21+
Harap bijak memilih bacaan yah!
Semua kamu yang mengaturnya Sheva sayang. Nasib lelaki itu apakah hidup atau mati atau cacat semua tergantung dari sikapmu. Cukup mudah, jadilah gadis baik dan turuti semua kemauanku.
- Arion Caramont Nostra
Catat ini dipikiran anda tuan Arion yang agung! Baik lima tahun lalu maupun hari ini perasaan yang tersisa tetap sama yaitu rasa benci yang besar hingga ketulang tulangku!
- Shevanya Bernand
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duajempol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegundahan Arion
Ketakutan Sheva membuat Arion sedikit gusar, sebenarnya saat dia membereskan masalahnya pagi tadi sungguh dia tidak mengingat bahwa Sheva sedang dalam ruangannya. Konyol sekali dia duduk diatas tangga itu dan tidak bersuara saat Geo masuk. Arion memang sedang banyak pikiran 3 hari ini semenjak gudang persenjataannya meledak, dia awalnya menerima laporan bahwa itu hanyala kecelakaan kerja tetapi untuk seorang Arion yang mempunyai begitu banyak musuh di penjuru negri tentu saja tidak akan percaya begitu saja. Kolaborasi antara Geo dan anak buah kepercayaan nya serta dibantu oleh Leonard semua terungkap. Ada yang berhianat dan memberi peluang untuk musuh lama keluarga Nostra.
Kematian Elisah Caramont ibu dari Arion membawa duka mendalam untuk Arion, dari ayah nya pula Arion tau bahwa kematian ibunya karena dibunuh secara keji oleh musuh ayahnya. Boas sudah turun tangan untuk menumpas habis keluarga Morenno musuh bebuyutan nya yang juga pelaku pembunuhan Elisah, tetapi tanpa Boas ketahui masih ada keturunan yang tersisa dari keluarga Morenno. Michael Morenno, Arion yang menemukan celah ini bahwa masih ada keturunan Morenno tersisa dan berniat membalaskan dendam keluarganya pada Arion.
Michael Morenno tak tersentuh, dia seorang pengusaha ilegal asal Rusia. Bisnisnya merambah di bidang persenjataan dan narkoba, koneksinya cukup banyak dan dia cukup licin untuk 'bermain' dengan Arion tetapi lagi lagi celah kecil tertangkap oleh Arion. Theo Horfman sang perdana mentri dan juga ayah dari kekasih nya Angelica Horfman ternyata berbisnis gelap dengan Michale. Arion secara halus menyusup lewat Ange, rencananya tidak boleh rusak. Jika saja malam ini tidak ada undangan untuk jamuan makan malam dengan Theo, tentu saja Arion memilih untuk menculik Sheva dan membawa gadis itu ikut dengannya. Menunjukkan bahwa dirinya bukanlah pembunuh berdarah dingin seperti pikiran gadis itu. Tangan Arion memang telah banyak berlumur darah baik secara langsung maupun tidak, tetapi semua memang harus dilakukan demi melindungi dirinya dan orang yang dia sayangi terlebih Arion tidak sembarang melenyapkan orang. Arion benci penghianat dan jelas dia tidak ingin banyak membuang tenaga untuk orang yang sudah berkhianat, membereskan mereka sampai ke akar itu adalah cara menghindari timbulnya masalah di kemudian hari.
Arion dalam perjalanan menuju mansion kediaman Theo, dia yakin pasti Ange akan merajuk kembali dengan tidak tahu malunya meminta Arion menikahinya. Dia yakin bahwa Ange hanya mengintai kekuasaan dan kekayaannya saja, oke anggap saja wajah tampan Arion menjadi tuas pemegang penuh angan angan Angelica.
" Kau yakin tidak ingin di temani?" Geo melirik sahabatnya yang sedari tadi banyak terdiam ini. Jika sudah pulang kantor Arion akan selalu bersama Geo.
" Yakin, cukup perintahkan saja Regas nanti untuk membawa mobilku ke mansion Theo. Aku masih ada urusan malam nanti." Arion memainkan bolpoin berlapis emas yang selalu dia bawa.
" Semoga urusanmu itu bukan menculik Sheva."
