Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PUTUS ASA
"Tumben telat?" tanya Tania, pagi ini dia juga datang mepet jam kantor, eh Siska juga sama. Malah terlihat lebih riweh dibanding Tania.
"Habis bantu tetangga lahiran, kamu tahu Tan," padahal nafasnya masih-masih ngos-ngosan, tapi begitu semangat ingin berbagi cerita.
"Apa?" tanya Tania pelan. Sebenarnya kepala Tania sendiri sangat pusing, baru tahu hamil, dan memikirkan beban hidup yang akan ia jalani. Hanya saja, ia tak mau berkeluh kesah pada siapa pun, hamil di luar nikah bukanlah suatu kebanggan yang perlu diceritakan.
"Orang lahiran tuh amazing banget ya, tetanggaku itu kan gak ada suami ya," cerita Siska membuat Tania terpaku seketika, gak ada suami, hufh sama dengan dirinya dong ya. Tania pun menatap wajah Siska, tertarik dengan cerita tetangga yang masalah dasarnya sama dengan Tania, hamil tanpa suami. "Dia tuh struggle banget buat jaga si bayi coba, dimusuhi orang tuanya bahkan kami sekampung, dia tetap meneruskan kehamilannya. Periksa sendiri, kata tetangga tak punya malu lah, padahal saat aku mengobrol sama dia, yang bikin aku terharu dan benar-benar yakin bahwa rasa sayang ibu pada anak itu nyata saat dia bilang aku gak mau melakukan kesalahan lagi dengan membuang anak ini. Setelah melahirkan aku akan menjauh dari tempat ini, agar anakku tidak dibully tanpa ayah. Dia tidak salah, aku yang salah, maka aku akan mendidik dia menjadi anak yang baik, meski dia hadir karena suatu kesalahan.
Tania langsung menunduk, meneteskan air mata, akankah dia mengambil keputusan yang sama dengan tetangga Siska?
"Jadi ibu punya suami aja masih berat, apalagi tak punya. Heh, namanya hidup. Ada saja ujiannya ya. Awal aku tahu dia hamil, aku juga sempat mengatai bodoh, punya ponsel kenapa gak dibuat nyari obat untuk tidak terjadi pembuahan, karena mau bagaimana pun hidup perempuan tuh yang dirugikan dengan adanya bayi tanpa ayah itu," lanjut Siska sesuai dengan pemikirannya menilai tetangga. Tak tahukah Siska, bahwa rekan kerja yang duduk di sampingnya kini juga tengah mengandung tanpa ada suami.
"Gak berniat digugurkan sekalian?" tanya Tania merespon, khawatir Siska curiga kalau tak ada obrolan dua arah.
"Pernah! Cuma gak berhasil," sahut Siska. "Tahu gagal, kemudian dia pun memutuskan melanjutkan kehamilan itu. Dia berpikir langsung hancur gitu kan, nyatanya perutnya mules sekali tapi tak juga kunjung brol, akhirnya daripada dia mati konyol, ya sudahlah lanjut hamil. Ribet kan, makanya aku berdoa jangan sampai tergiur dengan kenikmatan sesaat meski cowok bilang akan tanggung jawab," ujar Siska tegas.
Tania hanya mengangguk, pura-pura menatap layar komputer kerja, sepertinya Siska akan terus menceritakan kehidupan tetangganya, yang bisa dijadikan gambaran Tania nantinya. Tania masih mendengar ocehan Siska tentang tetangganya itu, Dia berangkat ke rumah sakit sendiri. Tiap hari dia juga mencari makan sendiri, karena orang tuanya tidak mengizinkan dia makan masakan beliau. Sampai menjelang lahiran, dia masih bekerja bikin cireng frozen. Kasihan banget. Naudzubillah.
Ucapan Siska terus terngiang dalam benak Tania, itu artinya kehamilan tanpa suami akan semakin menambah beban seorang perempuan. Tania tak mau, hidupnya sudah berat, ia tak mau semakin sengsara dengan kehadiran bayi ini. Sebelum pulang kantor, ia menyempatkan mencari tahu obat penggugur kandungan, sepertinya dia lebih siap minum penggugur kandungan daripada melanjutkan janin ini.
Buru-buru ia memesan di kurir online, menuliskan beberapa resep obat penggugur kandungan yang bebas diperjual belikan. Lebih baik ia menahan sakit sekarang, daripada ia menanggung kesengsaraan lebih lama.
