Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.
Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.
Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Jadah
Ludaka memutar pedang nya sementara Warak menerjang dengan kapak bergabung pendek.
Shhrreeeeetttt brreeeeeeettthh!
Ooooouuuugggghhh..!!
Dua orang yang menjadi lawan pertama dua murid Padepokan Jurug Bening ini meraung saat tubuh nya terkena senjata Warak dan Ludaka. Mereka langsung tewas dengan luka mengangap pada tubuh mereka.
Tak berhenti sampai disitu, Warak dan Ludaka langsung mengamuk tak terkendali. Mereka terus menggebrak dengan senjata andalannya. Satu persatu para pengepung pimpinan Jantaka tewas bersimbah darah.
Ratri dan Nararya Candrawulan yang mengejar arah perginya Pangeran Mapanji Wijaya sampai di tempat itu dan menyaksikan pertarungan antara Ludaka dan Warak. Saat Ratri hendak bergerak, tangan Nararya Candrawulan cepat mencekal nya.
"Kita lihat dulu. Jangan buru-buru bergerak, kita turun saat di butuhkan", bisik Nararya Candrawulan yang membuat Ratri mengangguk mengerti.
Melihat dua pengawal pribadi Pangeran Mapanji Wijaya sedang di sibukkan dengan Bermana dan kawan-kawan, Jantaka menghunus pedang pendek nya sembari menyeringai lebar.
"Saatnya kau mampus, Pangeran bejat..!! ", teriak Jantaka sesaat sebelum melesat ke arah Pangeran Mapanji Wijaya. Dia langsung mengayunkan pedang pendek nya ke arah leher sang pangeran Medang.
Shhrreeeeetttt....!
Tepat sesaat sebelum bilah pedang Jantaka menyentuh kulitnya, Pangeran Mapanji Wijaya menggeser posisi tubuh nya hingga ayunan pedang pendek musuh hanya menyambar angin sejengkal di depan leher.
Jantaka cukup kaget melihat sang pangeran Medang ini bisa lolos dari sabetan pedang pendek nya. Tetapi ia segera memutar tubuhnya dan kembali menyerang sang putra kedua Ratu Sri Isyana Tunggawijaya ini dengan cepat.
Shhrreeeeetttt shhrreeeeetttt..!!
Pllaaaaakkkk dhhaaaaaaasssss...!
Kemanapun serangan cepat Jantaka selalu berhasil di hindari oleh Pangeran Mapanji Wijaya.. Meskipun dengan gerakan yang aneh dan tampak tidak disengaja, Pangeran Mapanji Wijaya mampu bertahan menghadapi sergapan sergapan maut Jantaka.
Hal ini membuat Nararya Candrawulan yang menonton dari kejauhan mengernyitkan keningnya.
'Gerakan menghindar nya aneh, bukan gerakan ilmu silat. Ia ini sengaja atau memang beruntung? ', batin Nararya Candrawulan sembari terus mengamati pertarungan antara Pangeran Mapanji Wijaya dan Jantaka.
Hooosssshhhh hooosssshhhh..!!
"Bajingan!! Kalau jantan, jangan cuma menghindar. Ayo kita bertarung hooosssshhhh hooosssshhhh..", nafas Jantaka ngos-ngosan tak karuan karena terus menerus memburu Pangeran Mapanji Wijaya tetapi tetap tidak bisa menjatuhkan nya.
" Berkelahi itu juga harus pakai otak, bukan otot saja bodoh!
Ayo sini maju, jangan cuma banyak omong.. ", tantang Pangeran Mapanji Wijaya sambil menggerakkan jarinya sebagai isyarat pada Jantaka untuk maju.
" Brengsek!!!!
Ku cincang tubuh mu bangsat... ", umpat Jantaka yang melihat Pangeran Mapanji Wijaya membuat kuda-kuda ilmu beladiri yang konyol. Dia dengan keras menjejak tanah dengan keras, bermaksud untuk melesat ke arah Pangeran Mapanji Wijaya.