" Kau mengenalku Geo." Arion tertawa miring dan membuat Geo terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
Tidak butuh waktu lama hingga Arion tiba di mansion milik Theo, seperti rumah tinggal perdana mentri pada umumnya penjagaan dirumah ini cukup ketat. Ange begitu menerima informasi dari para pelayan bahwa Arion kekasihnya sudah tiba segera berhambur keluar untuk menyambut Arion. " Sayang, kau sudah tiba." Dengan menggenakan blouse tali spaghetti bewarna perak dan belahan dada yang kelewat rendah itu membuat Geo menaikan sebelah alisnya.
" Semoga urusanmu malam ini tidak tertunda Ar!" Senyum mengejek Geo untuk Arion sebelum lelaki itu melangkah sempurna keluar dari mobil Geo dan Arion hanya melirik Geo sekilas.
Ange bergelayut manja di lengan Arion, " Sayang begitu papa memberitahu bahwa kamu akan makan malam disini aku langsung segera kesini." Angelica memang sudah lama hidup dengan bebas di aprtemen nya dan kini dia menempati salah satu apartemen mewah milik Arion.
" Aku ada keperluan bisnis dengan ayahmu." Arion menjawab datar hingga membuat wanita itu merajuk manja.
" Jadi kamu bukan kemari untuk membicarakan hubungan kita sayang??" Ange menarik jas yang di kenakan Arion memaksa pria itu menghadap dirinya dan dengan agresifnya dia mencium bibir Arion dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Arion.
" Ange jaga sikapmu!" Ciuman panas itu terhenti tatkala Theo sudah keluar juga untuk menyambut Arion, bagi Theo Arion juga dimanfaatkan sebagai pion caturnya menguasai bisnis ilegal di negara ini sebab di dunia bisnis Arion sudah memegang kendali nomor satu di negara ini.
Dengan wajah cemberut Angelica melepas pergulatannya dengan Arion, " Apa kabar tuan Theo?" Arion melangkah maju untuk berjabat tangan dengan Theo.
" Tidak perlu sungkan padaku nak Arion, panggil saja aku paman Theo." Pria tua itu terkekeh ringan dan mengajak Arion untuk masuk menuju ruang makan keluarga.
" Istriku sendiri yang menyiapkan hidangan malam istimewa ini, silahkan duduk." Acara makan malam itu berlangsung hangat karena kehadiran Lucy, ibu dari Ange. Wanita tua itu mempunyai senyum yang hangat, mengingatkan Arion pada bibi Bea, ibu dari Geo. Sayang sekali Ange mewarisi sifat angkuh dari Theo.
Setelah acara makan malam itu selesai, Theo dan Arion berada dalam ruang kerja Theo untuk membahas bisnis bersama. Arion mengajak Theo untuk memasok bahan baku bagi perusahaan legalnya, karena keluarga Theo juga bergerak dalam bidang pasokan bahan baku ini. Dan ini merupakan cara Arion pelan pelan untuk memasuki semua bisnis Theo tanpa pria tua itu sadari. Karena selihai apapun Theo dia tidak akan bisa memperdaya Arion. Mereka berbicara cukup lama, Ange dengan gusar menunggu Arion keluar dari ruang kerja ayahnya, sudah hampir dua jam mereka di dalam ruang kerja Theo dan sudah belasan kali Ange mengintip apakah Arion sudah keluar apa belum.
" Baiklah nanti aku akan menyusun kontrak kerjanya. Paman Theo tidak perlu mengantar aku, aku akan pulang. Terimakasih." Tiba tiba pintu ruang kerja Theo sudah terbuka dan Ange yang sedari tadi mengintip dari kamarnya menunggu Arion melebarkan senyumnya.
Berbekal gaun tidur lingrie seksi miliknya dia menarik tangan Arion yang hendak berjalan menuju tangga. " Kamu mau langsung pulang begitu saja setelah beberapa hari kita tidak bertemu??" Wanita itu merajuk manja, Arion menaikan sebelah alisnya melihat penampilan Ange, memakai baju tidur seksi itu Arion bisa melihat dengan jelas setiap lekuk tubuh Ange. Tanpa menunggu jawaban Arion, wanita itu menarik Arion menuju kamarnya dan mengunci pintu. " Apa kamu tidak merindukan aku sayang?" Bersender dibalik pintu dengan gerakan sensualnya Ange melepas sendiri gaun tidur miliknya hingga tidak ada sehelai benangpun membalut tubuh seksinya.