Kurir online sempat menelepon karena ditanya oleh petugas apotek, dan Tania tetap memaksa membelinya, meski hanya dilayani 1 butir obat saja. Malam ini, Tania kembali merenung. Obat sudah berada di telapak tangannya, masih perang batin, akankah ia menelan obat ini?
"Maaf, kalau aku menyakitimu. Aku tak mau membuat hidup kamu sengsara selama hidup, apalagi terjadi karena sebuah kesalahan, maafkan aku!" Tania memejamkan mata, dan langsung menelan pil tersebut.
Menunggu beberapa menit, perut Tania mulai terasa nyeri, awalnya saja mules lama-lama seperti diremat orang dan ditendang. Tania sampai berpegang sprei menahan sakit yang luar biasa ini. Buliran keringat dingin mulai keluar, Aku kuat, aku kuat, bibir Tania bergetar dengan bergumam, ia mencoba bertahan sampai obat itu memberikan efek pada kandungannya. Badannya sudah lemas, kepalanya sudah teramat pusing. Mendadak ia takut kalau mati di rumah tanpa ada yang tahu.
"Tante Lusi," ujar Tania pelan. Ia akan meminta bantuan pada tetangganya itu untuk membawa ke rumah sakit, karena Tania tak kuasa menahan rasa sakit. Sembari tertatih dan memegang perutnya, ia keluar gerbang, namun belum sempat melangkah ke rumah Tante Lusi, dirinya ambruk, setelah itu dia sudah tak tahu apa yang terjadi.
Orang suruhan Lingga memotret, saat Tania dibopong oleh Salman. Nona Tania pingsan, dan dibopong oleh tetangganya, dan mungkin dibawa ke rumah sakit. Begitu pesan yang dikirim pada Lingga.
"Sial," Lingga tak suka Tania disentuh oleh lelaki lain, meski kekasihnya itu pingsan. Ke rumah sakit mana? Lingga membalas pesan tersebut.
Orang suruhan Lingga menyebutkan rumah sakit di mana Tania dibawa oleh lelaki itu. Salman kembali membopong Tania, dan beberapa perawat serta dokter jaga IGD kaget Salman datang kembali membopong seorang perempuan dengan wajah panik.
"Dia tetangga saya, baru buka pagar rumah, pingsan," ujar Salman sembari memberi instruksi para perawat untuk mengambilkan stetoskop, senter dan beberapa alat medis lain.
"Sepertinya hamil," ujar Salman, kemudian seorang perawat memberikan USG POCUS untuk membuktikan dugaan dokter Salman.
Salman terpaku, titik hitam sudah terlihat jelas, Tania hamil. Setahu Salman, Tania belum menikah. Setelah dilakukan tindakan medis, diketahui Tania meminum obat penggugur kandungan. Namun, janinnya sampai detik ini masih terselamatkan.
Bahkan Salman tak berniat pulang, menunggu Tania hingga siuman. Beberapa rekan kerjanya heran dengan sikap Salman, dokter dingin tersebut terlalu so sweet saat memperhatikan sang tetangga.
Kayaknya tetangga tercinta, komentar di grup perawat IGD saat salah seorang memotret Salman yang duduk di tepi ranjang Tania.
Apa mungkin cinta bertepuk sebelah tangan?
Duh, potek hati dokter Salman dong, cewek yang ia taksir hamil anak lelaki lain.
Cantik dan imut, tapi kelakuan minus.
Hush. Jaga omongan euy.
Lagian bisa jadi sudah bersuami tapi LDR.
Salman masih fokus pada Tania, dan perempuan itu terlihat sangat pucat. "Kamu hamil? Siapa suami kamu?" gumam Salman penasaran.
Hingga menjelang pukul 10 malam, Tania baru sadar, dan matanya perlahan membuka. Ia bingung di mana sekarang, dan matanya menatap Salman yang masih duduk sembari menatapnya.
"Jangan bergerak terlalu banyak dulu, kamu di tempat aman, kamu saya bawa ke rumah sakit, karena pingsan," ujar Salman dengan nada ketus seperti biasanya. Tania hanya mengangguk kecil, dan memejamkan mata. Ia sudah bisa menebak, bahwa Salman pasti mengetahui kondisinya saat ini.
GO go Tania semangat