Seolah-olah tak sengaja, gerakan konyol Pangeran Mapanji Wijaya menendang sebutir baru kerikil yang langsung melesat cepat dan menghantam rahang kiri Jantaka dengan keras.
Thhhaaaaakkkk...
Aaaauuuuuuuggggghhhhh!!!!
Kerasnya hantaman kerikil sebesar telur burung puyuh ini membuat Jantaka meraung keras dan sempoyongan karena kuatnya. Pangeran Mapanji Wijaya menyeringai tipis sambil berlari cepat dan menabrakkan tubuh nya ke arah Jantaka yang limbung.
Brruuuuukkkkkk....!
Tubuh Jantaka terpental ke belakang dan menabrak rumpun bambu yang ada di pinggir jalan. Naas bagi Jantaka, salah satu ujung pohon bambu itu baru ditebang hingga menyisakan ujung tajam dan menembus punggung sampai ke dada nya.
Jlleeeeeeeebbbbb...
Aaaaaaaarrrrrrggghhhh!!!
Jantaka menjerit keras sebelum akhirnya diam dengan posisi menancap pada ujung bambu. Dia tewas bersimbah darah di tempat itu.
Bermana yang melihat Jantaka tewas di ujung pohon bambu, langsung melompat kabur menyelamatkan diri tanpa peduli dengan anak buahnya. Sisa sisa kelompok nya pun segera mengikuti jejak pimpinan mereka yang membuat Warak dan Ludaka menghela nafas lega. Mereka pun segera mendekati Pangeran Mapanji Wijaya.
"Gusti Pangeran baik-baik saja? ", tanya Ludaka segera.
Langsung saja Pangeran Mapanji Wijaya melayangkan pukulan ke arah Ludaka. Si pengawal pribadi yang sudah hafal semua tindakan yang akan dilakukan oleh majikannya, cepat merunduk. Walhasil Warak yang berdiri di samping langsung kena getahnya.
Pllaaaaakkkk..!!
"Waduuuh, kenapa malah saya yang dipukul Gusti Pangeran?!!
Sakit banget ini.. ", protes Warak sambil memegangi pipinya yang memerah.
" Dasar tidak berguna..
Aku nyaris dibunuh sama orang berwajah jelek itu. Kalian bukannya cepat cepat menolong ku malah asyik berkelahi dengan cecunguk cecunguk tak berguna itu. Kalian ini mau aku cepat mati ya hah?!!", bentak Pangeran Mapanji Wijaya sambil melotot.
"Bukan begitu Gusti Pangeran..
Mereka mengepung kami dari segala penjuru, sulit untuk melepaskan diri. Kepandaian bela diri mereka diatas rata-rata, tak bisa ditembus begitu saja. Mohon Gusti Pangeran jangan marah", jawab Warak segera.
" Alasan saja. Lain kali kalau sampai terjadi lagi, akan ku laporkan pada Kanjeng Romo Lokapala biar kalian di pecat saja.
Benar benar sembrono.. ", ancam Pangeran Mapanji Wijaya sambil bersungut-sungut.
" Mohon ampun Gusti Pangeran..
Lain kali kami akan lebih hati-hati. Mohon Gusti Pangeran tidak melaporkan kami pada Gusti Sri Lokapala. Kalau sampai kami di pecat, guru pasti tidak akan mengampuni nyawa kami", hiba Warak memelas.
"Huh, baru takut sekarang??
Ludaka, laporkan peristiwa ini pada Tumenggung Wiraguna. Suruh dia urus orang orang itu juga mayat-mayat ini. Cepat sana berangkat", titah Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat Ludaka segera menghormat.
" Sendiko dawuh Gusti Pangeran... "
Setelah itu Ludaka bergegas menuju ke arah utara kota dimana kediaman Tumenggung Wiraguna, kepala keamanan Kotaraja Watugaluh tinggal. Ratri dan Nararya Candrawulan segera bersembunyi saat Ludaka melintas di dekat mereka berada.
Diikuti oleh Warak, Pangeran Mapanji Wijaya kembali melanjutkan perjalanan ke rumah hiburan Nyai Kantil yang tak jauh dari tempat itu.