Arion memiringkan kepalanya saat Ange mendorong tubuhnya terduduk diatas kasur, dan dengan gerakan perlahan Ange memposisikan dirinya diatas tubuh Arion, membuka jas yang Arion kenakan, menarik perlahan dasi hingga melepas tiap kancing kemeja Arion. " Aku menginginkan kamu sayang." Ange mengelus halus dada bidang Arion.
Arion bangkit dan duduk hingga Ange terduduk diatas pangkuan Arion, " Tetapi aku ada urusan penting Ange." Pria itu kembali mengancingkan kemejanya dan bangkit berdiri.
Merasa harga dirinya terinjak, Ange dengan marah menarik lengan Arion. " Kamu tidak bisa meninggalkan aku begini saja Ar!"
" Kenapa tidak Ange? Apa lantas kamu ingin putus denganku?" Arion memakai kembali jas miliknya sambil menatap meremeh pada Ange. Tentu saja wanita itu tidak ingin melepaskan Arion, jutaan fasilitas sudah dia nikmati, belum lagi berkat Arion namanya semakin melambung dikenal sampai penjuru negri dan jangan lupakan kartu kartu unlimited yang dia pegang saat ini. Ange hanya terdiam, dan tidak butuh waktu lama untuk Arion keluar dari kamar Ange dan meninggalkan mansion milik Theo.
Mengemudikan mobilnya diatas kecepatan rata rata, setelah tadi Arion menerima pesan singkat dari Leonard bahwa Sheva berada dirumah kecilnya berdua saja dengan Benjamin. Membuat amarah Arion seolah tersulut, baginya sudah melonggarkan hasratnya untuk mengklaim Sheva selama satu minggu sudah lebih dari cukup. Sekarang Sheva harus paham posisinya dan pria itu harus tau bahwa Sheva hanya miliknya seorang.
****
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, setelah tadi Benjamin datang berkunjung untuk makan malam bersama membuat Sheva sedikit tenang, tadinya mereka akan makan bertiga dengan Tere tentunya tetapi gadis itu malah sibuk bekerja di kantornya dan pulang larut jadi hanya Benjamin yang bisa menemani Sheva. Seharian ini dia menghindari tatap mata dengan Arion, dia takut baginya Arion pembunuh berdarah dingin secara keji menghilangkan nyawa orang lain yang sedang memohon ampun padanya. " Lakukan saja terus sebanyak banyaknya kejahatanmu Arion, maka aku akan semakin mudah untuk membencimu."
Sheva masih membereskan sisa piring kotor di dapurnya, sudah pasti dia tidak mengijinkan Benjamin untuk membereskan dapurnya. Tadi Benjamin juga yang sudah memasak untuk makan malam mereka, dia sungguh pria yang hangat dan serba bisa. Andai saja perasaan Sheva bisa bertumbuh untuknya, mungkin mereka bisa hidup bahagia berdua, menikah dan memiliki anak bersama. Haruskah aku memberi kesempatan pada Bent? Untuk kesekian kalinya juga Benjamin selalu meminta kesempatan pada Sheva saat mereka menghabiskan waktu berdua. Tiba tiba dering ponsel menarik Sheva dari pikirannya , dilihat nama Benjamin muncul dalam layar ponselnya. " Ada apa Ben? Apa kau sudah sampai dirumah?" Sheva mengangkat ponselnya sembari membereskan dapurnya yang hampir selesai.
" Iya aku sudah dirumah Shev, hanya ingin memberitahu bahwa mantelku sepertinya tertinggal di tempatmu. Besok aku ambil yah."
Sheva melirik keatas sofa diruang tamunya, " Aah iya aku baru melihat mantelmu disana. Baik akan ku simpan dengan baik mantelmu ini." Sheva tersenyum sambil mengambil mantel milik Benjamin.
" Terimakasih Shev, cepatlah tidur hari sudah malam. Ok." Setelah menutup sambungan telepon dari Benjamin, Sheva bersiap akan naik kelantai dua rumah ini menuju kamar tidurny. Tetapi ketukan pintu mengejutkannya, Siapa?? Semalam ini?! Sheva melangkah perlahan menuju pintu dan mencoba mengintip tetapi lampu remang depan rumahnya membuat sosok itu tidak terlalu jelas. Ketukan pintu terulang kembali hingga Sheva terlonjak karena terkejut,
" Tung..tunggu." Sheva membuka kunci dan pintunya perlahan, bola mata Sheva bisa saja meloncat keluar karena terkejut mendapati bahwa Arion yang berdiri di hadapannya.