Lalu menatap gambar itu lagi. Lima tangan. Bima, Azril, Faris, Elang, dan Aini.

Ia tidak bisa berkata apa-apa. Jadi ia hanya memeluk Faris—pelukan yang membuat Faris tersentak kaget, tapi kemudian membalas dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

Elang berdiri di belakang. Ia tidak banyak bicara, seperti biasa. Tapi ia melangkah maju, meletakkan tangan di bahu Azril.

"Lo keren, Zril."

Azril mendongak. "Tumben lo muji."

"Udah. Jangan dibiasain."

Mereka semua tertawa. Di gerbang sekolah, di sore yang mulai berwarna jingga, lima orang berdiri bersama. Bima dengan hebohnya yang mulai merencanakan pesta kemenangan. Aini yang sesekali menyela dengan fakta-fakta teknis tentang penilaian juri. Faris yang tertawa kecil mendengar Bima berdebat sendiri. Elang yang diam, tapi sudut bibirnya terangkat.

Dan Azril. Azril yang berdiri di tengah-tengah mereka, menggenggam gambar lima tangan di dadanya, piala juara 3 di tangan lainnya.

Hari ini akhirnya tiba, pikirnya. Hari di mana aku berdiri di panggung dan berbicara. Hari di mana aku menang. Hari di mana aku menemukan sesuatu yang baru tentang Aini—dan mungkin tentang diriku sendiri.

Ia menatap langit sore. Di atas, bintang pertama mulai muncul.

Terima kasih, Yah. Aku udah nemu kata-kataku. I want to speak. Dan aku sudah berbicara.

TBC

1
T28J
bunga untukmu /Rose/
T28J
sampai sini dulu ya kak, besok saya lanjut lagi👍
T28J: kalau bagus sih relatif sih kak, tapi menurutku sih ok, jadi keinget masa masa STM dulu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!