"Menarik!
Pangeran Mapanji Wijaya ini benar-benar menarik. Dia pintar berpura-pura padahal sebenarnya bisa bertarung dengan baik. Hemmmmm... ", gumam Nararya Candrawulan yang membuat Ratri mengerutkan dahinya.
" Maksud Gusti Putri, orang ini sengaja bersikap konyol? "
Nararya Candrawulan menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan dari dayang sekaligus pengawal pribadi nya ini.
"Ya Ratri...
Andai dia mau bersikap serius, orang yang menjadi lawannya itu sudah mampus dalam beberapa jurus saja. Sebenarnya apa yang membuatnya bersikap seperti ini? Aku jadi penasaran..
Sudahlah, ayo kita ikuti Pangeran Mapanji Wijaya ini. Aku ingin tahu ulah konyol apalagi yang akan dia buat? "
Setelah berkata demikian, Nararya Candrawulan segera melangkah ke arah rumah hiburan Nyai Kantil diikuti Ratri.
Begitu memasuki bangunan besar di bantaran Sungai Kapulungan ini, Ratri dan Nararya Candrawulan segera memesan makanan sembari memperhatikan Pangeran Mapanji Wijaya yang sedang minum minuman keras di dampingi Tunjung Biru sang primadona rumah pelacuran.
Tak berapa lama berselang, seorang pemuda dengan pakaian bangsawan masuk bersama dengan beberapa orang pengikutnya. Dia langsung mendekati tempat Pangeran Mapanji Wijaya, Tunjung Biru dan Warak berada.
"Yoooo, bukankah ini Gusti Pangeran Mapanji Wijaya?
Sebentar lagi akan menikah dengan putri ksatria dari Kalingga, masih sempat-sempatnya bermain disini. Apa kau benar-benar sudah bosan hidup ya?", ucap sang pemuda berpakaian bangsawan ini sengaja memancing perkara.
"Warak, siapa bajingan ini? ", tanya Pangeran Mapanji Wijaya sembari menoleh ke arah pengawal pribadi nya.
" Ini adalah Raden Layang, anak jadah Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana dari dayang istri pertama nya yang kini diangkat menjadi selir setelah dia lahir, Gusti Pangeran", bisik Warak yang khawatir suaranya didengar orang lain.
"Oh anak jadah ( haram ) rupanya..
Pantas saja mulutnya bau sekali seperti habis makan kotoran. Cuci mulut mu sana, bau nya membuat ku mau muntah", balas Mapanji Wijaya dengan santainya.
" Bajingan!!
Siapa yang kau sebut anak jadah hah?! Aku putra sah Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana. Satu-satunya anak lelaki di rumahnya, kau jangan asal bicara! ", pemuda berpakaian bangsawan yang bernama Raden Layang ini merah padam wajahnya menahan amarah.
Phhuuiiiihhhhhh..!!
" Di kotaraja Watugaluh ini siapa yang tidak tahu semua aib keluarga mu heh anak jadah?
Ibu mu dinikahi oleh Mpu Kertawahana setelah kau lahir dan laki-laki. Itu berarti kau ini tidak punya bapak meskipun ibu mu dinikahi ayah mu yang suka daun muda itu. Coba kalau kau lahir sebagai perempuan, mana mau dia menikahi ibu mu itu. Dasar bodoh.. ", sergah Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat kuping Raden Layang semakin panas.
" Bedebah..!!!
Pangeran pecundang seperti mu harus diberi pelajaran. Semuanya, hajar bajingan ini! Kalau ada masalah, aku yang tanggung..! ", teriak Raden Layang yang membuat kelima pengikutnya langsung bergerak.
Rumah hiburan Nyai Kantil menjadi kacau tetapi Pangeran Mapanji Wijaya malah tersenyum karena dari ekor mata nya ia melihat dua sosok wanita yang sangat dikenalnya melesat memapak pergerakan Raden Layang dan kawan-kawan.
'Akhirnya kalian bergerak juga.. '